4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Sama-sama Cari Tahu


__ADS_3

Autor pusing cari judul. Setelah dicek banyak yg judulnya sama dg novel lainnya. Jadi kl nemu judul aneh maklumin aja😆


----- back to Story :


"Aduh, jangan gerak-gerak dong," keluh Jonathan yang enggan melepaskan dekapannya.


Namun, gadis cantik itu tetap berusaha melepaskan pelukan kuat Jonathan. Hanya saja, semakin ia berusaha, semakin erat Jonathan memeluknya.


"Aku harus pergi!" ucapnya mencoba untuk bergulung ke samping, dan berhasil.


Namun Jonathan dengan sigap langsung menekan tubuhnya hingga gadis itu terhimpit.


"Kamu udah mandi belom sih? Bau tau," ucap Jonathan tiba-tiba yang membuat gadis itu tak lagi memberontak.


"Aku bau?" Jonathan mengangguk cepat.


"Bajumu juga apek, kotor. Tuh, tangan Nathan aja sampai berdebu," ucapnya seraya menjatuhkan serpihan debu ke wajah Cassie. Gadis cantik itu memejamkan matanya seketika. "Sejak kita ketemu, kamu pakai baju ini loh. Nathan inget banget. Kamu gak punya baju lain?" Gadis itu menggeleng. "Serius?" Cassie mengangguk. "Mandi gih. Nathan kasih baju. Dan, jangan harap bisa kabur. Kalau kamu dikeroyok dan digebukin sama bapak-bapak mesum di bawah, jangan salahin Nathan," ucapnya mengancam.


Jonathan melepaskan cengkeramannya. Cassie berdiri perlahan dengan wajah datar tanpa ekspresi saat Jonathan menunjuk kamar mandi. Cassie melongok ke dalam, tapi keluar lagi. Jonathan bingung.


"Itu kamar mandi pria," jawabnya menatap Jonathan lekat.


Jonathan mengajak Cassie ke ruangan lain yang dikunci rapat. Cassie masuk ke dalam seraya melihat sekitar, hingga ia akhirnya menemukan kamar mandi dan mengangguk cocok.


"Mandi cepet. Tar lanjutin lagi berantemnya. Di kamar itu ada almari dengan banyak baju. Pilih aja," ucap Jonathan menunjuk sebuah ruangan lalu pergi keluar kamar dan menguncinya dari luar.


Jonathan bergegas berlari ke kamar seraya mengelap hidungnya yang masih meneteskan darah seraya menyimpan jam tangan yang menjadi rebutan.


Jonathan mengambil sebuah koper dan bergegas kembali ke kamar tersebut lalu mengunci pintu. Ia mendengar suara guyuran air di kamar mandi.


Jonathan dengan sigap mengeluarkan isi dari dalam koper dan memasang beberapa benda di tempat-tempat tersembunyi dengan tergesa.


KLEK!


Jonathan mendengar suara pintu terbuka. Ia yakin jika Cassie sudah selesai mandi dan kini sedang berganti pakaian. Jonathan mengeluarkan tablet dari dalam koper dan melihat tampilan dari layar itu.


"Oke," ucapnya seraya memasukkan tablet yang ia aktifkan lalu memasukkan ke bawah kolong sofa di ruangan itu.


"Aku boleh pakai ini?"


Jonathan menoleh dan matanya melebar seketika. Pemuda itu mematung dengan pandangan tak menentu saat melihat Cassie mengenakan gaun pernikahan yang seharusnya dikenakan oleh Sierra saat menikah.


"Ukurannya pas. Aku suka," sambungnya dengan wajah datar.


Jonathan berdiri dan mendatangi Cassie dengan langkah ragu. Ia melihat gadis cantik di depannya dari atas ke bawah dengan wajah sendu.


"Kau menyukainya?" Cassie mengangguk. "Apa kau merasa bahagia jika memakainya?" Gadis itu kembali mengangguk. "Mana senyummu?"


"Aku tersenyum."


"Jangan bercanda! Jangan berlagak lugu di hadapanku! Orang bodoh saja tahu seperti apa orang tersenyum itu!" teriaknya lantang dengan mata melotot dan nafas menderu.


Cassie terlihat kaget sampai tubuhnya tersentak meski wajahnya masih datar.


"Salahku? Jika aku tak bisa tersenyum? Aku jarang bercermin, dan baru tadi aku melihat wajahku dengan jelas di kamar mandi. Ternyata ... aku sudah besar. Bahkan ... aku memiliki tubuh seperti wanita dewasa," ucapnya seraya memegang buah dadanya.


Amarah Jonathan reda seketika.


"Jawab semua pertanyaanku, dan kau kuizinkan mengenakan pakaian itu," tegas Jonathan menunjuknya dan Cassie mengangguk.


"Selama ini, kau tinggal dengan siapa?"


"Setelah kematian ayahku, aku berkelana menjalankan misi dari Madam."


"Siapa ayahmu?"


"Miles Flame. Asisten Sierra. Adik dari Darwin Flame."


Sontak mata Jonathan melebar, tapi ia menahan diri dan tetap fokus pada pertanyaan selanjutnya.

__ADS_1


"Misi apa yang Madam berikan padamu?"


"Menyusup ke jajaran 13 Demon Heads. Aku mendatangi markas kalian satu persatu. Membunuh seorang Black Armys wanita level M, mencuri seragamnya, menjadi dirinya, hingga aku mendapatkan semua informasi yang kubutuhkan, dan terus seperti itu sampai semua markas berhasil kususupi."


Mulut Jonathan menganga lebar. Akhirnya ia tahu siapa biang kerok yang sudah mencuri banyak informasi dari jajarannya.


Jonathan mengepalkan kedua tangannya, tapi ia melihat jika Cassie tak takut pada kematian dari sorot matanya.


"Tak ada yang mencurigaimu?"


"Sering, tapi aku pergi sebelum ketahuan, dan selalu berhasil."


Jonathan bertolak pinggang. Ingin rasanya ia meremukkan kepala gadis itu, tapi Cassie terlihat santai saat melihat kedua tangan Jonathan sudah berada di dekat telinganya entah apa yang akan dilakukan.


"Hah ... sudahlah," ucap Jonathan menyerah pada akhirnya dengan hembusan nafas panjang dan wajah tertunduk.


"Tak ada pertanyaan lagi?"


"Banyak. Sabar. Pengakuanmu bikin Nathan sakit kepala," gerutunya.


Tiba-tiba, Cassie memijat kepalanya lembut, Jonathan tertegun.


"Lebih baik?" Jonathan menggeleng. Cassie melakukan pijatan lagi. "Masih pusing?" Jonathan mengangguk dengan wajah lugunya.


"Cassie, aneh gak sih, kalau Nathan suka sama cewek dari kubu musuh?" tanyanya menatap gadis di hadapannya lekat.


"Aku bukan musuhmu. Aku beralih pihak."


"Dari tadi kamu ngomong gitu. Apa alasanmu gak mihak The Circle dan No Face lagi?" tanya Jonathan heran.


Cassie menghentikan pijatannya. Ia meraih tangan Jonathan dan menyentuh telapak tangannya yang memiliki lambang dari Lucifer Flame, Jonathan terkejut.


"Kau penerus sah. Oleh karena itu, aku beralih pihak. Namun keputusanku, malah membuatku diburu oleh The Circle karena dianggap pengkhianat dan pemberontak," ucapnya menatap Jonathan dengan suara sedih, tapi wajahnya tak berkata demikian.


Tiba-tiba, Jonathan memeluknya, Cassie terdiam.


"Jadi pacar Nathan ya. Biar Nathan bisa lupain Sierra."


"He? Kamu gak tau?" tanya Jonathan langsung melepaskan pelukannya dan menatap Cassie tajam.


Cassie menggeleng terlihat lugu. Jonathan malah terlihat bingung menjelaskan, tapi tiba-tiba, seringainya keluar.


"Pertama, kita mandi bareng."


"Ha?"


Jonathan mengangguk mantap seraya menunjukkan jari telunjuk membentuk angka satu. Ia lalu meneruskan dengan dua jari menunjukkan angka 2.


"Yang kedua, kita bobo bareng. Ngerti 'kan maksud Nathan?" Cassie mengangguk. Senyum Jonathan merekah. "Ketiga, kita ... mmm, bercinta," sambungnya gugup.


"Ha? Apa itu bercinta?"


"Kamu gak tau?" tanya Jonathan melotot. Cassie menggeleng.


Jonathan terlihat begitu gembira, tapi ia tak menyuarakan kegembiraannya. Ia lalu menarik tangan Cassie dan membawanya naik ke ranjang.


Jonathan dengan sigap mengeluarkan ponselnya, terlihat sibuk seperti ingin menunjukkan sesuatu.


"Ehem, bercinta itu seperti ini," ucapnya gugup saat menunjukkan sebuah video sepasang kekasih yang sedang bermesraan hingga pada akhirnya terbuai di ranjang.


Cassie mengamati gerak-gerik pasangan itu dengan serius. Jonathan diam-diam melepaskan selop, celana panjang, dan kaosnya. Ia menyisakan boxer saja. Jonathan menarik selimut dan merebahkan diri terlihat siap.


"Apa aku juga harus bersuara seperti wanita ini?" tanyanya lugu, dan Jonathan mengangguk dengan mata berbinar.


Cassie kembali serius menonton hingga tayangan itu berubah lokasi dan Jonathan segera mengambil ponselnya kembali.


"Gimana, paham?" tanya Jonathan penuh harap.


"Aku belum pernah mencobanya. Gerakan itu aneh dan sepertinya menguras banyak tenaga," jawabnya menilai.

__ADS_1


"Nathan juga belom pernah coba. Makanya, Nathan butuh partner. Cassie mau 'kan jadi partner Nathan? Kan harus dilakuin berdua," ucapnya memelas.


Cassie mengangguk. Ia lalu turun dari ranjang dan menanggalkan baju pengantinnya dengan wajah datar.


Mata Jonathan langsung melebar melihat salah satu mahakarya keajaiban Tuhan ketika seorang gadis cantik dengan suka rela dan tanpa bersusah payah mau bercinta dengannya.


Jonathan malah mematung, saat Cassie naik ke atas ranjang dan merangkak menghampirinya.


"Gerakan tadi terputus-putus. Sepertinya ada bagian yang dilewati," ucapnya terdengar bingung.


Jonathan dengan sigap mengeluarkan ponselnya lagi lalu menunjukkan layar ponselnya ke arah Cassie.


"Coba gerakan yang ini dulu saja. Kamu bisa 'kan? Pemanasan," ucap Jonathan menatap Cassie lekat.


"Oke. Aku bisa," jawabnya lalu menyibakkan selimut dan menurunkan boxer pemuda tampan itu dengan wajah datar.


Jantung Jonathan berdebar kencang saat Cassie mempraktekkan dari video yang ia tunjukkan.


Cassie menciumi kejantanannya lalu memasukkannya ke dalam mulut dan mengocoknya di dalam.


'Oh, ini sungguhan, bukan mimpi. Akhirnya,' ucapnya dalam hati terlihat begitu bahagia karena senyumnya terpancar.


"Kau harus memaju-mundurkan pinggulmu. Di video mengajarkan begitu," ucap Cassie melepaskan kejantanan Jonathan di mulutnya dengan posisi tengkurap di atas ranjang.


"Ah, gitu ya. Oke-oke," jawabnya mantap dan memperaktekkan yang Cassie minta.


Jonathan memegangi kepalanya karena tak menyangka jika rasanya begitu nikmat, tapi tiba-tiba Cassie menghentikan aksinya.


"Kok udah?"


"Tadi aku menghitung sekitar 15 kali gerakan ini dilakukan. Gerakan lain ada yang 25 kali dan sisanya hanya sekitar 20 dan 10 kali," jawabnya lugu dengan duduk bersimpuh mempertontonkan tubuh polosnya.


"Nathan maunya 100 kali!" ucapnya langsung menerkam Cassie hingga tubuh gadis itu roboh, terlentang di atas kasur.


Cassie terlihat bingung. Jonathan melebarkan kakinya paksa dan mulai mengarahkan miliknya yang sudah meronta berbulan-bulan lamanya karena hasrat yang tak tersalurkan.


Cassie terkejut saat merasa miliknya di dorong kuat hingga tubuhnya terperanjat.


"Sepertinya bukan di sebelah situ, tapi di sini," ucap Cassie mengarahkan.


Jonathan menghentikan aksinya saat Cassie memegang daging panjangnya yang telah mengeras ke pintu utama gerbang kenikmatan itu.


"Di sini?" tanya Jonathan menatap miliknya tajam yang dipegangi oleh Cassie untuk di arahkan.


"Aku rasa ya. Coba saja," jawabnya datar.


Jonathan kembali mendorong miliknya kuat. Cassie mempertahankan titik serangan itu dengan memegangi batang berotot Jonathan, dan tanpa ia sadari, kakinya melebar.


"Di video kita harus berciuman," ucap Cassie mengingatkan dan Jonathan dengan hati gembira segera melaksanakannya.


Perlahan keduanya malah terlena. Cassie dan Jonathan melupakan gerakan dalam video yang mereka tonton, dan melakukan free style seperti kehendak hati mereka.


"Ya ampun, emang bener kalo enak banget," ucap Jonathan yang mulai kehilangan pikirannya saat miliknya berhasil membobol gerbang terluar, dan kini mengebor lubang itu agar semakin masuk ke dalam.


"Sss, pijat yang kuat. Rasanya enak," pinta Cassie yang suara rintihannya seperti ular mendesis.


Jonathan mengabulkan permintaan Cassie. Pemuda tampan itu memijat dua bongkahan indah yang terasa padat dan ujung mengeras saat ia mainkan dengan lidahnya.


"Enak banget ya, Cas?" tanya Jonathan dengan wajah memerah dan Cassie mengangguk membenarkan dengan mata terpejam.


Jonathan terus menyodokkan miliknya kuat seraya memijat buah dada yang menggemaskan itu. Cassie menyambutnya dengan mendorong pinggulnya ke atas agar milik Jonathan tertelan sempurna.


Keduanya terlena dan terus berciuman hingga tak menyadari, saat kamera mini yang ditempatkan Jonathan merekam aktifitas mengejutkan tersebut.


"Siapa gadis itu?" tanya Vesper dengan mata melotot.


"Aku tidak tahu. Jonathan tak menyalakan perekam suara. Sepertinya, Jonathan ... khilaf?" sahut Verda menatap Vesper sambil meringis.


Vesper memijat dahinya terlihat pusing dengan hal ini. Verda menahan senyumannya, dan sesekali mencuri pandang ke monitor untuk melihat aksi panas dua insan muda tersebut.

__ADS_1


...IPO! IPO! IPO!...


...AWAS! AWAS! INI ADEGAN BERBAHAYA!...


__ADS_2