
Click and Clack mendekap tubuh dua remaja itu dan membawanya keluar dari markas bawah tanah kediaman Sierra.
Yudhi tak bisa menghentikan raungan tangisannya hingga suaranya menggema dan terdengar hingga ke seluruh lantai.
Sierra dan Smiley terlihat puas setelah berhasil menjatuhkan mental dua orang yang tadinya berhasil menguasai keadaan. Sandra menangis sedih dalam pelukan Click, begitupula Yudhi dalam dekapan Clack.
"Kita akan membalasnya. Mereka akan merasakan pembalasanku," geram Sandara saat pintu lift tertutup dan membawa mereka kembali ke atas.
Para anggota No Face yang berjaga di luar mengepung dua mobil yang membawa Puteri mereka ke rumah warna merah muda tersebut.
Sandara duduk di bangku tengah seperti saat ia datang tadi. Yudhi tertunduk terlihat shock, pandangannya tak menentu dan tubuhnya bergetar.
Saat pintu gerbang terbuka dan mobil pertama yang mengangkut anggota Pria Tampan bersiap keluar, Sandara menyadari sesuatu.
"Ini ... mobil modifikasi kak Nathan?" tanya Sandara melirik Clack yang duduk di bangku kemudi.
Pria gundul berbadan besar itu balas melirik Sandara dan mengangguk. Wajah Sandara berubah serius seketika.
"Kosongkan muatan," perintahnya dengan sorot mata tajam melihat orang-orang No Face yang berdiri di sekitar mobilnya, lalu melirik ke kediaman Sierra bak istana. Clack menatap Dahlia dan pemimpin pasukan Pria Tampan itu mengangguk.
Seketika, BROOM ....
KLIK! BUZZ ....
"Woahhh!! Gas! Gas!" teriak salah satu anggota No Face ketika gas buang pada knalpot mobil Jonathan menyemburkan asap dengan warna hijau hingga menyeruak di sekitar halaman.
Clack bermanuver dan tak segan menabrak orang-orang itu hingga suara erangan kesakitan terdengar jelas.
Dahlia dengan sigap membuka dashboard mobil dan terlihat sebuah papan pengendali di sana. Sandara memasang wajah dingin ketika melihat kekacauan di depannya, dan Yudhi masih menundukkan wajah membisu.
KLIK! SWOSHH! BLUARRRR!!
"Padamkan api!" teriak salah satu anggota No Face yang berada dekat kediaman Sierra tak terkena dampak.
Rumah bagai istana negeri dongeng itu terkena tiga misil yang meluncur dari bagian atap belakang mobil yang bisa terbuka. Ledakan hebat praktis meruntuhkannya.
"Jangan beri ampun," perintah Sandara yang kini memajukan tubuhnya untuk melihat lebih dekat keadaan di area penghancuran itu.
KLIK! BUZZ ...
"Ohok! Arrghhh!" erang para anggota No Face saat gas warna jingga kini menyeruak.
Clack berkeliling dengan mobilnya di halaman luas rumah Sierra tak keluar dari gerbang.
KLIK! KLIK! KLIK!
DUK! DUK! DUK!
DUWARRRRR!!!
Dahlia meluncurkan Mini Domino ke tembok dan gerbang pintu masuk kediaman Sierra. Bangunan kokoh itu runtuh dengan kobaran api dan asap yang membumbung tinggi di cuaca yang mulai hangat.
"Singkirkan mereka. Terobos," ucap Sandara pelan dengan wajah datar memberikan perintah.
KLIK!
SRIINGGG!! CRATTT!!
__ADS_1
"ARRGHHHH!!"
Empat buah pedang muncul dari tengah velg mobil. Kaki para pria yang sekarat di sekitar halaman rumah Sierra terkena sabetan pedang tajam tersebut. Kaki mereka terpotong dan tubuh mereka terlindas oleh ban mobil kendaraan yang cukup besar itu.
Tubuh para penumpang di dalam mobil terguncang karena ban mobil menginjak tubuh para korban akibat kebiadaban mobil tempur Jonathan saat melewatinya.
Click yang telah keluar dari gerbang menghentikan laju kendaraan mobilnya. Pada akhirnya, ia ikut memeriahkan acara pembantaian hari itu.
Senjata gatling muncul dari bagasi belakang mobil. Tim pria tampan telah bersiap di belakang. Click memutar mobilnya hingga mobil itu membelakangi para korbannya yang mencoba untuk melarikan diri.
"FIRE!" teriak Enceng Gondok yang duduk di samping Click.
Seketika, DODODODODOOR!!
"Agghhh!" teriakan kematian membahana di siang hari itu. Mayat-mayat bergelimpangan di segala sudut.
Kaktus memberondong seluruh pasukan No Face Sierra yang masih bertahan dan mencoba untuk lolos dari maut.
Namun, orang-orang dari kubu Sandara yang telah diliputi kebencian dan dendam, meninggalkan oleh-oleh sebagai catatan, mereka takkan berkunjung lagi ke tempat itu.
"Good bye, kak Nathan," ucap Sandara dengan wajah datar lalu menepuk pundak dua pria di depannya sebagai tanda bahwa aksi mereka di tempat itu telah selesai.
Dua mobil segera meninggalkan kediaman Sierra yang telah porak-poranda dan hancur. Puing-puing bangunan berserakan di segala sudut.
Mayat-mayat tergeletak dengan kondisi mengenaskan dengan organ tubuh berceceran di segala sudut. Bahkan, bekas ban dua mobil Jonathan di halaman berkonblok itu terlihat jelas sampai ke luar gerbang.
Tak lama, muncul Sierra, Smiley, dan Venelope dari sebuah palka yang letaknya tak jauh dari kawasan rumah gadis bermata biru itu.
"Arrrghhhh! Sandara! Dia menghancurkan rumahku! Awas saja, akan kubalas!" teriak Sierra marah saat melihat rumahnya telah hancur dan rata dengan tanah.
"Aku sudah siapkan keberangkatan. Ayo, kita harus bergegas," ajak Smiley dan Sierra mengangguk meski terlihat begitu marah karena insiden ini.
Sierra dan lainnya segera masuk. Helikopter itu terbang meninggalkan kawasan rumah Sierra. Terlihat jelas, kemarahan di wajah pemimpin No Face tersebut saat melihat dari atas langit keadaan rumahnya meski dalam diam.
Seoul, Kediaman Vesper. Beberapa hari setelah tim pertama Pria Tampan ditugaskan.
Sang Ratu tertidur lelap di ranjang empuk berselimut tebal, meski kamarnya terasa hangat karena dilengkapi penghangat ruangan.
Namun seketika, kening Vesper berkerut saat ia merasakan ada sosok lain di sampingnya dan aura itu seperti pernah ia kenali sebelumnya.
Perlahan, ketua para mafia di seluruh dunia itu membuka mata. Praktis, mata Vesper melebar begitu ia mendapati sosok yang ia kenal sedang menatapnya dengan wajah datar. Vesper terlihat gugup dan bingung.
"Maaf, jika aku mengganggu tidurmu, Vesper," ucap Cassie lirih.
"Yes," jawab Vesper dengan posisi tidur miring, saling berhadapan dengan Cassie yang ikut merebahkan tubuhnya dalam posisi yang sama. "Pasti ada hal buruk." Cassie mengangguk. "Tentang apa?" tanya Vesper tetap tenang dan bersuara lirih agar tak membangunkan yang lain, meski ia juga heran bagaimana Cassie bisa masuk ke kamarnya, sedang rumah itu dijaga ketat oleh pasukan Black Armys miliknya, lima anggota Pasukan Pria Tampan Jonathan, bahkan ada James dan Zurna.
"Aku tahu yang kaupikirkan. Aku tak membunuh mereka. Aku hanya menggunakan gas bius," ucapnya pelan, dan Vesper mengangguk malas. "Aku ... tak bisa melanjutkan misi mencari Sandara," sambungnya lirih.
Vesper tersenyum tipis. "Dia sudah ditemukan," jawab Vesper yang membuat mata Cassie melebar seketika.
"Sungguh? Di mana dia sekarang?" tanya Cassie terlihat penasaran.
"Bisakah kau tukar misimu dengan menyelamatkan Jonathan?"
"Jonathan?" tanyanya mengulang dan Vesper mengangguk.
"Akan terjadi barter di kediaman Sierra, Colmar, Perancis. Kau tahu tempat itu?" Cassie mengangguk. "Hanya saja, aku cukup yakin jika hal buruk akan terjadi meski tak tahu akan seperti apa. Bisakah kau terlibat?"
__ADS_1
"Aku ... tidak tahu," jawabnya lesu. Kening Vesper berkerut.
"Ada apa, Cassie sayang? Apa yang kausembunyikan? Katakan padaku. Aku bukan seorang cenayang yang tahu tujuanmu datang kemari," tanya Vesper menatap gadis di depannya lekat.
Cassie mengulurkan tangannya dan menarik salah satu tangan Vesper. Sang Ratu memasrahkan tangan kanannya saat di tarik oleh gadis di depannya dan di arahkan ke perutnya yang terbungkus pakaian tempur Black Armys. Praktis, mata Vesper melebar.
"Aku tak tahu harus bagaimana. Aku ... datang ke dokter karena merasa tubuhku sakit secara tiba-tiba. Dokter di Klinik mengatakan jika aku hamil. Aku cukup yakin jika ini junior Jonathan."
"Junior ... Jonathan?" tanya Vesper merasa aneh dengan sebutan itu. Cassie mengangguk.
"Aku diberikan banyak obat dan dokter memintaku untuk meminumnya agar rasa mualku tak timbul serta memperkuat janinku. Aku menuruti perintah dokter, tapi ... dia tak memberitahuku apa yang harus aku lakukan dengan junior di perutku ini. Aku harus bagaimana?" tanyanya bingung.
Vesper tersenyum tipis dan kini mengusap wajah Cassie lembut. Gadis berambut pirang itu terlihat bingung hingga keningnya berkerut. Sebuah ekspresi aneh yang muncul di hadapan sang Ratu.
"Sungguh. Sejak awal kemunculanmu, kau selalu memberikan banyak kejutan, Cassie. Aku ... ada misi untukmu, tapi ini sangat berisiko. Kemungkinan 50 persen akan berhasil. Apa kau mau menerimanya?" tanya Vesper menatap Cassie lekat.
"Kau Ibu Jonathan. Dan ... misi darimu, sama saja dengan misi yang diberikan Jonathan untukku," jawab Cassie berwajah sendu.
"Terima kasih, Cassie. Yang perlu kaulakukan sekarang adalah ... menyusul Jonathan. Dia harus tahu apa yang terjadi padamu. Selanjutnya, pasti kau akan menjadi tawanan No Face. Apa ... kau tak keberatan?"
"Hem. Pikiran kita sama, Vesper. Aku juga berpikiran demikian."
"Nyonya. Panggil aku Nyonya atau Mam, sopanlah sedikit," pinta Vesper kesal.
"Yes, Mam." Vesper tersenyum dengan anggukan karena Cassie menurut. "Lalu ... menghancurkan mereka dari dalam?" tanya Cassie meneruskan, dan Vesper mengangguk membenarkan.
"Kau pintar, Cassie sayang. Kau dan Jonathan ... mungkin akan menderita selama dalam cengkeraman mereka."
"Aku sudah terbiasa menderita," jawabnya cepat.
"Ya, aku tahu. Tapi, belum tentu Jonathan demikian. Jadi ... dampingilah dia. Jangan tinggalkan Jonathan apapun yang terjadi. Gunakan kehamilanmu untuk menekannya. Katakan, Jonathan harus bertahan hidup agar bayinya selamat. Jonathan sangat perasa, dan ... pasti dia akan menurut. Ia kuat saat terdesak. Namun, hal itu bisa memberikan kesempatan bagi No Face untuk memanfaatkan kalian. Jadi, tunjukkan, siapa yang dimanfaatkan? Kau bisa?" tanya Vesper menaikkan salah satu alis.
"Yes, Mam, aku bisa. Aku akan meninggalkan remah roti untukmu," jawab Cassie pelan dan Vesper tersenyum lebar.
Namun tiba-tiba, Cassie menaburkan remah roti di hadapan wajah sang Ratu hingga serpihan makanan itu berada di atas ranjangnya.
"Kau sungguhan menaburkan remahan roti? Itu bukan sebuah kiasan?" tanya Vesper sampai melotot.
"Oh. Kau kira ... itu sebuah kiasan? Maksudmu ... meninggalkan jejak agar keberadaan kami diketahui dan terpantau olehmu?"
"Yes. Kalian tak ingin diselamatkan?" tanya Vesper heran. Cassie diam sejenak.
"Tak perlu. Aku yakin bisa melakukannya tanpa harus diselamatkan," jawabnya yakin.
Vesper memutar bola matanya. Ia langsung duduk lalu menggulung rambutnya dengan hembusan nafas panjang.
"Ya sudah, terserah kau saja. Pastikan kau dan Jonathan saat muncul atau ditemukan dalam keadaan baik. Oke?" pinta Vesper seraya berdiri di samping ranjang menatap Cassie yang masih dalam posisi tidur miring.
"Oke," jawabnya dengan wajah datar.
Vesper meninggalkan gadis cantik itu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sayangnya, begitu sang Ratu kembali, Cassie sudah tak ada di tempat ia tadi di tinggalkan.
"Good luck, Cassie. Semoga ... Tuhan melindungimu," ucap Vesper pelan. "Eh, kenapa akhir-akhir ini aku sering menyebut nama Tuhan. Oh, pasti hal buruk akan terjadi," sambungnya mendadak panik seraya memegangi dadanya.
***
Tengkiyuw tipsnya😍 lele padamu😘
__ADS_1