
Semua orang terkejut karena Sierra berteriak dengan napas tersengal dan mata melotot. Gadis itu terkejut dan langsung duduk dengan tubuh basah kuyup.
Venelope memeluk Sierra erat. Gadis bermata biru itu terlihat bingung, tapi ia balas memeluk Venelope. Clack menepuk pundak Jonathan dengan senyuman begitupula Click, tapi pemuda itu menunjukkan wajah masam.
Jonathan mendatangi Sierra dan melepaskan kalung di lehernya begitupula gelang pemenggal di kedua tangan serta kakinya.
Sierra bingung termasuk Venelope dan Click and Clack karena belenggu di kedua tangan serta kaki mereka dilepaskan. Orang-orang menatap Jonathan keheranan.
"Pergi sana. Jangan pernah muncul lagi di hadapan Jonathan dan orang-orang jajaran 13 Demon Heads," ucapnya seraya memasukkan alat-alat kematian itu ke dalam tas ranselnya.
Sierra menatap Jonathan lekat. Gadis itu merangkak mendekat dan malah memeluknya. Jonathan bingung memandangi Sierra dengan kening berkerut.
"Aku ingin bersamamu, Jonathan. Aku akan ikut ke mana pun kau pergi. Kau kini rumahku," ucapnya dengan tubuh menggigil. Namun, "Ahh!" rintih Sierra saat Jonathan melepaskan pelukannya dan mendorong tubuhnya hingga gadis bermata biru itu tersungkur di lantai kapal.
Venelope menolong Sierra yang terlihat kaget akan sikap kasar Jonathan padanya.
"Gak tau malu banget ya. Nathan itu cintanya cuma sama Cassie, bukan kamu. Nathan bakal jadi ayah dari anak yang dikandung Cassie. Ngerti?!" tegasnya menunjuk.
Sierra terkejut termasuk Click and Clack.
"Cassie ... mengandung? Oleh karena itu, kau mencarinya?" tanya Sierra menduga. Jonathan mengangguk tanpa berucap. Pandangan Sierra tak menentu seperti memikirkan sesuatu. "Aku akan membantu menemukannya. Aku cukup mengenal Miles dan Cassie," sambungnya cepat dengan hembusan nafas mengeluarkan asap tipis.
"Kamu minta imbalan apa kalau Cassie ketemu?"
"Kau. Biarkan aku tetap bersamamu, Jonathan. Aku berjanji, aku akan menghentikan semua kegilaanku. Aku akan mengumumkan No Face telah hancur di depan 13 Demon Heads. The Cirlce telah musnah, begitupula No Face. Seperti kataku sebelumnya, semua telah selesai," ucapnya dengan nafas terengah.
Jonathan menatap Sierra tajam begitupula Venelope yang duduk di sampingnya dengan wajah tertunduk. Jonathan melirik Click and Clack yang ikut menundukkan wajah.
"Oke. Nathan baru percaya setelah kalian semua duduk di kursi persidangan 13 Demon Heads," tegasnya. Empat orang itu mengangguk pelan.
Jonathan segera meminta anak buahnya yang mengemudikan speed boat segera menghubungi pusat. Tentu saja, hal mengejutkan ini disambut baik oleh semua orang dalam jajaran 13 Demon Heads.
Para anggota dewan dan orang-orang dalam jajaran mafia elit diminta berkumpul di Black Castle.
Penjagaan ketat diberlakukan untuk membawa empat tahanan No Face termasuk dua bodyguard Jonathan.
Tobias yang mengetahui hal ini dibuat kaget setengah mati akan keputusan dari Sierra termasuk para Pion D.
"Apa dia gila? Sierra tak waras? No Face dibubarkan?" tanyanya dengan mata melotot saat Han menghubunginya.
"Ya. Kau juga sebaiknya segera menyusul kemari, Tobias. Kau juga harus membuat pernyataan dan pengakuan tentang kehancuran The Circle," tegas Han menatapnya tajam dari video call.
"Tidak! Aku pemimpin The Circle! Jika No Face bubar, biarkan saja, tapi The Circle akan tetap selalu ada!" tegasnya menolak.
"Jika kau bersikeras, Lysa akan terkena imbas dari keegoisanmu, Tobias. Ia bisa diasingkan dari jajaran 13 Demon Heads. Lysa bisa kehilangan kursinya dalam jajaran dewan. Kau ingin hal itu terjadi? Lysa kehilangan keluarganya karena kengototanmu untuk menjadi penguasa?"
Napas Tobias memburu. Ia terlihat bingung menyikapi hal ini dan melampiaskannya dengan berteriak. Han menghembuskan nafas panjang.
__ADS_1
"Kami tunggu kehadiranmu dan para Pionmu di Black Castle. Jika kau tak mengindahkan peringatan dari kami, para anggota dewan setuju untuk melepaskan jabatan Lysa sebagai salah satu anggota dewan karena Lysa dinilai tak memberikan kontribusi dalam jajaran selama dalam pengaruhmu. Kami merasa, Lysa tak cocok menjadi seorang mafia. Lebih baik, ia menjadi pengusaha legal dan ibu untuk anak-anaknya. Itu saja dariku."
Mata Tobias terbelalak saat Han memutus sambungan video tersebut. Para Pion yang ikut mendengar terkejut.
"Aku ... akan diturunkan dari kursi dewan?" tanya Lysa tiba-tiba yang muncul di ruang Pusat Komando dengan wajah sendu.
Praktis, mata semua pria di ruangan itu teralih pada sosoknya yang perlahan mendekat.
"Mereka sungguh egois, Lysa," tegas Tobias terlihat kesal memalingkan wajah.
"Tapi ... yang dikatakan oleh mereka benar. Aku terlalu sibuk mengurus bayi Fara. Aku ... tak berkontribusi apapun termasuk pencarian Sandra dan Jonathan," jawabnya tertunduk.
"Kau akan merelakan kursi dewanmu begitu saja?" tanya Pion Dakota menyahut.
Lysa tersenyum. "Toby, jujur padaku. Kau lebih senang saat aku berada di sisimu, atau pergi bersama para mafia itu untuk melakukan pekerjaan ilegal?" tanya Lysa mendekati sang suami seraya meraih jemarinya dengan lembut.
Tobias tertunduk melihat tangan Lysa menggenggam jemarinya erat.
"Benar-benar menyebalkan. Sungguh, tak apa?" tanya Tobias menatap Lysa lekat dan Ibu muda itu mengangguk dengan senyuman.
Lysa memeluk Tobias, meski terlihat wajahnya bersedih. Para Pion terdiam di tempat mereka berdiri dengan wajah tertunduk.
"Baiklah. Kita ke Black Castle. Persiapkan semua," perintah Tobias terlihat lesu saat melepaskan pelukannya. Para Pion mengangguk paham dan segera berkemas.
"Aku bahagia hidup bersamamu. Aku tak masalah jika harus mundur dari dunia mafia, demi keselamatan anak kita. Sudah cukup perselisihan yang terjadi diantara kelompok kita, Toby. Aku ingin ... kita menghabiskan waktu bersama dan ... melakukan hal-hal layaknya orang normal. Kau ... mau 'kan?" tanya Lysa seraya meraih wajah sang suami yang menatapnya lekat.
Dewi yang masih tinggal di rumah itu terlihat senang mendengar keputusan Lysa dan Tobias. Dewi ikut berkemas karena ia akan ikut ke Black Castle bersama dengan Jubaedah.
Minggu kedua bulan Desember.
Black Castle dipenuhi oleh para mafia yang hadir untuk mendengar pengakuan dari orang-orang dalam jajaran The Circle dan No Face yang masih hidup.
Ruang persidangan penuh. Jordan ikut hadir tanpa Naomi karena sang isteri sedang hamil. Tessa datang untuk ikut membuat pengakuan karena bagaimanapun ia dulunya masuk dalam jajaran No Face.
Sayangnya, Sandara masih enggan untuk muncul. Keberadaannya pun dirahasiakan. Kai dan Afro dibuat kesal oleh Yudhi yang bungkam, tak memberitahukan keberadaan Sandara.
"Di mana anakku, Yudhi?" tanya Kai melotot tajam padanya dengan Afro berdiri di samping Kai ikut mengepung Yudhi.
"Aku, tidak, tahu. Aku lolos dari No Face, bukan berarti Sandara bersamaku," tegasnya memasang wajah malas memalingkan pandangan.
"Kau apakan Dara, huh? Kau harus tahu, Yudhi. Kau akan duduk di kursi itu, karena bagaimanapun, kau pernah terlibat dengan No Face," tegas Afro.
"Kau juga akan duduk di sana. Jangan lupa hal itu," sahut Yudhi melotot.
Afro mendesis. Kening Kai berkerut menatap Yudhi yang terlihat ketus dan memasang wajah dingin pada orang-orang yang menanyakan Sandara padanya.
Sedang orang-orang yang terlibat, telah berjanji tak akan buka mulut tentang kondisi atau keberadaan Sandara.
__ADS_1
Siang itu, kursi tengah dipenuhi oleh orang-orang No Face dan The Circle, mulai dari Sierra, Tessa, Venelope, Tobias, 7 Pion, Click and Clack, Afro, Yudhi, dan pasukan gabungan dari The Circle di bawah naungan Jonathan dan Lysa. Ungu genit bahkan ikut serta karena dipaksa oleh Jonathan. Suasana tegang seketika.
Vesper dan Amanda duduk sebagai Dewan Tertinggi di Persidangan hari itu. Jordan terlihat siap bersama tim Silhouette di mimbar. Sedang Red Ribbon harus duduk tanpa ketua mereka di sana.
"Hari ini. Kita akan mendengar pernyataan dari orang-orang The Circle dan No Face tentang keputusan mereka untuk membubarkan diri. Silakan," pinta Amanda menunjuk Tobias.
Pria bertato yang selalu menyebut dirinya sebagai ketua The Circle tersebut berdiri mewakili orang-orang dalam jajarannya.
"Aku ... terpaksa melakukannya dengan mengakui organisasiku bubar," jawabnya malas.
"Tobias," tekan Vesper dari tempatnya duduk. Tobias menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Oke. Kami ... sepakat. The Circle dan No Face bubar. Lenyap dari muka bumi per detik ini. Puas?" jawabnya kesal menatap Vesper tajam.
"Thank you, Toby," jawab Vesper dengan senyuman.
"Lainnya. Silakan, ucapkan pernyataan kalian," pinta Amanda sopan.
Tessa dan lainnya berdiri, tapi Sierra tetap duduk karena ia tak bisa berdiri. Tangan mereka membentuk lambang 'Home'.
Terlihat jelas wajah orang-orang itu seperti berduka karena harus kehilangan rumah yang menaungi mereka selama ini sejak berpuluh-puluh tahun lamanya.
"Kami, penerus The Circle dan No Face, dengan ini menyatakan, organisasi bentukan Lucifer Flame dan Madam Sierra dibubarkan untuk selamanya. Tak ada praktek ilegal ataupun usaha untuk menghancurkan 13 Demon Heads. Kami serahkan diri kami kepada 13 Demon Heads. Kami menyatukan diri dan tak akan berkhianat!" seru sekumpulan orang-orang berpakaian putih tersebut.
SRETT!
Mereka memberikan cap darah ke buku hitam sebagai sumpah yang diucapkan. Hari itu, seluruh mafia dalam jajaran 13 Demon Heads menyaksikan fenomena langka di mana musuh bebuyutan mereka selama ini menyatakan kalah dan menyerah.
"Yeahhh!" seru para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads di markas para anggota dewan di seluruh dunia usai melihat tayangan langsung tersebut.
Para anggota dewan menghembuskan nafas lega karena pertikaian mereka berakhir. Amanda dan Vesper saling memandang dengan senyum terkembang. Keduanya berpelukan dengan mata terpejam terlihat begitu bahagia.
Hari itu juga, Lysa menyatakan mundur dari kursi anggota dewan dan memilih untuk menjadi warga biasa. Ia menyerahkan anak buah The Eyes kepada Vesper, tapi sang ibu menolaknya.
"Kau membutuhkan orang-orang itu untuk menjalankan bisnis legalmu, Lysa. Kau harus mengembangkan bisnismu agar orang-orang itu tetap mendapatkan pekerjaan. Dan, Kai orang yang tepat untuk berkonsultasi," tegas Vesper seraya melirik ke arah suami termudanya. Kai tersenyum dengan anggukan. Lysa berterima kasih.
Arjuna diam di kursinya menyaksikan Sierra, Venelope, Ungu Genit, Click and Clack memutuskan masuk dalam jajaran Jonathan Benedict. Pemuda itu terlihat tak mempermasalahkan hal tersebut.
"Namun, lepasnya Miles, Cassie, dan anak-anak pak Sutejo, itu menjadi tanggungjawab kalian. Temukan mereka, dan bawa orang-orang itu kemari," tegas Vesper ke jajaran Jonathan.
"Yes, Mam!" jawab orang-orang itu serempak dengan anggukan mantap.
***
tengkiyuw tipsnya diborong alra 😘 Jangan lupa boom like audio book lele ya biar bulan depan bs dpt bonus eps kl target koin terpenuhi. Amin~
__ADS_1