
Bulan sudah memasuki Februari dan keadaan para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads masih diambang suasana mencekam karena serangan terus terjadi.
Aksi saling tuduh dan tuding, membuat keretakan di dalam jajaran dan hal itu, disadari oleh Vesper, Kai dan Han saat ketiganya berkumpul di ruang kerja Kastil Borka, Rusia.
"Aku tak pernah merasakan kecemasan sampai membuat tanganku gemetaran Kak Han, Kai. Kali ini sungguh, firasatku mengatakan hal buruk akan terjadi, tapi aku tak tahu apa itu," ucap Vesper terlihat pucat usai pulang dari liburannya bersama Han dengan kapal pesiar.
"Katakan apa yang harus kami lakukan untuk memperbaikinya, Sayang. Jangan kau hadapi ini sendirian. Ingat kesehatanmu," ucap Han menatap sang isteri tajam yang menundukkan pandangan.
"Dan sebaiknya, kau tetap di rumah saja, jangan pergi-pergi lagi. Aku khawatir ada yang mengincarmu entah militer atau The Circle. Situasi kita sedang tidak bagus, Sayang. Ditambah, Jonathan menghilang dan belum ditemukan sampai sekarang. Banyak dugaan muncul, dan ... orang-orang mulai saling menyalahkan serta mencurigai," tegas Kai dan Vesper mengangguk membenarkan.
"Aku tahu, aku tahu," jawab Vesper masih menundukkan wajah.
Han dan Kai saling melirik. Wajah mereka terlihat begitu serius saat melihat isteri mereka tampak lain ketika menyikapi suatu keadaan di mana ekspresi itu tak pernah ditunjukkan sebelumnya.
Tiba-tiba, Vesper memukul dadanya dengan kepalan tangan kanan dan mata berlinang. Han dan Kai mengerutkan kening menatap wanita cantik di depannya tajam.
"Kalian pernah merasakan sebuah perasaan seperti ... kehilangan yang teramat sangat? Tidak bisa menangis, tapi air mata itu menetes. Perasaan itu membuat tidurku tak nyenyak. Napasku serasa tercekik padahal aku berada di ruangan luas. Sebuah rasa yang membuat tubuhku seperti tak bertulang, jiwaku seakan pergi dan ... hanya keterpurukan yang kurasakan." Han dan Kai terlihat cemas melihat isteri mereka seperti orang ketakutan. "Perasaan ini melebihi saat aku kehilangan orang-orang yang kusayangi, Kak Han, Kai ... aku ... takut, tapi ... aku tak tahu apa yang kutakutkan," ucapnya sedih.
Han dan Kai bergegas mendekati Vesper. Han bisa merasakan tangan Vesper yang bergetar dengan sendirinya saat menggenggamnya. Kai mengelus punggung Vesper lembut mencoba menenangkan kegundahan hati isterinya.
"Kau akan baik-baik saja. Semua hal buruk sudah kau rasakan. Apa yang bisa lebih buruk dari itu semua? Kematian? Jangan lupa, kita sudah berjanji sehidup semati. Kau mati, aku akan ikut denganmu. Aku tak mau ditinggal dengan keparatt tengik di sampingmu itu," ucap Han melirik Kai tajam.
"Jangan lupa, Pak tua. Aku juga ada di sana saat pernikahan itu. Kau pikir aku mau tinggal bersamamu? Tidak. Aku juga akan ikut. Tak ada lagi yang kuinginkan di dunia ini selain bersama Nonaku," ucap Kai merebahkan kepalanya di bahu sang isteri dengan senyum terkembang.
Vesper menggenggam kedua tangan suaminya erat dengan mata berlinang. "Terima kasih," ucapnya dengan senyum terkembang.
Han balas tersenyum dan mencium bibir Vesper lembut. Kai membiarkan keduanya dan tetap memeluk Vesper dari samping.
Di tempat Sun berada, Austria.
Mobil yang menculik Sun berhasil memasuki perbatasan dan kini berada di Austria.
Namun ternyata, para penculik itu telah bersiap. Mobil itu berhenti di pinggir jalan dan memaksa Sun untuk keluar dari mobil. Mereka berjalan memasuki hutan. Kepala Sun di tutup kain dan mulutnya disumpal.
Sun berusaha memberontak, tapi tiap usaha untuk melakukan perlawanan, ia mendapatkan pukulan di tubuhnya. Hal itu, membuat fisik putera dari Agent M tersebut lama-lama melemah.
BRUK!
"Ergh," erang Sun dengan suara tertahan saat tubuhnya di dorong dan kini jatuh di atas tumpukan salju.
Tak lama, terdengar suara deru mesin mobil. Sun ditarik dan dimasukkan paksa ke dalam mobil tersebut. Saat mobil melaju kencang menuju ke perbukitan, tiba-tiba saja, CIITTT!!!
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya seorang pria yang duduk mengapit Sun.
"Ada seorang gadis di depan dengan membawa papan bertuliskan 'Help'. Haruskah?" tanya sopir yang menghentikan laju kendaraan karena muncul seorang gadis mengenakan jaket tebal berwarna putih, meski wajahnya tertutup masker.
"Kau iba, ha? Lupakan! Tabrak saja dia! Kita harus segera pergi dari sini. Cepat!" perintah pria yang duduk di samping Sun. Sopir itu mengangguk dan BROOM!!
Gadis berambut panjang itu langsung berlari ke samping untuk menghindar saat mobil yang membawa Sun melintas melewatinya dengan kecepatan penuh hingga sosoknya terlihat semakin mengecil.
"Bagaimana?"
"Ya, benar. Itu orang-orang The Circle," jawab seorang pria dari sambungan radio.
"Ikuti, jangan sampai kehilangan jejak. Aku melihat di bangku dudukan tengah jika mereka memiliki sandera, tapi aku tak tahu siapa. Aku penasaran," ucap gadis itu lalu berjalan memasuki hutan dengan papan yang ia bawa.
"Oke. Tim A berangkat," jawab pria dari sambungan radio.
Gadis itu terus melangkah hingga bertemu sebuah tanah lapang. Terlihat, sebuah helikopter berwarna putih terparkir di sana menyerupai salju di sekitarnya.
Pintu helikopter terbuka dan terlihat Yudhi memberikan tangannya. Gadis itu meraihnya dan segera masuk.
"Tak usah ikut terlibat, Sayang. Kau tunggu saja di kediaman Kolektor. Biar kami yang mengurusnya. Oke?" ucap Yudhi dengan senyuman. Gadis yang disinyalir adalah Sandara mengangguk pelan.
Akhirnya, helikopter tersebut mulai menyalakan mesinnya. Baling-baling besar itu menghempaskan salju-salju di sekitarnya dan perlahan melayang lalu terbang meninggalkan lokasi.
"Rumah siapa itu?" tanya Sandara kepada seorang wanita berkerudung putih yang duduk di seberang Yudhi.
"Entahlah, aku baru melihatnya. Kenapa?" tanya wanita itu menatap Sandara lekat.
"Mencolok sekali," jawabnya menyipitkan mata.
"Tandai?" tanya Yudhi dan Sandara mengangguk.
Yudhi segera menghubungi Tim B untuk mendatangi kediaman tersebut, tapi ternyata mobil yang mereka kejar mendekati wilayah rumah kaca itu.
Sandara diam sejenak saat mendengar laporan dari dua timnya yang bergerak usai salah satu anggota pasukan berkerudung mendapatkan informasi dari pengintaiannya di pos darurat milik Kai jika Black Armys miliknya mencari mobil dengan tanda bekas peluru di bagian belakang.
"Sayang. Aku ingin ikut serta, aku penasaran. Jika sampai ayahku terlibat, pasti ini ada sangkut pautnya dengan jajaran ibuku. Boleh ya," pinta Sandara memelas memegang tangan Yudhi.
Pemuda itu menghembuskan napas seraya memalingkan wajah. Ia tak menjawab hanya mengangguk. Sandara terlihat senang dan terus menggenggam tangan Yudhi erat.
"Daratkan di sisi Utara berseberangan dengan tim kita. Aku yakin, mereka akan masuk dari sisi Selatan," ucap Yudhi menunjuk dan wanita berkerudung mengangguk.
Wanita itu lalu melanjutkan perintah Yudhi kepada co-pilot dan pilot helikopter tersebut. Benar saja, mobil yang membawa Sun masuk ke sebuah wilayah yang ternyata dilindungi oleh Pemancar Fatamorgana.
Sayangnya, Sandara menyadarinya ketika helikopter mereka melintas dan melihat sinyal di ponselnya hilang.
__ADS_1
"Hem. Terbaca jelas. Pasti ini salah satu markas The Circle yang membelot," ucap Sandara saat keluar dari helikopter ketika berhasil mendarat.
"Hati-hati jebakan, Sayang. Jika ini ulah Miles atau saudara-saudaraku, pasti tak akan mudah untuk masuk ke sana," ucap Yudhi serius.
Sandara, Yudhi dan wanita berkerudung terlihat serius saat memandangi jalanan yang tertutupi salju. Keraguan mulai muncul di hati mereka bertiga karena yakin jika ada perangkap yang menunggu.
"Buat kekacauan?" tanya Yudhi dan Sandara mengangguk. "Oke."
Yudhi kembali masuk ke dalam helikopter dan mengambil sebuah RPG dengan misil sudah tersedia.
Sandara melirik Yudhi yang mengambil posisi dengan salah satu kaki di tekuk untuk menyeimbangkan luncuran misilnya.
"Target?" tanya Yudhi menyipitkan mata.
"Aku suka rumah itu, unik, jangan hancurkan. Tumbangkan saja pohon besar di sisi kanan rumah itu, Sayang," perintah Sandara menunjuk.
"Oke," jawab Yudhi dengan wajah datar saat ia menggeser tubuhnya dan kini mengarahkan misil ke sisi yang Sandara inginkan.
Wanita berkerudung terlihat siap dengan pistol dalam genggaman. Ia mengarahkan moncong senjata api itu ke sisi sebelah kiri dari pergerakan apapun yang bisa melukai atau menewaskan mereka.
Sandara telah bersiap dengan pedang Persia dalam genggaman tangan kanannya. Fokusnya tertuju ke depan rumah kaca yang terlihat di kejauhan.
KLIK!
SWOOSHH!! BLUARRR!!
KRAAKKK! BRUKK!!
Yudhi tersenyum miring saat berhasil meledakkan kerumunan pepohonan dan membuat kebakaran di sisi kanan. Sebuah pohon tumbang di dekat rumah kaca itu.
Namun, dugaan pemuda itu benar. Sebuah CamGun tiba-tiba muncul di balik batang pohon yang ternyata sebuah kamuflase untuk menyembunyikan kamera bersenjata.
Mata Sandara menajam saat melihat silinder dari senjata itu mulai berputar, siap untuk menembak. Gerakan itu, tertangkap dalam jangkauan mata Sandara.
"Menghindar!" teriak Sandara lantang dan langsung menarik jaket Yudhi.
DODODODOOR!!
***
Maksih doanya. Udh feel better cuma masih 1-2 napasnya. Kwkwk. Terima kasih tipsnya lele padamu❤️
Pengiriman novel SIMULATION kloter 2 akan dilakukan hari ini ya. Semoga suka dengan karya lele dan ditunggu komennya untuk novel cetak. Rencana simulation akan lele tamatin akhir november dan desember lanjut Marcopolo. Semangat💪
__ADS_1