
Semua orang terlihat lega karena Sierra baik-baik saja. Jonathan terlihat bahagia bersama gadis cantik itu, yang kini menjalani pemeriksaan menyeluruh setelah ia tenggelam di laut.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Makasih ya, Click, Clack, udah nolongin Sierra," ucap Jonathan mendatangi dua bodyguard-nya yang basah kuyup.
"Hmm. Lain kali, jaga bicaramu, Jonathan. Selain itu, kenapa bukan kau yang menolongnya?" tanya Click menatap Jonathan heran.
Lysa, Javier, Yohanes dan Lucy yang masih berada di ruangan ikut penasaran.
"Nathan panik. Udah gitu, Nathan gak jago-jago amat berenangnya. Yang ada bukannya nyalmetin malah kita berdua ikut tenggelem. Kan gak keren," jawabnya sewot.
Lysa yang awalnya panik memilih pergi meninggalkan ruangan dan kembali ke kamar. Javier menatap kepergian mantan isterinya yang terlihat tak tertarik untuk kisah selanjutnya.
"Nona Sierra baik-baik saja. Dia bisa dipindahkan ke kamar," ucap salah satu tenaga medis.
Semua orang mengangguk dan berterima kasih. Click menggendong Sierra ke kamar yang ditunjukkan oleh Yusuf. Sayangnya, kursi roda Sierra rusak, tak bisa digunakan lagi.
Sierra ditemani oleh Lucy untuk membantu mengganti pakaiannya yang basah. Sierra terlihat sungkan, tapi Lucy meyakinkan jika hal itu tak masalah untuknya.
Jonathan terlihat bahagia dengan kedatangan Sierra di sisinya. Senyumnya tak memudar bahkan ketika pagi hari menjelang.
Pagi itu, Jonathan sudah rapi dan wangi. Ia berdiri di kamar Sierra, mengetuk pintu kamarnya.
"Come in," jawab Sierra lantang dari dalam kamar.
CEKLEK!
"Hey, good morning," sapa Jonathan ramah.
Sierra tersenyum manis dan masih berada di atas kasur karena ia tak bisa pergi ke manapun.
Sierra segera memasang earphone translator pemberian Lucy semalam karena ia mengatakan jika Jonathan lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia.
"Kau lapar? Sarapan yuk," ajak Jonathan.
"Mm, aku ...," jawabnya tertunduk memainkan ujung selimut dalam genggaman.
Tiba-tiba, Jonathan menyingkirkan selimut gadis bermata biru itu. Ia memposisikan diri dengan duduk memunggungi Sierra di pinggir ranjang. Sierra bingung.
"Piggyback?" tawar Jonathan dan Sierra mengangguk dengan senyuman.
__ADS_1
Sierra merangkulkan kedua tangannya di leher anak ketiga Vesper tersebut. Dengan sigap, Jonathan mengangkat paha Sierra dan berdiri. Sierra terkejut karena Jonathan cukup kuat menggendongnya, Sierra tersipu malu.
"Kakimu sudah sembuh?" tanya Sierra heran karena Jonathan tak pincang lagi.
"Hehe," jawabnya terkekeh.
Sierra bingung, tapi diam saja. Ternyata, Jonathan menggunakan kaki robot milik Javier. Jonathan merengek padanya bahkan rela menunggu sang Sultan sampai selesai sholat subuh demi sepasang kaki itu.
Sierra tersipu malu saat ia berpapasan dengan beberapa orang di koridor yang tersenyum padanya.
Jonathan mendudukkan Sierra perlahan di bangku kursi taman, di mana remaja itu sengaja mengajak gadis cantik itu sarapan di luar, memandangi laut di hari yang cerah.
"Gimana, bagus 'kan tempatnya. Kau suka?" tanya Jonathan dan Sierra mengangguk dengan senyuman.
Tak lama, sarapan untuk dua sejoli itupun datang. Keduanya duduk berhadapan terlihat malu karena tak pernah sedekat ini sebelumnya.
"Mm, Nathan. Boleh aku bertanya?" tanya Sierra sembari menusuk sosis dengan garpu di tangan kirinya.
"Ehem, tanya apa?" jawab Jonathan dengan kentang panggang di mulutnya.
"Kenapa kau menggunakan bahasa Indonesia? Padahal setahuku, kau bisa bahasa Inggris, Mandarin dan Spanyol," tanya Sierra menatap Jonathan seksama.
"Oh. Itu karena papa Nathan. Dulu, demi bisa dapetin hati mama Lily eh Vesper maksudnya, papa Erik sampai belajar bahasa Indonesia. Selain itu, mama juga me-wa-jib-kan, bagi semua orang dalam jajarannya bisa berbahasa Indonesia. Begitu," jawabnya menjelaskan.
"Mm, Nathan. Aku sudah bertemu ibumu saat dia datang berkunjung ke rumahku, tak lama setelah kau pergi."
"Uhuk! Apa? Uhuk, uhuk! Kamu udah ketemu sama mama Lily? Kalian ngomong apa?" tanya Jonathan sampai tersedak dan kentang di mulutnya sampai muncrat.
Sierra menahan senyum sembari menuang isi gelasnya ke rumput karena terkena remahan dari kentang kunyahan Jonathan dengan anggun.
"Dia merestui hubungan kita. Jadi aku rasa, kita, mm ... pacaran?" jawab Sierra grogi.
Mata Jonathan melebar seketika. "Wah? Sungguh?" pekiknya tak percaya.
Sierra tersenyum dengan anggukan kepala. Sedang Jonathan terlihat gugup.
"Na-Nathan gantian ketemu sama Tobias gitu? Aduh," ucapnya bergidik ngeri membayangkan memiliki mertua seram seperti Tobias.
"Kenapa? Jangan takut, daddy orang yang baik. Wajahnya memang seram, tapi ia baik padaku."
"Gak liat, Nathan bonyok gara-gara siapa? Daddy-mu itu. Kegantengan Nathan jadi berkurang 99,9% tau," sahutnya protes.
__ADS_1
Sierra tersenyum tipis dengan wajah tertunduk. Jonathan terlihat sebal karena teringat akan perlakuan buruk Tobias padanya.
"Aku minta maaf atas sikap daddy-ku yang menyimpang, Jonathan. Aku ... minta maaf," ucapnya sedih.
Jonathan terlihat canggung seketika. Ia baru sadar jika telah menjelek-jelekkan ayah kekasihnya. Ia menatap wajah Sierra lekat dengan kedua tangan meremat-remat kain di atas pahanya.
"Sierra, coba liat tanganmu," ucapnya tiba-tiba dan membuat gadis cantik itu memberikan kedua tangannya terlihat bingung.
"Daripada tanganmu ngucek-ngucek rok, mending pijetin tangan Nathan aja. Atau kalau kamu gemes sama roknya, cubitin pipi Nathan boleh. Nathan rela kok," ucapnya dengan wajah berbinar, tapi malah membuat wajah gadis cantik itu merona.
Sierra hanya bisa tertunduk mendengar gombalan Jonathan padanya.
"Jika urusan kalian berdua sudah selesai, cepat pergi dari sini. Aku tak mau Tobias datang kemari," ucap Javier mendatangi dua sejoli yang sedang kasmaran itu.
"Haish. Diusir. Tega amat, tapi bener juga sih. Nathan juga harus balik ke Paris buat peresmian toko punya Dara. Nathan belom cek finishing-nya," ucapnya sembari melepaskan genggaman di kedua tangan Sierra.
"Dara? Maksudmu, Sandara. Dia membuat toko apa? Boleh aku ikut melihatnya?" tanya Sierra penasaran.
"Dara buat butik dan salon. Tanpa Sierra minta, Nathan pasti ajak," jawabnya dengan senyum merekah.
Sierra terlihat begitu gembira menerima sambutan baik Jonathan padanya. Keduanya segera menyelesaikan sarapan bahkan mengabaikan kehadiran sang Tuan rumah, Javier yang berdiri di antara mereka.
Lysa juga masih enggan tinggal berlama-lama dengan Javier. Ia mengajak King D untuk ikut bersamanya ke Australia.
Javier terlihat sedih. Lysa sungguh tak ingin rujuk dengannya. Keesokan harinya, konvoi mobil pergi meninggalkan kediaman Javier di Tunisia menuju ke Bandara.
Lysa terbang ke Australia bersama King D diantar oleh Javier dan anak buahnya. Sedang Jonathan, Sierra, Lucy, Yohanes, Click and Clack serta anak buah gadis bermata biru itu, terbang menuju ke Paris.
Namun siapa sangka, begitu tiba di Bandara, Jonathan dan rombongan sudah disambut wajah angker dari Tobias.
"Ha-hallo, Bang Dad," sapa Jonathan gugup.
"Jadi ... kau akan menikahi anakku, Sierra?" tanya Tobias menatapnya tajam.
Jonathan menggenggam tangan Sierra semakin erat dengan anggukan. Sierra tersenyum karena tak menyangka jika Jonathan sungguh ingin mempersuntingnya.
"Boleh saja. Kuganti persyaratannya. Kau kubiarkan menjadi pemimpin The Circle, tapi ... jadikan Lysa isteriku. Jika gagal, jangan harap kau bisa menikahi Sierra."
"What?!" pekik Jonathan dan Sierra bersamaan.
***
__ADS_1
alhamdulilah udah sampai jogja dengan selamat. Uhuy meski di sambut ujan gede😆 makasih banyak tipsnya. Btw lele pegel. Semoga bisa lanjut ngetik krn ini pke hape. Kalo ada tipo2 maklum aja dan jgn lupa koreksinya. Tengkiyuw💋💋💋