
Udah ngetiknya pake hp, migren lagi. Lengkap sudah penderitaanku. Smg level novel naik jadi 10. Amin~
----- back to Story :
Kediaman Adipura, Yogyakarta, Indonesia.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia campuran.
"Ayah selalu di rumah, Kai. Soal ketiga isteri Ayah kenapa tak ada di rumah, mereka mengatakan jika merindukan kampung halaman di Saudi. Jadi, Ayah mengizinkan mereka pergi. Namun, mereka tak kembali hingga saat ini," jawab Adipura dengan kursi roda dan terlihat begitu letih di usianya yang sudah renta.
"Mereka menggunakan pesawat pribadimu?" tegas Kai berdiri di depan Ayahnya yang batuk-batuk tiap bicara.
"Uhuk! Hem, ya begitulah. Namun, sungguh. Aku sudah tak terlibat dalam dunia mafia lagi. Kau bisa bertanya pada Satria jika tak percaya," jawabnya meyakinkan dengan tangan bergetar.
Kai menghembuskan nafas panjang. Ia mengangguk mengerti. Kai meminta maaf pada Ayahnya karena mengganggu istirahatnya.
Asisten Adipura membawa Tuannya kembali ke kamar untuk beristirahat. Jonathan yang ikut dalam misi karena penasaran akan laporan dari tim di Meksiko membuatnya ingin terlibat.
"Jadi ... kita ke rumah om Satria, Papa Kai?" tanya Jonathan berbisik menatap Ayah tirinya seksama. Kai mengangguk.
Kai dan timnya pamit undur diri untuk menemui Satria di kawasan wisata rumah pohon yang berada di hutan pinus Wonosari.
Namun, tanpa sepengetahuan Adipura, Kai menjatuhkan Galundeng di beberapa tempat. Kai menghubungi Pusat Komando di Yogyakarta yang berada di rumah toko Naomi dulu saat bersekolah. Kai melaju dengan mobilnya meninggalkan kediaman Adipura di Sleman.
"Pusat, over."
"Ya, Tuan Kai. Kami sudah mengendalikan Galundeng. Kamera dan penyadap sudah kami posisikan di beberapa tempat strategis, jauh dari pantauan kamera CCTV Adipura," jawab Petugas.
"Good. Terus awasi dan laporkan padaku perkembangannya."
"Copy that."
Jonathan kembali menatap Kai yang memasang wajah serius usai menutup panggilan teleponnya.
"Papa Kai masih curigain kakek Adipura? Kasian tau, Papa. Udah tua, kisut, sakit-sakitan, dituduh penjahat pula," ucap Jonathan iba.
Kai tersenyum tipis sembari menepuk pundak Jonathan lembut.
"Inginku juga demikian. Namun, aku bisa melihat jika ada hal yang ditutupi oleh ayahku, Jonathan. Aku berterima kasih pada ibumu yang mengajarkanku melihat kebohongan dari lawan bicara."
"Oh ya? Gimana caranya?" tanya Jonathan langsung antusias.
"Gelagat. Jika orang tersebut menyembunyikan sesuatu, berdalih atau berbohong, mereka menunjukkan raut wajah yang berbeda. Kau harus jeli dan memang dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa membedakannya termasuk pengalaman," jawabnya dengan senyuman.
"Wah ... sepertinya sulit, tapi keren. Nathan jadi pengen coba. Ajarin dong, Papa!" pintanya semangat.
Kai kembali tersenyum. "Oia, bagaimana hubunganmu dengan Sierra? Apa kalian baik-baik saja?" Jonathan mengangguk mantap. "Apa kau ... sudah melepas segelmu dengannya?" Jonathan terkejut dan menggeleng cepat dengan mata membulat penuh. "Apa kau, pernah mencoba melakukan hal itu saat kalian hanya berdua?" Jonathan pucat seketika dan diam seribu bahasa.
__ADS_1
Kai tertawa terbahak padahal bagi Jonathan tak ada yang lucu.
"Kau kenapa, Papa?" tanya Jonathan heran.
"Kau tak perlu menjawabnya, aku sudah tahu. Bersabarlah, Nathan. Tak ada salahnya menikah di usia muda, hanya saja ... Papa tak yakin kau bisa mengendalikan diri dengan segala ego dan sikapmu yang sekarang," jawabnya realistis. Jonathan cemberut. "Namun, melihat kau tak bisa menahan diri lagi, aku ikut mendukung dan merestuimu. Semoga nanti kau bahagia bersama Sierra. Kulihat, dia gadis yang baik," ucap Kai dengan senyum terkembang sembari menepuk paha anak tirinya lembut.
Jonathan terlihat gembira. Ia senang karena mendapatkan dukungan dari salah satu pria yang ia sayangi.
Sore itu, Kai dan tim tiba di rumah pohon Satria di mana sudah ada Tika serta lainnya menunggu.
"Hai, Kai. Apa kabar? Kulihat kau baik-baik saja. Apa kepalamu ...," tanya Satria menggantung saat melepaskan pelukan sambutannya.
"Ya. Jangan sentuh kepalaku," jawabnya sembari menaikkan kedua alis.
"Agh, oke oke," jawab Satria dengan anggukan.
"Jadi ... ini tentang ayah?" tanya Satria seraya merangkul pundak Adik tirinya yang ia ajak ke pondok miliknya.
"Begitulah. Katakan padaku apa saja yang kauketahui," pinta Kai dan Satria mengangguk pelan.
Di rumah pondok Satria.
"Oh, jadi selama ini Om Satria gak pernah ke rumah kakek Adipura karena katanya kena penyakit TBC? Takut nularin gitu?" tanya Jonathan sembari menikmati kacang rebus dalam mangkok di pangkuannya.
"Ya, begitulah. Kami selalu melakukan video call. Kalaupun ingin memberikan sesuatu, asisten kakek Adipura yang mendatangi kami," jawab Satria terlihat sedih.
"Sudah berapa lama ayah sakit?" tanya Kai menatap Satria seksama.
Kai mengangguk. Jonathan sibuk memandangi dua pria dewasa itu bergantian sembari menikmati kacang rebus satu wadah sendirian.
"Laper, Jo? Sampai kulit aja masih mau dikupas loh," sindir Tika dan Jonathan baru menyadari kebodohannya saat semua isi wadah sudah kulit semua.
"Pantes! Kok kempes semua kacangnya. Mau lagi dong, Tante Tika!" jawabnya semangat sembari menyodorkan mangkuk tersebut.
Semua orang menahan senyum. Sikap Jonathan tak berubah sejak ia masih kecil. Selalu riang, murah senyum, mudah bergaul, dan penuh percaya diri.
"Eh? Kamu siapa?" tanya Jonathan saat seorang remaja lelaki datang membawa sebaskom kacang rebus di tangannya.
"Kak Nathan gak inget sama Raden?" tanya remaja itu heran.
"Raden? Siapa ya?" jawab Jonathan mengedipkan mata berulang kali.
"Hahaha! Udah gede ya? Pangling pasti kamu," sahut Satria. Ia meminta remaja tampan itu memberikan baskom berisi kacang rebus kepada Jonathan.
"Pangling? Apa tuh?" tanya Jonathan bingung sembari menerima baskom tersebut. "Eh, wait-wait. Kok kalian mirip ya?" celetuk Jonathan dengan kening berkerut menatap Satria dan remaja pria itu bergantian.
"Mirip lah, orang Raden anaknya Tante Tika dan Pakde Satria," sahut Tika sembari membawa nampan berisi teko.
__ADS_1
Mulut Jonathan menganga lebar. Semua orang yang melihat ekspresi keterkejutan Jonathan terkekeh geli.
Jonathan tak pernah bisa menyembunyikan tiap perasaan yang muncul di hatinya dari raut wajahnya. Raden tersenyum manis menatap sepupunya itu.
"Papa Kai. Raden ini ... seumuran sama Sandara gak sih?" tanya Jonathan berbisik.
"Lebih tua Raden satu atau dua tahun jika tak salah. Mungkin seumuran Jordan dan Jason," jawab Kai pelan dan Jonathan mengangguk paham dengan wajah lugunya.
Jonathan terlihat akrab dengan saudara barunya. Kai dan Satria terlihat senang karena dua pemuda itu seperti cocok.
"Jadi ... kau mencurigai ayah? Dia mengatakan tak terlibat lagi dengan dunia mafia, Kai," tegas Satria sembari berjalan berdua dengan saudaranya di sekitar kawasan pondok.
"Aku juga berharap demikian. Namun, kau tak ingat? Perlakuan ayah pada Liana hingga ia bisa terdampar sampai Camp Militer? Biawak Putih memberikan laporan dari pengakuan Sun dan Arjuna jika perkataan pria bertopeng itu seperti obsesi ayah kita saat ingin menjabat menjadi salah satu anggota Dewan 13 Demon Heads. Meskipun Pemancar Fatamorgana portabel juga ditemukan di gudang penyimpanan dan jumlahnya sesuai, tapi aku tetap curiga. Maaf, Satria. Bukannya menuduh, tapi aku khawatir jika ayah kita berkomplot dengan No Face."
"No Face? Maksudmu ... kelompok yang membuat tuan Herlambang tewas?" tanyanya melotot dan Kai mengangguk membenarkan. Satria terlihat shock seketika.
"Oleh karena itu, aku membutuhkan banyak informasi darimu jika kau mengetahui sesuatu," jawab Kai, tapi Satria menggeleng pelan. Kai mengangguk mengerti.
"Papa Kai! Papa!" teriak Jonathan berlari kencang ke arahnya diikuti Raden.
"Kenapa?" tanya Kai heran karena Jonathan sampai ngos-ngosan.
"Kata Raden, hah ... aduh capek. Kamu aja yang ngomong," ucapnya seraya menyenggol lengan sepupunya itu.
Pandangan Kai dan Satria teralih ke pemuda tampan berwajah blasteran tersebut.
"Oh, itu. Raden pernah lihat kakek Adipura ketemu sama beberapa orang di sebuah hotel saat Raden dan temen-temen nongkrong di sekitar Tugu, Om," jawabnya sungkan.
"Kapan?" tanya Kai berkerut kening.
"Mm ... sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Nah, masalahnya, saat Jonathan kasih tau kenapa dia dateng ke sini, kalau gak salah, kemarin atau kemarinnya lagi gitu, Raden liat asisten Bima, ituh asistennya kakek Adipura, ketemu sama orang-orang itu lagi di hotel yang sama. Cuma kemarin, mereka konvoi pake mobil ke atas. Ke kawasan Kaliurang. Raden iseng aja ikutin karena penasaran. Mereka masuk ke Villa dan banyak penjaga di sana. Karena takut, Raden turun deh," jawabnya meringis.
"Kenapa kamu gak cerita sama Ayah?!" bentak Satria melotot.
"Ayah sibuk, ibu juga. Lagian, Raden rasa itu bukan hal penting. Paling bahas bisnis," jawabnya santai.
Kai terlihat serius seketika. Semua orang menatap Kai lekat.
"Kau ingat, jalan ke Villa itu?"
"Ya. Om mau ... Raden anter ke sana kah?" tanyanya ragu.
"Yes, please."
Satria pucat seketika, tapi wajah Jonathan dan Raden berbinar. Kai melirik Satria dengan senyuman. Ia tahu, jika Satria pasti khawatir jika terjadi hal buruk pada anak lelaki yang selalu didambakannya.
***
__ADS_1
uhuy! tengkiyuw tipsnya😍