
Sandara terperanjat. Ia langsung mundur dengan cepat, menjauh dari dinding yang memiliki lubang di hadapannya.
BRUKK!!
"Agh!" teriaknya panik, saat punggungnya menabrak tubuh seseorang. Sandara langsung membalik badannya dan tangannya siap menggenggam katana di samping pinggulnya. "Ne-Neon?"
Neon hanya terdiam dengan topeng menutup wajahnya. Mata Sandara memindai sosok pria di hadapannya yang memakai pakaian lain dengan jenis 'Thawb' ala timur tengah.
Tubuh Neon terlihat berbeda. Ia tampak jakung karena pakaian itu tak setebal saat ia memakai jaket.(Ilustrasi Thawb).
"Jadi ... kau sudah tahu, apa yang akan kaulakukan di tempat ini, Sandara?" tanya Neon dengan suara sendu.
"Jika kau ingin membunuhku, kenapa tak kaulakukan sejak pertama kali?! Kalian ingin menyiksaku! Ini bukan presentasi, ini pembunuhan!" teriak Sandara marah sampai wajahnya memerah.
"Aku ... minta maaf. Hanya ini yang bisa kulakukan agar membuatmu tetap hidup, Sandara," jawabnya pelan.
"Biar kutebak. Sekarang tanggal 17 Agustus 'kan? Hari di mana penduduk Indonesia merayakan kemerdekaan." Neon mengangguk. "Namun, bagi keluarga pak Sutejo, hari kemerdekaan RI adalah hari berkumpul seluruh keluarganya di Timur Tengah. Namun, ini bukan di rumahmu, aku tahu kau siapa," tegasnya menatap tajam sosok di depannya .
"Kau ... sudah tahu?" tanya pria berkulit sawo matang yang terlihat dari tangan dan lehernya yang tak ditutupi.
"Kau anak dari Siti Fatonah yang tinggal di Kenya, Nairobi."
Tangan kanan Neon bergerak. Ia meletakkan jarinya di topeng yang selama ini menutup wajahnya. Mata Sandara menajam saat Neon membuka topeng itu dan tersenyum tipis padanya.
Sandara terkejut, dugaannya benar. Selama ini pria yang selalu memakai jaket dan menutupi tubuhnya rapat adalah anak lelaki yang dulu pernah diselamatkan oleh Lysa—Yudhi.
"Kita berdua sudah besar. Tapi, aku sekarang lebih tinggi. Aku tak cengeng seperti dulu. Om Ahmed ngedidik Yudhi dengan baik, dan ini ... salah satu balasan Yudhi, agar keluarga om Ahmed tetap hidup. Maaf, Dara," ucapnya terlihat sedih, tapi tak ada air mata di sana.
"Kau ... memanfaatkanku?" Neon mengangguk. "Kenapa aku?"
"Karena kau yang paling pintar, tapi yang paling lemah. Aku melihat, kau ... bisa menjadi gadis yang kuat. Aku tahu kisahmu. Kau berani, tapi hanya saat keadaan terdesak. Dan kini, hidupmu terdesak. Jadi ... menanglah, demi keselamatan kita," ucapnya memohon.
Namun, Sandara malah meneteskan air mata. Neon mendekati gadis cantik itu perlahan dan memeluknya. Sandara mendorong tubuh Neon, tapi remaja itu tetap mendekapnya erat.
__ADS_1
"Aku berjanji, akan membebaskanmu. Tapi, kau harus menang. Berjuanglah. Dan sebagai gantinya, aku memberikanmu pedang sungguhan," ucap Neon seraya melepaskan pelukan.
Sandara menghapus air matanya cepat. Ia melihat Neon membawa buntalan kain berwarna hitam yang ia letakkan di lantai dekat dinding.
Seketika, mata Sandara melebar. Ia melihat sebuah pedang Persia telah dipersiapkan Neon untuknya. Neon menatap Sandara yang kini perlahan mendekati pedang itu dan ikut memandanginya.
"Menanglah. Jangan sungkan bunuh mereka semua. Kau harus percaya pada kemampuanmu, Sandara. Buat mereka takut padamu. Buat mereka berpikir ulang untuk mengusikmu. Kau mengerti?" tegas Neon menatap Sandara lekat dan gadis itu mengangguk.
"Neon!" panggil seorang wanita menuju ke arah kamar Sandara.
Dengan sigap, Neon memakai kembali topengnya. Ia menutup pedang itu dengan kain hitam menggunakan ujung sepatu. Sandara ikut tegang dan ia langsung berdiri menutupi pedang yang akan ia gunakan itu.
"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Venelope yang muncul dengan topeng menutupi setengah wajahnya.
"Kenapa kaukemari? Ini adalah kamar jagoanku. Kau ingin mengintip dan berbuat curang? Kembali ke tempatmu berada, Venelope."
"Kau berani padaku? Apa kau tak ingat, nyawa Ahmed dalam genggamanku," tegasnya memepetkan topengnya ke topeng Neon.
Seketika, Venelope langsung melangkah mundur. Matanya terlihat jelas terbelalak dari lubang penglihatan topeng. Wanita itu mendengkus kesal dan segera pergi dari kamar Sandara.
"Bagaimana? Gertakanku cukup keren untuk mengusirnya 'kan?" tanya Neon dengan senyum terkembang. Sandara hanya tersenyum. Neon keluar dari kamar dan menutup pintu.
Pandangan Sandara kembali tertunduk. Ia menarik katana mainannya dan kini menggantinya dengan pedang Persia tersebut.
Sandara mencoba mengayunkan dan menggunakan pedang yang bentuknya sangat berbeda dari katana yang ia gunakan sebelumnya karena bilahnya melengkung.
"Pedang ini sangat tajam, panjang, tapi ringan. Aku harus hati-hati menggunakannya," ucapnya menilai dan memandangi besi pada pedang itu seksama.
Sandara terlihat serius dan fokus. Ia mengulang semua gerakan yang dipelajarinya dari video tutorial saat di kediaman Neon.
Hingga akhirnya, CEKLEK!
Sandara dengan sigap menyarungkan kembali pedangnya dan berdiri tegap menatap semua wanita bercadar yang masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Sudah waktunya, ikut kami," ajak seorang wanita yang berdiri paling depan dari kerumuman itu.
Sandara melangkah dan berjalan mengikuti wanita bercadar cokelat. Sandara diapit, tapi ia menyadari jika wanita di kanan kirinya menatap pedangnya seksama.
"Asal kau tahu, pedang yang akan kaugunakan adalah milik mendiang pak Sutejo. Dia kolektor senjata tajam. Entah dari mana kau mendapatkannya, semoga keberuntungan berpihak padamu, meski kami, membenci ibumu, Vesper," ucap wanita bercadar putih melirik pedang Persia yang kini menjadi senjata baru Sandara.
"Aku anggap itu sebagai dukungan. Terima kasih," jawab Sandara balas melirik dengan wajah datar.
Sandara terlihat gugup. Tangan kirinya tak lepas dari gagang pedang yang berada di pinggul kirinya.
Hingga akhirnya, mereka menuruni sebuah tangga dan memasuki sebuah ruangan besar dengan kurungan besi berukuran kurang lebih 10 x 10 meter yang berada di tengah-tengah.
Terdapat kursi yang berjejer rapi dan bertingkat hingga 3 level, seperti stadion mini. Kursi-kursi itu mengelilingi kurungan berbentuk balok.
KLANG!
Sandara di masukkan dalam sebuah kurungan besi berukuran lebih kecil dengan kursi kayu di dalamnya. Gadis berkulit putih itu duduk, dan melihat sekitar dengan jantung berdebar.
Banyak wanita bercadar dengan pakaian berwarna-warni terlihat elegan menampakkan kilau emas di tubuh mereka. Para pria mengenakan pakaian serupa seperti yang Neon gunakan, hanya saja, lebih indah dan berkesan mahal.
Sandara mendapati Neon duduk di seberangnya di kejauhan. Para wanita bercadar yang mengantarnya duduk di sekitar Neon. Sosok Sandara mendapatkan perhatian dari para penonton.
Sandara merasakan tangannya berkeringat. Ia meniupnya untuk mengurangi rasa cemas di hatinya karena presentasi yang baginya lebih seperti sebuah pertarungan hidup dan mati, layaknya sang ibu dan Amanda kala itu.
Namun pertarungan kali ini berbeda. Sandara sudah tahu siapa musuhnya. Dan mereka, ada di balik dinding yang ia lihat dari celah kamar.
"Benar kata Neon. Aku harus menang. Aku tak boleh kalah. Aku akan tunjukkan pada mereka bahwa aku bukan Sandara si lemah. Aku akan memiliki julukan sendiri seperti para mafia senior lainnya. Dan itu, akan kudapatkan begitu berhasil memenangkan pertarungan ini," ucapnya menyemangati diri seraya melihat kurungan besi yang menjulang sampai ke atap di ruang bawah tanah itu.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE (sketchfab.com) and lifestyle.okezone.com
tengkiyuw tipsnya Abee. Diborong uyy😆 lele padamu😍
__ADS_1