
Tentu saja, serangan dari mantan anak buah Arjuna membuat panik para mafia itu. Aksi saling tembak dan serang tak terhindarkan. Bayi Loria terus menangis seperti menyadari jika adanya ancaman di sekitarnya.
Arjuna, Sun dan Tessa berusaha keras menjauh dari pertempuran. Tessa mendekap bayi mungilnya erat yang sedang ketakutan karena suara bising di rumahnya.
"Tuan!" panggil Simon berlari kencang dengan sebuah tas ransel ia gendong diikuti oleh Greco bersenjata laras panjang di belakangnya.
"Kami berhasil mengambil beberapa persenjataan," ucap Simon seraya membuka tas ranselnya.
Arjuna, Sun, dan Jose dengan sigap mengambil senjata-senjata dari tas ransel itu lalu memasukkan ke jas mereka.
Tessa berusaha untuk menenangkan bayinya yang terus menangis dan membuat semua orang panik.
"Kami akan melindungimu, Tuan Muda! Pergilah ke dermaga dan tinggalkan tempat ini!" seru Greco terlihat siap dengan pistol dalam genggaman.
"Ayo, Tuan," ajak Sun dan Arjuna mengangguk.
Tessa terlihat begitu cemas seperti akan menangis. Arjuna meyakinkan isterinya untuk tetap bergerak agar tak terbunuh di tempat itu.
"Kau siap?" tanya Arjuna menatap Tessa lekat dan wanita cantik itu mengangguk pelan terlihat berusaha untuk tenang. "Go!" titah Arjuna seraya melindungi Tessa di sampingnya.
Tessa berlari membungkuk melindungi buah hatinya. Sun berada di depan dan terus melakukan perlawanan dengan melemparkan Rainbow Gas ke arah kumpulan para penyerang.
"Cepat! Cepat! Sebelum gas itu mengenai kita!" seru Sun yang menambah serangannya dengan melemparkan granat tabung.
Simon, Jose, dan Greco melindungi majikan mereka dari para Bala Kurawa yang mencoba mengejar.
Greco terus menembaki Bala Kurawa Arjuna yang mencoba mendekati mereka saat berlari menuju koridor.
Simon dan Greco akhirnya berhasil menjatuhkan beberapa anggota Bala Kurawa dan menewaskan mereka.
Jose, Greco dan Simon kembali bergerak untuk menolong kawan-kawan mereka yang lain di lantai dua.
Tessa berlari kencang saat Sun melindungi dua majikannya yang berlari lebih dulu darinya. Sun mengikuti Arjuna setelah memastikan jika mereka tak diikuti oleh lawan.
Arjuna terlihat panik karena isteri dan anaknya lagi-lagi terlibat dalam serangan yang Miles lakukan. Suara tembakan dan ledakan terdengar santer di sekitar mansion.
Getaran hebat terasa di mana suara helikopter penyerang masih terdengar jelas seperti mengintai mereka di luar. Benar saja, saat Arjuna membuka pintu menuju ke dermaga, tiba-tiba saja, BLUARR!!
"Argh!" erang Arjuna langsung membalik tubuhnya dan memeluk Tessa ketika yacht milik Andreas meledak hebat terkena luncuran misil dari helikopter.
Tessa dan Arjuna semakin panik. Kapal mereka telah dihancurkan dan tak bisa meloloskan diri dengan jalur air.
Arjuna melihat sekeliling di mana anak buahnya yang menjaga mansion mulai jatuh satu per satu tewas ditembak dan ditusuk dengan keji.
"Masih ada jet ski! Kita bisa menggunakannya!" seru Sun dengan napas tersengal.
Arjuna mengangguk pelan. Tessa terlihat berkeringat hebat dan letih karena ia masih masa pemulihan pasca melahirkan.
Saat Arjuna yang kini menjadi pembuka jalan sekaligus pelindung bagi timnya sedang bersiap untuk menyeberang ke arah dermaga, tiba-tiba saja dari belakang, DUAKK!
"Agh!" erang Sun yang mendapatkan pukulan keras di kepala hingga jatuh tersungkur.
"Sun!" teriak Arjuna dengan mata melotot saat mantan anggota Bala Kurawanya kini berusaha untuk menjatuhkan Sun.
"Pergilah, Tuan Muda! Aku akan menahan mereka!" teriak Sun yang kembali bangkit meski terlihat berusaha menahan sakit di kepala belakang.
Arjuna terlihat enggan dan ingin menolong Sun, tapi putera dari agent M tersebut malah mendorong Tessa untuk menjauh dari pintu.
Tessa terkejut dan hampir jatuh. Beruntung, Arjuna dengan sigap menangkap sang isteri saat Sun menutup pintu itu rapat dari dalam.
__ADS_1
"Kita harus segera pergi. Loria harus diselamatkan!" ucap Tessa menatap Arjuna lekat, tak bisa menutupi kepanikannya.
Kim Loria masih menangis hingga wajahnya memerah. Arjuna terlihat iba pada kondisi sang anak. Arjuna kembali menjadi tameng untuk keluarga kecilnya.
Arjuna melindungi Tessa yang berlari di sampingnya menuju ke arah dermaga di mana kapal mereka telah diledakkan. Namun, masih ada lima buah jet ski yang disembunyikan dalam hutan dekat dermaga itu.
Sayangnya, pergerakan mereka tertangkap oleh Bala Kurawa yang membelot. Arjuna dan Tessa dihujani peluru dari belakang. Arjuna membalas serangan itu dengan melemparkan granat mini ke arah tentaranya dulu.
Suara ledakan bersahut-sahutan hingga meruntuhkan beberapa bangunan di sekitar, membuat malam yang tadinya hening kini bagaikan medan perang.
Kobaran api terlihat di beberapa tempat dengan mayat tergeletak di sepanjang langkah mereka berlari.
"Arjuna! Arjuna!" panggil Ringgo dari balik hutan di mana Samuel juga ada di sana.
Samuel menembaki para Bala Kurawa Arjuna yang mencoba mengejar mereka. Tessa berlari dengan napas tersengal memasuki hutan di mana Ringgo berhasil selamat dari penyerangan.
"Kami sudah amankan jet ski! Namun, helikopter itu masih mengawasi. Kita tak bisa pergi jika benda itu masih terbang di atas kita," ucap Ringgo seraya mendongak ke atas melihat helikopter musuh terbang di sekitar area peperangan.
Arjuna melihat sekitar seperti mencari sesuatu. Ia lalu melihat Tessa yang berusaha menenangkan anaknya yang menangis. Tangisan Loria, membuat musuh mengetahui keberadaannya.
"Kaususui Loria agar dia diam, Sayang. Aku akan mencoba menjatuhkan helikopter itu. Bersembunyilah," pinta Arjuna menatap Tessa lekat.
Terlihat, Tessa seperti enggan pergi, tapi Ringgo dan Samuel memaksanya demi keselamatan bayi mungil itu. Tessa akhirnya masuk ke hutan gelap dilindungi Samuel dan Ringgo.
Kini, Arjuna hanya bersenjata pistol dari sisa persenjataan yang diberikan oleh Simon. Arjuna berlari kencang menuju ke tangga menuju ke menara.
Ternyata, pergerakan pria bertato itu terlihat oleh pria yang berada di pintu helikopter.
DODODOOR!!
"Agh! Sial!" teriak Arjuna kesal karena dihujani peluru sehingga menyulitkan pergerakannya.
Arjuna memegangi rompi anti peluru pria itu kuat dan mengarahkan punggungnya ke helikopter lawan.
DODODOOR!!
"Argh!"
BRUKK!!
Arjuna menjadikan tubuh pria itu sebagai tameng agar ia selamat dari peluru-peluru tajam mematikan.
Arjuna meninggalkan mayat pria itu begitu saja dan kembali berlari menaiki tangga dengan tergesa.
Arjuna tetap dibidik meski peluru-peluru itu kini tak bisa mengenainya karena terhalang dinding.
Sayangnya, di atas menara dia tak terlindungi. Arjuna mengarahkan pistolnya ke arah helikopter yang telah terbang di samping bangunan siap untuk menembaknya.
DODODOOR!!
"Shitt!" pekik Arjuna langsung menjatuhkan tubuhnya dan bergulung ke samping. Namun, pergerakannya malah membuat putera Han tersebut mencapai tempat yang ia kehendaki. Sebuah senjata dari tombak JERA berhasil ia gapai dan siap untuk dilesatkan. "Mati kau!" teriak Arjuna geram saat ia membidik helikopter lawan ketika pria di pintu tersebut sedang mengisi ulang amunisinya.
SWOOSH! JLEB!
Seketika, mata pria itu melebar ketika melihat tombak itu menancap di helikopternya. Sayangnya, benda terbang itu dengan sigap terbang menjauh.
Pria itu berusaha memotong tali tambang tombak tersebut. Arjuna tak ingin buruannya lepas. Ia menambah serangannya dengan sebuah RPG ia arahkan ke badan helikopter.
Pilot helikopter melihat serangan itu. Ia menukik tajam menghindari bidikan Arjuna dengan misil siap diluncurkan.
__ADS_1
Mata Arjuna melebar saat helikopter musuh malah mendekat ke arahnya dengan baling-baling diarahkan ke tubuhnya.
"Shitt!" pekik Arjuna saat baling-baling tajam itu siap untuk mencabiknya.
Arjuna melihat tali tambang JERA masih tertancap. Arjuna melompat dan berpegangan kuat pada tali tambang itu.
TANG! TANG! TANG!
Baling-baling tersebut membuat tombak JERA yang berada di pagar menara terlepas. Benda itu tergantung dan berayun dengan tombak masih tertancap.
Arjuna ikut bergelantungan dan membuat usahanya untuk menembakkan misil dari RPG gagal.
Benda itu jatuh dari atas menara dan tak ada satu orang pun dari kubunya yang menangkap senjata itu.
Arjuna tak bisa meledakkan tombak JERA karena ia akan ikut terkena imbasnya. Saat Arjuna berusaha keras untuk terus memanjat agar bisa memasuki helikopter musuh, di sisi lain, Tessa, Ringgo dan Samuel dikejar oleh sekumpulan pria tak dikenal.
Tessa yang tadinya sedang menyusui Loria bergegas berlari setelah mendengar suara derap langkah dan tembakan ke arahnya.
Samuel dan Ringgo melindungi isteri dari majikan mereka dengan menggelontorkan peluru-peluru tajam ke kelompok musuh.
Tessa terus berlari melewati pepohonan rindang yang menyulitkan pergerakannya di malam gelap.
Samuel dan Ringgo terus menembak untuk menghalangi pergerakan lawan. Tanpa mereka sadari, ketiganya terpisah. Tessa yang terus berlari tak melihat jika Ringgo dan Samuel tak ada di belakangnya.
Tiba-tiba, "Agh!" teriak Tessa saat muncul seorang lelaki dari balik pohon, bertubuh besar dan berpakaian hitam, menutup wajahnya dengan masker.
Tessa langsung mundur ke belakang dengan panik hingga ia jatuh dengan bayi Loria dalam gendongannya.
Mata Tessa melebar saat ia melihat pria besar itu melangkah ke arahnya dengan sorot mata tajam.
"Ah, aaaa!" teriak Tessa memejamkan mata saat pria itu mengeluarkan pedang dari samping pinggulnya seperti ingin menghunusnya.
Namun ternyata, saat Tessa membuka mata, ia melihat pria itu menusuk dada seorang laki-laki dari Bala Kurawa yang berdiri di belakangnya.
Tessa terkejut dan langsung menyingkir ketika mayat dari Bala Kurawa itu hampir menjatuhinya.
Tessa kembali menatap pria itu lekat yang mengeluarkan sebuah amplop berwarna merah maroon lalu menunjukkan isinya pada Tessa. Praktis, mata Tessa melebar.
"Vesper?" tanyanya berkerut kening.
"Ikut denganku. Tugasku hanya untuk menyelamatkanmu. Selama ini, aku mengawasimu, tapi aku diam hingga saatnya tiba. Cepat, sebelum Miles menemukan keberadaan kita," pinta Seif saat membuka penutup wajahnya.
Tessa terlihat bingung dalam bersikap, tapi ia tiba-tiba berdiri dan malah menyerahkan Loria pada pria bertubuh besar itu. Seif bingung saat melihat Loria dalam gendongannya.
"Selamatkan Loria. Aku tahu di mana bisa menemukan anakku nanti. Aku masih terhubung dengan Sierra dan Venelope. Tolong, lindungi dia, aku harus kembali untuk menyelamatkan Arjuna," ucap Tessa penuh harap.
Praktis, mata Seif melebar. Tessa mencium kening anaknya penuh kasih dengan mata terpejam hingga air matanya menetes.
Tessa lalu menarik pedang Silent Gold milik Seif yang kembali ia sarungkan begitu berhasil menjatuhkan lawan, tapi langsung ia jatuhkan karena tersetrum.
"Agh, agg," rintih Tessa memegangi telapak tangannya yang tersengat.
Seif mengambil pedang itu dan menonaktifkan fungsi pengenal. Seif bingung saat Tessa memintanya kembali dan kini bisa ia genggam tanpa terluka.
"Go! Bawa pergi Loria! Selamatkan dia! Itu sekarang tugasmu. Lindungi dia, bukan aku!" pinta Tessa yang lalu berpaling seraya berlari membawa pedang Silent Gold milik Seif.
Pria besar itu berdiri mematung melihat Loria yang mulai tenang saat ia menggendongnya. Seif memejamkan mata sejenak, dan akhirnya berlari kencang menghindari pertempuran.
***
__ADS_1
masih eps bonus dari mak ben ya😁 adeh mual lagi. lele rehat dulu setelah up 3 novel. semoga monster hunter juga kebagian jatah ya. amin❤️ jangan lupa vote vocernya keburu angus gaes💋