4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Pergi Dariku!


__ADS_3

Sun menangis terisak. Ia begitu terkejut karena ayahnya tewas di tangan pria yang selama ini dilindunginya. Tangan Arjuna gemetaran. Ia berdiri mematung melihat Sun menangisi kepergian sang ayah.


Lysa berjalan mendekat dan menepuk pundaknya. Arjuna tersentak dan menoleh dengan wajah pucat merasa bersalah.


"Argh!" erang Sun karena terkena sengatan pada gagang pedang Silent Blue saat mencabut senjata itu di perut sang ayah lalu melemparnya.


CRAT!! KLANG!!


"S-Sun ...."


"Pergi dariku! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Kau membunuh ayahku! Kau pembunuh! Pergi!" teriak Sun marah besar dengan air mata sudah membanjiri wajahnya.


Arjuna terlihat bingung. Lysa akhirnya menarik tubuh Arjuna yang mematung seperti tak ingin pergi.


"Sun, a-aku ...."


"Pergi! Bunuh mereka semua!" teriak Sun marah besar dan memerintahkan para Black Armys Ninja yang ikut shock dengan perbuatan putera Han tersebut.


"Harghhh!" Raungan amarah berkobar dalam jiwa para tentara Vesper.


Mereka menyerang para Black Armys kaki robot dengan membabi buta. Orang-orang itu tak terima dengan kematian pemimpin markas tersebut yang akrab dipanggil Agent M.


Sejak awal berdirinya markas Hashirama, agent M dan S dipercaya oleh Vesper untuk menjaganya.


Mereka berdua bersama para Black Armys yang dididik secara khusus, membentuk sebuah kelompok tentara baru bernama Black Armys Ninja.


Selama kepemimpinan dua orang itu, tak pernah satu pun markas berhasil diduduki musuh baik dari sesama mafia atau pun militer. Banyak orang yang menaruh hormat atas jasa ayah dari Sun tersebut.


Wajar saja, jika orang-orang itu marah besar karena pemimpin mereka tewas. Terlebih, di tangan putera bos besar mereka, Vesper.


"Juna! Kita harus segera pergi! Kita sudah dapat petanya! Kami tahu di mana Vesper berada. Ayo!" ajak Lysa menarik tangan Arjuna paksa.


Sandara dengan sigap mengambil pedang yang berlumuran darah itu dengan mengalasi kain di tangannya untuk mengurangi dampak sengatan setrum.


Empat anak Vesper melarikan diri. Sedang Black Armys kaki robot menjadi sasaran pembantaian atas amukan Black Armys Ninja, kawan mereka sendiri.


Sun begitu menyesal karena dirinya membuat sang ayah terbunuh. Namun, ia tak menyangka jika hal itu malah dimanfaatkan oleh Arjuna untuk menusuknya.


Sun meletakkan M perlahan di atas tanah dan mulai bisa menahan tangisannya. Ia memotret sang ayah yang telah tiada dan dikirimkan ke seluruh jajaran Vesper.


"Jangan berikan mereka kesempatan untuk merenggut orang yang kita kasihi. Sun."


Praktis, sebuah pesan dan gambar yang Sun kirimkan membuat para mafia ikut tersulut emosi. Mereka yang mengenal M tak terima dengan perlakuan keji empat anak Vesper.


Terlebih, mereka pernah menyerang beberapa anggota mafia lainnya dalam jajaran 13 Demon Heads.


Para mafia itu bergerak usai beberapa dari mereka menghubungi Sun dan menanyakan ke mana tujuan empat anak Vesper tersebut.


Murka mereka semakin meledak usai tahu tujuan dari keempat anak itu untuk membunuh sang Ratu, ibu mereka sendiri.


Para mafia berbondong-bondong pergi menuju kediaman Takeshi di Suga Island untuk menghentikan aksi gila Jonathan, Arjuna, Sandara dan Lysa.


Beruntung, saat itu Martin selamat karena Carloz menerima alarm peringatan. Carloz ayah dari Lucy dan Yohanes, yang saat itu sedang ditugaskan oleh Martin untuk melakukan pengiriman ganja segera kembali.


Ia menemukan Martin dalam kondisi kritis. Fisik Martin yang kuat membuatnya mampu bertahan.


Martin segera menghubungi Kai begitu sadar perihal kejadian yang menimpanya karena keempat anak Vesper.


Di tempat empat anak Vesper berada.


Arjuna tampak shock atas aksi yang dia lakukan. Hal serupa juga membuat Jonathan diam selama di mobil.


Lysa menggantikan Jonathan karena pemuda itu seperti kehilangan semangat tempurnya. Sandara menemani Lysa duduk di depan sebagai navigator.

__ADS_1


"Aku membunuh M," ucap Arjuna seraya melihat dua telapak tangannya yang gemetaran.


Orang-orang diam tak menjawab.


"Aku juga sepertinya membunuh paman Eiji," sahut Sandara yang membuat ketiga saudaranya terkejut, tapi gadis cantik itu menyampaikannya dengan wajah datar.


"Aku tidak membunuh, tapi ...," ucap Jonathan menggantung teringat akan perbuatannya pada Martin dan Ivan Benedict.


"Tora mati di tanganku. Dia memasrahkan dirinya untuk kubunuh. Ia mengaku sebagai pembunuh Tobias," timpal Lysa yang membuat tiga saudara lainnya semakin terpuruk dengan perbuatan mereka masing-masing.


"Namun ... inilah konsekuensinya. Semua karena mama. Jadi ... kita harus selesaikan. Harus dituntaskan. Mama harus tahu penderitaan kita. Dia seorang ibu yang melahirkan kita, dan inilah tanggung jawab yang harus dia terima sebagai penebusan dosa karena lalai merawat anak-anaknya," ucap Sandara dengan pandangan kosong.


Lysa, Arjuna dan Jonathan mengangguk pelan. Entah apa yang terjadi, perjalanan mereka untuk sampai ke Suga Island seperti dipermudah.


Mereka berhasil menyewa sebuah kapal tanpa kesulitan, bahkan ditawari untuk dinahkodai sampai ke tempat yang dituju.


Mereka tak menyangka jika paman Takeshi cukup terkenal. Saat ditanya ke mana tujuannya, seorang nelayan menawarkan bantuannya untuk mengantar.


Empat anak itu bahkan dihidangkan sashimi, sake hangat, dan makanan lainnya. Sandara dan lainnya menikmati jamuan itu bersama-sama. Seakan hal buruk yang terjadi tadi telah dilupakan oleh mereka.


Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia.


"Ya, ya, peta yang dibuat temanmu itu benar. Ikuti saja jalannya, maka kau akan tiba di sana. Jika kalian sudah sampai, tolong datangi kuburannya dan katakan bahwa teman-teman nelayannya sangat merindukannya. Hati-hati di jalan," ucap nelayan tua itu.


Sandara, Lysa, Jonathan dan Arjuna terkejut. Mereka baru tahu jika Takeshi telah tiada. Lantas, apa yang dilakukan Vesper di tempat itu?


"Pasti mama mengakuisisi aset milik paman Takeshi. Yang udah-udah kan gitu. Mama haus kekuasaan dan kekayaan. Katanya sakit, tapi masih serakah," ucap Jonathan, tapi kali ini baik Lysa, Sandara atau Arjuna hanya diam saja tak menjawab.


Mereka berjalan menuju ke rumah Takeshi sesuai peta yang digambarkan oleh Sun. Arjuna merasa tak nyaman karena teringat ucapan terakhir M padanya.


"Kugantikan nyawa ibumu dengan nyawaku. Jangan membunuhnya. Jangan bunuh nona Lilyku. Jangan ...."


"Arjuna!" panggil Lysa yang membuat langkah pemuda itu terhenti seketika.


"Sudah lama sekali aku menantikan momen ini, Kim Arjuna," ucap Yusuke Tendo seraya berjalan mendekati keempat anak Vesper dengan pakaian tempur khusus. "Jika tujuanmu datang untuk membunuh Vesper, tak perlu basa-basi lagi. Serang!" teriaknya lantang memerintahkan.


Yusuke berdiri tegap di antara anak buahnya yang kini siap menyerang keempat anak Vesper tersebut.


"Harghhh!"


Lysa, Jonathan, Sandara dan Arjuna terkejut. Mereka dengan sigap menyiagakan senjata untuk melawan pasukan Yusuke Tendo yang siap menebas.


Yusuke masih berdiri dan melihat pertarungan itu dengan wajah datar. Keempat anak Vesper kalah jumlah, tapi mereka tak kalah dalam segi kemampuan.


Latihan yang mereka lakoni selama ini, ditambah pengalaman dalam bertempur melawan musuh, membuat keempat anak itu menunjukkan kehebatan saat menggunakan senjata-senjata tersebut.


DOR! DOR!


Jonathan yang hanya menggunakan pistol mampu melumpuhkan beberapa anak buah Tendo.


Pemuda itu terlihat begitu fokus dengan sasarannya. Ia membidik bagian-bagian yang tak dilindungi oleh pakaian tempur.


Sandara atau Arjuna, melakukan eksekusi terakhir dengan menebas atau menggorok leher orang-orang itu dengan Silent Blue.


Yusuke masih diam melihat anak buahnya tewas satu per satu, tapi anak-anak Vesper juga mendapatkan cedera dari sayatan pedang pasukannya.


Yusuke berjalan meninggalkan area pertempuran begitu saja, dan Arjuna melihatnya.


"Yusuke! Jangan lari, Pengecut!" teriaknya marah.


"Kenapa? Kauingin membunuhku seperti M?" tanya Yusuke tetap berjalan seraya menoleh ke kawan mafianya itu.


Arjuna terkejut. Sepertinya kematian M memberikan dampak yang membuatnya terguncang.

__ADS_1


SRETT!


"ARGHHH!"


"JUNA!" panggil Lysa saat melihat lengan Arjuna terkena sayatan pedang karena ia malah berdiri diam tak melakukan penyerangan. "Agh! Menyusahkan!"


SHOOT! JLEB! BRUKK!


Arjuna tertegun saat melihat seorang pria tiba-tiba ambruk di depannya dengan anak panah menancap di wajah.


Arjuna menoleh dan melihat Jonathan, Lysa dan Sandara masih berusaha susah payah untuk melumpuhkan anak buah Yusuke.


Arjuna akhirnya ikut melawan. Sosok Yusuke hilang dari pandangannya. Satu per satu, anak buah Yusuke Tendo tewas bergelimpangan di halaman dekat dengan kediaman Takeshi.


Beruntung, rumah Takeshi jauh dari pemukiman warga seperti sengaja menyendiri. Aksi mereka tak menarik perhatian warga atau polisi.


"Agg," erang Arjuna karena luka di pahanya belum pulih, tapi kini lengannya juga ikut tergores.


"Tidak apa, kau tak akan mati hanya karena luka sabetan pedang," ucap Lysa seraya mengobati luka Arjuna saat pemuda itu duduk di atas tanah dengan napas tersengal.


"Heh, aku berhasil bunuh 8," ucap Jonathan bangga.


"Aku 12," sahut Sandara. Praktis, ucapannya membuat Jonathan langsung berwajah masam. "Bagaimana?" tanya Sandara seraya mengeluarkan sebuah senjata pelontar granat dari dalam tas ransel yang ia gendong sedari tadi.


"Yah, aku masih sanggup. Ayo, jangan buang waktu. Sebentar lagi gelap," jawab Arjuna dengan kain membalut lengan dan kakinya.


Pemuda itu jalan dengan tertatih menahan sakit mengikuti tiga saudaranya yang memimpin di depan.


Empat mafia muda itu tetap waspada terhadap sekitar meski mengalami luka-luka di beberapa bagian tubuh.


Jonathan dan Lysa mengobati luka mereka sembari berjalan karena hanya tergores pedang dan lebam karena pukulan.


Saat mereka memasuki sebuah gapura, langkah mereka kembali terhenti. Kali ini, Lysa langsung menjatuhkan senjatanya. Ia melihat King D dan Fara saling bergandengan tangan di kejauhan.


"D ... Fara?" panggil Lysa dengan gugup.


"Apa Mimi datang ingin membunuh nenek?" tanya King D yang membuat Lysa tersentak dan diam mematung. "Apa Mimi lupa? Mimi yang mengajarkan pada D agar menyayangi orang tua? Katanya, kitalah yang akan membawa orang tua ke surga saat mereka mati dengan berbakti padanya. Namun, melihat tujuan Mimi datang kemari, sepertinya tidak demikian," ucapnya yang membuat Lysa langsung meneteskan air mata.


Tiba-tiba saja, Fara menarik tangan King D seperti mengajaknya pergi ke suatu tempat. Lysa terkejut saat dua anaknya pergi meninggalkannya.


"D! Fara!" teriaknya lantang dan segera berlari, tapi tiba-tiba muncul segerombolan pria berseragam hitam yang tak lain adalah Black Armys Vesper penjaga Kastil Hashirama.


"Tak akan kubiarkan kalian mendekati Vesper-sama! Meski kalian adalah darah dagingnya! Serang!" teriak salah satu Black Armys mengomandoi pasukannya.


Lysa, Arjuna, Sandara dan Jonathan, kini dihadapkan oleh puluhan Black Armys Vesper yang tak rela jika pemimpin besar mereka terbunuh.


Suara teriakan kematian, denting pedang tajam yang saling beradu, suara tembakan dan ledakan, membuat para penghuni di kediaman Takeshi yang berlindung di dalamnya tegang.


Kai dan Han melihat Vesper terbaring lemas dengan banyak peralatan medis menopang hidupnya.


Vesper memejamkan mata dalam keadaan tak sadarkan diri usai menerima transfusi darah dari Han. Sayangnya, darah Vesper sudah hitam dan mengental.


Han dan lainnya yakin jika umur Vesper sudah tak lama lagi. Han berharap, bukan keempat anaknya yang akan mengambil nyawa sang ibu, melainkan penyakit ganas yang dideritanya.


Han lebih rela jika Vesper tiada karena penyakit bukan karena dibunuh oleh darah dagingnya sendiri. Ia takut tak bisa memaafkan kesalahan anak-anaknya dan malah berubah menjadi dendam tak berkesudahan.


Para cucu Vesper yang berkumpul di sekitar sang Ratu terlihat sedih. Mereka memeluk tubuh Vesper seakan tak rela jika nenek mereka pergi untuk selamanya.


***



ini eps bonus dari tips puter audio book ya. dapet 2 eps. tapi krn lele malah pusing sakit kepala 1 dulu sisanya besok. doakan cepet sehat ya. repot kalo lagi hamil gak bisa minum obat ya gini. udh kaya idup jaman dulu😩

__ADS_1


__ADS_2