4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Setan?*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



----- back to Story :


Jonathan mendengus kesal. Tempat itu kosong dan tak ada apapun kecuali sebuah lemari usang setinggi pinggulnya dan terlihat rapuh.


"Agh! Kabur terus! Siapa sih orang itu?!" pekiknya geram.


Jonathan yang terluka, memilih untuk mengistirahatkan dirinya. Ia menyender pada dinding bangunan. Jonathan memejamkan mata dan mengatur nafas dengan pakaian masih basah.


"Hempf. Kenapa Nathan ngikutin orang gak jelas itu?" gumannya lirih dengan mata sayu.


Saat Jonathan akan memejamkan mata, ia tertegun saat sebuah teriakan lantang memanggil namanya di luar pondok.


"JONATHAN!"


"Om!" jawabnya seraya berdiri dengan tergesa dan keluar dari rumah kayu. Jonathan melambai dengan satu tangannya. Senyumnya merekah ketika mendapati orang-orang dari timnya muncul mencari dirinya.


"Ketemu! Jojon ketemu!" teriak Bejo dari sambungan radio.


"Oke! Kita merapat dan nyusul ke sana. Tandai lokasi," jawab Iwan, dan Bejo segera menandai GPS-nya.


Click and Clack mendatangi Jonathan yang terlihat baik-baik saja, meski ia berantakan.


"Kau tak apa?" tanya Clack melihat Jonathan memegangi lengannya.


"Sakit kalau digerakkan. Nathan gak berani liat, tar kalau lukanya parah terus Nathan diamputasi gimana? Masa tangan Nathan jadi buntung kaya kadal? Nathan gak ma—aw!" pekiknya lantang karena Click langsung merobek pakaiannya dan kini, pemuda itu bertelanjang dada dengan bekas luka bakar di dadanya.


"Oh, hanya lebam. Kau akan baik-baik saja. Aku cukup yakin jika kau tak mengalami retak dan semacamnya," jawab Click seraya memegang lengan Jonathan yang sakit perlahan. Jonathan mengangguk dan bernafas lega.


"Eh, tempat ini aneh ya? Gersang. Padahal di sekitarnya ijo royo-royo loh. Kok bisa ya?" tanya Hadi bingung seraya berputar-putar di tempatnya berdiri.


Semua orang akhirnya melakukan hal yang sama. Mereka juga berpikir demikian.


"Hei!" panggil Bejo dengan kepala keluar dari balik pintu yang tertutup daun.


Jonathan dan lainnya mendatangi salah satu anggota The Kamvret itu, tapi Bejo menahan mereka di depan pintu. Mereka pun hanya memasukkan setengah tubuh ke dalam.


"Bejo cukup yakin kalau tempat ini ada yang menempati," ucapnya serius sembari menunjuk tanah dari lantai tersebut.


"Oh, jejak kaki!" pekik Jonathan saat melihat banyak bekas telapak kaki di sekitar tempat tersebut.


"Lihat. Alat makan itu, lalu almari yang terbuka dengan isi perlengkapan tidur serta alat medis," sambungnya sembari menunjuk benda-benda itu dari tempatnya berdiri. Semua orang yang ikut melihat menganggukkan kepala.


"Ada penghuni di sini? Apakah ... sosok yang berpakaian putih dengan topeng itu?" tanya Clack menebak.


"Hem. Bisa jadi. Malah, Bejo yakin, dia kayaknya sengaja nuntun kita kemari. Masalahnya, dia ini kawan atau lawan kita gak tahu. Bejo khawatir, kalau dia sengaja bawa kita kemari lalu jebak kita," ucapnya serius, dan mengejutkan semua orang.


"Jebak? Maksudnya, dia sengaja muncul lalu kumpulin kita di sini, lalu bunuh kita, gitu?!" pekik Jonathan dengan mata melotot.


Seketika, semua orang langsung bersiaga. Mereka mempersenjatai diri dengan senapan laras panjang dan pistol.


Jonathan bahkan langsung mengganti pakaiannya dengan setelan khusus yang dibawa oleh Hadi di ranselnya.


"Ada pergerakan? Ranjau mungkin? Atau senapan otomatis yang muncul dari batang pohon? Batu, dinding rumah itu, atau bahkan dari dalam tanah?" tanya Jonathan panik, saat Bejo dan Hadi sibuk meneropong sekitar dengan sensor panas untuk melihat pergerakan musuh.

__ADS_1


"Negatif. Sepi. Bener-bener kaya kawasan yang ditinggalkan," jawab Hadi serius.


"Bagaimana dengan pemindai ranjau?" tanya Jonathan menatap Click yang sedang memegang sebuah alat berbentuk persegi panjang dalam genggaman untuk melihat benda apapun yang tertanam di dalam tanah hingga sedalam 10 meter.


"Tak ada. Ini hanya tanah biasa," ucapnya sembari menggerakkan benda itu di sekelilingnya. Namun tiba-tiba, "Oh! Ada jalan!" pekiknya mengejutkan semua orang.


"Jalan? Di mana?" tanya Jonathan langsung menyahut.


"Di dalam tanah. Seperti ada lorong rahasia. Tepat di bawah rumah itu," tunjuknya ke sebuah rumah tempat Jonathan tadi berada.


Semua orang mendekat dan melihat dari layar sebesar 10 inch tersebut. Ada sebuah lorong seperti menuju ke sebuah tempat, dan jalanan dari lorong itu tak terlihat lagi setelah menembus pinggiran hutan dengan pohon rindang menutupi jejaknya.


"Pasti ada jalan rahasia. Ayo, kita selidiki! Tadi, Nathan kejar orang itu. Dia masuk ke rumah itu, tapi hilang. Nathan yakin jika dia kabur melewati jalan tersembunyi," ucapnya mantab.


Semua orang segera bersiap. Mereka mengganti pakaian sipil menjadi pakaian bertempur ala Black Armys dengan jas anti peluru, kaos pelapis anti air, dan celana tahan api serta sepatu magnet.


Mereka meninggalkan baju sipil mereka di dalam rumah pondok, dan kini bersiap dengan persenjataan dalam genggaman.


"Bayu, Iwan?" panggil Hadi.


"Kita udah di sini. Kalian di mana?" jawab Bayu dengan nafas tersengal.


Hadi keluar dari pintu dan memanggil mereka. Bayu dan Iwan segera mendekat.


Mereka ikut terkejut saat melihat Click and Clack membuka sebuah lemari reyot dan ternyata, mendapati sebuah palka besi di bagian alas almari menuju ke terowongan yang mereka curigai.


"Kita akan menyusuri lorong tersembunyi ini. Hubungi Eko dan Kai, kasih tau temuan kita," perintah Hadi serius.


"Mereka gak bisa dihubungi. Kita khawatir jika terjadi hal buruk sama mereka berdua," sahut Iwan.


"Kalau begitu. Kalian kembali dengan satu perahu ke rumah pondok. Tinggalkan satu perahu untuk kami. Kita akan ketemu di sana. Kalau sampai 2 jam kita gak ada kabar, segera hubungi pusat buat kirim bantuan. Jika kalian nemuin hal aneh di Pondok, langsung hubungi pusat, jangan ditunda. Oke?!" tegas Hadi dan dua anggota The Kamvret itu mengangguk paham.


Bayu dan Iwan meninggalkan kawasan itu. Mereka kembali ke perahu untuk melaksanakan perintah Hadi.


Click membuka pintu palka untuk mengecek lorong rahasia tersebut. Anggota tim lainnya menunggu di atas dengan perlengkapan tempur, siap menyisir gua.


"Clear!" panggilnya. Satu persatu, anggota tim Jonathan menuruni tangga besi yang tersedia di sana sebagai akses masuk.


Jonathan terlihat kagum karena tempat itu cukup terang dan ia semakin yakin, jika lorong itu dirawat dan sering digunakan.


"Hati-hati dengan perangkap. Sosok putih itu tahu jika kita mengejarnya," ucap Click dan semua orang mengangguk dengan wajah tegang.


Click berjalan di depan sebagai pemimpin pasukan, diikuti oleh Bejo, Jonathan, Hadi, dan penutup rombongan adalah Clack. Orang-orang itu berjalan beriringan membentuk sebuah barisan.


Hingga akhirnya, langkah mereka terhenti saat menemukan cabang dari lorong itu. Terlihat sebuah tangga di depan seperti menuju ke suatu tempat.



"Kirim mini RC. Sangat berbahaya jika kita berpencar," usul Clack dan semua orang mengangguk setuju.


Jonathan dengan sigap mengeluarkan mobil itu dari tas ransel Hadi. Pemuda tampan itu mengendalikan RC menuju ke cabang dari lorong utama.


Click and Clack tetap siaga dengan senapan dalam genggaman membidik apapun yang terlihat mencurigakan di sekitar mereka berada.


"Oh! Ada pintu besi!" pekik Jonathan saat melihat dari layar tablet jika lorong itu tak memiliki cabang lagi dan hanya ada sebuah pintu yang menghalangi.


"Hadi aja yang ke sana. Hadi akan pakai senjata peleleh logam. Bejo, lindungi Hadi," ucapnya mantap dan Bejo mengangguk siap.


Bejo mengarahkan moncong senjatanya ke dinding di sisi kiri dan kanan saat Hadi melangkahkan kakinya perlahan terlihat begitu waspada karena khawatir ada perangkap yang muncul tiba-tiba dari sisi-sisi lorong.

__ADS_1


Kejadian yang menewaskan salah satu pion D membuat trauma tersendiri bagi orang-orang yang menjalankan misi di lapangan.


CESSS!!


Lelehan dari peluru yang ditembakkan Hadi, membuat sebuah lubang yang cukup untuk memasukkan kepalanya.


Hadi mengintip dari luar, karena ia masih khawatir jika ada perangkap muncul dan menewaskannya.


"Jangan ambil resiko, masukin RC aja!" pekik Bejo lantang dari ujung lorong di mana suara mereka menggema dan memberikan kesan horor tersendiri bagi orang-orang itu.


Hadi mengambil mobil mini tersebut dan memasukkannya dari balik lubang pintu besi. Jonathan dengan sigap mengendalikan mobilnya dengan layar tablet sebagai visual.


"Eh, itukan ...."


"Kostum gagak!" pekik Jonathan dan Bejo bersamaan yang mengejutkan Click and Clack.


Sebuah lemari penyimpanan dengan pintu kaca terlihat jelas di balik sebuah tirai besar yang menutupi tempat itu. Hadi melongok ke sisi lain dengan teropong khusus di balik lubang yang ia buat.


Tiba-tiba, "Waaaa! Setan!" teriaknya lantang saat muncul sebuah wajah seram dari balik teropongnya tepat di depan lensa. Teropong itu jatuh ke dalam ruangan. Hadi langsung roboh dan terus berteriak histeris.


Sebuah tangan berwarna putih pucat dengan keriput dan kuku tajam berwarna keemasan menjulur keluar dari celah lubang itu.


Tangan itu mencakar-cakar pintu besi hingga suara decitannya membuat wajah mengkerut terdengar begitu miris.


Sosok itu berusaha menggapai Hadi yang merangkak di atas lantai lorong dengan wajah pucat pasi.


"Harrghhh!" erangnya yang kini sebagian wajahnya terlihat.


Namun seketika, DOR! BRUKK!!


Mata Hadi terbelalak. Ia menoleh dan mendapati Clack menembak mati sosok di balik pintu itu dengan pistol dalam genggaman. Hadi gemetaran, terlihat sungguh ketakutan.


"Kau tak apa?" tanya Clack khawatir dan berjongkok di sampingnya.


Hadi mengangguk pucat, meski tak dapat dipungkiri, jantungnya serasa ingin meledak karena sosok mengerikan itu.


Semua orang mendatangi tempat Hadi berada. Clack mendekati pintu perlahan dan kini mengintip di balik lubang, meski menjaga jarak.


"Tempat ini ...," ucapnya menggantung.


"Apa?" tanya Jonathan seraya mendekat walaupun hanya satu langkah.


"Tempat ini mirip dengan ruangan bawah tanah milik Madam di Arizona. Dan orang yang tewas itu, aku cukup yakin, jika dia salah satu penjaga dari ciptaan Venelope untuk mengamankan ruangan," tegasnya yang membuat Jonathan, Bejo, dan Hadi melebarkan mata seketika.


"Jika itu benar, maka ...," ucap Click menimpali, tapi ikut menggantung.


"RUN!" teriak Clack lantang.


Seketika, "HARRGHHH!!" erangan mengejutkan seperti binatang buas terdengar memekakkan telinga, dan menggema di dalam lorong tersebut.


Pintu besi yang dilubangi oleh Hadi, kini bergetar hebat seperti ada yang berusaha mendobrak untuk keluar dari dalam sana.


"RUN!" teriak Clack untuk kedua kalinya seraya berlari mendekati anggota timnya dengan tergesa.


Seketika, BRANGG!!


"AAAAAA!" teriak Jonathan melengking melihat sosok mengerikan muncul dari balik pintu besi itu.


***

__ADS_1


tengkiyuw tipsnya😍 lele padamu😘 ditunggu tips berikutnya. makasih yaw jangan lupa vote vocer dan juga poin💋💋💋



__ADS_2