
--- back to Story :
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
Tobias terdiam dan terlihat tegang, tapi tiba-tiba ia tertawa kencang sembari bertepuk tangan. Lysa terkejut begitupula para pion yang masuk ke ruangan satu persatu.
"Hahahaha! Hahaha! Aku akan menjadi Ayah! Haha, kau dengar itu, Sayang? Kita akan memiliki bayi. Oh, aku sangat menantikan moment ini. Muach! Muach!" ucapnya riang mendatangi Lysa dan menciumi perut sang isteri yang masih rata.
Lysa bingung menatap Tobias yang kini memegangi wajahnya dan mencium bibirnya ganas. Lysa sampai tak bisa bernafas karena Tobias menciumnya tiba-tiba.
"A-aku hamil? Oleh karena itu, aku pusing dan merasa tak enak badan?" tanya Lysa menebak kondisinya sendiri.
"Ya, Nona Lysa. Calon bayimu sangat manja. Ia membuat Ibunya kerepotan. Namun, kau akan baik-baik saja. Aku akan mengobatimu," jawab Dokter perempuan itu dan Lysa mengangguk berterima kasih.
Lysa terlihat senang, meski wajahnya pucat. Tobias menemani Lysa di kamar seharian sembari menyuapinya buah-buahan segar yang dibeli oleh Damian di pasar terdekat.
Lysa ditinggalkan bersama Daido, yang bertugas sebagai petugas medis selama di kapal.
Dokter itu mengajarkan kepada Daido pengobatan Lysa selama mereka melakukan perjalanan laut nanti.
Di Ruang Makan.
"Toby, apa kau tak mencurigai keanehan ketika kita berkunjung ke kediaman Venelope?" tanya Darion.
"Ada Click and Clack, bahkan Smiley," sahut Dakota menimpali.
"Aku tahu," jawabnya sembari menuang whiskey di sebuah gelas crystal yang telah diberi balok es.
"Tessa juga berada di sana. Sangat menarik perhatian, Toby. Apakah mereka berkomplot untuk melenyapkan kita?" tanya Darius terlihat cemas.
"Pastinya. Itu bukan kejutan lagi," jawab Tobias dengan wajah datar sembari meletakkan gelas yang sudah kosong.
"Lalu ... apa yang harus kita lakukan?" tanya Darwin.
"Damian, kau kembalilah ke Italia. Awasi pergerakan Venelope dan anak buahnya. Ingat, jangan sampai ketahuan. Jika kau terdesak, pergilah ke Paris, kita bertemu di sana. Kau paham," tegas Tobias menunjuk salah satu pionnya dan Damian mengangguk.
"Lalu kau, Dexter. Pergilah ke Filipina dan temui Jeremy. Antarkan suratku padanya," tunjuk Tobias ke wajah pria berambut cepak dan Dexter mengangguk mantab.
"Lalu kita akan kemana?" tanya Dakota menatap Tobias tajam.
"Cuba. Vesper dan jajarannya belum mengetahui kediamanku itu. Selama aku dan Lysa di Cuba, beberapa dari kalian akan kutugaskan untuk memantau perkembangan markas kita yang tersisa. Aku tahu, kita tak mungkin terus-terusan lari dan bersembunyi. Aku ingin menetap," ucap Tobias sembari memutar gelas crystal-nya dengan tatapan sendu.
Para Pion yang mendengar saling melirik entah apa yang dipikirkan. Tak lama, Daido datang bersama Dokter wanita yang menyamar.
"Bagaimana?" tanya Tobias menatap dokter wanita yang melepaskan masker dan kerudung terlihat gerah.
"Yah, dugaanku benar. Lysa hamil. Aku baru saja melakukan tes dengan test pack," jawabnya malas sembari berjalan menuju ke meja dan mengambil gelas lalu menuang vodka ke dalamnya.
Tobias kembali tersenyum lebar. Para Pion ikut tersenyum seperti ikut merasakan kebahagiaan yang sama.
"Thank you, Yu Jie."
"Your welcome, Boss," jawab teman semasa asrama bersama Lysa di China dengan senyuman.
Saat Yu Jie bersiap akan pergi, ia kembali mendatangi Tobias. Lelaki bertato itu menatap Yu Jie seksama.
"Sierra meneleponku. Dia memberikanku misi kelas S. Targetnya, melindungi Jonathan. Lalu ... apa kau tahu? Sierra kini bisa berjalan. Kai dan Jeremy, membuatkan kaki robot untuknya. Sierra sekarang berada di Filipina," ucapnya santai.
Mata Tobias dan semua pion terbelalak seketika.
__ADS_1
"Benarkah? Sungguh? Sierra bisa berjalan?!" pekik Tobias lantang.
"Sttt ... jangan keras-keras. Kau akan membangunkan Lysa. Aku tahu yang kau lakukan pada Lysa. Aku selama ini berada di pihakmu karena kau dan Sierra melindungiku dari Madam. Wanita gila itu terobsesi padaku sejak kecil bahkan meminta Darwin Flame menyekolahkanku. Ia menugaskanku memantau gerak-gerik Lysa sampai aku harus satu kamar dengannya," ucap Yu Jie dengan suara tertahan, melotot lebar menatap semua orang di ruangan.
"Kau tahu dari mana semua hal ini?" tanya Damian heran.
"Sierra memberitahuku. Jangan salah, dia percaya padaku dan aku memiliki banyak rahasia dari misi Vesper. Jadi ... ingin tahu?" tanya Yu Jie dengan gaya tengilnya menatap wajah para lelaki di hadapannya.
"Aku akan serahkan diriku padamu, Yu Jie, untuk semua informasi itu. Kau menerimaku, Sayang?" tanya Damian dengan senyum penuh maksud.
"Dasar tak tahu malu," sindir Dexter terkekeh.
Yu Jie langsung merangkul leher Damian dan duduk di pangkuannya. Para Pion yang lain terlihat iri karena Damian dengan mudah mendapatkan gadis cantik dan pintar di pelukannya. Tobias tertawa senang dengan tepukan tangan.
"Baiklah. Berikan aku informasi kejutan itu," pinta Tobias.
"Elios. Perusahaan Farmasi. Vesper berencana merebutnya dari tangan Mr. White dan The Mask. Hmm, seharusnya ... mereka sudah tiba hari ini di Italia. Termasuk tim dari Arjuna yang mencari keberadaan Tessa. Sepertinya anak-anak dari Vesper sungguh ingin menikahi keturunan No Face. Cukup mengejutkan," jawab Yu Jie santai sembari membelai lembut rambut belakang Damian.
Tobias terlihat serius seketika. Ia seperti memikirkan sesuatu.
"Kau akan ke Italia? Kau ditugaskan Sierra untuk melindungi Jonathan, benar begitu bukan?" tanya Tobias menatapnya tajam dan Yu Jie mengangguk membenarkan.
"Hem, sepertinya kita memang berjodoh, Sayang. Tobias menugaskanku ke Italia. Kita akan menjadi partner yang serasi untuk misi kali ini," ucap Damian menatap kekasih barunya dengan wajah mesum.
"Tentu saja. Italy akan semakin panas dengan kedatangan kita," jawabnya sembari mendekatkan wajahnya lalu mencium Damian dengan penuh gairah.
"Shit! Pergilah ke kamar! Ingat, kamar kita memiliki 4 ranjang! Pakailah ranjangmu sendiri," tegas Darion terlihat kesal.
Yu Jie dan Damian melepaskan ciuman dengan senyum mengejek pada Darion. Para Pion lainnya menertawakan Darion yang iri karena tak memiliki kekasih. Tobias hanya tersenyum miring.
"Jadi, aku tetap pergi ke Filipina?" tanya Dexter penasaran.
"Hei, kenapa melibatkan dia?" protes Damian. Para Pion lainnya terkekeh.
"Oke. Perubahan rencana. Damian dan Yu Jie. Kalian fokus pada pergerakan Tim Jonathan selama di Italia." Yu Jie dan Damian mengangguk paham.
"Lalu Dexter, Darwin dan Darion. Kalian bertugas mengawasi pergerakan Venelope, Smiley dan Mr. White." Tiga pria itu mengangguk bersamaan.
"Selanjutnya, Darius. Kau bertugas mengawasi pergerakan Tessa. Aku yakin jika ia akan bertemu Arjuna nantinya. Pastikan tujuannya dan cari tahu apapun informasi dari pertemuan itu. Kita akan mencari celah untuk mengambil keuntungan dari kesepakatan yang akan mereka lakukan nanti." Darius mengangguk mengerti.
"Ingat, jika kalian terdesak, pergilah ke Paris, kediaman Sierra. Kalian akan aman di sana."
"Yes, Boss."
"Dakota dan Daido. Kalian tetap ikut bersamaku ke Cuba." Dua pion tersebut mengangguk pelan.
"Lalu ... bagaimana dengan Click and Clack?" tanya Daido penasaran.
"Mereka pasti akan menyusul Jonathan. Jangan sampai pergerakan kita ketahuan oleh dua kubu itu. Kita harus tetap bersembunyi," jawab Tobias serius.
Malam itu, para Pion yang ditugaskan untuk ke Italia, terbang menggunakan pesawat komersil. Tobias, Lysa, Daido dan Dakota tetap bertahan di Maroko.
Mereka baru akan berlayar keesokan harinya setelah dua Pion tersebut menyiapkan pasokan makanan dan obat-obatan sebelum meninggalkan Casablanca.
Namun, tanpa sepengetahuan mereka, saat Pion Dakota dan Daido sedang berada di Pasar Malam untuk membeli bahan makanan, keberadaan mereka diawasi oleh seseorang di kejauhan.
Mereka bicara dalam bahasa Arab.
"Kau yakin dengan yang kau lihat?" tanya seorang pria dari sambungan telepon.
__ADS_1
"Ya. Mereka adalah para pion Tobias. Aku sangat yakin, jika pria gila itu ada di negara ini, Sultan," tegas Hakim yang mengintai dari balik tumpukan karpet permadani yang dijual.
"Aku mengerti. Terus awasi dan pastikan kau tak kehilangan jejak mereka, Hakim. Aku mengandalkanmu," tegas Javier.
"Ya, Sultan."
Hakim segera menutup panggilan teleponnya. Ia memberikan kode kepada anak buahnya untuk bersiap.
Dua orang dari pasukan Jihad menyamar seperti warga sipil dengan pakaian khas Timur Tengah.
Seorang pria sengaja berjalan mendekati dua pion tersebut sembari menenteng belanjaan seperti pembeli di pasar.
BRUKK!
Dua pion terkejut saat barang belanjaan dari seorang pria tak mereka kenal jatuh berhamburan di belakang mereka.
Dua pion itupun membantu memasukkan ke dalam tas belanjaan pria malang tersebut.
Terlihat, salah satu pasukan Jihad tersebut sangat pintar dalam berakting. Ia memeluk dan menyalami dua Pion D.
Ia juga memberikan hadiah berupa pot keramik yang cantik dari salah satu anak buah Sultan yang menyamar sebagai penjual pot keliling.
"Ayo, ambilah. Tak apa. Kalian pasti turis. Keramik ini bisa dijadikan pajangan di rumah nanti. Ini sangat bagus. Aku punya banyak di rumah. Ini untuk kalian saja, sebagai ucapan terima kasih karena telah membantuku," ucap pria dari pasukan Jihad memaksa sembari menyodorkan sebuah pot keramik berwarna biru.
"Oke," jawab Daido menerima pot keramik indah tersebut dan memasukkannya dalam tas yang ia bawa.
Pria dari pasukan Jihad itupun pamit dan berjalan meninggalkan dua Pion berbelok ke sebuah gang hingga sosoknya tidak terlihat.
Dua pion itu lalu berjalan menuju ke dermaga, tapi pion Daido meletakkan keramik tersebut di bawah sebuah pohon, meninggalkannya begitu saja.
"Kau menolak kebaikan pria itu?" tanya Dakota melirik sembari terus berjalan ke kapal.
"Aku masih tak percaya ada orang baik di dunia ini, Dakota. Mereka hanya iba pada kondisi kita. Seperti yang dilakukan pria tadi, dia kasihan pada kita, padahal dialah yang seharusnya dikasihani. Jika tak ada kita, pasti buah-buahan dan sayurannya sudah diinjak-injak orang," jawab Daido sembari menenteng dua tas kain di kanan kirinya.
Dakota mengangguk setuju. Tanpa mereka sadari, dua anggota dari pasukan Jihad menemukan yacht yang ditumpangi oleh utusan Tobias tersebut.
"Tandai," perintah Hakim dari pantauan kamera tersembunyi di balik surban yang dikenakan oleh salah satu pasukan Jihad-nya.
SHOOT! CLEB! PIP!
"Bagus. Sinyalnya terbaca. Segera kembali dan kita bersiap untuk mengikuti," perintah Hakim dari sambungan telepon di ponsel.
"Ya, Hakim," jawab dua pria tersebut bersamaan dan pergi menjauh dari dermaga.
Pada bagian luar kapal, sebuah pelacak anti air dan karat, menempel seperti tempurung keong.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uyy mau info aja. Yang belom baca novel Yes! I'm Casanova, mumpung masih gratis, kuy segera DM lele di Instagram ya. Akan lele kasih linknya.
Jangan lupa untuk bantu rate bintang 5 dan komen dukungannya ya biar makin rame. Jangan lupa subscribe juga biar tahu ketika notifikasi update eps muncul. Semoga MT gak eror lagi jadi upnya teratur sesuai jadwal. Happy weekend~
Trims tipsnya. Cuma gak tau deh besok dobel atau gak. Tipsnya belom nambah lagi. Kwkwkw.
__ADS_1