
Mau kasih tau lagi. Kemungkinan besar The Red Lips akan publish di GudNopel, atau bisa jadi akan publish di apk baru Tikom alias titik koma.
King D aja yg bakal di MT. Selain itu, setelah novel 4YMS2 tamat nanti, lele mau kelarin semua tokoh yg masih kesangkut dalam jajaran 13 Demon Heads dg dibuat per novelnya, tapi dg eps pendek krn projeknya banyak.
Dan, gak ada keturunan lanjutan dari novel itu, misal King D. Nanti di situ gak diceritain King D bakal punya keturunan biar gak kaya sinetron tersandung yg ampe bersekuel gaes, kagak kelar2 nanti. Tengkiyu vote vocer di novel SIMULATION.
----- back to Story :
Malam itu, si Topeng Biru mendatangi kamar Sandara tepat pukul 7 waktu setempat. Sandara yang sudah membersihkan diri terlihat gugup, ketika pria itu melihat hasil kerjanya dengan membentangkan kertas besar tersebut dalam genggaman.
"Hem. Kerja bagus. Aku bawa. Sebagai imbalanmu, aku siapkan makanan diet untukmu," ucap pria bertopeng itu seraya menggulung denah buatan Sandara.
"Wait," panggilnya saat pria bertopeng akan pergi. "Bagaimana aku memanggilmu?"
"Neon. Panggil saja Neon," jawabnya memunggungi Sandara. Gadis cantik itu hanya mengangguk.
Sepeninggalan Neon, masuk seorang pria bertopeng putih membawakan sepiring omelette yang ia letakkan di meja samping sofa. Senyum Sandara merekah.
Lalu disusul oleh pria bertopeng lain yang membawakannya salad buah. Sandara mengucapkan terima kasih, tapi dua pria itu mengabaikannya.
Sandara segera duduk dan terlihat begitu lahap menikmati makan malam dengan menu kesukaannya.
Di sisi lain. Ruang kerja pria bertopeng biru yang menyebut dirinya Neon.
Neon memasang peta buatan Sandara di dinding ruang kerjanya seperti lukisan. Ia memandangi peta itu seksama dengan satu paket spidol berwarna-warni dalam genggaman tangan kirinya.
"Hem, di sini ... ladang ranjau," gumannya seraya menandai titik di luar denah dalam rumah menggunakan spidol warna hitam berupa titik-titik yang bertaburan di bagian Selatan. "Lalu di sini, ada jebakan," ucapnya lagi dengan spidol warna merah menandai sisi Barat bangunan. "Nah, sebelah sini, ada peliharaan Venelope si tikus," imbuhnya dengan membuat gambar hewan, tapi lebih mirip seperti gambar kecoa di bagian Timur kawasan. "Lalu ... bagian Utara, ya para anak buahku. Hehe," ucapnya sembari menggambar orang, tapi berbentuk seperti lidi. "Heish, kenapa gambaranku seperti anak TK? Bodo amat lah."
Usai merampungkan tugasnya, Sandara dipanggil oleh pria bertopeng putih untuk menemui Neon.
Sandara menurut, meski terlihat gugup karena ia tak tahu tugas apa yang akan diberikan padanya lagi.
Topeng putih membawa Sandara ke sebuah tempat gelap. Gadis itu terlihat ketakutan dan ragu untuk melangkah lebih jauh, tapi topeng putih memaksanya.
__ADS_1
"Terus jalan. Neon menunggumu di depan," pintanya tegas.
Sandara melangkah perlahan seraya melirik ke kiri dan ke kanan, di mana tak ada siapapun di sana kecuali pria bertopeng hitam yang masih berdiri di kejauhan seperti mengawasinya.
Seketika, Sandara terperanjat saat mendapati sosok lain dengan topeng bercahaya dalam gelapnya lorong.
Jantung Sandara berdebar, tapi ia yakin jika pria yang memakai hoodie warna biru tua itu adalah Neon.
"Ne-Neon?"
"Hai. Hem, tak kusangka kau mengenaliku. Kemari, aku butuh bantuan," ucap pria itu masih berdiri di tempatnya berada.
Sandara kembali melangkah meski terlihat takut, karena wajah Neon terlihat seram dengan tampilan topeng yang bisa menyala dalam kegelapan.
"Apakah ini tugas?" tanya Sandara melirik Neon sekilas seraya berjalan.
"Ya boleh, terserah kau saja. Aku melihat cara kerja dan kesepakatanmu dengan Mr. White sebelumnya. Jadi, mari buat kesepakatan." Sandara mengangguk. "Satu hari, satu tugas, dan harus diselesaikan saat itu juga. Berhasil, kau mendapatkan jatah makan sehari 3 kali. Jika gagal, kau hanya makan sehari 1 kali dengan menu jeroan sapi atau ayam. Oke?" ucapnya seraya menoleh ke arah gadis cantik itu.
"Hanya itu saja?"
"Hem. Sementara itu saja. Ini berlaku sampai lukamu pulih. Aku tak akan memberikanmu tugas berat," ucapnya yang kini berdiri di ujung terowongan, dan ternyata menembus ke tebing dengan lautan dalam di bawahnya. Sandara menjauh dari jurang itu. "Jawab pertanyaanku, Sandara," ucapnya dengan kedua tangan ia masukkan dalam saku depan hoodie.
"Selama kau dalam sekapan Mr. White. Apa yang kaupelajari? Jangan bohong, aku bisa melihat kebohongan dari raut wajah, seperti dirimu." Sontak, Sandara tertegun akan hal itu.
Ia tak menyangka, selain kedua orang tuanya, ada orang lain yang bisa melakukan hal serupa. Sandara terlihat serius seketika.
"Aku tak begitu yakin. Mr. White memang memberikanku banyak tugas setiap harinya, tapi yang kukerjakan bukan hal-hal menyulitkan. Bukannya sombong, tapi aku bisa menyelesaikan semuanya, kecuali sandi rumput. Ia tak memberikan referensi apapun padaku untuk menerjemahkan tulisan itu," jawabnya dengan pandangan tertunduk. Neon mengangguk pelan dari tempatnya berdiri.
"Selama ini, jajaran 13 Demon Heads selalu bertahan dari segala jenis serangan, termasuk militer dan The Circle. Apakah menurutmu ... itu tak membosankan?"
Sandara menaikkan pandangan dan menatap topeng Neon lekat. "Apa maksudmu?"
"Kubu Lysa, Jonathan, dan Arjuna, memiliki masing-masing anak buah dari pecahan The Circle. Sayangnya, tiga kakakmu itu, tak bisa memanfaatkan hal itu dengan baik. Mereka memiliki raga mereka, tapi jiwa mereka, tetap untuk The Circle." Sandara terlihat serius menyimak. "Apa kau tak penasaran dengan kemampuan sesungguhnya ketiga kakakmu jika berhadapan langsung dengan kami?"
"Apa yang sebenarnya yang ingin kaukatakan?" tanya Sandara menyipitkan mata.
"Venelope, dia anak dari Anita. Kau kenal Anita? Pernah mendengar ceritanya? Kuberitahu sedikit. Anita salah satu wanita Erik Benedict. Anita, dibuang oleh Erik karena pria itu memilih Vesper, ibumu. Menurutmu, apakah wajar jika Venelope dendam pada ibumu? Seharusnya, Anita yang menikah dengan Erik, tapi kedatangan ibumu, merusak hubungan cinta mereka."
__ADS_1
"Jika Anita menikah dengan Erik, Venelope tak akan lahir. Begitupula aku dan Jonathan," sahutnya tegas.
Pria itu bertepuk tangan. "Ya, jawaban bagus. Itu ... kuasa Tuhan, aku tak mau ikut campur dalam takdir itu. Hanya saja, kenapa tak kita biarkan, Venelope bertarung dengan Jonathan? Agar dua anak, dari wanita yang sama-sama mencintai Erik Benedict menyelesaikan dendam mereka?"
"What?"
"Namun, pertempuran itu tetap tak adil. Jonathan menang lebih banyak karena ia mendapat dukungan penuh dari jajarannya. Kau paham maksudku 'kan? Persenjataan, anak buah, dan kekayaan. Jonathan unggul dibanding semua saudara dan saudarinya."
"Itu keberuntungan kak Nathan. Kenapa, kau iri?"
Pria itu terkekeh. Sandara diam memasang wajah datar. "Kau tak iri? Diantara Lysa, Arjuna, dan Jonathan, kau paling miskin, Sandara. Namun, kau memiliki kelebihan. Kau jenius. Kepintaranmu mengalahkan ketiga saudara dan saudarimu. Sayangnya, kau tak manfaatkan keistimewaanmu itu. Motivasimu untuk terlihat unggul tak kau tunjukkan. Kau seperti membiarkan waktu merenggut semuanya. Lihatlah, karena kau terlalu santai dalam menjalani hidup, kau berakhir di sini," ucapnya merentangkan tangan.
Sandara menatap pria itu tajam dari tempatnya berdiri. "Apa maumu?"
"Aku ingin mengubahmu. Aku ingin kau menjadi gadis yang kuat, bisa bertarung. Tak hanya pintar, tapi juga bisa mempertahankan diri. Apa kau tak lelah selalu menangis ketika tak bisa berbuat apapun untuk melindungi diri? Seperti Mr. White yang bisa melakukan hal semena-mena padamu? Aku juga bisa melakukannya, semua pria di dunia ini bisa menaklukanmu, Sandara. Fisikmu lemah, dan hal itu, yang membuatmu sangat mudah dijatuhkan, tak seperti ketiga saudaramu."
"Saat kau menyerangku di pantai, kau mengatakan jika penasaran, apakah itu tes darimu? Untuk melihat kemampuan fisikku?"
Pria itu kembali bertepuk tangan. "Ya. Kau bisa merasakan sendiri 'kan? Kau pintar. Hanya saja, kemampuan fisik itu penting, Sandara. Kau harus kuat untuk melawan musuhmu. Dan aku, bisa membantumu. Aku janjikan, hidup terfasilitasi selama kau bersamaku. Dengan catatan, aku tetap hidup."
"Aku ingin pulang."
"Pulang? Jika kau pulang, akan jadi apa dirimu? Anak kesayangan papa Kai yang selalu dimanja? Dengan segala fasilitas mewah yang diberikan orang tuamu? Atau ... kembali menjadi artis? Agar kau selalu mendapatkan pujian dari para fans-mu? Kau tak konsisten dengan ucapanmu, Sandara. Kau bilang pada Mr. White jika kau lelah dan bosan bersandiwara di depan banyak orang. Apa itu tipuan?"
"Kau tahu dari mana?" tanya Sandara melotot.
"Sudah kubilang, aku tahu semuanya. Penawaran terakhir. Bertahan di sini bersamaku, atau kau kupulangkan, tapi ... bukan kepada papa atau mamamu, melainkan kepada Venelope."
Sandara tertekan. Ia terlihat memikirkan tawaran itu dengan serius. Banyak asumsi berlalu-lalang di kepalanya.
Neon menatapnya seksama seraya berjalan mendekat dengan langkah perlahan, tapi hal itu malah membuat jantung Sandara berdebar kencang tak karuan.
"Bagaimana?" tanyanya dengan topeng sudah berada di depan wajahnya menunggu jawaban.
"Bertahan bersamamu."
"Good. Ayo masuk ke dalam. Istirahat, dan tugas baru menantimu esok pagi," ucapnya berjalan di belakang Sandara dalam lorong gelap tersebut.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE (PNG Download.id, IDN Times, Blog Elevania)