
Arjuna, Lysa dan Sandara panik. Kali ini, mereka malah harus melawan saudara sendiri. Jonathan terlihat kesakitan dan marah dalam waktu bersamaan.
"Jangan lakukan gerakan tiba-tiba," bisik Sandara dengan mata terfokus pada Jonathan yang masih berdiri dengan kaki tertekuk dan napas memburu.
Jantung Arjuna dan Lysa serasa ingin meledak saat menyadari jika lawan mereka kali ini adalah saudara mereka sendiri.
"Sun pasti hanya ingin menyadarkan kak Nathan. Lihat, dia tak agresif seperti yang terjadi pada Jordan dan polisi-polisi itu. Dia terluka parah," ucap Sandara menduga, seraya mengajak dua kakaknya mundur ke belakang perlahan.
"Lalu ... sekarang bagaimana?" tanya Lysa cemas ikut berbisik.
Matanya terkunci pada Jonathan yang menatapnya bengis dengan darah dan liur menetes dari mulutnya.
"Kita hanya perlu menghindar. Seingatku, masih ada serum anti-Monster di tas ... agh! Sial!" pekik Sandara kesal dengan suara tertahan.
"Di tas siapa?" tanya Arjuna dengan napas tersengal seraya menyeret dua kakinya yang berdarah hebat. Arjuna menggunakan dua tangannya sebagai penopang pergerakan tubuhnya.
"Tas kak Nathan ada di sana. Ada serum anti-Monster di tas itu," ucap Sandara melirik ke lokasi tersebut.
"Aku akan mengambilnya. Kalian teruslah menghindar," ucap Lysa berbisik. Arjuna dan Sandara mengangguk paham meski wajah mereka tegang.
"Hitungan tiga. Satu ... dua ... tiga! Go!" seru Arjuna.
Lysa dengan sigap berdiri dan berlari kencang melewati puing menuju ke tas milik Jonathan. Putera ketiga Vesper melihat pergerakan itu. Ia membalik tubuhnya untuk mengejar Lysa.
"Tahan dia!" seru Sandara.
Arjuna dengan sigap melompat dan menerkam tubuh Jonathan yang tak berpakaian hingga membuatnya tengkurap.
Jonathan meraung-raung berusaha melepaskan himpitan tubuh Arjuna di punggungnya.
"Agh! Cepat! Aku tak bisa menahannya lagi! Tubuh Jonathan panas!" teriak Arjuna yang menyadari perubahan drastis pada tubuh sang adik di mana tadinya terasa dingin dan pucat.
Ia tak menyangka, kemampuan serum Monster bisa membuat perubahan bahkan mungkin bisa disebut menghidupkan kembali orang yang hampir mati.
Sayangnya, ada konsekuensi besar dari tindakan itu. Orang tersebut akan lupa jati diri dan tergantikan dengan napsu membunuh yang tinggi.
Sandara berlari kencang ke arah salah seorang anggota The Circle yang tewas. Arjuna yang kesakitan akhirnya terlempar dan membuatnya terlentang. Jonathan dengan gesit menaiki tubuhnya seperti ingin menggigit wajahnya.
"Agh! Jonathan! Hentikan!" teriak Arjuna menahan tangan Jonathan yang ingin mencabik wajahnya.
Sandara dengan sigap merobek kain dari seragam The Circle dan kembali pada Arjuna. Ia menggunakan kain hitam itu untuk menyumpal mulut Jonathan. Putera Erik memberontak saat ia tak bisa menggunakan mulutnya lagi untuk menyerang.
"Tutup kepalanya!" pinta Arjuna yang ikut mengerang kesakitan karena bahunya kembali berdarah.
__ADS_1
Sandara menggunakan sisa kain untuk menutup mata Jonathan karena ukuran kain yang sedikit.
Sandara berusaha keras menahan pergerakan Jonathan yang buas padahal tubuhnya terluka, tapi seakan tak merasakan sakit.
"Aku mendapatkannya!" seru Lysa dengan wajah gembira ketika ia mengeluarkan semua isi tas Jonathan dan kini memegang suntikan itu dengan dua tangannya yang terbalut perban.
"Cepat! Aku tak bisa menahannya lagi!" pinta Arjuna dengan wajah memerah menahan sakit karena mengerahkan seluruh energinya.
Saat Lysa berlari, tiba-tiba ....
SWING! JLEB!
"Arghh!"
BRUKK!
"Kak Lysa!" teriak Sandara ketika sebuah pisau menusuk paha belakang kakak perempuannya hingga wanita cantik itu jatuh dengan sangat keras di atas rumput.
Lysa mengerang kesakitan dan segera menarik kakinya untuk melihat pisau yang menancap itu. Saat Lysa akan mencabutnya, lagi-lagi ....
SWING! JLEB!
"Arghhh!" rintihnya untuk kesekian kali ketika paha depannya tertancap pisau.
"Wah, kalian bisa bertahan sejauh ini. Sepertinya hasil dari pertarungan yang selama ini kalian hadapi, membuat fisik kalian kuat. Kuakui, didikan Vesper kali ini ada manfaatnya. Hem, menarik," ucap Miles seraya mengoper pisau dalam genggamannya dari tangan kiri ke kanan dan sebaliknya seraya berjalan.
Arjuna, Sandara dan Lysa diam menatap Miles tajam dari tempat mereka berada. Mereka mendengarkan dengan saksama ucapan dari pria itu mengingat sebelumnya, perkataannya memiliki sebuah petunjuk.
Sandara, tak ingin melewatkan setiap detailnya. Mereka juga menyadari jika Miles sudah mengobati lukanya, terlihat dari perban yang membalut dua tangannya.
CRAT!
"Arghh!" erang Lysa saat ia mencabut pisau di paha belakangnya.
Miles sepertinya tahu jika Lysa menggunakan sepatu magnet yang melindungi dua kakinya sampai ke bawah lutut.
Benda dari besi itu, bisa menahan peluru serta sabetan benda tajam. Sayangnya, Jonathan, Sandara dan Arjuna tak dibekali benda itu.
Saat Lysa akan mencabut pisau terakhir, Miles sepertinya sangat bersemangat untuk menyiksa lawannya.
Ketiga kalinya, "Kak Lysa!" teriak Sandara saat melihat Miles melemparkan pisau itu, dan benar saja, JLEB!
"ARGHHH!" erang Lysa dengan seluruh tubuh gemetaran karena tak lagi bisa menahan rasa sakit itu. Paha lainnya ikut tertancap pisau dan membuatnya merintih kesakitan menahan perih.
__ADS_1
"Hahahaha! Oh, aku suka jeritan-jeritan kalian. Ya, itulah nyanyian yang selalu kudengar dan membuatku tak bisa bermimpi indah tiap tidur malam. Kalian ... bisa membayangkan penderitaan yang harus kujalani selama belasan tahun karena ulah 13 Demon Heads, hem?" ucap Miles bengis yang mengeluarkan pisau lainnya dari balik seragam tempurnya.
Beruntung, Jonathan mulai bisa dikendalikan. Pemuda itu masih meraug-raung, tapi kini tak lagi bisa menyerang karena dua tangannya diikat oleh Sandara saat tahu jika kakak perempuannya gagal membawa serum itu.
"Sial, kakiku sakit sekali," erang Arjuna menggelepar di atas tanah usai menyingkirkan Jonathan dari atas tubuhnya.
"Kau harus segera mengobatinya, Kak. Cepat," ucap Sandara berbisik seraya mendekati Arjuna yang terlentang di atas tanah menahan sakit.
"Dengan Miles di sini? Aku rasa itu tidak mungkin," jawabnya yang berhasil membawa tabung penyedot peluru saat ia gunakan untuk mengobati Jonathan. Benda tersebut ia sembunyikan di balik puing.
Lysa meringkuk di atas tanah mencoba menahan sakit di kakinya yang berdarah hebat, tapi membuat tubuhnya langsung bergetar hebat.
Ia berhasil mencabut dua pisau yang menancap pahanya karena kali ini, Miles membiarkannya.
"Akan kualihkan perhatiannya. Bergegaslah," pinta Sandara berbisik dengan mata tertuju pada Miles.
"Oke," jawab Arjuna seraya merayap ke sebuah puing besar yang akan melindungi sebagian tubuhnya.
Arjuna memposisikan tubuhnya membelakangi Miles agar pria itu tak melihat apa yang dilakukannya. Arjuna dengan sigap melepaskan sepatu boots dan celananya.
Ia melihat kakinya berdarah hebat dan sama mengerikannya dengan milik Jonathan. Arjuna menarik napas dalam dan sesekali mengintip dari balik puing untuk memastikan dirinya tak diincar.
Sandara yang tak mengalami cidera parah berdiri perlahan dengan napas memburu. Ia berjalan menjauh dari Jonathan dan Arjuna agar Miles tak membidik mereka.
Ternyata, gerakannya berhasil menarik perhatian Miles yang sedari tadi menyaksikan penderitaan Lysa.
"Selama ini ... kau pasti hidup dalam tekanan, Miles. Dikucilkan dari para Mens dan dijadikan kacung oleh mereka. Kau tahu kacung?" tanya Sandara tak terlihat takut saat berjalan perlahan melewati Lysa dengan mata tertuju pada pria bersenjata itu.
Miles tersenyum miring. "Ya. Aku ... pura-pura menurut dan bodoh di hadapan para Mens, tapi sepertinya ... beberapa orang menyadari kejeniusanku. Hem, mungkin jika digabungkan, aku seperti ayahmu dan BinBin," jawabnya menyombong.
"Heh. Pengakuan kehebatan dan kejeniusan itu didapat dari orang lain, bukan dari mulutmu sendiri. Siapa yang mengatakan kau jenius? Tak ada. Bahkan selama aku dikurung oleh The Cirlce dan No Face, tak ada satu pun yang menyebutmu sebagai orang penting. Jangan mengarang," sindir Sandara yang ternyata ucapannya membuat wajah Miles berubah dingin seketika.
Arjuna menahan sakit ketika peluru-peluru itu tersedot oleh alat yang digunakannya. Arjuna nekat menggigit kulit sepatu boots-nya agar suara rintihannya tak terdengar.
Arjuna melihat tas yang ditinggalkan oleh Sandara di dekatnya. Dengan sigap, Arjuna mengambil tas itu dan melihat isinya.
Beruntung, perlengkapan medis masih tersedia di dalamnya. Arjuna bergegas mengobati lukanya dengan tubuh bergetar hebat dan mulai berkeringat dingin.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya😍smg gak ada typo. ngeditnya nyambi masak rendang😆
__ADS_1