
Ternyata, dugaan hal buruk Vesper terjadi. Ledakan besar di kediaman Sierra terpantau oleh satelit Theresia dan memberikan laporan kepada GIGA SIA dan DARA tentang aktivitas di kawasan tersebut, termasuk militer pemerintah Perancis.
"Dasar Dara, mencolok sekali," gerutu Vesper di ruang kerjanya, rumah Seoul, Korea Selatan. "Tapi ... mirip denganku dulu. Selalu menarik perhatian. Ah, aku baru ingat jika dia salah satu puteriku. Kenapa aku merasa diriku aneh akhir-akhir ini?" ucap Vesper seraya meraih secangkir berisi teh hijau hangat di hadapannya lalu menyeruputnya sedikit.
"Nyonya. Kami telah mengikuti pergerakan dari helikopter yang membawa Jonathan dan Cassie. Mereka menuju ke dermaga dan mendarat di sebuah yacht. Sepertinya, orang-orang itu akan menyeberang meninggalkan Perancis," ucap Mawar dari Tim Bunga Jonathan yang dikirimkan oleh Vesper secara diam-diam untuk memantau keadaan.
"Terus ikuti, jangan sampai kehilangan jejak, dan ... tetap rahasiakan dari semua orang."
"Yes, Mam," jawab Mawar lalu menutup telepon.
"Hem ... mau pergi ke mana lagi kalian? Semua kediaman anak Sutejo telah kami pantau, meski sengaja tak kami usik agar kalian masuk perangkap. Namun ... apakah kalian secerdas itu?" tanya Vesper tersenyum miring menatap pergerakan sebuah yacht berwarna putih dengan sebuah helikopter berwarna merah terang di atas kapal tersebut, mulai bergerak meninggalkan pelabuhan.
Trinidad and Tobago Island.
Esok harinya. Tim Sandara tiba di kediaman Yudhi di mana Atit, Albino, Sohee, dan lima anggota pasukan Pria Tampan telah menunggu kedatangan mereka di sana.
Yudhi terlihat begitu sedih. Ia sering menangis secara tiba-tiba. Sandara bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh pria yang mengorbankan hidupnya agar ia bisa terbebas dalam cengkeraman No Face.
"Aku berjanji akan selalu bersamamu, Yudhi," ucap Sandara menatap Yudhi seksama seraya memegang kedua tangannya erat.
"Om Ahmed meninggal dengan cara yang sadis, Dara ... Me-me ...," ucapnya tergagap karena Yudhi kembali menangis sampai sesenggukan.
Sandara langsung memeluk pemuda itu erat. Yudhi balas memeluk dengan air mata tumpah begitu derasnya. Semua orang yang melihat kondisi Yudhi begitu kehilangan sosok Ahmed turut iba, tapi tak bisa melakukan apapun.
"Maaf mengganggu," ucap Atit saat masuk ke kamar tempat Yudhi beristirahat. Dua remaja itu saling melepaskan pelukan dan menatap Atit yang memandangi mereka dengan wajah sendu. "Besok kita akan pergi ke Thailand. Bersiaplah," sambungnya. Sandara dan Yudhi mengangguk.
Kediaman Yudhi tetap disembunyikan dari jajaran Vesper yang sedang melakukan pencarian. Rumah itu akan dijaga oleh pasukan Pria Tampan Jonathan seperti yang diucapkan oleh anak dari mendiang Erik tersebut jika Sandara boleh memiliki pasukannya.
Keesokan harinya, sebuah helikopter meninggalkan kediaman Yudhi di mana benda tersebut dulunya milik Sierra termasuk tiga buah speed boat yang ditumpangi anggota No Face.
Rumah Yudhi dijaga oleh tiga anggota Pria Tampan yakni Kaktus, Kemuning, dan Kecebong. Mereka nantinya akan memfasilitasi kediaman Yudhi dengan persenjataan Vesper Industries atas perintah sang Ratu.
Helikopter terbang menuju ke Caracas, Venezuela, lalu dilanjutkan menggunakan pesawat komersil menuju ke Thailand. Rombongan itu tetap terpantau oleh sang Ratu dari GIGA DARA.
Penerbangan cukup lama dan memakan waktu hampir 42 jam. Tentu saja, hal itu membuat semua penumpang pesawat tersebut lelah.
Pesawat transit di Istanbul, Turkey. Kembali, kenangannya selama tinggal di negara tersebut bersama keluarga sang paman, membuat Yudhi semakin terpuruk.
__ADS_1
Kali ini, giliran Sandara yang harus berusaha untuk mengembalikan senyuman Yudhi, meski terlihat mustahil.
Sayangnya, sampai pesawat tersebut mendarat di Bangkok, Thailand, senyum Yudhi masih tak tampak, meskipun cuaca di Negeri Gajah Putih sangat cerah dan mendukung untuk menikmati keindahan kota-kota di negara tersebut.
Iklim di Thailand kurang lebih hampir sama dengan di Indonesia, yakni iklim tropis. Namun, beberapa daerah beriklim sub tropis atau memiliki tiga jenis musim, seperti musim panas, musim dingin dan musim hujan.
Atit membawa rombongannya ke rumahnya yang berada di Phuket menggunakan sebuah yacht di mana salah satu pos darurat Jonathan juga berada di negara itu.
Anggota pasukan Pria Tampan, menjalankan misi dari tugas yang diberikan oleh Vesper dengan baik.
Bahkan, mereka berhasil mengelabuhi kawan satu kelompok mereka—The Circle Jonathan—dengan dalih menggunakan yacht tersebut untuk mencari lokasi hunian baru atas permintaan Vesper.
Mereka mengatakan jika sang Ratu ingin membangun sebuah Villa di sana. Hebatnya, orang-orang itu percaya tanpa harus menggunakan gas halusinasi.
Bagitu tiba, senyum Sandara merekah berikut semua orang kecuali Yudhi, saat mereka melihat sebuah rumah indah yang terlihat terawat dengan baik meski lama ditinggalkan oleh pemiliknya.
Mereka bicara dalam bahasa Thailand.
"Kau menjaga rumah ini dengan baik, Aom," ucap Atit seraya menepuk pundak gadis tersebut.
Gadis yang dipanggil Aom tersebut mengangguk. Aom mengajak para tamunya untuk melakukan tour di rumah yang nantinya akan mereka tinggali sementara waktu.
Sandara menggandeng tangan Yudhi di tiap langkahnya. Meskipun Sandara mengenakan topeng, tapi hal itu tak membuat Aom merasa risih.
Mereka bicara menggunakan bahasa Inggris.
"Ini kamar untuk Nona Sandara dan Tuan Yudhi, silakan," ucapnya seraya membuka sebuah pintu.
"Mereka ... sekamar?" tanya Clack gugup seraya menunjuk pintu yang terbuka dan terlihat warna pastel lembut sebagai dekorasi interior serta pemandangan langsung ke arah pantai.
"Ya. Bukankah ... mereka sepasang kekasih? Informasi yang kudapat dari Tuan Atit bertulis demikian. Semua kamar telah disesuaikan," jawabnya dengan senyuman, tapi berkesan memaksa dan tak bisa ditolak.
"Oke," ucap Clack tak lagi membantah.
__ADS_1
Yudhi langsung masuk ke kamar itu begitu saja, dan Sandara membungkuk berterima kasih. Biri-biri memasukkan koper keduanya ke dalam kamar lalu kembali keluar.
"Silakan kalian berdua istirahat. Lalu, kita semua akan berkumpul malam nanti di halaman untuk pesta barbeque untuk makan malam," ucapnya dengan kedua tangan saling menggenggam di depan dada, terlihat begitu santun. "Mari tamu lainnya, ikuti saya. Akan Aom tunjukkan kamar kalian," ajaknya kembali melangkah setelah Sandra masuk dan menutup pintu.
Orang-orang meninggalkan dua remaja itu agar bisa beristirahat. Yudhi langsung merebahkan tubuhnya yang terlihat lesu, dan tak terlihat senyum di wajahnya sejak insiden di markas Sierra, Perancis.
"Sebaiknya kau mandi dulu," ucap Sandara seraya mendekat, tapi Yudhi diam saja dalam posisi miring dengan kedua tangan telengkup dan dijadikan alas bantal. "Kau ingin aku yang menyiapkan perlengkapan mandimu, Sayang?" tanya Sandara seraya melepaskan topeng. Yudhi mengangguk pelan.
Sandara menyempatkan meninggalkan sentuhan lembut di pipi Yudhi saat ia melangkah.
Yudhi membalik tubuhnya dan melihat Sandara berjalan menuju ke kamar mandi. Akhirnya, senyum tipis di wajah pemuda itu terbit, meski hanya sekejap.
Sandara memberikan waktu bagi Yudhi untuk membersihkan diri dan menenangkan hatinya. Sandara membongkar koper dan menyusunnya di dalam almari, termasuk milik Yudhi.
Bahkan, beberapa kostum mereka ikut di bawa dan dihanger di sebuah almari besar yang tersedia di sana.
"Kau ... senang tinggal di sini?" tanya Yudhi saat keluar dari kamar mandi mengenakan jubah handuk berwarna putih.
Sandara menutup pintu almari dan menoleh dengan senyuman. "Ya. Selama bersamamu, di manapun aku berada, aku akan merasa senang."
Yudhi mendekat dan menyentuh dagu Sandara lembut. "Kau sangat pintar berkata manis. Entah itu sungguhan atau tipuan, aku menyukainya. Terus lakukan, Sandara. Aku tahu yang kaulakukan agar senyumku kembali bukan?" tanya Yudhi dengan alis terangkat.
Sandara tak menjawab dan memilih memeluknya agar wajahnya tak terlihat. Yudhi kembali tersenyum.
"Ingin menyembunyikan diri dariku? Aku tahu semua tentangmu, Dara. Aku bahkan tahu, kau masih gugup saat memelukku. Tak apa, aku tetap menyukai usahamu," ucapnya seraya membalas pelukan itu. Jantung Sandara makin berdebar kencang.
Benar-benar tak bisa mengelabuhinya. Yudhi seperti bisa membaca isi pikiranku. Jika seperti ini terus, aku benar-benar akan jatuh dalam pelukannya. Oh, kak Afro, aku harus bagaimana? tanya Sandara cemas akan hatinya yang mulai bergejolak.
"Jangan panggil Afro, atau aku akan menguburnya hidup-hidup di pantai jika ia sampai datang kemari," ucap Yudhi tiba-tiba, dan praktis, mata Sandara terbelalak. Ia membisu, tapi Yudhi tersenyum.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE (worldwideboat.com, TripAdvisor).
tengkiyuw tipsnya😍 diborong Kade 😆 lele padamu😘 laper uyy makan dulu ahhh😁
__ADS_1