
ngabisin stok koin yg belom ke SS. kira2 kalo koinnya abis novelnya udh tamat belom ya😆 kwkwkw. tengkiyuw tipsnya lele padamu😘
----- back to Story :
Amanda bergegas menuju ke pusat kendali untuk melihat rekaman kejadian selama penyerangan.
Merry, Mix and Match ikut menyaksikan. Namun, mata Amanda melebar seketika saat melihat kedatangan Arjuna ke rumahnya meski kini ia telah pergi untuk menyelamatkan Sun.
"Cari keberadaan Naomi! Pastikan dia dan bayi-bayi itu selamat!" serunya lantang memerintahkan dua algojonya.
Mix and Match segera bergegas menyusuri lorong. Merry di minta untuk menghubungi Arthur mengingat pria itu pergi, tapi tak diketahui tujuannya.
Sedang sebagian anggota Red Skull yang lain, diminta untuk memastikan keadaan Sun yang sedang di rawat di rumah sakit.
Amanda dengan sigap menghubungi agent M, tapi lagi-lagi, mantan agent Colombia itu mengamuk saat mengetahui anaknya terluka parah.
"Pasti ulah Arjuna lagi! Anak itu membawa petaka di kehidupan Sun! Kali ini, tak ada toleransi lagi dan jangan halangi aku untuk membawanya pulang!" teriak M langsung menutup panggilan telepon isteri mendiang Boleslav.
Amanda sampai mematung dan terlihat bingung dalam bersikap.
"Mandy," panggil Merry dengan ponsel dalam genggaman.
"Yes?" jawab Amanda masih shock karena M seperti membentaknya, padahal tidak.
"Arthur pergi mencari donor darah untuk Jordan. Sandara mengatakan dia harus dicuci darah. Mungkin, semacam transfusi?" ucap Merry melaporkan. Amanda diam menyimak. "Sayangnya, Arthur tak mendapatkan pendonor itu. Arthur menghubungi Jason dan puteramu bersedia untuk segera datang ke Florida," imbuh Merry, dan Amanda mengangguk pelan.
"Amankan rute dan mansion sampai Jason tiba. Lalu, siapkan petugas medis untuk melakukan apa yang Sandara minta. Ya Tuhan, kenapa hal buruk ini kembali terjadi. The Circle, dari dulu selalu menjadi benalu dalam kehidupan keluargaku!" geram Amanda.
Merry mengangguk sependapat. The Circle merenggut kedua orang tua Amanda meski Arthur berhasil menyelamatkan ayahnya.
Namun, dendam itu tak berakhir hingga banyak korban berjatuhan sampai ke kehidupan Jordan.
Amanda takut jika dendam itu akan terus berlanjut seperti rantai ke cucu dan cicitnya. Amanda bertekad untuk menghentikannya, sama seperti pemikiran Vesper.
"Dara, bagaimana keadaan Jordan?" tanya Amanda saat melihat Sandara berjongkok di depan anak lelakinya yang tampak pucat dan lesu.
__ADS_1
"Hem, dia sudah membaik, Mom. Namun, aku cukup yakin jika serum monster yang mengenai Jordan kali ini telah diperkuat. Serangannya mengingatkanku saat pertarungan dalam jeruji di Mauritania. Beruntung, aku sudah terbiasa dengan serangan para monster. Aku sudah mengetahui cara kerja mereka dan bagaimana mengatasinya," jawab Sandara seraya melepaskan penutup yang membungkus kepala Jordan agar kepalanya dingin.
"Benarkah?" tanya Amanda terlihat kaget. Sandara mengangguk.
"Sebenarnya ada dua cara. Satu, seperti yang kulakukan pada Jordan. Dua, langsung bunuh, seperti yang kulakukan pada hewan-hewan kesayanganku," jawab Sandara dengan wajah datar seraya memegang wajah Jordan yang babak belur karenanya.
"Bagaimana cara kerja mereka?" sahut Merry ikut mendekat.
Sandara memberikan kode pada tiga wanita Red Skull yang berdiri di sekitar Jordan untuk mengeluarkannya. Tiga wanita itu mengangguk dan menggali lubang tersebut.
"Saat mereka terkena serum monster, amarah dan napsu untuk membunuh menelan kesadaran sebagai seorang manusia. Mereka seperti lupa akan jati diri dan orang yang diserang. Mereka akan terus melakukannya bahkan sampai kelelahan. Namun, serum monster memicu syaraf untuk terus bekerja. Hanya saja, itulah yang membuatnya jadi bahaya. Saat keinginan untuk terus menyerang telah menguasai jiwa itu seutuhnya, orang yang terkena serum itu lebih buruk dari binatang. Mereka lapar, dan tak segan memakan apapun untuk menghilangkan rasa lapar itu, daging manusia sekalipun. Mereka tak kenal takut dan mengabaikan rasa sakit," jawab Sandara seraya berjalan memasuki mansion.
"Maksudmu ... mereka ... mm," sahut Merry terlihat gugup.
"Bukan zombie. Mereka tetap manusia, tapi sudah kehilangan sisi kemanusiaannya. Mereka menjadi monster seperti nama serum itu. Bahkan aku rasa, monster lebih baik dari penderita seperti Jordan. Monster masih memiliki naluri, sedang penderita serum tersebut, ia sudah kehilangan jiwanya," tegas Sandara saat masuk ke kamar dan menuju kamar mandi.
"Dara kau—"
"Aku mau mandi. Tak usah ikut," potongnya saat Amanda dan Merry mengikutinya sampai pintu kamar mandi. Dua orang dewasa itu langsung melangkah mundur terlihat sungkan. "Pastikan kalian bersihkan dan obati luka Jordan agar tak infeksi. Setelah itu, gunakan serum penetral racun. Sisanya, aku yang kerjakan. Terima kasih," ucap Sandara dengan senyum tipis di akhir kalimat lalu menutup pintu kamar mandi.
Amanda dan Merry saling berpandangan, tapi akhirnya mengangguk paham.
"Mengerikan. Semoga Miles tak segila itu. Bayangkan, jika serum monster tersebar di seluruh dunia dan menjangkit para manusia. Dunia ini akan musnah," sahut Merry dan Amanda mengangguk setuju.
Dua orang itu terlihat gemetaran membayangkan kehancuran dunia karena serum monster.
Tim medis segera melakukan tindakan pengobatan kepada Jordan seperti saran dari Sandara. Gadis cantik itu beristirahat di kamarnya untuk memulihkan energi.
Beruntung, Jordan kembali sadar di hari menjelang subuh saat serum penetral racun sudah berhasil melakukan tugasnya.
"Mom," panggil Jordan lirih ketika melihat ibunya menunggui di sofa panjang kamarnya.
Namun, Amanda yang kelelahan tak mendengar. Jordan terlihat kehausan. Ia ingin menggapai air minum di samping ranjang, tapi tangannya tak bisa menjangkau.
Saat Jordan berusaha untuk mengambil sampai tubuhnya sudah dipinggir ranjang, tiba-tiba, "Jangan banyak bergerak. Kau masih masa pemulihan. Namun, kupastikan kau akan kembali sehat setelah cuci darah dan melakukan transfusi," tegas Sandara yang dengan sigap mengambil gelas itu lalu memasukkan sedotan di dalamnya.
"Dara?" panggil Jordan lesu.
__ADS_1
"Maaf jika mengecewakanmu. Sayangnya, Naomi tak ada di sini. Mix and Match mengabarkan jika Naomi selamat dan sekarang sedang berlindung di suatu tempat. 2M sengaja tak memberitahukan di mana lokasi itu demi keamanan isteri dan bayimu," jawab Sandara dengan wajah datar seraya mengarahkan sedotan itu ke bibir Jordan.
Pemuda itu segera menyedot air tersebut. Terlihat Jordan kehausan, bibirnya kering dan terlihat begitu lemah.
Sandara iba padanya dan mengelus kepala Jordan lembut setelah meletakkan gelas itu ke atas meja lagi.
"Aku tak pernah melihatmu serapuh ini, Jordan. Maaf, jika aku kasar padamu," jawab Sandara dengan wajah datar.
"Jika tak ada kau, hal buruk akan terulang lagi. Jujur, Dara. Aku selama ini takut jika serum monster dalam tubuhku bangkit dan tak bisa mengendalikannya. Saat itu, aku hampir membunuh Naomi dan calon bayiku. Bahkan, aku membuat kak Sia kehilangan bayinya. Hari ini, aku hampir saja membunuh orang-orang yang kusayangi dan tak bersalah," jawab Jordan terlihat sedih.
"Hem. Itulah yang diinginkan Miles, Jordan. Seperti aku yang dibawa pergi dan merasa terasingkan. Namun, dari semua penderitaan itu, aku belajar banyak hal," tegas Sandara lalu duduk di samping ranjang.
Jordan menatap Sandara lekat. "Apa itu?"
"Jangan mengandalkan orang lain. Bantulah dirimu sendiri dengan kemampuanmu. Selama ini, aku masih bisa hidup karena aku terus berjuang walaupun menyakitkan. Orang-orang yang menolongku, mereka tak pernah tulus. Selalu ada kesepakatan dalam setiap tindakan yang akan kulakukan. Aku dibodohi, Jordan, dan aku membiarkan hal itu," jawab Sandara ikut sedih.
Perlahan, Jordan memegang tangan Sandara saat gadis itu seperti akan menangis. Sandara diam menatap Jordan yang tersenyum tipis padanya.
"Nasib buruk selalu datang pada kita berdua, Sandara. Sejak dulu, sejak kita dilahirkan. Namun, kita berdua bisa mengatasinya karena kita sudah saling mengerti," ucap Jordan, dan Sandara mengangguk pelan.
Diam-diam, Amanda yang sudah terbangun dari tidurnya menyaksikan dua remaja dalam ikatan saudara sepersusuan itu saling mengutarakan perasaan. Amanda memilih diam dan kembali memejamkan mata, meski ia tak tidur.
"Aku mempelajari tentang serum monster saat pertama kali diuji cobakan pada ibuku, Vesper. Dia bisa mengendalikannya dengan metode pengobatan yang akan kuterapkan padamu. Meski aku juga terpapar, tapi aku berhasil ditolong saat masih kecil. Bedanya denganmu, kau sudah terkena tiga kali dan sepertinya akan sangat sulit untuk dihilangkan. Jika kau terpacu oleh sesuatu, serum itu akan bangkit dan mengendalikanmu," tegas Sandara. Jordan terlihat shock mendengar hal tersebut.
"Lalu ... aku harus bagaimana?" tanya Jordan sedih.
"Kita hanya bisa mencoba untuk menangkalnya. Jika bangkit, kita cari cara untuk menekan pengendalian kebuasannya. Itupun ... jika kau percaya padaku, Jordan," jawab Sandara sendu.
"Aku percaya padamu. Aku selalu percaya padamu," jawabnya mantap. Sandara tersenyum lebar.
Namun seketika, mata Amanda melebar ketika ia tak lagi mendengar pembicaraan dari dua anaknya itu.
Amanda terlihat shock saat Sandara mencium bibir Jordan dan anak lelakinya itu diam saja meski matanya terbuka.
"Tidurlah. Kaubutuh banyak istirahat. Kau harus puasa sampai pukul 6 pagi. Setelah itu, kita akan melakukan cuci darah dan selanjutnya transfusi langsung dengan Jason," jawab Sandara dengan senyuman lalu beranjak pergi. Amanda kembali menutup mata pura-pura tidur, tapi sepertinya Sandara tahu. "Tidur yang nyenyak, Mom. Love you," ucapnya seraya mengecup kening Amanda lalu menutup pintu.
Amanda membuka mata dan mendapati anak lelakinya menatapnya saksama terlihat gugup.
__ADS_1
"Ingat Naomi, Jordan. Ingat isteri dan anakmu," tegas Amanda dari tempatnya berbaring dan Jordan mengangguk pelan.