4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Lanjutin Bagi Warisan


__ADS_3

Yg belom baca Love Is Henry kuy sebelum abis masa penilaian komentar pada tgl 30 April ya. Semangat meninggalkan jejak biar lele juga semangat nilai plus kasih hadiahnya. Give away tamatan 4YM nunggu cair bonus tamat dari MT dulu ya. Semoga di ACC. Amin. Jangan lupa vote vocer keburu angus dan tengkiyuw tipsnya, lele padamu❤️



---- back to Story :


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia.


Para mafia yang sepakat membubarkan kekaisaran mereka terlihat sedih karena banyak kenangan yang akan terkubur bersama runtuhnya kekuasaan.


"Oke. Itu hak kalian jika memang ingin membubarkan kekaisaran ini. Jujur, aku cukup sedih dan sangat menyayangkan hal itu. Meskipun aku tak terlibat secara langsung, tapi aku cukup mengenal tuan Charles, Erik, dan Vesper berikut orang-orangnya selama menjadi designer mereka. Kuakui, memang 13 Demon Heads mengalami kemunduran signifikan usai Vesper tak lagi menjabat," ucap Beny mengutarakan pemikirannya.


"Ya, kau benar, Beny. Aku pun yang pernah menggantikan posisi isteriku merasa tak memiliki kemampuan sepertinya. Dulu memang aku berambisi, tapi setelah kududuk di kursi itu, tekanan besar begitu berat kurasakan. Aku sangat kagum pada Vesper karena bisa mengemban tugas sulit ini. Menaungi seluruh mafia dari segala penjuru dunia dengan keragaman watak masing-masing sekaligus menghimpun pasukan hingga ribuan orang yang dianggap tidak berguna. Ia mempercayai satu hal yang dianggap oleh kita omong kosong belaka," timpal Han dengan pandangan sayu teringat akan sosok wanita yang sangat dicintainya.


"Aku setuju. Nona Lily seolah-olah bisa mengerti pemikiran mereka. Ia tahu bagaimana mengambil keputusan sulit dan cepat meski berisiko bahkan membuat dirinya ikut terancam. Namun, itulah tugas dari seorang pemimpin. Menanggung beban agar orang-orang yang percaya padanya tetap selamat," sahut Kai terlihat sedih.


Para mafia mengangguk setuju karena merasa hal itu benar adanya. Vesper dikenal tak takut dan berani melawan.


Ia memiliki pemikiran tersendiri untuk membangun kerajaannya meski tak dapat dipungkiri, perilakunya yang sulit untuk dimengerti kerap kali menimbulkan kesalahpahaman antar jajaran.


Namun, usai mereka saling mengenal setelah bertahun-tahun lamanya, orang-orang itu mulai mengerti watak dari seorang Vesper, termasuk empat anak sang Ratu.


"Kita ... tak memberikan kebahagiaan untuk mama di akhir hidupnya. Kita malah ... ingin membunuhnya. Padahal ... mama sangat merindukan kita. Nathan ... Nathan kecewa dengan diri sendiri," ucap pemuda itu sedih dan langsung melipat kedua tangan di atas meja.


Ia menyembunyikan air mata dan dukanya dengan menenggelamkan wajah.


"Penyesalan selalu datang terlambat, Jonathan. Itulah yang sekarang menjadi petaka kita," sahut Lysa, dan diangguki oleh Sandara serta Arjuna.


"Setidaknya, kalian kini sudah sadar. Ibu kalian selalu memaafkan kesalahan orang-orang yang disayanginya, terlebih kalian. Ingat saja perlakuan buruk Arjuna. Vesper tetap menyayangi anaknya bahkan memberikan nama untuk cucunya," sahut Buffalo.


Arjuna mengangguk meski matanya berlinang. Ia sangat sedih karena disaat terakhir tak bisa bercengkerama dengan sang ibu.


Malah, ibunya yang sedang sekarat datang menolong ketika ia dan saudara-saudaranya hampir tewas dibakar Miles.


"Oke. Cukup bersedihnya. Aku ingin tidur dengan nyenyak, jadi ... mari selesaikan pembagian aset ini," sahut Beny seraya mengembuskan napas panjang lalu melihat setumpuk map yang belum dibacakan.


Para mafia kembali mengangguk. Para anggota dewan dipersilakan untuk duduk oleh para SYLPH yang ikut bergabung karena diminta oleh para pemimpin mafia tersebut.


Ruang rapat makin ramai, tapi suasana tenang menyelimuti tempat yang berkapasitas hingga 500 orang tersebut.


"Oke selanjutnya. Agent J Colombia," panggil Beny. Pria itu mengangguk dari tempatnya duduk. Wajah semua orang kembali tegang dan menyimak dengan serius. "Vesper memberikanmu uang 3 miliar dan kediaman Don Miguel Flame yang berada di Amerika Serikat. Hal ini sudah Vesper bicarakan dengan Sierra dan gadis cantik itu mengizinkannya."


"Ha? Kediaman Flame untukku? Bukankah ... kalau tidak salah—"


"Itu tempat kita sempet tonjok-tonjokan, Kang Putih. Bener gak?" tanya Eko dan Biawak Putih mengangguk membenarkan.


"J, tukeran aja yuk. Mau gak?" tawar Biawak Putih.


"No, no. Aku memang sudah lama ingin tinggal di Amerika," jawab J yang membuat Biawak Putih langsung komat-kamit. Sedang para mafia yang melihat keduanya malah terkekeh.


"Ambilah. Kau pantas mendapatkannya atas pengabdianmu pada Vesper selama ini," ucap Beny seraya menyerahkan map itu.

__ADS_1


"Terima kasih, Nona Lily. Terima kasih, Sierra," ucapnya. Semua orang mengangguk pelan mewakili dua perempuan cantik itu.


"Aset si Flame ini ada berapa sih? Kok kayaknya melimpah ruah kaya majikan Vesper?" tanya Sumanto Red Ribbon heran.


"Banyak," sahut Click and Clack bersamaan.


Orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads tampak kaget dan hanya mengangguk-anggukkan kepala.


"Berikutnya, Agent K," panggil Beny seraya membuka sebuah map warna biru tua. K terlihat tegang dengan pemberian aset Vesper untuknya. "Vesper memberikanmu tempat usahanya di Bali berupa Restoran Berlian. Tempat itu menjadi bisnis legal kamuflase dari markas di Bali yang dulu milik paman Ketut. Kau diberikan uang 3 miliar jika ingin membeli rumah di negara tersebut," ucap Beny.


K terlihat senang dan menerima map itu dengan senyum terkembang.


"Apakah ... aku mendapatkan aset berupa Penginapan Berlian di Bali? Restoran dan penginapan itu masih dalam satu wilayah," tanya Agent O memastikan.


Beny tersenyum dengan anggukan. Bahkan, Beny tak perlu membacakan dan memberikan map itu langsung padanya.


"Woh! Kalian udah request sama majikan kah?" tanya Tukiman Red Ribbon menduga.


"Selama ini, kami berdua bertugas menjaga markas di Bali dan mengurus dua aset itu. Jadi, mungkin itulah yang menjadi pertimbangan nona Lily untuk kami berdua," sahut O seraya memegang cek senilai 3 miliar rupiah untuknya.


"Oo gitu," sahut Tukiman baru menyadari hal tersebut.


"Apa jangan-jangan, kita nanti suruh tinggal di Australia? Kan selama ini kita juga kerja di Resort punya neng Lysa di Alice Spring?" tanya Wayan Red Ribbon.


"Entah. Betul tidak, Ben?" tanya Nyoman Red Ribbon penasaran.


Beny langsung memasang wajah masam. "Kenapa kalian tak sabaran seperti si gundul itu? Jangan mengacaukan susunan mapku!" serunya kesal.


Beny tak menjawab dan hanya memasang wajah kesal. Ia memilih untuk melanjutkan membacakan dari isi map warna biru kepada para mafia yang belum mendapatkan jatahnya.


"Selanjutnya, Agent V," panggil Beny seraya membaca isi dari map tersebut. V menatap Beny saksama dari tempatnya duduk. "Vesper memberikanmu tanah dan rumah milik Mr. White yang berada di Haiti hasil akuisisi dari anak Sutejo. Tempat itu dulunya digunakan olehnya untuk menyekap Sandara. Kini, menjadi milikmu. Kau juga diberikan uang senilai 3 miliar untuk mengembangkan usaha dan karena kau sudah berkeluarga," ucap Beny yang mengejutkan Sandara.


"Ah, sudah kuduga. Aku berada di negara Karibia saat itu," sahut Sandara yang membuat kepala semua orang menoleh.


"Kau tak apa jika aku memilikinya? Atau ... kau ingin aku menjualnya? Aku bisa mencari hunian lain untuk tinggal dan mendirikan usaha," tanya V menatap Sandara lekat.


Gadis cantik itu tersenyum. "Ambil saja, Agent V. Mama mempercayakan tempat itu untukmu. Aku yakin, hal itu juga sudah ia konsultasikan kepada Sierra. Aku tak menyangka, dalam sakitnya, mama masih bisa memikirkan semua ini. Dia ingat siapa saja musuh-musuhnya termasuk para pengikutnya. Aku saja tak pernah memikirkan sampai sejauh itu," jawab Sandara dengan pandangan sendu.


"Aku percaya kau mewarisi sifat dari ibumu, Sandara. Bagaimanapun, kau adalah puterinya. Hanya saja, waktu untuk menyadarinya belum tiba, tapi bisa kulihat kau mulai berubah sedikit demi sedikit sepertinya. Mirip ketika nona Lily kembali dari Colombia meski dalam keadaan sekarat," ucap V yang membuat Sandara tersenyum tipis.


V membalas dengan senyuman. Para mafia ikut terharu karena Sandara tak mengungkit dendam di masa lalu dan membiarkan tempat itu dikelola oleh V.


Orang-orang dalam jajaran Flame juga terlihat tak keberatan. Mereka menerima dengan bijak keputusan dari Sierra dan Vesper.


"Awalnya aku khawatir jika akan terjadi baku hantam. Namun sepertinya, kalian bisa menerima dengan baik keputusan dari Vesper dan Sierra. Baguslah, pekerjaanku semakin ringan. Oke, selanjutnya," sahut Beny seraya menerima map warna biru dari asistennya.


"Selanjutnya, Agent S," panggil Beny. Arjuna menoleh ke arah S, tapi pria itu diam saja mengabaikan pandangan Arjuna padanya. "Vesper memberikanmu kediaman milik Yudhi yang berada di Trinidad and Tobago. Tempat ia menawan Sandara. Ia juga memberikan uang dua miliar untukmu untuk mengembangkan usaha. Selamat," ucap Beny yang membuat S langsung menoleh ke arah Sandara.


"Aku tak menginginkan rumah itu, Agent S. Tempatilah," ucap Sandara tenang.


"Terima kasih, Dara," ucap S lalu menerima map itu.

__ADS_1


S membuka map dan melihat isinya di mana terdapat tanda tangan Vesper berikut cap sebagai bukti pemberian aset itu diketahui olehnya. S tersenyum lebar.


"Selanjutnya. Hem, ini kelompok. The Kamvret," ucap Beny yang membuat kelompok pria Jawa itu langsung berdiri. "Duduk saja. Siapa yang meminta kalian berdiri?" tanya Beny melotot.


"Eh iya, kenapa berdiri?" tanya Hadi bingung. Eko dan empat Biawak terkekeh.


"Vesper memberikan masing-masing dari kalian 1 miliar rupiah. Hanya saja, khusus untuk Hadi dan Bayu diberikan 2 miliar karena sudah berkeluarga. Hem, ini sedikit unik karena Vesper meminta sisa dari anggota The Kamvret untuk mengelola usaha bengkel milik pak Sutejo, berikut usaha furniture kayu yang berada di Ceko," ucap Beny yang membuat para pria itu tersenyum lebar karena selama ini memang mereka yang mengurusnya.


Tiba-tiba, Jonathan mengangkat tangan.


"Kenapa? Kau ingin protes karena usaha itu tak lagi menjadi milikmu, Jonathan Benedict?" tanya Beny yang membuat suasana tegang seketika.


"Yee, ngomong juga belom udah dicurigai. Bukan, Nathan cuma mau bilang. Kan itu om-om gak punya rumah. Selama ini mereka tinggal di bengkel dan pondok kayu dari tempat usaha itu. Jadi, Nathan sarankan kalian tinggal di rumah Nathan aja. Rumah itu 'kan kosong. Nathan kebanyakan rumah, gak mungkin datengin satu-satu. Selain itu, Nathan juga udah jadi panda, pasti sibuk ngurus isteri dan anak. Makanya ... em ... om-om mau 'kan nempatin rumah Nathan? Jangan diacak-acak tapi," pintanya merengek dan terlihat malu.


Para pria The Kamvret yang masih jengkel karena sikap Jonathan semena-mena terhadap mereka ketika perselisihan terjadi antar jajaran, diam saja menatap Jonathan dengan pandangan tajam.


"Jangan gitu dong. Inget masa-masa indah kita dulu saat ada paman BinBin. Kita modif mobil bareng. Nathan juga jadi bos yang baik 'kan?" ucap Jonathan membela diri.


"Dia ini minta tolong, tapi masih muji diri sendiri," sahut Bambang dan diangguki The Kamvret lainnya.


"Kan kan, em ...," ucap Jonathan terlihat memikirkan ucapannya. Han dan para mafia senior menahan tawa melihat Jonathan gugup dalam berkata. "Uang dari mama bisa kalian simpen. Gak perlu repot cari rumah kan bisa tinggal di rumah Nathan. Irit. Misal om-om mau nikah juga boleh bawa anak isterinya nanti, tapi ... kamar punya Nathan jangan ditempatin. Gak boleh," ucapnya menegaskan.


"Hem, gimana ya? Mau gak ya?" jawab Iwan berpikir serius.


"Nathan juga akan berinvestasi di bengkel itu. Jadi kalian gak usah repot buat—"


"Ya, ya, boleh lah," sahut Bejo sambil mengangguk-anggukan kepala.


Jonathan terlihat senang. Sedang para mafia lainnya yakin jika sebenarnya The Kamvret menyetujui hal ini, tapi mereka sengaja membuat Jonathan menggelontorkan uangnya untuk mereka agar para pria itu tak kehilangan uang demi modal usaha.


"Hehehe, anak kecil dibegoin," sahut Biawak Hijau, tapi Hadi langsung menyenggol lengan seniornya itu.


"Sungguh. Jika tak ada alat translator ini, aku sudah gila mendengar percakapan kalian," sahut Beny seraya meraih gelas berisi air minum lalu meneguknya.


Orang-orang menahan senyum karena Beny tampak tertekan.


"Lanjut, Ben! Banyak yang belom kebagian ini!" seru Eko, dan Beny hanya melirik pria gundul itu sadis.


"Selanjutnya, Agent C," panggil Beny dan pria itu mengangguk dengan senyuman. "Vesper memberikanmu ladang pertaniannya di Pemalang. Sayangnya, kau yang belum memiliki rumah karena selama ini ikut tinggal di rumah Buffalo dan Drake, Vesper memberikanmu uang 3 miliar untuk mencari tempat tinggal bersama keluargamu. Nantinya, hasil pertanian dari pengelolaanmu, menjadi hakmu 100%. Rekening Vesper akan dibekukan dan semua isinya telah dikosongkan. Ia selama ini menyimpan uangnya untuk bekal hidup kalian setelah ia berpulang," tegas Beny, tapi hal itu membuat mereka sedih.


"Terima kasih, Nona Lily. Aku tak pernah menyangka jika selama ini kau mengumpulkan uang-uang itu yang pada akhirnya kau kembalikan pada kami. Padahal, ia juga menggaji kami dengan jumlah yang cukup banyak. Difasilitasi dan diberikan tunjangan layaknya pegawai pemerintah," ucap C terlihat sedih saat menerima map pemberian Beny.


Para mafia yang bekerja pada Vesper mengangguk setuju. Mereka akhirnya sadar alasan Vesper sedikit pelit ketika harus mengeluarkan uang dan begitu bersemangat ketika mendapatkan pemasukan dari semua usaha yang dikembangkannya.


Ternyata, uang-uang itu sengaja ia kumpulkan dan dipisahkan dengan kepentingan pribadinya untuk orang-orang yang mengabdi padanya.


Mereka akhirnya tahu, jika Vesper khawatir setelah kematiannya, orang-orang itu akan kehilangan mata pencarian dan menjadi gelandangan.


Vesper mengantisipasi dengan membangun banyak usaha dan membiarkan orang-orang itu untuk mengelolanya agar mereka terbiasa berbisnis tak hanya bertarung saja.


***

__ADS_1


kwkwkw jebule belom kelar bagi warisannya😆 pdhl udh 2k lebih ini😩 tar lele dobel eps dah khusus abisin wasiat mbak vesper. eps satunya up malam aja ya😁


__ADS_2