
Kai melanjutkan panggilan kepada M yang memburu para penculik Sun. Black Armys kaki robot pilihannya, membantu salah satu mantan agent Colombia itu sampai ke perbatasan negara.
"M, bagaimana?" tanya Kai serius yang melihat pergerakan Agent M dari pantauan GIGA DARA di laptop-nya.
"Plat mobil yang berhasil terekam oleh kamera CCTV dan diretas oleh GIGA SIA, membawa mereka memasuki Slovenia, Kai. Aku tak bisa menyeberang, tapi aku sudah meminta tolong kepada anak buah Jordan untuk membantuku mencari keberadaan Sun atas desakan Naomi," jawab M terdengar cemas.
"Kita percayakan saja pada Jordan dan timnya. Jika kau yakin Sun berada di negara itu, sebaiknya kau segera urus keberangkatan. Hati-hati, musuh kita sangat licik," jawab Kai memperingatkan dan M berterima kasih atas bantuan yang diberikan olehnya.
Kai kembali menutup panggilan. Ia terlihat serius memikirkan sesuatu. Tiba-tiba, ponselnya kembali berdering dan Kai segera mengangkatnya.
"Hallo."
"Mas Kai! Yudhi ketemu! Yudhi ketemu! Tapi dia kabur!" pekik Biawak Cokelat yang mengejutkan ayah dari Sandara.
"Kejar dia! Jangan sampai lolos!" pekik Kai langsung menepuk pundak sopir untuk segera menuju ke titik mansion dari sinyal pelacak Biawak Kuning.
BROOM!
"Masalahnya, Yudhi naik helikopter!" sambungnya yang membuat Kai langsung melongok keluar dari jendela melihat ke langit.
"Tuan!" sahut Black Armys yang duduk di samping sopir memberikan teropong kepada Bosnya.
Dengan sigap, Kai segera meneropong dan memusatkan pandangan pada telunjuk anak buahnya ke sebuah benda yang terbang di kejauhan.
"Agh, sial! Yudhi akan kabur ke mana?!" pekik Kai kesal karena helikopter itu terbang menjauh dan seperti meninggalkan Austria. "Kejar mereka! Aku harus menandainya!" seru Kai lantang dan mobil melaju kencang mencoba mengikuti helikopter tersebut.
Kai memerintahkan Biawak Kuning dan Cokelat untuk ikut mengejar helikopter tersebut. Kai semakin terobsesi untuk menangkap Yudhi.
"Pasti Sandara bersamanya! Jika tidak, kenapa bocah tengik itu kabur?! Dasar anak tidak tahu diri. Bawa Yudhi padaku!" perintah Kai semua sambungan radio ke timnya.
"Yes, Sir!"
Di waktu yang bersamaan. Turkey, kediaman Ahmed.
"Ya, Nak Kai," jawab Eko seraya menyeruput susu hangat dan telah mengenakan piyama tidur.
"Yudhi membawa kabur Sandara! Apa yang kaulakukan? Tangkap anak angkatmu itu!"
"Ohok! Ohok! Apa? Kok bisa? Di Au-au-"
"AUSTRIA!"
"Otewe, Nak Kai, otewe!" jawab Eko langsung meletakkan gelas susunya di atas meja dan berlari kencang bertelanjang kaki keluar kamar menuju ke garasi.
"Mas Eko mau ke mana?" tanya Dewi yang sudah berpakaian seksi dengan lingerie mendatanginya dengan tergesa.
"Gaswat ini, Eko pergi dulu," jawab Eko mengerem laju larinya dan berbalik.
Mata Dewi melotot seketika. "Gak ada jatah sampai bulan depan!" pekiknya marah, dan Eko langsung shock seketika.
"Ini ... ini, ya udah gak papa! Eko padamu Dek Dewi cintaku manisku, muah muah! Eko pergi dulu!" ucapnya dengan separo tubuh sudah masuk ke dalam mobil seperti enggan untuk pergi.
BROOM!
__ADS_1
Dewi mengepalkan kedua tangan terlihat begitu kesal karena malam panas mereka gagal karena Eko harus segera terbang ke Austria bersama beberapa tim Mirror bentukan Yudhi.
Di Austria, tiga buah mobil SUV membelah jalanan di malam bersalju mengejar helikopter yang disinyalir oleh dua BIAWAK membawa Yudhi dan Sandara.
Ternyata, dugaan Kai benar jika benda terbang itu menuju ke perbatasan dan akan memasuki Italia. Namun, Kai sudah mempersiapkan semua.
Kali ini, Kai dan anak buahnya bisa melewati perbatasan antar negara itu karena sudah memiliki izin diantaranya CPD (Carnet De Passages En Douane/Paspor Kendaraan), Sim Internasional dan Visa.
"Kita berpencar. Jangan sampai kehilangan jejak. Yudhi pasti akan berusaha keras untuk kabur dari kita," tegas Kai dari sambungan radio.
"Siap, Mas Kai!" jawab dua BIAWAK yang ikut dalam timnya, meski di mobil berbeda.
Kai dengan sigap menghubungi Afro saat mobilnya terpaksa harus berhenti untuk pengecekan perizinan.
"Oke! Saya sudah mendapatkan gambar helikopter itu, Tuan Kai. Percayakan padaku," jawab Afro cepat dan panggilan itu terputus.
Italia, tempat Afro berada.
Dua puluh anggota Red Ribbon telah bersiap untuk melakukan pengejaran terhadap helikopter yang berhasil ditandai oleh Biawak Cokelat saat benda itu melayang meninggalkan mansion.
Helikopter yang kini menjadi buruan orang-orang dalam jajaran Vesper mulai tak bisa berkutik.
Yudhi yang ternyata memang berada di dalam helikopter tersebut bersama Sandara dan Valentina, dikejar oleh beberapa mobil di sepanjang jalan.
"Sial! Kenapa mereka ngotot sekali?!" pekik Yudhi kesal.
Yudhi dan orang-orangnya tak ingin melakukan penyerangan karena mereka tak memiliki tujuan untuk berperang terhadap jajaran Vesper. Sandara terlihat gugup di bangkunya.
"Turunkan aku. Sudah tak mungkin untuk kabur dari papa lagi. Sebaiknya, kalian fokus untuk melenyapkan The Circle. Aku akan mencari cara utnuk menghubungi kalian," ucap Sandara yang mengejutkan pemuda tersebut.
Sandara membuka masker penutup wajahnya. Wajahnya sudah terlihat membaik pasca operasi plastik dan ia tak bermake-up .
Yudhi yang belum mengetahui perubahan wajah dari gadis yang disukainya itu terkejut karena Sandara terlihat seperti gadis dewasa.
"Ingat wajah ini, Yudhi. Ini ... wajah baruku. Atid sengaja mengubahnya dan berharap, agar aku bisa menata hidupku yang baru tanpa belenggu penderitaan dari kisahku sebelumnya. Dia berharap, agar nasibku lebih baik dari ibuku. Apakah ... penampilan baruku berlebihan?" tanya Sandara sendu.
"Kau ... cantik sekali," jawab Yudhi dengan senyuman.
Sandara tersenyum lebar. Ia meraih kedua tangan Yudhi dan menggenggamnya.
"Kau sangat baik padaku. Kau melakukan banyak hal untukku. Namun, kita berdua sama-sama memiliki tujuan. Aku akan menyimpan souvernir jari Smiley sebagai pengingat aksi kita. Pergilah, balaskan dendammu atas kematian paman Ahmed. Bunuh mereka semua, jangan sisakan. Mungkin terdengar kejam, tapi mungkin ini memang sudah menjadi takdir buruk tuan Sutejo dengan kehilangan seluruh keturunannya," ucap Sandara lirih.
Yudhi terdiam, tapi mengangguk pelan. Ia menarik tangan Sandara dan mengecup punggung tangannya lembut. Valentina terdiam menatap muda-mudi yang terlihat saling mengasihi di depannya.
"Aku akan datang menjemputmu begitu semua selesai, Dara. Lalu ... kita akan hidup bersama. Kau mau 'kan?" tanya Yudhi sendu dan Sandara mengangguk pelan dengan senyuman.
Valentina yang mengenakan headphone meminta kepada pilot untuk menurunkan Sandara di pinggiran Marano Lagoon.
Sandara memakai kembali masker wajahnya dan merapatkan jaket tebal serta topi rajutannya.
Yudhi terlihat begitu sedih karena harus berpisah dengan kekasih hatinya dan hanya bisa memandangi separuh wajah Sandara yang terlihat.
"Aku akan sangat merindukanmu, Dara," ucap Yudhi sedih.
__ADS_1
Sandara mendekati Yudhi dan memeluknya erat sebelum turun dari helikopter. Yudhi menghirup dalam aroma tubuh Sandara yang selalu wangi dan mengingatnya dalam-dalam.
"Dara, now!" ucap Valentina, saat helikopter tersebut telah mendarat dengan sempurna dan baling-baling tetap berputar.
Sandara segera turun dan menjauh dari helikopter. Yudhi melongok terlihat sedih saat kendaraan yang memiliki baling-baling besar itu kembali melayang. Sandara melambaikan tangan sebagai perpisahan, tapi Yudhi enggan membalas lambaian itu.
Sandara mendongak melihat kepergian helikopter yang sudah terbang menjauh. Gadis itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket dan menarik napas dalam di mana aksi kaburnya dirasa sudah cukup.
Sandara melangkah sendirian menjauh dari Laguna tersebut. Namun tiba-tiba saja, jiwa pemberontaknya kembali muncul.
Sandara malah berlari menghindar saat mobil-mobil yang mengejar helikopter itu mulai mendekat ke arahnya.
Sandara masuk ke dalam gang dan terus berlari saat ia melihat beberapa mobil berwarna hitam memasuki kawasan Laguna. Sandara berlari kencang menuju ke sungai Tagliamento dan menyusuri pinggirannya.
Di pinggir Laguna.
"Di mana dia?" tanya Toras—pemimpin Red Ribbon—begitu tiba di lokasi dan tak menemukan sosok Sandara di sana.
"Pasti dia kabur. Aish, kenapa Dara harus menghindar sih, bikin repot aja. Kita berpencar," sahut Uda—salah satu anggota Red Ribbon asal Padang—yang ikut pusing karena tak mendapati mantan Bosnya di sana.
"Berpencar. Dia tak mungkin bisa pergi jauh!" tegas Afro yang ikut dalam pengejaran.
"Siap, Bos!" jawab para anggota Red Ribbon yang kembali menyisir sekitar.
Afro yang pergi bersama dua anak buahnya terlihat berpikir keras.
Apakah helikopter itu hanya sebagai pengalih? Namun ... tidak! Aku yakin Dara ada di sini. Dia memang pintar menyelinap. Oke, tenang, coba pikirkan. Ingat masa lalumu saat kau menjadi buronan Afro, apa yang akan kaulakukan? ucap Afro dalam hati dengan mata terpejam, mengingat kejadian masa lalu di mana ia selalu bersembunyi dan menghindar agar tak tertangkap oleh orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads.
Seketika, "Oh! Aku tahu!" pekiknya tiba-tiba yang mengejutkan dua pria yang duduk di depannya.
"Bagaimana, Bos?" tanya pria yang duduk di sebelah sopir.
"Kalian turun. Bergabunglah bersama anggota Red Ribbon yang lain. Aku akan pergi sendiri," jawabnya yang mengejutkan dua orang itu.
"Tapi ...."
"Cepat!" bentak Afro dengan mata melotot. Dengan sigap, Afro melangkah ke depan dan duduk di bangku kemudi saat dua orangnya dipaksa turun.
BROOM!
Afro melaju kendaraannya seorang diri. Dua anak buahnya terpaksa bergabung dengan tim yang lain dengan menghubungi lewat ponsel.
"Afro! Kamu mau ke mana? Jangan kabur ya, tahu sendiri akibatnya," tegas Toras yang kini membawa dua anak buahnya.
"Kita akan bertemu di rumah jika Dara sungguh tak ditemukan sampai siang nanti. Aku tak akan kabur. Tuan Kai melacakku," jawabnya yang fokus mengemudi.
"Oke. Kami percaya padamu. Temukan Dara dan bawa pulang," tegas Toras.
"Sedang kulakukan," tegasnya lalu menutup telepon.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya nak Carmen❤️ satu atau 2 eps nih?
__ADS_1