4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Pasukan Tobias


__ADS_3

Cuba, Kediaman Tobias.


Lysa mendekati Tobias yang terlihat serius usai melakukan video call. Eko, Seif, Pion Dakota dan Daido menatap Tobias tajam.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Aku akan ke Italia untuk menyelesaikan masalah ini. Dakota, Daido, segera bersiap. Kita akan meninggalkan Cu ...."


"Nah, kan, kan. Lupa lho. Nak Saleh, dirimu gak boleh pergi tanpa salah satu dari kita. Mau ke Itali to, tar biar Dakocan dan Eko yang temenin kamu. Biar Daido dan Seif tetep di sini sembari nunggu pasukan yang kamu janjikan itu. Jangan bantah, tar Eko sunat lagi loh," tegasnya berdiri di hadapan Tobias memasang wajah garang.


Tobias memalingkan wajah enggan berdebat. Senyum Eko merekah dan langsung merangkul pundak Dakota.


Pria berambut cepak itu diam saja saat Eko mengajaknya pergi meninggalkan ruang kerja Tobias.


"Ayo, kemon, Nak Kocan. Kita siap-siap. Nanti ya to, pas di Itali, kamu traktir Eko pasta ya. Nah, pas kamu ke Indosinia, Eko traktir gado-gado. Oke, oke?" tawar Eko mengajak tos Dakota, tapi lelaki itu diam saja tak menggubris ucapan Eko seakan tak paham ucapannya. Padahal, alat translator selalu terpasang di telinganya.


"Hati-hati, Toby. Ya Allah, kenapa masalah masih selalu saja datang padahal aku mulai merasakan kedamaian dalam penyatuan kelompok mafia kita," ucap Lysa sembari memijat kepalanya terlihat pusing.


"Kita akan bertemu di Kediaman Darwin, tepat tiga hari sebelum pesta pernikahan. Aku sudah meminta Diego untuk menyiapkan semuanya. Kudengar, adikmu Arjuna dan kelompoknya telah tiba di sana, tapi akan pergi lagi. Dia berhasil mengajak Tessa menikah. Heh," kekeh Tobias berkesan meledek.


"Menikahi Tessa? Kenapa bukan Naomi? Ah, ya, tentu saja. Gengsi dan harga diri. Sejak dulu Arjuna tak pernah bisa menerima keberadaan Kai di sisi mama. Perbedaan status dan bla bla bla. Semoga dia tak menyesal di kemudian hari," ucap Lysa terlihat kesal.


Tobias menatap Lysa seksama dan diam tak berkomentar.


"Aku akan mengajak King D dan Otong ke Grey House membawa pasukan darimu, Toby. Hem, rumah ini ... apa akan ditinggal lagi tanpa penghuni? Sayang sekali jika tak di tempati. Bagaimana nasib pony King D? Kita tak mungkin membawa hewan itu ke sana kemari," tanya Lysa sedih.


"Bagaimana jika bawa pony King D ke Camp Militer? Dia bisa berkumpul dengan anakan Unicorn dan Pegasus. Keluarga kuda berkumpul," sahut Seif mengusulkan.


"Ah, kau benar. Kudaku, kuda mama dan kuda King D berkumpul. Baiklah, tolong urus perizinannya ya, Seif. Terima kasih atas saranmu," jawab Lysa dengan senyum terkembang dan Seif mengangguk.


Pria berambut gimbal itu segera pergi menyiapkan kargo untuk membawa pony King D dan pasukan Tobias nantinya.


Daido menyiapkan penjemputan anak buah Tobias yang diinformasikan akan mulai datang dalam beberapa kelompok malam nanti.


Sore itu, Lysa menghabiskan waktu bersama dengan King D dan Tobias layaknya keluarga. Bahkan, Tobias mulai terbiasa menggunakan sarung meski masih tak berpakaian dan tak mengurung kejantanannya dengan semvak.


Lysa selalu membacakan ayat suci Al-Quran saat dua kesayangannya tertidur di malam yang mulai larut.


Kini, Tobias mengubah jadwal tidurnya karena ajakan King D untuk selalu menemaninya tidur bersama.


Lysa tersenyum ketika melihat King D tidur lelap di pelukan Ayah tirinya yang ikut tertidur pulas.


Lysa mengecup kening keduanya bergantian dan keluar dari kamar untuk menyambut pasukan barunya.


"Bagaimana?" tanya Lysa berdiri tegap menatap Dakota, Seif dan Eko yang terlihat siap dengan baju tempur Black Armys.


"Mereka berada di halaman belakang. Baru dua kelompok yang datang, tapi jumlahnya cukup banyak," jawab Dakota dan Lysa mengangguk.


Lysa berjalan perlahan dan terlihat kaget saat melihat anak buah Tobias masih remaja seumuran Sandara. Lysa bingung dan menatap Dakota keheranan.


"Ya. Pasukan Tobias adalah remaja. Namun, jangan salah, mereka cepat dan mematikan. Mungkin bisa dibilang seperti cetakan Jordan?" jawab Dakota tersenyum miring.


"Kaya Jordan? Weladalah. Sifatnya atau apanya ini? Jordan itu kompleks lho," tanya Eko ikut ngeri saat melihat wajah polos para remaja yang berdiri di depannya, tak terlihat kekejaman di paras mereka.


"Hem, kau nilai sendiri saja, Tuan Gundul," ledek Dakota menyilangkan kedua tangan di depan dada.

__ADS_1


Eko menelan ludah. Entah apa yang dibayangkan, tapi ia terlihat enggan untuk melakukan uji coba.


"Masa Eko loh. Eko 'kan udah tuwek. Bisa rontok nanti tulang Eko. Seif aja, dia 'kan jagoan. Kuy, Seif, tes tes!" ucap Eko mendorong Seif yang terlihat bingung karena dirinya diumpankan.


Lysa dan Eko terlihat tegang. Seif berusaha tetap tenang saat ia mendekati para remaja yang berdiri di depannya dengan gaya santai.


Tiba-tiba, kelima puluh remaja itu dengan cepat membuat lingkaran dan mengurung Seif di dalamnya. Seif terkejut dan segera bersiap dengan kepalan tangan untuk menerima serangan.


DUAKK!!


"Agh!" rintih Seif saat seorang remaja pria memukul punggungnya dengan kepalan tangan tanpa aba-aba.


Seif tetap berdiri tegap dan terlihat seluruh ototnya mengeras. Jantung Lysa berdegup kencang ketika para remaja itu satu persatu menyerang Seif.


Namun, pria berkulit hitam itu diam saja bahkan membiarkan seluruh serangan diterima oleh tubuhnya.


Kening Dakota berkerut karena Seif tetap kokoh berdiri, padahal ia yakin jika pukulan itu cukup keras untuknya.


"Harghhh!!"


GRAB! SWINGG!! BRUKK!!


"Aggg!" rintih seorang remaja pria ketika tiba-tiba Seif berteriak dan menangkap kaki kanannya saat ia akan menendang perut pria besar itu.


Seif melemparkan remaja itu seperti sebuah guling dan tubuhnya menimpa kawan-kawan yang berdiri di samping kiri Seif.


"Come on!" teriak Seif lantang menantang.


Senyum Eko dan Lysa langsung terpancar. Seif di keroyok oleh segerombolan orang, tapi terlihat masih bisa mengatasinya.


"Ikut?" tanya Lysa menebak.


"Mendadak, jiwa muda Eko bangkit, Neng Lysa. Semangatin Eko ya. Hiyattt!" jawabnya yang kemudian berteriak lantang dengan kepalan tangan siap untuk menjotos remaja di depannya.


Namun, BRUKK!


"Hempf," keluh Lysa langsung menutup matanya karena Eko malah terpeleset batuan putih hiasan taman yang dipijaknya.


Eko yang jatuh tengkurap langsung diserang beramai-ramai oleh remaja-remaja pria tersebut.


Lysa meringis terlihat iba saat Eko dinaiki punggungnya dan tubuhnya ditendangi berulang kali hingga ia meraung kesakitan.


"Heh! Kualat heh, mukulin orang tua! Setop! Otong! Help Bapakmu!" teriak Eko meronta, tak bisa melepaskan dekapan tangan yang melingkar di leher serasa mencekiknya.


"Hus! Hus!"


Lysa dan Dakota terkejut saat melihat Obama Otong datang membawa sapu dalam genggaman tangannya.


Anak lelaki itu memukuli orang-orang yang mengeroyok Ayahnya dengan sapu tersebut berulang kali.


Tak lama, King D keluar dan melakukan hal sama. Lysa tertawa terbahak saat anaknya ikut memukuli para remaja itu dengan bantal berbentuk kuda miliknya berwajah serius.


Tobias berdiri diam di depan pintu yang menembus halaman belakang dengan melipat kedua tangan di depan dada, memasang wajah serius.


"STOP! Yang terluka menghadap padaku!" teriak Tobias tiba-tiba yang mengejutkan semua orang.

__ADS_1


Para remaja itu menghentikan aksinya dan beberapa dari mereka yang terluka mendekati Tobias, berdiri di depannya dengan wajah tertunduk.


Semua orang menatap Tobias seksama yang melihat wajah para remaja yang terluka dengan kedua tangan masih menyilang di depan dada.


"Kalian tetap berada di mansion ini untuk mengurusnya. Sisanya, akan terbang ke Grey House dan menjadi pasukan elite isteriku "The Eyes". Jangan berisik, aku mau tidur. Membuat keributan, kalian aku hukum untuk mengecet seluruh rumah ini dengan kaki kalian," tegas Tobias berpaling begitu saja dengan sarung yang ia kenakan, tapi perintahnya membuat semua orang mematung seketika.


"Oke. Selamat datang dan selamat istirahat. Sampai jumpa besok pagi," ucap Lysa dengan senyum paksa dan menggandeng King D kembali ke kamar.


Daido yang baru masuk ke mansion terlihat bingung. Ia melihat Eko yang kepalanya dipangku oleh Otong di halaman belakang melakukan drama dramatis.


Daido mengabaikannya dan memilih untuk bicara dengan Dakota untuk menanyakan situasi.


Daido mengangguk paham usai bicara dan segera kembali ke kamar karena pekerjaan penting masih menunggunya esok hari.


Dakota menunjukkan kamar yang di tempati oleh para remaja itu sampai waktunya tiba bagi mereka untuk terbang ke Grey House.


Sepuluh remaja yang terluka kini menjadi penjaga mansion selama pemiliknya tak berada di tempat.


Keesokan harinya. Makin banyak anak buah Tobias yang datang hingga rumah megah itu mendadak serasa sesak karena penuh orang.


"Aku tak suka keramaian. Aku pergi," ucap Tobias yang berdiri di depan sang isteri sembari menggendong King D.


Lysa tersenyum dan melambaikan tangan ketika Tobias telah masuk ke mobil dengan Eko serta Dakota telah menunggunya di dalam.


"Bye, Daddy!" ucap Lysa dengan senyum merekah begitupula King D.


Saat Dakota akan menekan gas mobilnya, ia terkejut ketika Tobias tiba-tiba turun. Semua orang yang melihat terheran-heran termasuk Lysa.


King D sudah berlari masuk ke dalam mansion setelah Otong menghampirinya untuk mengajaknya bermain bersama kuda pony.


"Ada apa? Apa ada yang tertinggal?" tanya Lysa bingung.


"Kenapa wajahmu begitu gembira? Kau senang aku pergi?"


Lysa terkejut akan ucapan Tobias yang terasa ajaib baginya.


"Aku hanya mengucapkan selamat tinggal. Itu hal wajar yang dilakukan oleh semua orang ketika akan berpisah. Kau aneh," jawab Lysa keheranan.


"Jangan ucapkan sampai jumpa dan sejenisnya. Tak perlu melambaikan tangan dengan wajah bahagiamu itu," tegas Tobias menunjuknya dan Lysa terdiam mengedipkan mata.


Tobias kembali masuk ke mobil dan menatap Lysa yang kini memasang wajah malas. Saat Dakota akan menekan gas mobilnya lagi, Tobias kembali turun dari mobil dan mendekati Lysa. Semua orang makin terheran-heran.


"Aku tak suka wajah menyebalkan itu. Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau membenciku?" tanya Tobias menatap Lysa tajam terlihat serius dari ucapannya.


Lysa kesal bukan main. Ia mendorong Tobias masuk ke mobil dan menutup pintunya rapat. Lysa bahkan menendang ban mobil belakang dan meminta Dakota segera pergi.


"Menyebalkan! Apa sih maunya? Tidak jelas!" geram Lysa dengan nafas menderu, tapi Tobias tersenyum saat menoleh dan wajahnya terlihat dari kaca belakang.


"Kau tahu, Seif? Aku tak menyangka jika kehidupan Tobias akan semenarik ini. Kukira, dia tak akan bisa menikah seumur hidupnya, tapi ternyata aku salah. Aku melihat sisi lain darinya dan bagiku ... itu sebuah keajaiban," ucap Daido berbisik dan Seif mengangguk dengan senyuman.


***


terima kasih tipsnya💋💋💋 lele padamu~


duh ngantuk banget sumpah kalo ada typo harap maklum ya. next eps pendek aja naskahnya😁 menyesuaikan tips~

__ADS_1



__ADS_2