
Sun beranjak dari tempat persembunyiannya. Ia meluncurkan sebuah tanda ke atas langit dari balik tembok yang jebol.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Itu tandanya! Segera bergerak!" tegas Martin.
Semua tim yang terbagi di beberapa sisi segera mendekati kawasan pabrik tersebut.
Jose dan lainnya yang menjaga kendaraan, dibuat tegang saat melihat dari monitor, pergerakan seluruh tim yang memasang kamera mini di atas salah satu bahu mereka.
"Oh, ini sungguhan. Seperti ketika polisi melakukan penggerebekan," ucap Greco dengan mata melotot.
"Jangan sebut kata 'Polisi'. Aku sensitif," tegas Samuel dan Greco menutup mulutnya rapat.
Suara ledakan santer terdengar bersahut-sahutan. Biawak Hijau menembaki para penjaga yang mulai memasuki bangunan tempat Sun dan Arjuna menyusup.
"Haha! Mampus kalian! Berani-beraninya nongol di depan Ijo," serunya dengan wajah bengis sembari melemparkan Granat Rainbow Gas ke bawah dan mengenai kumpulan orang-orang tersebut.
Para penjaga itu langsung terkena dampak. Biawak Hijau yang terkena serangan balasan dari seberang gedung, mulai dibuat kualahan karena ia diberondong oleh serencengan peluru hingga membuatnya terpaksa berjongkok di lantai untuk melindungi diri.
"Oh! Aku melihat Pemancar Fatamorgana! Ada di atas genteng Menara!" teriak Martin saat helikopternya melewati Menara tempat Biawak Hijau berada.
"He? Di atep? Ijo suruh manjat ke atas? Weladalah. Jebol nanti atepnya," gerutunya langsung mendongak ke atas.
"Cepet, Jo!" teriak Biawak Putih dari bawah Menara sembari menebas semua penjaga yang menyerangnya menggunakan pedang Silent Gold tanpa laser.
"Sip ... nasib!" keluhnya lagi yang kini berdiri perlahan sembari mengintip dari balik bingkai jendela yang kacanya sudah pecah dan berhamburan di lantai.
Biawak Hijau melihat semua tim bertempur dengan sengit dan berusaha untuk tak menghancurkan bangunan.
Biawak Hijau ikut termotivasi. Ia akhirnya keluar dari bingkai jendela dan berusaha memanjat ke atap Menara dengan susah payah.
"Huarggg!" teriaknya lantang saat ia berhasil menggapai penyangga Pemancar Fatamorgana dengan tangan kanannya, dan tangan kiri, berpegangan kuat pada genteng.
Namun tiba-tiba, "Eh ... eh ... Kang! Kang! Ijo melorot, Kang!" teriaknya panik karena Pemancar tersebut bengkok dan tubuhnya malah tergantung seperti jemuran.
SHOOT! CRATTT!
"Auuuu!" teriaknya langsung melolong seperti serigala kesepian sembari menahan sakit. "Uasu! Asuuu! Bokong Ijo di shoot, Kang!"
"Patahin pemancarnya, Jo!" teriak Biawak Putih sembari menaiki tangga menuju Menara tempat Hijau bertugas.
"Patahin gundulmu! Kalo patah, Ijo ambles ke tanah, Guoblok!" jawabnya mengumpat dan berusaha menggeser kedua tangannya ke samping, kembali ke jendela sembari menahan sakit di pantatnya.
Saat Biawak Hijau hampir berhasil menggapai bingkai jendela, Biawak Putih muncul. Senyum Biawak Hijau merekah, tapi seketika berubah kepanikan.
KRASS!! NGEKKK ...
"KANGGG!" teriaknya histeris saat Biawak Putih malah memotong besi penyangga yang sudah bengkok, tapi belum patah dengan pedang laser Silent Gold.
BRUKK!!
"Agh!" rintih seorang penjaga yang jatuh tengkurap karena tertimpa tubuh Biawak Hijau dari atas.
Biawak Hijau yang jatuh dalam posisi miring itu segera bangkit sembari menahan pantatnya yang sakit karena tertembak.
DANGG!!
Aksi Biawak Hijau mengakhiri penderitaan penjaga itu dengan memukul kepalanya hingga pria tersebut tak sadarkan diri.
"Sakit, Guoblok!" pekiknya marah menunjuk Biawak Putih yang melongok dari jendela dan malah tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama!" jawabnya dengan lambaian tangan.
"Wong edian! Sakit banget ini, Suu ...," gerutunya lagi sembari memegangi pantatnya yang terluka dan berjalan menjauh dari pertempuran.
Orang-orang dari kubu Vesper mulai memenuhi kawasan pabrik dan Mansion. Malam yang mulai larut terasa begitu mencekam.
Helikopter Ivan terbang menjauh dari area pertempuran. Mereka bertugas memblokade jalan agar para Polisi tak bisa mendekati kawasan pabrik.
"Siapkan jebakan, Martin!" teriak Bojan yang melihat dari laporan pantauan GIGA SIA.
"Sial! Harusnya ini dikerjakan oleh Black Armys, kenapa jadi kita yang melakukannya?!" pekik Martin kesal.
Helikopter mendarat di tengah jalanan aspal untuk menurunkan dua anggota Dewan senior tersebut.
Bojan dan Martin membawa sebuah balok yang terbuat dari besi setinggi tubuh mereka.
Dua orang itu menyenderkannya pada batang pohon yang dekat dengan pinggir jalan raya lalu mengaitkannya seperti sabuk. Besi tersebut memiliki warna serupa seperti batang pohon sehingga tersamarkan.
Benda itu adalah jenis senjata baru milik Vesper Industries dan diberi nama 'Gapura'. Ide tersebut tercetus ketika Han dan timnya terkena serangan saat mendatangi Mansion Venelope di Italia.
Hanya saja, 'Gapura' milik Vesper dibuat portabel. Benda itu bisa dibawa kemana pun dan bisa dikendalikan dari jarak jauh selama terkoneksi dengan satelit GIGA.
Ivan segera mengaktifkan tablet yang terkoneksi dengan dua besi yang memiliki lebar 20 cm dan tinggi 180 cm tersebut.
Dua besi tersebut di letakkan hampir sejajar seperti sebuah gapura yang memiliki dua pilar di sisi kiri dan kanan. Bojan bersiaga di sisi kanan dan Martin di sisi kiri jalan.
"Oke! Gapura aktif!" teriak Ivan dari pintu helikopter dan dua anggota Dewan senior itu mengangguk paham di kejauhan.
Ivan segera kembali ke bangku kemudi. Bojan melemparkan 6 'Galundeng' cukup jauh dari tempatnya berdiri di tengah jalanan aspal.
Martin segera mengaktifkan tablet yang terkoneksi dengan kamera 'Galundeng' untuk melihat pergerakan mobil Polisi saat melintas.
Benda yang memiliki baling-baling besar tersebut segera terbang meninggalkan lokasi. Ivan melihat dari atas langit saat konvoi mobil polisi mendekati titik luncuran.
"Hei, mereka datang," ucap Ivan menginformasikan dari sambungan radio.
Martin dan Bojan bersembunyi di sekitar titik penyerangan. Mereka bersiap dengan pengendali dan tablet di hadapan mereka.
Ivan menyembunyikan helikopternya di tengah hutan yang memiliki ruang untuk mendaratkan benda terbang tersebut. Ivan, Bojan dan Martin dibuat sibuk seketika akan aksi mereka malam itu.
"Entah kenapa aku merindukan 3 kawan psikopatku saat keadaan genting seperti ini," ucap Ivan sembari mengoperasikan tablet yang ia pasang dekat dudukkan kemudi dari sambungan radio.
Martin tersenyum tipis mengingat mendiang kawan karibnya-Erik Benedict-saat mereka bertempur bersama dulu.
"Jangan merusak suasana. Fokus. Sudah lama kita tak berurusan dengan polisi," tegas Bojan yang kini ikut sibuk membidik.
Hingga akhirnya, suara sirine mobil Polisi terdengar berikut dengan Ambulance dan mobil Pemadam Kebakaran.
Martin melihat dari Galundeng terjauh yang menangkap gambar mobil polisi saat bergerak ke arahnya.
Dengan sigap, Martin menyiagakan senjata khususnya untuk menembak Ambulance dan dua mobil Pemadam Kebakaran.
SHOOT! SHOOT! SHOOT!
"Bojan, giliranmu," bisik Martin melaporkan yang bersembunyi di sebuah semak besar di sisi kiri jalan dengan jarak 200 meter darinya.
"Aku tahu."
Bojan yang berada di sisi kanan jalan, membidik konvoi mobil Polisi dengan senapan berbentuk segitiga siku. Ia bersembunyi di dalam semak besar-sama seperti Martin-sebagai penyamarannya.
SHOOT! SHOOT!
__ADS_1
GLUNDUNG ... DUK! DUK! DUK!
Bola-bola HIT ditembakkan ke jalanan aspal dalam jumlah banyak. Bola itu tak mengejar mobil Ambulance dan Pemadam karena sudah ditandai oleh peluru khusus Galundeng.
HIT tak mau menyerobot pekerjaan dari bola pengintai. Bola peledak seukuran ping-pong tersebut segera mengejar mobil Polisi dan menempel di badan mobil.
Seketika, BLUARRR!!!
BLANG! BLANG!
Tiga mobil Polisi meledak hebat di tengah jalanan aspal dan praktis, membuat semua kendaraan yang mengikuti di belakangnya berhenti seketika.
Senyum licik Bojan terpancar dan ia siap melakukan serangan berikutnya dengan senjata pelontar granat yang kini sudah siap dalam genggaman.
Martin menggerakkan Galundeng dari pengendali seperti joystick. Di hadapannya, terdapat sebuah layar ukuran 14 inch dengan enam layar kecil di hadapannya.
Galundeng bergerak lalu menempel pada bagian bawah mobil Ambulance dan Pemadam Kebakaran saat kendaraan itu berhenti karena menolong para petugas polisi yang terperangkap.
Mobil Ambulance dan Pemadam ditinggalkan karena para petugas sibuk menolong para polisi yang terluka parah akan serangan yang tiba-tiba.
"Ivan, giliranmu. Hitungan ketiga," ucap Martin menginformasikan dari kamera Galundeng saat para petugas penyelamat itu berkumpul di sekitar mobil Polisi yang terbakar. "Satu ... dua ... tiga."
KLIK!
SWOOSH! BLUARRR!
BOOM! BOOM! BOOM!
Mobil Ambulance dan Pemadam Kebakaran yang telah ditandai oleh peluru khusus Galundeng terkena luncuran misil dari Gapura di sisi kiri dan kanan. Tiga kendaraan itu langsung meledak dan terbakar hebat.
Kepanikan semakin menjadi dan membuat para petugas yang akan mendekati Pabrik Vesper dibuat ketakutan.
Mereka di serang, tapi tak melihat siapa yang melakukan tindakan brutal itu. Para Polisi di lumpuhkan dan hanya tertinggal petugas Ambulance serta Pemadam Kebakaran.
Bojan menyelesaikan misinya dengan menembakkan granat bom berisi gas halusinasi ke kumpulan orang-orang yang gemetaran karena serangan yang tiba-tiba.
Ledakan granat kembali membuat para petugas itu shock hingga akhirnya mereka tenang setelah menghirup gas halusinasi yang menyeruak di sekitar.
Helikopter Ivan kembali melayang. Ia menjemput Bojan dan Martin setelah mereka usai melakukan pekerjaannya.
Bojan dan Martin keluar dari semak belukar dengan tas ransel dalam gendongan berikut senapan yang mereka gunakan.
"Kita orang baik. Lihatlah, kita tak membunuh para petugas medis dan pemadam kebakaran," ucap Bojan memanggul senjata pelontar granat di salah satu bahunya sembari menggigit cerutu yang belum dinyalakan baranya.
Martin hanya geleng-geleng kepala sembari berjalan mendekati kawan mafianya itu. Ia meninggalkan sisa Galundeng untuk memantau pergerakan di jalanan itu nantinya.
Helikopter Ivan mendarat di tengah jalan dan dua anggota Dewan senior tersebut segera naik ke dalam.
Martin mengambil alih tablet Ivan yang mengoperasikan Gapura. Saat helikopter sudah melayang dengan ketinggian 10 meter dari permukaan tanah, seketika ....
DUWARR!! BOOM! BOOM!
Dua besi dari Gapura meledak berikut pohon yang menopang senjata tersebut. Martin terpaksa meledakkannya karena tak mau senjata mereka dicuri oleh Militer Pemerintah.
"Oke. Kita selesai. Seharusnya, mereka juga," ucap Ivan yang kini mengarahkan helikopter menuju ke Pabrik Ganja dan Narkoba Vesper yang diakusisi pihak tak dikenal.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya❤️ lele padamu😍 besok tips lagi ya😁 hari ini diborong Alra Shid lagi😆 brasa ada diskonan di Mall btw lele kangen ke Mall sekedar numpang ke toilet krn biasanya toilet Mall itu keren. Wahahaha
__ADS_1