4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Serangan Lain


__ADS_3

Hong Kong, Mansion Kim Han Bong yang kini di tempati oleh Arjuna, Tessa dan para mafia yang masuk dalam jajarannya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Apa katamu barusan?" pekik Arjuna dengan mata melotot saat menerima panggilan telepon dari salah satu kediaman anak Sutejo yang berada di Suriname.


"Ini ulah Jonathan, Tuan! Dia menggunakan mobil tempur dan pasukan gagak! Kami tidak bisa—"


BLUARRR!!


Praktis, mata Arjuna melebar saat ia memperdengarkan panggilan telepon itu. Tessa dan lainnya yang berkumpul di ruang makan dibuat tercengang akan kabar tak terduga ini.


"Jonathan keparatt! Aku sudah tak melibatkan diri dalam persengkongkolan para anggota Dewan, tapi kenapa dia malah menyerangku! Awas saja, akan kuhajar dia!" teriak Arjuna marah besar dan langsung berdiri, diikuti oleh Biawak Putih dan Hijau.


"Sayang, tunggu sebentar," tahan Tessa memegangi tangan kanan suaminya yang diliputi amarah itu. "Mintalah tolong pada Kai untuk melihat hal itu secara langsung dari pantauan GIGA. Jika kabar ini benar, kita harus menyelidikinya. Aku khawatir, jika ini jebakan," ucap Tessa menasehati.


"Jebakan? Aku menghubungi Kai? Lupakan saja," tolaknya gusar seraya melepaskan genggaman tangan sang isteri.


Tessa menarik nafas dalam. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi suami termuda Vesper. Arjuna terkejut karena isterinya memiliki nomor pria yang dibencinya.


"Tessa?"


"Hallo, Tuan Kai. Maaf jika menganggu waktu Anda. Hanya saja, bisakah aku minta tolong padamu?" tanyanya sungkan.


Arjuna menatap Tessa tajam, tapi wanita cantik itu memilih mengabaikan suaminya dan fokus pada tujuannya.


"Ya. Tentang apa?"


"Bisakah kau gunakan GIGA untuk melihat pergerakan di Suriname? Maksudku ... kediaman salah satu keluarga Sutejo yang dijaga oleh Bala Kurawa Arjuna? Barusan kami mendapat telepon jika tempat itu diserang oleh pasukan Jonathan dengan mobil tempurnya."


"What? Tidak mungkin!"


"Oleh karena itu, tolong. Kami tak bisa menghubungi siapapun yang ada di tempat itu," pinta Tessa mendesak.


"Oke, tunggu sebentar."


Tessa dan semua orang yang mendengarkan pembicaraan dari sambungan telepon itu terlihat serius. Tessa meletakkan ponselnya di atas meja dengan men-speaker suaranya.


"Tessa! Sepertinya benar! Kediaman di Suriname di serang. Alihkan menjadi panggilan video. Aku akan menunjukkannya," pinta Kai yang membuat Tessa dengan sigap melaksanakan perintah ayah dari Sandara itu.


Praktis, mata semua orang di ruang makan melebar. Mereka melihat pasukan gagak muncul dari mobil tempur modifikasi Jonathan.


Kamera pengawas yang berhasil diretas oleh GIGA DARA menangkap pergerakan tersebut. Semua orang tertegun dan dibuat mematung melihat pembantaian brutal dari para pria bertopeng gagak yang disinyalir anak buah Jonathan.


"Kurang ajar! Jonathan! Akan kuremukkan dia!" teriak Arjuna marah dan langsung berpaling pergi.


"Juna!" panggil Tessa lantang karena suaminya sungguh ingin melakukan perhitungan dengan saudara lelaki beda ayah itu.


Biawak Putih dan Hijau mengikuti Tuan Mudanya. Wajah Kai yang muncul di layar membuat Tessa dan Sun panik, begitupula anak buah Arjuna dari Honduras.


"Arjuna!" panggil Kai lantang dari ponsel. Seketika, pria tampan bertato itu menghentikan langkah. "Datangi Ceko. Kau tahu bengkel Jonathan 'kan? Aku merasa ada yang aneh. Semua orang-orang dalam jajaran Jonathan bisa kuhubungi, tapi panggilanku tak dijawab oleh mereka sejak kemarin. Aku akan mencoba melakukan pantauan dari GIGA DARA. Terus hubungi aku begitu kau tiba di sana."


Arjuna diam sejenak, dan tiba-tiba saja, ia menunjukkan jempolnya tanda siap untuk melakukan permintaan Kai. Arjuna melanjutkan langkah dan kini menghilang dari pintu ruang makan.


"Saranku, kalian tetap di rumah saja. Tetaplah urus perusahaan selama Arjuna pergi. Jangan terlibat apapun. Aku akan mencari tahu alasan dari kekacauan ini," ucap Kai tegas, dan orang-orang itu mengangguk.

__ADS_1


Tessa segera mengejar suaminya dan meninggalkan ponselnya begitu saja setelah ia matikan sambungan video call tersebut. Tessa mendapati suaminya berada di ruang senjata sedang bersiap.


"Juna! Juna, Sayang," panggil Tessa mendekati suaminya dengan panik.


"Jangan halangi aku," jawab Arjuna ketus.


Tessa langsung menarik tangan Arjuna yang sedang mengecek amunisi di senjatanya. Arjuna terlihat bingung ketika tangannya ditempelkan ke perut sang isteri.


"Berjanjilah, jangan berbuat hal bodoh selama aku tak ada di sisimu. Kita sudah mengharapkan kehadiran penerus Kim selama ini, Arjuna," ucap Tessa memegangi tangan Arjuna erat dengan kedua tangannya.


"Ka-kau ...."


Tessa mengangguk cepat. "Aku baru mengetahuinya kemarin. Aku ingin memberitahumu usai makan malam karena aku ingin memastikannya saat bangun tidur tadi, dan ternyata benar, aku hamil!" jawabnya dengan wajah berbinar dan mata berlinang.


Tangan Arjuna bergetar. Pandangannya tak menentu saat tangannya masih menempel di perut sang isteri yang masih rata.


"Aku ... akan menjadi seorang Ayah? Seperti ... ayahku?" tanyanya gugup.


"Ya. Kau bisa mengajarinya banyak hal nanti. Kau bisa mengajaknya ke mana pun yang kau mau. Kalian akan selalu bersama layaknya Ayah dan anak, tapi berjanjilah, pulang dengan selamat. Aku tak mau menceritakan kisahmu padanya. Aku ingin kau ada di sampingnya hingga ia besar nanti, Arjuna," ucap Tessa menahan air matanya.


Arjuna langsung memeluk Tessa erat. Biawak Putih dan lainnya yang berada di ruangan itu terdiam mendengar kabar mengejutkan ini.


"Aku ... akan menjadi Ayah?" Tessa mengangguk cepat dengan senyuman saat Arjuna melepaskan pelukannya dan memegang kedua lengannya erat. "Aku ... bisa mengajak anakku berpetualang?"


"Tentu saja, Sayang. Dia akan menjadi anak yang tangguh sepertimu. Jadi ... berhati-hatilah," pinta Tessa memegangi kedua pipi Arjuna dengan air mata yang akhirnya menetes.


Arjuna terdiam dan menatap wajah Tessa dalam. Perlahan, ia memegang kedua tangan sang isteri dan menggenggamnya. Pria bertato itu menoleh ke arah orang-orang yang berdiri di sekitarnya.


"Kita berdua aja yang berangkat, Bos Junet. Percayalah, kehadiranmu di sini lebih dibutuhkan ketimbang di Suriname," ucap Biawak Putih menasehati.


Tak lama, Sun ikut bergabung bersama yang lain. Arjuna menatap orang-orangnya tajam.


"Jarak terdekat dari Suriname antara Panama, atau Peru. Sebaiknya, dua Biawak dipecah ke dua tempat itu untuk menghadang pasukan Jonathan. Kita tangkap mereka dan interogasi. Kita rekam pengakuannya dalam pengaruh gas halusinasi," ucap Sun memberikan saran.


"Aku setuju," sahut Tessa.


Arjuna mengangguk dan kini terlihat lebih tenang.


"Oke. Aku menyetujui misi ini. Biawak Putih akan pergi ke Panama, dan Hijau akan pergi ke Peru. Masalahnya, aku tetap harus pergi ke Ceko untuk menemui saudaraku yang mulai berlagak dengan kekayaan dan kekuasaannya ini," tegasnya.


"Aku akan menemanimu, Tuan Muda," sahut Sun dan Arjuna mengangguk.


"Hati-hati, Sayang," pinta Tessa terlihat enggan berpisah dengan calon Ayah dari janin yang dikandungnya.


"Aku akan pulang dengan selamat, percayalah," ucapnya seraya tersenyum dan meninggalkan kecupan manis di kening sang isteri. "Kau ... bisa tolong urus keberangkatan kami?" pinta Arjuna dengan kedua alis terangkat.


"Yes, Sir!" jawab Tessa dengan hormat layaknya tentara. Semua orang terkekeh. Suasana yang awalnya tegang kini telah mencair.


Tessa segera mengurus penerbangan untuk tiga tim yang akan pergi esok hari. Wanita cantik itu mempercayakan Sun untuk melindungi suaminya. Beberapa anggota Bala Kurawa ikut tim Biawak Putih dan Hijau ke dua lokasi berbeda.


Keesokan harinya. Minggu terakhir bulan Januari.


Arjuna terbang menggunakan pesawat perusahaan menuju ke Ceko. Sedang Biawak Putih dan Hijau dengan penerbangan komersil.


Penerbangan dari Hong Kong ke Ceko kurang lebih memakan waktu hingga 12 jam. Arjuna menepati janjinya dengan terus berhubungan dengan Kai yang memantau pergerakannya serta lokasi tempat usaha dan kediaman Jonathan.

__ADS_1


Kai juga menghubungi Eko untuk mencari tahu kabar Jonathan karena ia dan anak buahnya tak bisa dihubungi. Namun, Yudhi malah menawarkan diri untuk terbang ke Ceko.


"Om Eko awasin aja pembangunan di sini. Inget, kita diawasi sama pemerintah pusat. Yudhi 'kan gak masuk daftar incaran militer. Yudhi bebas pergi ke mana pun tanpa dicurigai. Nanti Yudhi akan kasih kabar begitu sampai di sana. Percaya sama Yudhi," ucapnya mantap.


Eko terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. Yudhi tak ingin ditemani dan tetap sendiri menuju ke Ceko. Ia bahkan memesan tiket pesawat untuk keberangkatannya tanpa bantuan Eko.


Yudhi sudah seperti anak yang mandiri meski ia memalsukan identitasnya dengan mengaku berumur 20 tahun.


Yudhi terbang di hari yang sama dengan Arjuna. Namun, Yudhi tiba lebih dulu. Sayangnya, tanpa sepengetahuan Yudhi, Pion Daido dan Dakota telah tiba di Ceko lebih awal untuk melihat lokasi.


Dua pria tampan itu mendatangi kediaman Jonathan di Ceko atas perintah dari Tobias usai Kai menghubungi lelaki bertato tersebut tanpa ingin melibatkan Lysa dan jajaran anggota Dewan 13 Demon Heads.


"Bagaimana?" tanya Kai dari pantauan GIGA saat mendapati sinyal pelacak dari jam tangan yang dikenakan oleh dua Pion di halaman rumah Jonathan berkedip aktif.


"Ada yang aneh, Kai. Rumah Jonathan hancur sebagian, tapi ... ada beberapa orang yang melakukan renovasi. Aku akan mendatangi mereka. Pastikan tak ada hal mencurigakan di sekitar kami," jawab Daido dari earphone yang terpasang di salah satu telinganya.


"Oke," jawab Kai cepat.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


Salah satu pria bertubuh besar yang sangat mencolok, tak cocok jika dilihat sebagai pekerja bangunan, mendatangi dua Pion yang keluar dari mobil Mercedes-Benz 420 SEC (C 126) warna putih.


"Halo!" sapa Dakota ramah di dampingi Daido yang datang dengan pakaian layaknya warga sipil mengendarai mobil tua mengenakan jaket tebal karena udara dingin yang mengusik.


"Hei. Apakah Tuan Benedict ada di rumah?" tanya Pion Daido ramah.


"Siapa kalian?" tanya pria bertubuh besar garang.


"Kami ini pelanggannya. Jauh-jauh kami datang dari Austria kemari untuk bertemu dengannya. Tuan Benedict tak membalas pesan kami. Ada kesepakatan yang harus diselesaikan mengenai pembayaran dari pesanan kami," tegas Dakota mulai menunjukkan keseriusannya.


"Oh! Pelanggan Tuan Jonathan Benedict?" sahut salah seorang pria dengan topi, cerutu, dan jas panjang serta sepatu fantovel mengkilat mendatangi dua Pion yang menatapnya seksama.


Dengan cepat, Kai segera melakukan analisis wajah dan suara dari pria yang terlihat mencurigakan dari gelagatnya.


Sayangnya, GIGA tak menemukan kecocokan identitas dari pria tersebut. Terlebih, wajahnya tak terlihat seutuhnya karena memakai kacamata, berkumis tebal, dan jenggot.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Pion Daido seraya menunjuk.


Perlahan, pria bertopi itu menaikkan wajah. Dua Pion menyipitkan mata.


"Den Baguse."


DOR! DOR! DOR! DOR!


BRUK! BRUK!


Mata Kai melebar seketika. Ia tertegun melihat dua Pion ditembak tepat di dada dari kamera mini tersembunyi yang terpasang di lipatan syal dua orang itu. Dua anak buah dari Tobias roboh dan tak diketahui kelanjutan dari nasib mereka.


"Oh! Oh!" Kai shock hingga nafasnya tersengal seakan peluru itu ditujukan padanya.


***


wah ada tips lagi. senangnya hatiku😍


oia info lagi takutnya lele gak sempet bales komen. yg mau pesen novel, kalau gak ada IG, tinggalin aja nomor hp di kolom komentar. nanti lele wa secara personal. tengkiyuw💋

__ADS_1



__ADS_2