4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Dua Psikopat


__ADS_3

Mata semua orang kini malah terfokus pada ayah-anak yang terlihat siap seperti akan melakukan sesuatu.


Para anggota Dewan menatap layar laptop mereka lekat, untuk melihat pergerakan dari teknik bertempur yang akan dilakukan oleh pecahan The Circle itu.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia.


"Kalian! Hubungi pasukan Black Armys, The Shadow, dan The Circle, agar jangan ikut campur. Biarkan Tobias dan Sierra yang menyelesaikannya," perintah Vesper tegas.


Para anggota Dewan segera menginformasikan kepada anak buah mereka yang masih bertahan.


Para pemimpin itu memerintahkan mereka agar mengamankan aset, menjaga seluruh jalan keluar agar anggota The Mask tetap terkurung di dalam Markas, dan bersiaga di luar Markas dari segala jenis serangan yang akan datang sebagai bala bantuan musuh.


"BIG HOLE!" teriak Tobias dan Sierra lantang, meski tempat mereka berdiri berjauhan.


Jonathan, King D, Obama Otong, dan Eko malah ikut-ikutan meneriakkan kata 'Big Hole' dengan kedua tangan ke atas seperti sebuah sorakan. Semua orang di ruangan itu terdiam.


"Meteoroid!" teriak Sierra lantang mengomandoi pasukan The Eyes yang berada di Markas milik Yusuke, Rohan, Javier, dan Ivan Benedict.


Seketika, para remaja berpakaian hitam itu langsung menyebar dan bersembunyi di balik benda-benda besar di sekitar mereka, tapi membidik para anggota topeng gagak.


"Jatuhkan!" teriak Sierra lagi.


DOR! DOR!


SHOOT! JLEB! JLEB!


Semua penonton terkejut. Para remaja itu begitu gesit saat mereka melakukan penyerangan dengan muncul dari sebuah benda yang menutupi sosok mereka, lalu menembak atau meluncurkan senjata tajam, kemudian bersembunyi lagi.


Hal itu dilakukan secara acak sehingga para anggota The Mask kebingungan karena mereka muncul bergantian hampir di segala tempat


"Peek a boo!" teriak King D senang karena baginya orang-orang itu seperti bermain petak umpet.


King D yang malah asyik bermain petak umpet dengan Obama Otong, terpaksa diungsikan oleh Eko ke halaman belakang karena mengganggu konsentrasi semua orang yang berkepentingan di Ballroom tersebut.


Semua orang terlihat terpaku dengan gerak-gerik pasukan The Eyes yang kini melawan balik pasukan The Mask di seluruh markas anggota Dewan.


"BAAA!!"


DOR! BRUK!


"HAI!"


JLEB! BRUK!


Senyum para mafia di Ballroom tersebut terkembang. Para remaja itu sangat pintar membuat kacau situasi, bagaikan puluhan King D dan Obama Otong yang diperintahkan untuk berperang.


Para remaja yang bersembunyi secara acak di sekitar anggota The Mask, muncul dengan berteriak. Tentu saja, hal itu mengejutkan anggota pasukan bertopeng tersebut.


Saat mereka akan menembak, dari sisi lain, remaja lain melakukan serangan di titik buta dengan menyerang lawan dari balik benda yang melindungi mereka. Satu persatu anggota The Mask roboh.


"Kill them! Hahaha! Potong kepala mereka! Bawakan topeng itu padaku! Semuanya!" teriak Tobias lantang sambil berjoget terlihat begitu senang.

__ADS_1


Para remaja yang berada di dekat anggota The Mask yang terluka parah, segera mendatangi mereka, dan melakukan eksekusi sesungguhnya dengan menyerang titik vital di tenggorokan.


Mereka memenggal kepala orang-orang itu dan melepaskan topeng gagak paksa lalu mengumpulkannya.


"Hahahaha! Aku sudah melumpuhkan mereka di Markas Jamal dan Martin. Hem, aku memang hebat," ucap Tobias bangga melirik anaknya.


"Sorry, Dad. Aku sudah merampungkan semuanya. Aku memakai strategi meteorid," jawab Sierra tersenyum tipis.


"What?!" pekik Tobias dengan mata melotot.


"Aku tak mau meniru gaya Scorpion dan Frog-mu. Jadi, aku menang. Aku minta, mm ... jabatan di Robicon Coorporation. Aku ingin menjadi CEO-nya. Aku sudah besar, aku bisa mengurus perusahaan. Kau tak bisa menolakku lagi dengan alasan tidak masuk akal yang mengatakan aku gadis kecil!" tegas Sierra melotot seraya menunjuk Ayahnya.


Tobias balas melotot dengan mendesis. Ayah-anak itu malah saling menggertak di kejauhan sambil berhadapan. Semua anggota Dewan terlihat bingung dalam bersikap.


"Maaf, menyela. Kau belum merampungkan misi di markasku, Tobias. Anak buahmu menunggu perintah," sahut Bojan mengangkat tangan dengan canggung.


"Cerewet! Sierra yang akan ambil alih. Aku tak mau bermain lagi. Menyebalkan! Aku diperas anakku sendiri. Dasar, kau anak tidak tahu diri!" geram Tobias sembari memberikan earphone miliknya ke Sierra dan pergi begitu saja meninggalkan Ballroom.


Mulut Sierra menganga karena malah diberikan tugas oleh ayahnya.


"Imbalanku!" teriak Sierra kesal.


"Aku tahu! Aku tidak tuli! Ambil saja jabatan CEO itu! Jangan menagihku lagi!" teriak Tobias lantang tak menoleh. Ia terus berjalan keluar dari Ballroom entah ke mana.


Senyum Sierra merekah. Ia meminta kepada Yena untuk menunjukkan padanya markas milik anggota Dewan yang dikendalikan oleh sang ayah.


"Sierra ambil alih," ucapnya dari earphone pemberian Tobias. Anggota The Eyes tersebut mengangguk. "Pesta!" perintahnya dengan senyum terkembang.


Kembali, kening semua orang berkerut. Anggota The Mask yang mulai terdesak, ikut bersembunyi dari para remaja The Eyes yang kini mengincar nyawa mereka.


Tiba-tiba, terdengar suara orang-orang tertawa terbahak yang menggema di seluruh ruangan. Para pria bertopeng itu terlihat siap dengan pistol dalam genggaman. Sierra tersenyum licik.


"Aku bisa melihat kalian semua, Gagak. Dasar bodoh. CCTV menangkap kalian," ucapnya dengan seringai muncul di wajah cantiknya. Jonathan terlihat shock melihat sisi lain dari calon isterinya. "Bojan. Timur! 10 langkah ke depan! Balik pintu!"


Segera, anggota The Eyes yang berada di sisi Timur berjalan 10 langkah ke depan menuju sebuah lorong sembari tertawa kencang dan bertepuk tangan. Sierra melihat pria bertopeng itu bersiap untuk menembak.


"Kejutan!"


Dengan sigap, salah seorang remaja melemparkan gas warna merah muda di dekat pintu. Kepulan gas tersebut menyeruak.


Sierra tahu, jika topeng gagak bisa menetralisir racun jika diberikan Rainbow gas, tapi pandangan tetap kabur dan tak bisa menembus kabut ataupun asap pekat.


GRAB! KRASS!


BRUKK!!


Pria itu tewas ketika ia berusaha menghindari kepulan asap dengan berpaling, tapi salah seorang remaja yang merangkak di atas lantai menuju ke balik pintu, dengan cepat memegang pergelangan kaki tersebut.


Anggota gagak itu terkejut, dan saat ia menunduk untuk menembak, dari balik kepulan asap, muncul seorang anggota The Eyes menyerangnya dengan sebuah pedang dan langsung menebas kepalanya dengan cepat.


Sierra bertepuk tangan terlihat senang. "Bojan! Selatan! Di balik sofa panjang. Kejutan!" teriaknya lagi memberikan perintah.

__ADS_1


Gas warna merah muda dilemparkan dan kembali menyeruak. Dua anggota The Eyes merangkak di sisi kanan dan kiri untuk mengepung satu anggota gagak yang bersembunyi.


Suara tawa dan tepuk tangan yang begitu berisik, membuyarkan konsentrasi para penyerang.


Seketika, "WAA!" teriak salah satu remaja dari atas sofa mengagetkan si topeng gagak dengan sebuah potongan kepala di lemparkan.


Pria itu terkejut dan spontan menangkap kepala kawannya yang terpenggal dengan mata terbelalak serta darah menetes deras di lehernya.


Saat pria itu melemparkan kepala kawannya ke tempat munculnya remaja tadi, dari sisi kiri dan kanan, serangan telak menewaskannya.


JLEB!


Dua remaja dalam posisi berjongkok menusukkan ujung pedang mereka dari sisi kanan dan kiri bersamaan, menembus tubuh pemakai topeng hingga ia jatuh dan tak bernyawa.


"Penggal semuanya! Hahaha!" perintah Sierra lagi dengan tawa gembira.


Lysa pusing dan Yuki dengan sigap memegangi kawannya itu. Javier ikut cemas karena Lysa pucat melihat pembantaian di depan matanya.


"Yuki, bawa Lysa untuk beristirahat," pintanya, dan Yuki mengangguk pelan. "Kau sudah cukup membantuku hari ini, Lysa. Terima kasih," ucap Javier menatap mantan isterinya lekat. Lysa membalasnya dengan senyum tipis.


"Sudah selesai! Yey!" ucap Sierra senang bertepuk tangan.


Semua orang yang menonton ikut terhibur dan memberikan selamat akan keberhasilan Tobias serta Sierra dalam merampungkan misi tersebut.


Tim dari kubu 13 Demon Heads melaporkan jika tak ada kedatangan bala bantuan dari kubu Venelope, meski Vesper tetap memerintahkan untuk tetap bersiaga.


"Kita menang," ucap Sierra gembira mendekati kekasihnya yang duduk terpaku.


"Ya. Kau hebat, Yang," ucap Jonathan memuji meski terlihat kaku.


Sierra duduk di pangkuannya dengan manja. Entah kenapa, Jonathan malah pucat dan terlihat seperti orang shock. Vesper tersenyum tipis melihat sikap keduanya yang jarang sekali bertolak belakang.


Tiba-tiba, sebuah panggilan masuk ke ponsel Sierra. Wajah kegembiraan gadis cantik itu berubah saat melihat layar ponselnya.


"Hallo?"


"Kau membantu mereka terlalu jauh, Sierra. Kau, pengkhianat. Aku akan membalasmu."


"Aku tak takut, Venelope. Kau pengecut. Lakukan dengan jantan jika ingin menghabisiku. Jangan gunakan peliharaanmu. Lakukan dengan tanganmu sendiri. Dan yang terpenting, tunjukkan wajahmu," tegas Sierra dengan wajah bengis dan sorot mata tajam entah apa yang ia pandang di hadapannya.


"Oke. Tunggu kedatanganku. Kau akan menjerit saat kematian mendatangimu."


KLEK! TUT ... TUT ... TUT.


"Yang! Itu Venelope?" tanya Jonathan yang ternyata mendengar pembicaraan tersebut.


Sierra kembali menunjukkan senyumnya. "Jangan khawatir. Nyalinya tak sebesar itu," jawabnya santai, tapi ancaman Venelope bagi Jonathan bukan gertakan belaka.


***


__ADS_1


tengkiyuw tipsnya. lele padamu^^ maaf telat up karena hari ini jadwalnya padat merayap. jangan lupa intip Simulation ya, lumayan udah 20 eps kalo mau marathon kenyang lah. jangan lupa terusin boom like di audio book lele ya buat dapetin bonus eps bulan depan.



__ADS_2