
Tim gabungan dari Sandara dan Arjuna kini fokus mengejar Miles. Namun, Sandara meyakinkan Arjuna jika mereka harus mendatangi kediaman Amanda Theresia mengingat ibu susu puteri dari Kai tersebut memiliki GIGA SIA.
Sandara ingin memanfaatkan teknologi itu untuk mencari keberadaan Miles. Arthur membawa orang-orang itu untuk menemui nyonyanya yang menurut kabar dari Amanda sendiri, ia kini berada di Florida.
Namun, tanpa sepengetahuan mereka, ternyata puteri dari Arjuna—Kim Loria—sedang diasuh oleh mantan bodyguard putera dari Han tersebut di rumah tersebut.
Kediaman Amanda, Florida.
Naomi berdiri mematung saat ia membuka pintu rumahnya dan mendapati sosok Arjuna sedang berdiri di hadapannya.
Keduanya saling diam dan hanya saling memandang. Sandara yang berdiri di belakang kakaknya memilih untuk tak ikut campur.
"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Naomi yang pada akhirnya bisa memalingkan wajah dan bicara.
"Kauterluka? Kenapa wajah dan tanganmu?" tanya Arjuna yang ternyata mendapati bekas luka seperti cakaran di tubuh mantan bodyguard-nya itu. Naomi diam tak menjawab. "Apakah kauingin menjemputnya?"
Kening Arjuna berkerut. "Menjemput siapa?" tanya Arjuna bingung. Naomi menaikkan pandangan. Ia terlihat bingung dengan jawaban mantan bosnya itu.
"Kenapa kaubawa dia kemari, Paman Arthur?" tanya Jordan yang muncul dari dalam dengan wajah dingin.
"Aku yang menyarankannya, tapi aku tak tahu jika ada kalian di sini. Tujuan kami untuk bertemu mommy. Apa dia ada?" tanya Sandara menyahut dari balik tubuh tinggi Arjuna.
"Dia sedang keluar bersama 2M, sebentar lagi akan kembali. Masuklah, sepertinya isteriku lupa jika kalian tamu yang diistimewakan," ucap Jordan.
Naomi tampak terkejut karena ia sampai lupa untuk mempersilakan tamunya masuk. Arjuna dan lainnya masuk ke rumah peninggalan keluarga Theresia itu.
Mata Arjuna masih terpaku pada Naomi yang baginya tampak cantik setelah sekian lama tak berjumpa. Bahkan, Naomi masih terlihat sama seperti ketika ia berkenalan dengannya saat sekolah dulu di Yogyakarta.
"Naomi, kaubelum menjawab pertanyaanku soal menjemput. Siapa yang kaumaksud?" tanya Arjuna masih mengejar jawaban itu.
Naomi menghentikan langkah dan saling berpandangan dengan Jordan. Suami dari Naomi menatap Arjuna saksama dan pria Asia itu balas memandanginya.
Saat suasana hening dan terasa tegang, tiba-tiba mata Sandara menyipit. Ia berjalan mendekati pintu belakang yang menuju ke pantai.
Pandangan Jordan teralihkan dan terlihat tertarik dengan gerak-gerik saudara sepersusuannya.
"Apakah mommy pergi dengan helikopter?" tanyanya seraya berdiri di depan sebuah jendela yang terbuka lebar.
Dengan sigap, Jordan mengambil teropong dekat pintu dan langsung memastikan kendaraan terbang yang seperti mendekat ke rumahnya.
"RUN!" teriaknya lantang.
Praktis, mata semua orang melebar. Benar saja, helikopter yang sudah dipersenjatai itu mulai menggelontorkan amunisinya.
DODODODODOR!!
Semua orang langsung berlari menyelamatkan diri. Jordan melindungi Sandara karena berada paling dekat dengannya.
Arjuna dengan sigap mendorong Naomi ke balik dinding menghindari peluru-peluru tajam mematikan tersebut.
"Apa kaumelihat peluncur misil?" tanya Sandara yang tiarap di atas lantai di balik dinding jendela dengan Jordan di sebelahnya.
__ADS_1
Jordan melebarkan mata dan kembali meneropong. Ia melihat helikopter itu berputar. Jordan menurunkan teropongnya dan menggeleng.
"Dia tak meledakkan rumah ini. Dia pasti menginginkan sesuatu. Apa?" tanya Sandara seraya melihat beberapa orang yang bersembunyi di balik dinding masih bertahan di dalam rumah.
Jordan diam sejenak terlihat berpikir, tapi lagi-lagi ....
DODODODODOR!!
"AAAAA!" teriak Naomi karena helikopter berputar di sisi lain dari rumah tersebut yang dekat dengan posisinya bersembunyi.
Tiba-tiba, terdengar suara bayi menangis. "Oh?!" pekik Arjuna saat menyadari ada bayi di rumah itu.
Jordan juga sepertinya tahu akan sesuatu. "Aku akan keluar," ucapnya yang membuat mata Sandara melebar.
"Jordan, stop!" teriak Sandara lantang karena pemuda itu dengan sigap berdiri dan keluar dari rumah melewati pintu belakang.
Sandara meminta senjata kepada anak buah Arjuna, dan Sun dengan sigap melemparkannya. Sandara meminta Arthur dan lainnya melindungi Jordan dari dalam rumah.
"Ada bayi di sini? Anakmu?" tanya Arjuna menatap Naomi lekat.
Naomi tak menjawab dan segera berlari menuju ke kamar. Arjuna mengikuti wanita cantik itu dengan tergesa.
Saat keduanya memasuki kamar, mata Arjuna melebar ketika mendapati dua bayi yang disejajarkan di atas ranjang.
Arjuna berjalan mendekat dan melihat Naomi langsung menggendong salah satu bayi yang menangis seperti tahu jika ada hal buruk terjadi di sekitarnya.
"Loria? Kim Loria? Dia ada di sini?" tanya Arjuna melebarkan mata menatap Naomi lekat.
Naomi menatap Arjuna sekilas dan mengangguk. "Aku menyusuinya selama ini. Dia diantarkan kemari dan katanya, kau akan datang menjemputnya. Oleh karena itu, tadi aku bertanya padamu," jawab Naomi seraya menepuk-nepuk bayinya yang mulai tenang dan terlihat seperti masih mengantuk.
Arjuna bergegas keluar kamar dan mendapati semua orang tampak panik seperti melawan sesuatu.
"Sun, ada apa?" tanya Arjuna ketika melihat asistennya itu melongok keluar jendela seperti memastikan sesuatu.
"Ini sengaja! Mereka mengincar Jordan. Ia menggunakannya untuk membunuh kita!" jawab Sun lalu membuka jendela di samping koridor lalu melompat keluar. "Kita harus pergi dari sini. Cepat!" seru Sun terlihat panik dengan pistol dalam genggaman.
Mata Naomi melebar. "Jordan kembali menjadi monster?!" pekiknya, dan Sun mengangguk membenarkan.
"Cepat! Helikopter itu masih membidik kita. Arthur dan lainnya sedang berusaha untuk mengalihkan perhatian helikopter itu agar kita bisa kabur. Kami tak bisa membunuh Jordan," jawab Sun terlihat tegang.
Naomi terlihat shock, termasuk Arjuna. Dengan sigap, Arjuna mendatangi bayinya dan menggendong Loria.
Arjuna dan Naomi saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan seperti satu pemikiran.
"Di mana Sandara?" tanya Arjuna saat Naomi sudah melangkah keluar jendela lebih dulu.
"Dia berusaha menghentikan Jordan. Katanya, hanya dia yang bisa menyembuhkannya. Aku percaya padanya. Ayo, kita harus amankan bayi-bayi ini," tegas Sun dan Arjuna mengangguk paham.
"Ikuti aku," pinta Naomi memimpin jalan dan dua pria itu mengangguk bersamaan.
Arjuna berlari di belakang Naomi dengan pistol dalam genggaman tangan kanan sembari menggendong Loria yang masih tertidur dalam dekapan tangan kiri.
Sun berjalan di depan melindungi rombongan. Naomi mengarahkan jalan dengan Sig dalam gendongan.
__ADS_1
"Kalian lihat pohon besar itu?" tanya Naomi saat mereka bertiga bersembunyi di balik rimbunnya semak sekitar rumah. Sun dan Arjuna mengangguk dalam posisi berjongkok. "Ada pintu rahasia menuju ke tempat evakuasi. Ada mobil yang menunggu di ujung terowongan itu. Hanya saja, kita akan terlihat oleh helikopter," ucap Naomi yang melihat CamGun bekerja secara otomatis membidik helikopter bersenjata itu.
"Aku akan melindungi kalian. Bergeraklah," ucap Sun mantap dengan dua pistol dalam genggaman.
Naomi dan Arjuna mengangguk siap untuk berlari. Sun mengamati pergerakan helikopter yang kini bergerak menjauh dari lokasi mereka berada.
"Now!" serunya lantang.
Arjuna dan Naomi berlari kencang tak melihat sekitar. Mereka fokus pada pintu besi itu. Arjuna tiba lebih dahulu dan membuka pintu tersebut. Naomi segera masuk ke dalam dan disusul oleh Arjuna.
"Sun!" teriak Arjuna memanggil pria yang masih memposisikan diri sebagai bodyguard-nya.
Sun melihat kesempatan. Dia berlari mendatangi Arjuna yang masih menunggunya. Namun, DOR! BRUKK!
"SUN!" teriak Arjuna dengan mata melotot lebar saat melihat punggung putera dari agent M tersebut tertembak karena tak berpelindung. Arjuna memberikan bayinya kepada Naomi, dan wanita cantik itu segera menerimanya meski terlihat gugup.
"Pergilah, jangan tunggu kami. Selamatkan bayiku. Aku percaya padamu, Naomi," pinta Arjuna terlihat panik dan Naomi seperti akan menangis. "Terima kasih sudah mengasuh anakku. Kau selalu menjadi penyelamatku. Tolong, bantu aku lagi. Selamatkan bayiku," pinta Arjuna seraya memegang wajah Naomi dengan wajah sendu dan langsung berpaling mendatangi Sun.
Naomi bingung, tapi ia melihat helikopter tersebut berputar dan siap menembak lagi.
"Agh!" erang Naomi dengan berat hati berlari menyusuri lorong sendirian dengan dua bayi dalam gendongannya.
Arjuna berlari seraya menembaki helikopter itu. Sun mencoba untuk bangkit dengan wajah sudah merah padam menahan sakit.
"Ayo, Sun! Itu hanya satu tembakan! Kau tak akan mati!" seru Arjuna dengan sigap memberikan lengannya sebagai penopang tubuh lelaki itu.
Sun merangkul Arjuna dan berjalan dengan tergopoh menuju ke lorong evakuasi. Arjuna menutup pintu meski tak rapat.
Sun duduk di lantai lorong dengan napas tersengal. Arjuna melihat di balik pintu saat helikopter itu terbang menjauh setelah baling-baling di bagian ekor berasap karena tembakan CamGun yang melindungi rumah.
"Sun? Sun!" panggil Arjuna karena Sun mulai linglung akibat kehilangan banyak darah.
Arjuna melihat ke arah lorong dan merasa jaraknya sangat jauh untuk digapai oleh asistennya.
Arjuna kembali membuka pintu dan membopong Sun di punggungnya. Sun terkejut saat Arjuna membawanya berlari menuju ke mobil yang mereka kendarai tadi.
"Cepat! Kita harus ke rumah sakit!" teriak Arjuna kepada anak buahnya yang berhasil selamat dan tak terluka.
"Bagaimana dengan Sandara?" tanya Max tampak kelelahan.
"Pergilah! Aku sudah menghubungi Red Skull dan juga nyonya Manda. Mereka dalam perjalanan. Sepertinya, Sandara berhasil meredam monster dalam tubuh Jordan!" jawab Arthur masih mengawasi dari dalam rumah dengan pistol dalam genggaman.
Arjuna mengangguk. Tulio dan Max segera masuk ke mobil. Mereka meninggalkan kediaman Amanda menuju ke rumah sakit terdekat.
Arjuna tampak cemas melihat Sun mulai berkeringat hebat dan darah terus mengalir di punggungnya.
"Kau akan selamat, Sun. Kau tak akan mati," ucap Arjuna yang duduk di samping Sun mencoba menenangkan asistennya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Puyeng uyy kepala dan mual kembali melanda. Jangan lupa vote vocernya udah senin gaes. Tengkiyuw tipsnya bang Koyo. Sering2 ya. kwkwkwkw 😆