
Mobil yang menculik Sandara berhenti di sebuah dermaga di mana yacht telah menunggu dan siap untuk membawa penumpangnya.
"Cepat! Sebelum orang-orang Vesper menyusul!" seru Yudhi lantang.
Dengan sigap, Sandara yang tak sadarkan diri di naikkan ke atas kapal dan dimasukkan ke sebuah kamar.
Kedua tangannya diikat kuat pada besi ranjang yang kini menjadi tempat tidurnya. Sandara ditinggalkan begitu saja dan kamarnya dikunci dari luar.
Yacht berhasil meninggalkan dermaga di Italia sebelum orang-orang Vesper datang. Dan benar saja, setengah jam kemudian, rombongan Eko tiba di dermaga, tapi hanya mendapati mobil yang disinyalir menculik Sandara yang mereka temukan.
"Yudhi edian! Bocah gemblung! Ora waras!" pekik Eko kesal bukan main saat membuka pintu di dudukkan tengah dan mendapati selembar kertas bertuliskan 'Dara milikku. Yudhi'.
Eko segera menghubungi Vesper jika mereka gagal mendapatkan Sandara. Sang Ratu memejamkan mata sejenak terlihat berduka.
Sinyal Sandara hilang dari tangkapan GIGA. Vesper berjalan menjauh dari Pusat Kendali dengan wajah sendu.
Para petugas di ruangan tersebut bingung karena Bos besar mereka malah meninggalkan mereka dan tak melanjutkan pencarian.
Entah sudah berapa lama Sandara tertidur, gadis itu akhirnya membuka mata, tapi kepanikan langsung melanda hatinya.
Matanya melotot lebar saat melihat kedua pergelangan tangannya diikat kuat dan tampak Yudhi berdiri di depan ranjang menatapnya sendu.
"Yudhi! Apa yang kaulakukan?" tanya Sandara tegang.
Yudhi mendatangi Sandara dengan sorot mata tajam. Sandara ketakutan karena Yudhi tak pernah bersikap demikian padanya.
PLAK!
Sandara tertegun. Napasnya tersengal. Wajahnya sampai berpaling dengan rambut indah menutupi tamparan di pipinya.
"Aku yang membuatmu kembali cantik dengan mengorbankan Sohee. Ini balas budimu padaku?" tanya Yudhi menatapnya dengan wajah dingin usai menampar gadis cantik itu.
"Aku yang meminta Sohee pada Atid, bukan kau. Atid dan timnya yang mengoperasiku, bukan kau. Apa kau tak ingat, kau pergi meninggalkanku demi mensukseskan dendammu? Aku yang mendatangimu, aku yang menyelamatkanmu saat di Ceko. Inikah balas budimu padaku?" balas Sandara dengan tatapan tajam.
Napas Yudhi memburu. Pemuda itu terlihat begitu marah. Ia terus berteriak melampiaskan amarahnya seraya melepaskan semua atribut yang menutupi sosok aslinya. Sandara mulai tenang, meski ia tak bisa bergerak banyak.
Sandara melihat Yudhi telah menanggalkan kostumnya dan membuat barang-barang itu berserakan di lantai.
Kapal terus berlayar mengarungi lautan entah menuju ke mana dengan Yudhi, Sandara dan para wanita berkerudung yang kini menjadi pasukannya.
__ADS_1
Namun kembali, Sandara panik ketika Yudhi mendatanginya dan melepaskan kedua sepatunya dengan paksa.
"Aaaa! Yudhi lepaskan!" teriak Sandara memberontak dan terus berteriak karena kedua tangannya terbelenggu dan hanya kedua kakinya saja yang dibebaskan.
Pemuda itu melemparkan sepasang sepatu cantik tersebut keluar jendela hingga dua benda yang dipasangi pelacak itu tercebur ke lautan.
"Kau gila! Apa yang kaulakukan?! Kau menyakiti kak Afro!" teriak Sandara marah hingga matanya melotot.
"Afro lagi, Afro lagi! Sudah kubilang aku tak menyukainya, dan kau malah akan menikah dengannya! Kau berjanji hidup denganku! Tapi yang kudengar tidak demikian. Vesper merestui hubunganmu dengan Afro. Ia tak melihat perjuangan dan penderitaanku! Ibumu sudah mencuci otakmu!" teriak Yudhi marah hingga matanya melotot menatap gadis yang ia sekap di kamar.
"Oh, sekarang aku paham. Ucapan ibuku terbukti. Aku bisa melihatnya dengan jelas apa yang ia katakan tentang dirimu. Ibuku benar. Kau, pendendam," ucap Sandara tegas menatap Yudhi tajam.
Napas Yudhi memburu. Tiba-tiba saja, ia naik ke atas ranjang dan menaiki tubuh Sandara. Gadis cantik itu panik saat Yudhi memegang kepalanya erat dengan kedua tangannya lalu mencium bibirnya paksa.
Sandara memberontak dengan keras dan sengaja menggulingkan tubuhnya ke samping kanan dan kiri dengan kuat agar tubuh Yudhi terlepas darinya. Ia tak menyukai perlakuan kasar Yudhi yang memaksanya seperti sebuah pemerkosaan.
"Arghh!" erang Yudhi saat bibirnya digigit Sandara hingga berdarah.
Yudhi memegangi bibirnya yang terluka seraya menatap Sandara tajam, tapi perlahan seringainya muncul.
"Menikah, memiliki anak, keluar dari dunia mafia, lalu hidup bahagia. Begitukan yang dikatakan oleh ibumu Vesper?" tanya Yudhi menatap Sandara tajam.
"Aku akan wujudkan harapanmu sebelum Vesper mencuci otakmu. Bukankah ... kau tak ingin menikah, tapi bersedia mengandung anak dari pria yang mencintaimu. Benar begitu 'kan? Baiklah jika begitu. Kau harus mengandung dan melahirkan anakku!" teriak Yudhi lantang yang praktis, membuat mata Sandara melebar seketika.
Yudhi seperti kehilangan kewarasannya. Ia merobek baju Sandara yang diberikan oleh ibunya.
Yudhi melemparkannya begitu saja ke lantai dan mengabaikan teriakan Sandara yang terus memberontak mencoba melepaskan diri, tapi usahanya sia-sia. Pergelangan tangannya sampai lecet karena berusaha keras melepaskan belenggu itu.
Dengan sigap, Yudhi sudah tak berpakaian begitupula Sandara. Gadis cantik itu menangis saat Yudhi menyetubuhinya dengan paksa.
Yudhi mengabaikan perasaan Sandara yang begitu sakit hati dan terluka akan perlakuan buruk pria yang pernah berjasa dengan hidupnya.
Yudhi yang diliputi oleh dendam, sakit hati, dan kekecewaan karena gadis yang dicintainya mencintai pria lain, membuatnya hilang arah.
Yudhi membungkam mulut Sandara dengan celana dalamm yang dipakai gadis cantik itu dan membuat teriakan puteri dari Vesper tak terdengar.
Yudhi terus menyodokkan miliknya kuat dan mengerang penuh gairah terlihat begitu puas dengan aksinya. Sandara semakin menangis sedih. Tak ada kenikmatan yang ia rasakan.
Pilu dan sakit hati datang menyelimuti hatinya. Rasa sakit juga dirasakan di bagian intiimnya karena Yudhi melakukannya dengan paksa di mana Sandara tak siap dengan ajakan bercinta yang lebih mirip dengan pemerkosaan.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Yudhi menggelontorkan seluruh benih itu di rahim Sandara. Gadis itu tak bisa berbuat apapun, ia hanya bisa menangis sedih dengan tubuh lunglai dan sakit karena perlakuan kasar Yudhi saat menyetubuhinya.
"Hah ... kau seharusnya merasa beruntung, Sandara, karena kau menikmati keperjakaanku. Jadi ... tolong simpan benihku dengan baik. Aku akan sering berkunjung hingga dipastikan kau hamil anakku," ucap Yudhi tersenyum lebar dengan peluh membasahi tubuhnya karena terlalu bersemangat.
Yudhi melihat wajah gadis yang disukainya sudah tergenang oleh air mata kesedihan, tapi mengabaikannya.
Yudhi menutup tubuh Sandara dengan selimut lalu mengambil sumpalan kain di mulutnya. Pada akhirnya, suara isak tangis pilu menyayat hati itu terdengar.
Yudhi menatap Sandara sendu, tapi ia segera berpaling seraya berpakaian. Baju Sandara yang telah rusak ia buang ke lautan. Yudhi pergi begitu saja meninggalkan kamar yang ditempati Sandara dan menguncinya dari luar.
"Hiks, kak Afro ...," tangisnya sedih dan tak bisa berbuat apapun karena tangannya terikat kuat di besi tempat tidur.
Perlakuan kasar Yudhi saat mengajaknya bercinta sangat berbeda jauh dengan yang Afro lakukan.
Sandara yang awalnya merasa perbuatan Afro kasar baginya saat memaksakan miliknya agar bisa masuk ke dalam, ternyata tak sebanding dengan yang Yudhi lakukan di mana ia juga malah menabur benih di dalamnya.
Sandara tak bisa menghentikan isak tangisnya. Ia tak ingin mengandung anak dari Yudhi, pria yang tak dicintainya.
Namun, gadis itu juga tak tahu bagaimana caranya agar benih itu tak berkembang menjadi janin dan lama-kelamaan menjadi seorang bayi hingga ia harus melahirkan lalu merawatnya.
"Aku bersumpah! Jika sampai aku hamil, akan kubunuh anak ini begitu lahir. Aku tak sudi menyebutnya anakku," ucap Sandara dengan kebencian mulai menyelimuti hatinya.
Para biarawati yang mendengar perbuatan bejat Yudhi hanya bisa terdiam dan berpura-pura tak mengetahuinya. Yudhi memasang wajah bengis saat ia menuju ke dapur untuk menikmati whiskey.
"Laporan," pinta Yudhi dan Valentina datang mendekat.
"Jajaran Vesper tak mengejar kita. Pemancar Fatamorgana portabel melindungi kita. Seharunya, besok kita tiba," jawab Valentina yang berdiri di belakang Yudhi yang memunggunginya.
"Good. Pastikan penjemputan aman. Orang-orang Vesper cerdik. Jangan sampai mereka membawa Sandara sampai kupastikan muatan telah terisi," jawab Yudhi menoleh sekilas lalu melanjutkan minum.
"Aku mengerti," jawab Valentina pelan lalu pergi meninggalkan Yudhi yang masih betah berlama-lama di ruangan tersebut.
Yudhi termenung dengan gelas whiskey dalam genggaman tangan kanannya. Pandangannya sendu menatap botol minumannya seperti memikirkan sesuatu.
Namun, ia kembali minum di meja bar tanpa seorang pun menemaninya di hari yang mulai gelap.
***
makasih tipsnya😍 happy weekend❤️ bantu boom like, subscribe novel monster hunter ya karena sudah mau masuk penilaian nih. tengkiyuw 💋
__ADS_1