
Lupa kl 4YM blm diup😆 Pengennya langsung ditamatin tapi kok susah y mensinkronkan ide di kepala dg jari. Suka brantem gitu. Ya wes nikmati aja tar jg tau2 tamat😆 makasih tipsnya❤️ Dr Januari baru ke SS maret. Kwkwkw 😆
---- Back to Story :
Jonathan terkejut sampai matanya terbelalak lebar. Sosok yang selama ini dia cari, tiba-tiba muncul di hadapannya. Cassie tersenyum manis, tapi hal itu malah membuat Jonathan langsung menjauh.
"Ka-kau?" tanya Jonathan tergagap seraya menunjuk kekasihnya yang hilang itu.
"Tempat ini sudah kuamankan. Aku akan melindungimu. Tinggal sedikit lagi lalu kita pulang," ucap Cassie lembut, tapi Jonathan malah kebingungan.
"Se-sejak kapan kau di sini?" tanya Jonathan yang kini berdiri di samping ranjang menunjuk perempuan cantik tersebut.
"Sebenarnya aku sudah meninggalkan tempat ini, tapi aku kembali. Aku melihat anak buah Miles menuju kemari. Siapa sangka, aku malah melihatmu. Hanya saja, aku sengaja diam tak membantu untuk melihat usahamu. Ternyata, kau cukup bagus," jawab Cassie masih dalam posisi miring, berbaring di kasur.
Jonathan terlihat tak percaya dengan kemunculan kekasihnya. Cassie lalu bangun perlahan dan duduk di atas ranjang menatap Jonathan sendu.
"Akan kauberi nama siapa anak kita? Kata Vesper, dia tampan sepertimu."
Praktis, ucapan Cassie mengejutkan anak ketiga Vesper. Jonathan mendekati Cassie dengan cepat.
"A-anak kita sudah lahir? Sungguh?" tanya Jonathan menatap Cassie lekat dalam posisi merangkak. Cassie mengangguk. "Ja-jadi ... Nathan jadi panda gitu?" tanyanya lagi dengan mata berbinar. Cassie kembali mengangguk.
Tiba-tiba, Jonathan melompat dan berteriak riang di lantai. Ia begitu bahagia karena mimpinya menjadi papa keren, muda dan kaya terwujud. Cassie tersenyum tipis di mana ia awalnya khawatir jika Jonathan tak mengakui anaknya.
"Lalu ... di mana jagoanku sekarang?" tanya Jonathan dengan mata berbinar.
"Vesper."
Wajah bahagia itu sirna seketika. Cassie masih duduk dengan tenang menatap kekasihnya lekat.
"Kenapa bisa bersama mamaku?"
"Jika tak ada Vesper, mungkin aku tak akan pernah bisa melahirkan dengan selamat karena masih dalam cengkeraman ayahku, Miles." Jonathan terhenyak. "Jika tak ada Vesper, mungkin kita tak akan bertemu lagi. Mungkin aku akan dicuci otak olehnya seperti yang terjadi kepada anggota The Circle-mu. Jika tak ada Vesper, mungkin aku sudah bunuh diri karena tak tahan dengan penderitaan ini, terlebih ... jauh darimu."
Jonathan diam menatap Cassie lekat di pinggir ranjang. Cassie terlihat sendu seperti bersedih.
"Jadi ... mama menyelamatkan nyawamu dan nyawa bayi kita dari Miles?" Cassie mengangguk.
"Ia menyelamatkan banyak jiwa dan mengabaikan kesehatannya. Pulanglah, Jonathan. Vesper merindukanmu. Kau beruntung masih memiliki ibu yang sangat menyayangi dan peduli dengan orang lain, bahkan musuhnya. Sepertiku, Sierra, Venelope dan lainnya. Ayahku saja memperbudakku. Tak pernah ada yang memanggilku anak seperti ibumu. Jika ibumu saja bisa memaafkan semua kesalahan orang-orang yang pernah menyakitinya, kenapa kau tidak? Jangan membuatku kecewa, Jonathan. Pulanglah," pinta Cassie dengan mata berkaca.
"Mama ... mama sakit?" tanya Jonathan terlihat kaget. Cassie mengedipkan mata.
"Serangan Miles membuat orang-orang dalam jajarannya terluka parah. Serum penunjang untuk menghambat racun di tubuh Vesper tak bisa diproduksi ulang karena formulanya lenyap dan profesor Jeremy tak lagi bisa diharapkan. Miles menghancurkan laboratorium Jeremy di Filipina, Jonathan. Bahkan kabar terbaru yang kudengar, Tessa tewas karena serangan Miles di kediaman Andreas Balconi. Miles, ingin membunuh keturunan The Circle. Mungkin aku juga termasuk di dalamnya jika tak mendukungnya," jawab Cassie sedih.
__ADS_1
Jonathan shock. Ia seperti terkejut karena mendapat banyak kabar dalam waktu bersamaan.
"Ya, aku akan pulang. Aku akan temui mama. Jujur, akhir-akhir ini ... aku juga merindukannya," ucap Jonathan yang membuat Cassie tersenyum lebar dengan air mata bahagia.
Cassie mendekati Jonathan dan memeluknya. Pemuda itu juga balas memeluk kekasihnya. Keduanya terlihat begitu saling merindukan karena sudah lama sekali tak bertemu dan banyak kejadian yang membuat mereka bertikai.
"Namun, Click and Clack masih sakit. Kita tak bisa pergi dan meninggalkan mereka," ucap Jonathan saat melepaskan pelukan.
"Hem. Aku mengerti. Kita bisa merawat mereka berdua. Untuk sementara, kita tinggal di sini saja. Aku yakin, ayahku pasti sudah menandai tempat ini. Kemungkinan, dia akan datang kemari untuk mencari tahu apa yang terjadi karena anak buahnya tak memberikan kabar," ucap Cassie tegas.
"Nathan berhasil ambil alat komunikasi mereka. Kamu bisa 'kan kirim pesan dan mengatakan misi mereka sukses biar Miles gak ke sini?" tanya Jonathan menatap kekasihnya lekat.
Cassie menggeleng. "Kau ingat tanda yang kutinggalkan dengan dua telapak tangan merah di dinding?" Jonathan mengangguk cepat. "Itu tandanya, tempatmu sudah kudatangi dan kutemukan seluruh pager yang tersembunyi. Aku tahu semuanya Jonathan. Aku tetap terhubung dengan beberapa orang. Namun, tempat ini. Hanya kutinggalkan satu tanda. Itu berarti—"
"Kau tak menemukan pager di sini."
Cassie tersenyum. "Atau ... Miles memang belum mendatangi tempat ini. Saat kaupergi, aku mencoba untuk memasuki sistem komunikasi mereka, tapi sepertinya ayahku menggunakan kata sandi dan kode khusus dalam menyampaikan pesan. Aku tak bisa memecahkannya. Ini sepertinya baru dan aku belum pernah mempelajarinya," jawab Cassie tenang.
"Gaswat dong kalau gitu!" seru Jonathan melotot.
"Hem. Gawat. Kenapa ucapanmu masih aneh? Kau seperti paman Eko. Aku masih sulit memahami bicaranya. Ucapannya membuatku sakit kepala, tapi terus terngiang-ngiang. Semacam cuci otak tidak langsung, tapi tak berbahaya, hanya menjengkelkan," ucap Cassie terlihat kesal.
Jonathan mendekati Cassie dengan riang. "Yang, ceritain soal anak kita dong. Sakit gak pas lahiran? Nathan 'kan pengen tahu soalnya gak di sana. Katanya, orang lahiran itu kaya kentut ya, cuma kentutnya ketahan. Bener gak?"
Kening Cassie berkerut. "Kentut?" Jonathan mengangguk cepat. Cassie memutar bola matanya. "Aku lapar. Aku lihat dapurmu masih bisa digunakan. Kusempatkan pergi ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa persediaan. Aku akan memasak."
"Ka-kamu bisa masak? Ciyus?!" tanya Jonathan melotot.
"Waaa ... isteri idaman!" seru Jonathan riang meski terbengong sesaat.
Hari itu, Jonathan begitu lengket dengan puteri dari Miles. Jonathan mengekor ke mana pun Cassie pergi. Bahkan, saat makan pun ingin disuapi.
Cassie bagaikan isteri yang penurut. Ia menyuapi Jonathan bahkan memandikannya. Kebalikan seperti saat mereka bertemu dulu di mana Jonathan yang memanjakan Cassie.
"Emph ... Nathan janji gak bakal biarin ayang Cassie diambil sama Miles lagi. Suwer," ucapnya seraya mengunyah makanan.
Cassie tersenyum. "Kupegang janjimu, Jonathan. 500.000 unit, dan aku baru menemukan 1000. Masih kurang banyak. Aku belum menanyakan kepada Kai berapa yang sudah ditemukan oleh para mafia lainnya," ucap Cassie seraya menyuapi kekasihnya lagi.
"1000? Banyak amat! Nathan aja cuma 50," jawabnya kaget, tapi terus mengunyah.
"1000, dari markas-markas milikmu yang sudah kukunjungi. Sisanya belum. Jika benar Miles akan melakukan peledakan serempak. Itu akan menjadi kekacauan dunia. Ledakan di mana-mana dan setiap negara pasti akan saling menyalahkan. Selanjutnya, perang besar. Miles akan bersembunyi selama perseteruan negara hingga seluruh sumber daya alam habis. Dia lalu akan muncul sebagai penyelamat untuk menguasai dunia yang sudah rusak. Hem, itulah tujuan besarnya," ucap Cassie santai yang membuat Jonathan melongo dengan mulut menganga lebar.
"Kamu tahu dari mana, Yang?" tanya Jonathan melotot.
"Saat aku kembali ke rumah di tempat Miles menyimpan semua rahasianya. Aku menemukan catatan itu. Aku mengenali bukunya. Sampul merah dengan logo M besar di depannya. Arizona. Kau ingat pertempuran itu?"
"Ya, pertempuran gila hanya untuk membunuh Madam dan militer ikut terlibat. Hanya saja, kuakui William cukup keren saat itu walaupun otaknya bermasalah," jawab Jonathan santai, tapi tiba-tiba wajahnya serius seketika. "Eh, William?"
__ADS_1
Cassie dan Jonathan ikut tegang saat nama pria itu disebut. Jonathan segera mengambil ponselnya seperti ingin menghubungi seseorang.
"Halo?"
"Kak Sia! Ini aku, Jojo! Jonathan!" serunya riang.
"Jonathan?"
"Yes!"
"Oh, wait. I took the translator tool first. Wait a minute!" pintanya tergesa dan Jonathan tak mempermasalahkan hal itu.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Ya, ada apa? Wow, kau menelepon. Ini cukup mengejutkan," ucap Sia heran.
"Kak Sia. William ada di mana?"
"Di bengkel seperti biasa. Ada apa?"
"Soal pager, apa kau sudah tahu?"
"Ya. Di rumahku tak ada. Kenapa?"
"Bagaimana dengan bengkel William? Sudah diperiksa?" tanya Jonathan penasaran.
"Mm, tidak. Bengkel itu sekarang sudah menjadi milik William sepenuhnya. Rohan sudah melepaskan aset itu karena ia membuka tempat baru di kota lain. Ia tak ingin William menjadi incaran mafia di luar jajaran atau polisi karena orang-orang di belakangnya adalah para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads. Rohan juga membawa beberapa montir dan pekerja Black Armys miliknya. Ada apa sebenarnya?"
"Meskipun kalian berdua sudah menjadi warga sipil, tapi hal itu jangan disepelekan. Kau pernah masuk dalam jajaran dewan, dan William juga terlibat di dalamnya. Miles menandai para mafia dan orang-orang yang pernah berurusan dengan The Circle. Cari di bengkel William. Miles itu licik, aku yakin jika dia meletakkan peledak itu di bengkel suamimu!" seru Jonathan.
"Ya Tuhan! Oke, oke, aku akan ke bengkel sekarang!" jawab Sia panik dan segera menutup telepon.
Cassie juga segera mengeluarkan ponselnya seperti menghubungi seseorang. Jonathan mendengarkan ucapan Cassie saat ia bicara bahasa Prancis. Jonathan yang tidak paham, hanya diam dan mengedipkan mata.
"Kenapa, Yang? Kamu telepon siapa?" tanya Jonathan bingung.
"Venelope mengatakan, di perusahaan Afro, ditemukan 500 unit pager. Miles ingin memusnahkan kita dan orang-orang tak bersalah akan ikut imbasnya."
"Oke! Kita makan yang banyak biar kuat, terus tidur, terus ke rumah sakit dan bahas hal ini sama 2C!" ucap Jonathan menggebu.
"What?"
"Abisin, Yang. Kata om Seif, makan itu harus dihabiskan biar gak ngu-ngu-ngu ah itulah. Intinya, makanan enak jangan dibuang-buang kecuali udah basi, beracun dan emang gak enak. Ayo, makan-makan," ajak Jonathan semangat yang kini makan sendiri tak disuapi lagi.
Cassie tersenyum tipis. Ia masih menganggap jika kekasihnya tak berubah. Masih kekanakan dan belum dewasa padahal ia kini sudah menjadi ayah.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE