
Kwkwkw makasih tipsnya❤️Jangan lupa yg punya poin sumbangkan semua ya. Lele butuh kopi yg banyak. Nguantuk parah sekarang tiap siang jadi mau gak mau molor dan pas bangun udh rempong urus buka puasa. Ini aja nyempil waktu. Jangan lupa vote vocernya sebelum angus. Kuy biar semangat lele tamatin novelnya. Lele padamu💋
-------- back to Story :
Para mafia berbondong-bondong menuju ke Camp Militer di China. Para SYLPH sudah menyiapkan seluruh prosesi pemakaman yang bisa dibilang mayat Vesper tak dikuburkan melainkan dibalsem layaknya mumi diawetkan.
Berkat balsem peninggalan Tora, Kai dan Jeremy kini sedang fokus untuk mengembangkan sebuah teknologi pengawetan tubuh dalam sebuah tabung.
Mereka berharap, tanpa adanya tenaga ahli dalam dunia pengawetan mayat, alat itu bisa mengawetkan tubuh tanpa merusak organ di dalamnya.
Sayangnya, khusus untuk Vesper. Dikarenakan teknologi itu baru akan diciptakan, mereka menggunakan cara lama. Organ dalam Vesper yang telah rusak terpaksa dikeluarkan dan dikubur.
Karena bagaimanpun, organ dalam Vesper sudah terkontaminasi dan beracun. Hal itu bisa merusak struktur kulitnya dan merapuhkan tulang.
Bahkan saat pengangkatan dan operasi, dibantu oleh Albino dan Atit karena takut jika darah Vesper masuk ke jaringan tubuh orang sehat, malah petugas tersebut yang akan mati. Hanya orang-orang ahli yang ditunjuk oleh Jeremy untuk melakukan pembalseman.
Vesper sudah didandani cantik oleh tiga saudarinya termasuk nyonya Wen yang datang langsung dari Lugu Lake untuk mengikuti penghormatan terakhir pada keturunan Jiao Yu.
Nyonya Wen sudah menduga dengan kematian Vesper yang tak lama lagi, tapi ia tak menyangka jika banyaknya peziarah yang akan datang untuk memberikan penghormatan untuknya.
Wen semakin yakin jika Vesper adalah seorang mafia yang sangat disegani meski ia dikatakan seorang penjahat perang oleh militer.
Mereka bicara dalam bahasa Mandarin. Terjemahan.
"Mereka tak tahu, jika nyonya Vesper sudah mengorbankan banyak hal. Dia nekat melawan militer pemerintah karena orang-orang yang disayanginya terancam. Ia sampai membuat senjata sendiri yang dinamakan Vesper Industries. Ia mempekerjakan orang-orang buangan dan sampah masyarakat untuk diberikan kesempatan menjalani hidup lebih baik meskipun harus menjadi penjahat. Jika mereka menganggap kita orang yang berdosa, biarkan saja. Bukan mereka yang pantas menghakimi kami, melainkan Tuhan," tegas Daniel dari jajaran Boleslav yang ikut mengamankan jenazah Vesper untuk diterbangkan ke China.
"Kau benar. Aku awalnya juga terkejut saat mengetahui jati diri saudariku itu. Namun, setelah aku mengenalnya lebih dekat, bagiku ... dia bukan seorang penjahat. Dia terpaksa melakukan kejahatan karena hidup orang-orang yang dicintainya diusik. Lebih baik dia yang menderita ketimbang orang terkasih. Aku belum pernah bertemu seseorang yang merelakan banyak hal termasuk nyawanya hanya untuk menciptakan kebahagiaan bagi orang-orang yang disayanginya," ucap Nyonya Wen seraya memandangi jenazah Vesper yang mengenakan pakaian serba putih dan dihiasi bunga-bunga cantik di sekelilingnya walaupun semua ornamen itu adalah plastik.
"Ya. Dia bahkan rela dibenci oleh anak-anaknya sendiri agar semua orang bisa merasakan kedamaian. Aku mulai menyadari ketika nyonya Vesper melibatkan keempat anaknya. Itu karena ... ia sadar jika kemampuan fisiknya sudah tak setangguh dulu. Ia akhirnya memilih orang-orang yang dipercaya olehnya dan mereka adalah empat anaknya," sahut Red dan diangguki oleh orang-orang yang berdiri di sekitar Wen.
Tanpa orang-orang itu sadari, Lysa, Arjuna, Jonathan dan Sandara mendengar pembicaraan itu di balik pintu. Mereka diam dengan wajah tanpa ekspresi entah apa yang dipikirkan.
Hingga akhirnya, jenazah Vesper siap untuk dipindahkan. Konvoi mobil anti peluru dengan persenjataan lengkap dari modifikasi Jonathan yang berhasil diselamatkan oleh orang-orang Vesper, digunakan untuk mengamankan rombongan sampai ke hanggar pesawat kargo.
Semua orang terlihat bersiap di mana mereka yakin jika militer pasti mencurigai pergerakan besar-besaran itu.
Benar saja, saat mereka melewati jalanan sepi di gelapnya malam, terlihat sebuah helikopter melayang di udara seperti mengikuti pergerakan mereka.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Q. Identifikasi," tegas Amanda saat ia menandai helikopter tersebut dengan teropong khusus di dalam mobil.
"Yes, Mam!" jawab Q mantap dan langsung melakukan pemindaian.
Sayangnya, helikopter tersebut seperti diberikan perisai sehingga GIGA SIA tak bisa mengidentifikasinya.
__ADS_1
"Tak terdeteksi, Mandy! Waspadalah!" seru Q yang membuat semua orang yang terhubung dengan sambungan komunikasi berfrekuensi khusus tegang seketika.
"Tak perlu tahu mereka lawan atau kawan. Lumpuhkan saja," tegas Jordan dan diangguki semua orang dalam mobil.
NGEKKK!
Bagian atap mobil SUV yang dikendarai oleh Jordan terbuka dan muncullah sebuah senjata yakni tombak JERA.
Mix membidik badan helikopter tersebut yang sedari tadi mengikuti mereka sejak meninggalkan Kastil Hashirama di Jepang.
"Kita bukan polisi. Tak perlu beri peringatan," tegas Jordan yang melihat helikopter itu dari layar tablet saat Match ikut menerbangkan CD untuk membuntuti helikopter tersebut.
Mix and Match mengangguk. Seketika, SHOOT! JLEB! PIPIPIPI! DEMMM!!
"Oh!" pekik Lysa terkejut saat ia menyadari jika ujung tombak JERA seperti anak panahnya yang memiliki kemampuan untuk mematikan fungsi kelistrikan.
Helikopter tersebut tiba-tiba menukik tajam dan terbang tak tentu arah. CD yang diterbangkan Match masih mengintai untuk mencari tahu siapa orang yang berada di dalam helikopter itu.
Benar saja, terlihat beberapa pria bersenjata di dalamnya tampak panik. Mereka mulai membuka pintu helikopter seperti siap untuk melompat darurat menggunakan parasut.
"Pasti militer. Aku tak mau ada pertumpahan darah. Sudah cukup kita berperang. Hapus mereka," pinta Kai dengan wajah datar.
"Yes, Sir!" jawab Click and Clack langsung bersiap.
Dua buah CD diterbangkan. Mereka kini menggunakan cara seperti yang dilakukan oleh Miles ketika menyerang Sandara dan Jordan kala itu.
CD tersebut telah dilengkapi dengan semprotan penyembur berisi gas halusinasi. Semua orang tampak serius melihat dari layar tablet saat orang-orang itu mulai terjun satu per satu.
BUZZ!!
"Arghhh!" erang tujuh orang berseragam hitam layaknya pasukan khusus ketika menerima semburan gas.
Orang-orang itu panik, tapi perlahan tergolek lemas meski masih sadarkan diri.
"Awas!" pekik Arjuna saat helikopter yang sudah ditinggalkan oleh penumpangnya itu siap menghantam jalan aspal tepat di depan konvoi mobil mereka.
"Kita tak bisa menghindar! Jalanan sempit! Ledakkan!" seru Han lantang yang berada di barisan terdepan mengamankan konvoi.
Dengan sigap, KLIK! SWOOSH! BLUARR!!
Ledakan besar terjadi. Silau dari panasnya api membuat mata para mafia itu menyipit ketika mobil-mobil mereka harus menerjang benda jatuh itu.
Puing-puing benda helikopter terlontar hingga ke beberapa sudut dalam kegelapan malam.
"Plan B! Gagalkan ke bandara! Amankan muatan!" seru Kai dari tempatnya duduk yang menemani sang isteri dalam tidur abadinya.
"Yes, Sir!" jawab semua sopir yang bertugas.
__ADS_1
Segera, mobil-mobil yang sudah dibagi menjadi dua tim itu berpencar. Satu rombongan tetap ke bandara, dan rombongan kedua menuju ke dermaga.
Kabar jika konvoi diserang tentu saja membuat semua orang yang diikutsertakan untuk mengangkut jenazah Vesper geram. Para mafia itu bersiap agar kedamaian sang Ratu tak diusik.
"Pastikan rute kita menuju China tak terusik oleh siapapun!" seru Pion Dakota dan diangguki oleh petugas lainnya yang menunggu di dermaga sebagai tim Plan B.
Segera, sebuah kapal kargo yang telah dipersiapkan untuk angkutan antisipasi membawa jenazah Vesper diamankan.
Konvoi pengangkut peti Vesper berhasil tiba dengan selamat saat fajar menyingsing karena rute yang berubah dan jarak tempuh hingga 7 jam perjalanan.
Mobil pengangkut masuk ke sebuah kontainer milik Robicon Coorporation dari keluarga Flame di bawah kekuasaan Sierra.
Meskipun gadis cantik itu tak terlibat, tapi ia mempercayakan para pion untuk mengurusnya. Cassie dan Venelope telah terbang terlebih dahulu menuju China bersama mafia lainnya termasuk nyonya Wen.
Nantinya, mereka berkumpul di Camp Militer bersama para mafia lainnya yang ikut dalam Plan A.
Para mafia lainnya ikut masuk ke dalam kontainer yang telah dimodifikasi layaknya sebuah kamar atas ide dari Sia kala itu ketika diculik oleh CIA.
Akhirnya, kapal berhasil meninggalkan Fukuoka, Jepang menuju ke Zhejiang, China. Selama kapal menyeberang, para Pion D dibantu oleh anggota Red Ribbon mengamankan rute pelayaran.
Mereka menggunakan kapal lain yang berlayar secara acak dibeberapa titik diawasi oleh Souta yang mengenali perairan itu.
Selama menyeberang, beberapa kali mereka bertemu dengan polisi patroli air, tapi beruntung karena para aparat itu tak mencurigai kapal-kapal mereka.
Kapal pengangkut peti Vesper berhasil berlabuh saat sore hari karena padatnya lalu lintas di dermaga.
Semua pelayat tak sabar menunggu kedatangan jenazah sang Ratu di mana dari mereka belum melihat mayatnya.
Vesper berhasil tiba ke Camp Militer tengah malam dengan pengamanan penuh yang menjaga sang Ratu ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Praktis, mata semua orang berlinang saat mereka mengenang sosok Lily ketika pertama kali ditemukan oleh Komandan Zeno di Camp Militer hingga akhirnya menjadi keluarga mafia atas kebaikan hati nyonya Rose.
Meski penderitaan, pengkhianatan dan duka menyelimuti perjalanan hidup Vesper selama menjadi seorang mafia, tapi tak melunturkan cinta kasihnya dan peduli kepada orang-orang yang rela berkorban untuknya.
Satu per satu, musuh menjadi kawan dan orang-orang yang dulunya meragukan kepemimpinan wanita tak dikenal itu kini mengabdi padanya.
Kekuasaan Vesper semakin besar dan kuat karena dipercaya oleh para pendahulu untuk mengembangkan aset mereka saat tiada.
Usaha Vesper berhasil, tapi ternyata, selama ini ia hanya mengamankan dan mengembangkannya.
Vesper yang dikenal matre dan sedikit pelit itu, ternyata mengumpulkan hartanya sebagai warisan untuk orang-orang terkasih.
Kesalahpahaman yang selama ini menyelimuti hati orang-orang yang tak tahu hal itu dibuat sedih ketika Amanda membacakan surat yang ditulis oleh Vesper sebagai wasiatnya kepada orang-orang yang mendapatkan peninggalan harta darinya.
"Maafin Eko, Mbak Vesper. Eko udah berburuk sangka. Ternyata, mbak Vesper mikirin nasib kita yang belom punya rumah, gak punya aset buat anak isteri. Mbak Vesper, bangun lagi dong. Eko mau sungkem mohon ampun," ucap Eko sedih, tapi tak menangis.
Sayangnya, kesedihan Eko sepertinya tak dirasakan oleh orang lain. Mereka yang awalnya sedih langsung menarik air mata tak jadi menangis.
__ADS_1
"Om. Beneran deh. Mending ungkapan hati om Eko dibatin aja gak usah diucapin. Air mata Nathan gagal netes. Suer," ucap anak ketiga Vesper seraya menepuk pundak Eko dan diangguki oleh mafia lainnya.
"Gitu kah? Ya udah. Eko mengheningkan cipta aja buat mbak Vesper," ucap Eko lalu memejamkan mata dan tertunduk hikmad.