4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Kalah Untuk Menang*


__ADS_3

Februari minggu ketiga.


Vesper menggunakan anak buah Jonathan—The Circle—untuk menjaga seluruh markas milik anggota Dewan termasuk miliknya.


Vesper sengaja melakukannya di mana kali ini, ia memang ingin menyingkirkan sisa dari kelompok itu dengan menjadikan mereka tumbal agar anak buahnya tak terluka jika Miles menyerangnya.


Para bodyguard Vesper berkumpul di Kastil Borka. Drake dan Buffalo mempercayakan Dewi untuk menjaga anaknya di Pemalang selama keduanya menjalankan misi.


Para wanita SYLPH  yang kini menjadi isteri dua bodyguard Vesper seperti Zurna dan Durriyah, tetap bertahan di rumah mereka menjaga anak serta markas milik Vesper.


Di kamar Vesper, Kastil Borka.


Vesper duduk di pinggir ranjang dengan Kai berjongkok di depannya. Kai dengan telaten memasangkan sepatu robot inovasi terbarunya untuk sang isteri di mana Vesper sudah memutuskan untuk turun tangan menyelesaikan semua.


"Aku percayakan GIGA DARA padamu, Kai. Kau siap 'kan menjadi mata kami di luar sana?" tanya Vesper menatap wajah suaminya yang datar sedari tadi.


"Hem," jawabnya singkat.


Vesper menarik napas dalam. Ia meraih kedua pipi suaminya dengan kedua tangannya. Perlahan, Kai menaikkan pandangannya dan mendapati sang isteri yang tersenyum manis padanya.


"Aku tahu kau pasti kesal karena tak kuizinkan bertempur bersamaku. Namun yang kita lakukan, bukankah sebuah kerjasama? Kau tetap bisa melindungiku, Sayang, tak harus mendampingiku di luar sana. Kau bukan anak kecil yang harus aku ingatkan tentang hal ini," ucap Vesper lembut.


Tiba-tiba saja, Kai memeluk tubuh sang isteri erat hingga Vesper jatuh terlentang di kasur. Vesper terkejut, tapi tersenyum. Ia tahu jika mantan bodyguard-nya ini sangat mengkhawatirkan keselamatannya.


"Aku lebih senang melihatmu bermesraan dengan Han ketimbang harus bertarung di luar sana, Sayang. Berjanjilah, kau pulang tanpa terluka," pinta Kai serius dengan ucapannya.


"Hem. Jagalah Cassie. Aku khawatir Miles akan datang untuk mengambilnya lagi," jawab Vesper seraya mengelus kepala belakang suaminya lembut.


Namun perlahan, kedua tangannya menurun dan menyelinap di balik celana Kai. Kedua tangan Vesper meremat bongkahan besar itu dengan gemas.


"Oh sungguh?" tanya Kai tak habis pikir dengan keganjenan sang isteri yang masih menyempatkan waktu untuk mengajaknya bercinta.


Di ruang kerja Vesper.


"Ini mbak Vesper lama amat ya mau pamitan sama Kai. Ngapain sih? Eko udah gatel ini mau cari si Yudhi gemblung," tanyanya tak sabaran dengan kedua tangan melipat di depan dada dan kaki mengetuk lantai berulang kali.


"Ritual mungkin?" sahut James, dan disambut dengan kekehan kawan-kawannya.


"Eko. Apa kau sanggup, melihat Yudhi tewas di tangan nyonya Vesper?" tanya Seif yang membuat senyuman di wajah orang-orang itu sirna seketika.


"Eko akan tutup mata, telinga dan kabur saat hal itu terjadi. Eko akan kuburin Yudhi dengan layak sebagai penghormatan terakhir. Jujur, Seif. Yudhi pasti lakuin semua kegilaan ini karena dendam atas kematian Ahmed yang tragis. Sebenernya, Eko udah curiga ketika dia bilang mau nyusul ke Ceko waktu itu. Apalagi dia pulang malah bawa mobil perusahaan Elios. Jebule, firasat jelek Eko terbukti. Sebelnya, mbak Vesper tau-taunya aja loh gerak-gerik si Yudhi. Eko aja yang tinggal sama dia gak tau babar blas. Punya ilmu cenayang kali ya si Bos?" jawab Eko panjang lebar mengutarakan pemikirannya.


Eiji dan lainnya terkekeh karena Eko malah menyangkut-pautkan dengan hal gaib.


"Sebenarnya, aku sedikit khawatir dengan kemampuanku. Sudah lama sekali kita tak bertarung di luar sana. Pasti reflek kita akan sedikit lambat. Aku merasa sudah tak setangguh dulu," sahut Eiji seraya menekan perutnya yang tak lagi memiliki otot dan berganti dengan lipatan menggemaskan seperti polisi tidur.


"Itukan kau. Aku dan Fal, selalu melatih fisik setiap hari. Kami sengaja membantu para petani Black Armys saat panen. Jadi ... maaf, Eiji. Otot kami masih bertahan di tempatnya," jawab Drake memamerkan otot lengannya yang padat dan besar.


EIji kesal dan mendesis, sedang kawan-kawannya malah terkekeh bahagia.


Ternyata, dugaan beberapa dari mereka benar. Vesper sedang melakukan ritual dengan Kai di kamarnya untuk melepaskan rindu karena sang Ratu dan timnya baru akan kembali saat menghadiri pernikahan Yuki-Torin pertengahan Maret nanti.


Di tempat Jonathan berada.

__ADS_1


Para tahanan dari pria berseragam militer yang tak diketahui namanya, mulai dilepaskan dari kepompong.


Namun ternyata, Jonathan dan timnya dijadikan seperti pekerja tanpa upah untuk membuat senjata dan modifikasi mobil dalam pengawasan ketat.


"Mereka mencoba mencuri teknologi kita, Paman BinBin," gerutu Jonathan kesal sedang memperbaiki mesin dengan menaikinya.



"Singkirkan bokongmu! Apa kini pantatmu yang bicara padaku, ha? Tidak sopan!" gerutu BinBin memekik seraya menunjuk dua bongkahan indah itu dengan obeng dalam genggamannya.


Anak buah Jonathan terkekeh, padahal mereka sedang disekap oleh orang-orang tak dikenal itu.


DANG! DANG! DANG!


Praktis, tawa mereka sirna saat jeruji besi sebagai pintu masuk dan keluar dipukul oleh petugas berseragam hitam, bersenjata lengkap dengan tongkat besi dalam genggaman.


"Berisik!" teriak Jonathan gusar yang kedua tangannya sudah kotor dan berwarna hitam ke arah penjaga itu.


Praktis, penjaga itu masuk ke dalam ruangan terlihat marah. Jonathan turun dari mesin mobil dengan menggenggam sebuah kunci pas di tangan kanan seraya mendatangi seperti menantang.


"Kau pikir aku takut, ha? Kau berani membentakku, bahkan mengurungku di tempat ini!"


DUAKK!!


"JONATHAN!" seru Clack karena penjaga itu menggunakan gagang senapan laras panjang untuk memukul pelipis samping kiri Jonathan hingga pemuda itu tumbang.


Click dan lainnya tak terima. Mereka melakukan aksi balas dengan menyerang petugas tersebut. Petugas itu tak berkutik saat dikeroyok dan babak belur bahkan senapannya dirampas.


KRAKK!! BRUK!!


"Sir! Clack mematahkan leher orang kita!" jawab petugas penjaga di luar pintu jeruji.


Seketika, mata pria itu terbelalak. Ia melihat Jonathan menyeret anak buahnya yang tewas dengan menjambak rambutnya. Para penjaga menodongkan moncong senapan di tubuh Jonathan yang tak berpengaman itu.


"Lihat akibatnya."


BRUKK!!


Jonathan melemparkan mayat dari anak buah pria itu tepat di depan jeruji yang tertutup.


"Pelipisku berdarah. Jika sampai aku terluka lagi, jangan salahkan kami jika tempatmu ini runtuh," tegasnya mengancam.


"Jika bangunan ini runtuh, kalian akan tertimbun di dalamnya," balas pria itu.


"Dan kami, akan mengajak kalian semua untuk menemani kami di neraka. Hah, dasar pengecut. Tak memiliki orang untuk mengerjakan kemauan kalian, ha? Pastinya di luar sana tak ada yang sehebat Jonathan Benedict," jawab Jonathan berlagak seraya berpaling dari pria tersebut.


"Jika kau ingin melihat Sierra hidup, kerjakan perintahku," tegasnya.


"Mana kami tahu dia hidup atau tidak. Kau menyembunyikannya. Kami tak akan bekerja sebelum melihat jika Sierra baik-baik saja," jawab Jonathan yang kini berdiri diantara anak buahnya.


Pria itu menaikkan dagu menunjukkan keangkuhannya. Ia lalu menjentikkan jari dengan pandangan masih terfokus pada Jonathan.


Tak lama, apa yang diminta Jonathan muncul. Sierra terlihat pucat dan tubuhnya masih dipenuhi luka meski ia sudah tak menerima perlakukan kasar lagi.

__ADS_1


"Sebaiknya kau turuti kemauan kami. Kekasihmu ini sedang dalam kondisi buruk, Jonathan," ucap pria itu dengan seringainya saat mencengkeram kuat rambut belakang Sierra hingga kepala gadis cantik itu mendongak.


"Sierra gadis yang kuat. Dia bisa bertahan dari perlakuan pengecutmu, Pak Tua," tegas Jonathan.


"Oh, benarkah? Aku bisa melakukan hal keji lainnya, Jonathan. Hanya saja, aku memiliki belas kasih. Namun semuanya, terserah padamu. Aku tak masalah jika harus membunuh janin dalam perut kekasihmu ini."


Praktis, ucapan pria itu membuat Jonathan melebarkan mata termasuk anak buahnya.


"Oh, lihatlah wajah terkejut itu. Kau tak tahu ya? Hem, Sierra hamil. Selamat. Kau, membuat hal ini semakin mudah untuk menaklukanmu. Jadi ... buatkan seperti permintaanku, atau ... kubunuh calon bayimu," ucap pria itu lalu mendorong tubuh Sierra hingga gadis cantik itu tersungkur di lantai.


Tanpa sadar, kaki Jonathan melangkah maju karena khawatir setelah mengetahui jika Sierra hamil anaknya. Pria tersebut tersenyum miring dan meminta kepada anak buahnya untuk membawa Sierra kembali.


"Jo?" panggil Hadi. Wajah pemuda itu terlihat sendu seketika.


"Kita kerjakan apa maunya," jawabnya pelan dan kembali melangkah ke mesin mobil melanjutkan pekerjaannya.


Semua orang saling berpandangan. BinBin mendatangi mayat petugas itu dan berjongkok di sampingnya.


Saat ia sedang mengamatinya, pintu jeruji di buka dan BinBin ditodongkan senjata. Pria tua itu kembali berdiri dan melangkah mundur saat mayat itu diambil lalu dibawa keluar ruangan.


"Apa yang kautemukan, Paman?" tanya Hadi seraya mendekat.


BinBin tak menjawab, tapi matanya bergerak melihat sekitar ruangan di mana kamera CCTV merekam semua pergerakan dan pembicaraan mereka.


Venelope yang ikut dalam tim tersebut mendekati BinBin saat pria tua itu membuka bagasi belakang.


Tiba-tiba saja, mata BinBin menyipit ketika ia melihat telunjuk kanan Venelope bergerak membuat sebuah ketukan ketika tangannya ikut memegang ban yang akan BinBin ambil.


Venelope dan BinBin saling melirik dalam diam. Pria tua itu mengangguk pelan saat ia memahami maksud ketukan jari itu yang membentuk sandi morse. Venelope membantu BinBin menurunkan ban mobil.


Gadis cantik itu lalu berjalan mendekati Click and Clack yang berada di dalam mobil untuk memeriksa interior. Sebagian tubuh bagian atas Venelope masuk dari samping jendela dudukkan kemudi.


Dua pria itu melirik Venelope yang mengedipkan mata dua kali dengan cepat. Dua pria bertubuh besar dan berkepala gundul itu saling melirik lalu melakukan kedipan yang sama.


Venelope kembali menegakkan tubuhnya, tapi ia terlihat bingung saat akan memberitahukan idenya kepada Hadi dan Jonathan karena dua orang itu dianggap tidak akan paham dengan maksudnya.


"Aku saja. Kau kerjakan yang lain," sahut BinBin tiba-tiba dan Venelope mengangguk pelan.


Gadis itu melenggang pergi meninggalkan Jonathan dan Hadi. Namun ternyata, benar dugaan Venelope jika keduanya tak paham dengan strategi terselubung darinya.


Venelope mengedipkan mata kepada keduanya saat dua pria itu menatapnya.


"Kamu kelilipan apa gimana? Jangan bilang naksir Hadi," ucap Hadi yang membuat semua orang terkekeh geli. Venelope terlihat malas seketika lalu berpaling pergi.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



jangan lupa sudah hari senin. vote vocernya ya💋 lalu jangan lupa vote poinnya seperti contoh di bawah ini. boleh vote di novel 4YM, Monster Hunter, atau Simulation. bebas pilih yang mana dan tengkiyuw tipsnya. lele padamu

__ADS_1



__ADS_2