4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Buah Dari Kesabaran*


__ADS_3


Di Rumah Sakit.


Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, ternyata Tessa terkena penyakit tifus. Tessa sudah mengalami demam beberapa hari sebelumnya, tapi tak pernah ia sampaikan.


Tessa beralasan karena demamnya sering hilang, meski nanti timbul lagi. Arjuna diam mendengar kesaksian Tessa di mana ia tak pernah menyadari jika isterinya sakit.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Anda akan dirawat selama beberapa hari di sini sampai kondisi stabil," ucap Dokter menegaskan.


"Tapi saya harus kembali ke China, Dok. Tak bisakah saya menjalani rawat jalan?" tanyanya lesu.


"Maaf, Nona, tidak bisa. Hal itu akan memperburuk kondisi Anda. Jika terlambat ditangani, Anda akan mengalami komplikasi seperti peradangan, infeksi dan berakibat pendarahan dalam. Jangan remehkan penyakit ini, perlahan Anda bisa meninggal jika mengabaikannya," tegas Dokter menatap Tessa tajam.


Tessa akhirnya mengangguk mengerti. Sun pamit untuk mengurus administrasi. Dokter meninggalkan pasiennya untuk beristirahat. Arjuna menunggu di kamar.


"Kenapa tak bilang jika kau sakit?"


"Kau tak perlu di sini. Pulanglah ke China. Pekerjaan di perusahaan cukup banyak, tak mungkin Sun mengerjakannya sendiri. Aku sudah biasa sendiri. Aku akan pulang saat kondisiku sudah membaik," jawabnya dengan senyum tipis.


Arjuna diam menatap Tessa di kejauhan yang terlihat pucat.


"Oke, aku akan kembali ke China. Aku akan meminta anak buah ayah untuk menjagamu."


Tessa mengangguk pelan. Dua Biawak terlihat bingung karena Arjuna malah pergi meninggalkan isterinya sendirian di rumah sakit untuk mengurusi dirinya sendiri.


"Jun! Junet! Itu kok bojomu di tinggal gimana sih? Lagi sakit loh dia," tanya Biawak Hijau bingung.


"Kau tak dengar katanya? Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Kita pulang, aku lelah. Aku tak tidur semalaman," tegasnya seraya terus berjalan.


Dua Biawak saling memandang terlihat bingung dengan sikap dingin Arjuna kepada isterinya.


Sun yang kembali ke kamar perawatan hanya bisa menatap wanita malang itu dengan wajah sendu. Tessa kembali menangis, meski ia berusaha menutupi kesedihannya.


"Aku meminta maaf atas nama Tuan Mudaku, Nona Tessa," ucapnya dengan wajah tertunduk.


"Kau tak bersalah apapun, Sun. Tolong, bantu Arjuna selama aku tak ada. Dia pasti kerepotan mengurus perusahaan. Aku minta maaf karena sampai jatuh sakit. Aku ... tak bisa menjaga diri dengan baik," jawabnya lesu.


Sun menghembuskan nafas panjang terlihat tertekan akan hal ini. Sun masih menunggu di rumah sakit sampai akhirnya Black Armys yang dikirimkan oleh Han datang beserta Sakura yang ikut dengannya.


"Maaf merepotkanmu, Nona Sakura," ucap Tessa tak enak hati.


"Sungguh. Bagaimana bisa kau bertahan dengan segala keburukan Arjuna, Tessa?" tanya Sakura tak habis pikir.


Tessa tersenyum. "Menurut dokter, aku akan dirawat kurang lebih satu minggu. Maaf, jika aku akan merepotkanmu selama berada di sini," jawabnya mengalihkan pertanyaan.


Sun dan Sakura saling berpandangan. Mereka akhirnya memilih diam tak membicarakan tentang Arjuna lagi demi kesehatan mantan pemimpin No Face tersebut.


Arjuna akhirnya kembali ke China tanpa sang isteri. Dan benar saja, selama Tessa tak ada, Arjuna dibuat kerepotan dengan semua penjadwalan dan urusan kantor yang tak kunjung usai.


Sun kewalahan, padahal Biawak Hijau dan Putih ikut membantu. Para manager ikut terkena imbas dari amukan Arjuna karena pekerjaan mereka yang tak sesuai dengan harapan client.


"Baru tiga hari udah kaya di neraka. Gak capek apa ya si Junet ngomel-ngomel terus. Bisa budek ini kuping Ijo," keluh Biawak Hijau yang menggantikan pekerjaan Tessa dibantu Putih karena Han melarang Tessa ikut serta selama masa penyembuhan.


"Sun, kamu kenapa cah bagus?" tanya Putih yang kini memakai setelan layaknya pegawai kantoran karena tuntutan pekerjaan di mana penampilan rapi diutamakan.


"Aku sepertinya akan sakit juga, Paman," jawabnya seraya memijat kepala dengan meja sudah penuh dengan setumpuk berkas.


"Jangan dong! Kalau kamu sakit, kita juga mau ikutan!" saru Putih langsung panik begitupula Hijau.


Sun hanya bisa tersenyum, tapi wajahnya memang mengatakan demikian. Dua Biawak yang tak ingin Sun jatuh sakit segera melakukan tindakan. Ia menelepon agen M dan berbohong dengan mengatakan Sun sakit parah.

__ADS_1


Tentu saja, sang ayah panik dan segera datang ke Hong Kong untuk menemui puteranya. Namun yang terjadi, malah membuat kondisi perusahaan makin kacau balau. Arjuna, kini mendapat amukan dari mantan Agent Colombia tersebut.


"Anakku sampai sakit! Tidak bisa, Sun harus pulang! Kau carilah pengganti sampai anakku kembali sehat. Dasar Bos egois!" seru Agent M kesal di hadapan Arjuna.


Sun yang sudah pucat dan seperti orang teler itu tak bisa menolong apapun. Ia pasrah dengan apa yang terjadi. Agent M memapah Sun keluar dari ruang kerja dan membawanya pergi dari perusahaan tempatnya bekerja.


"Agh! Kenapa jadi ribet kaya gini sih? Sun sakit apa?" tanya Arjuna kesal bertolak pinggang.


"Gak tau, Bos, tapi dia kayaknya beneran udah sekarat loh. Dia muntah-muntah, tapi cuma keluar lendir gitu. Apa jangan-jangan ... asam lambung? Mag? Tunkak lambung? Waduh?" jawab Hijau panik.


Arjuna mengusap wajahnya terlihat stress dengan beban pekerjaan yang dialaminya. Namun, tak ada yang bisa ia perbuat. Arjuna menarik nafas dalam dan membuang dasinya. Ia mendekati meja Sun dan duduk di sana seperti menggantikan pekerjaannya.


"Bos?" tanya Putih heran.


"Cepet selesein. Kalian berdua jangan sampai sakit. Jika ya, Juna gak segan buat kubur kalian hidup-hidup," tegasnya menunjuk.


"Buset! Kita gak boleh sakit, Kang!" sahut Hijau melotot. Biawak Putih hanya bisa menelan ludah. Mau tidak mau, dua Biawak menjaga kesehatan sampai Sun dan Tessa kembali.


Ternyata, beban pekerjaan yang harus Arjuna terima karena menggantikan posisi Sun dan juga dirinya sendiri, membuat putera tunggal Han mengalami penurunan kesehatan.


Arjuna kerja lembur setiap hari karena banyaknya proyek yang harus diselesaikan saat akhir tahun, yang mana tinggal satu bulan lagi.


Arjuna tak pulang ke rumah dan memilih tidur di kantor bersama dua Biawak karena banyak laporan pekerja di lapangan yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan proyek akibat keterlambatan pengiriman barang untuk menyelesaikan dekorasi interior, perabotan yang tak sesuai dengan spesifikasi pemesanan, dan kendala lainnya yang membuat kepala pemuda itu seakan meledak.


Hari itu, dua Biawak keluar untuk mengecek kondisi di lapangan karena manager yang bertugas jatuh sakit. Arjuna tetap bertahan di kantor untuk menyelesaikan target agar sesuai jadwal.


Pemuda itu kelelahan dan tertidur di kursi kerja ruangannya ditemani tumpukan berkas di sekitarnya.


CEKLEK!


"Hem, sudah kuduga. Baiklah, tolong rapikan dan berikan berkas itu di mejaku," perintah seorang wanita yang memakai jas tebal karena udara dingin bulan Desember telah memasuki China.


"Yes, Mam!" jawab para pria yang ikut bersamanya mantap.


Wanita yang menggulung rambutnya ke atas dengan sarung tangan tetap ia kenakan agar selalu hangat meski ruangan tersebut telah difasilitasi penghangat ruangan, mulai mengerjakan tugasnya.


CEKLEK!


"Eh!" kejut Biawak Putih dan Hijau saat mendapati Tessa telah kembali bersama Sun di ruangan tersebut.


Dua orang itu menyambutnya dengan senyum terkembang, tapi dua Biawak malah terlihat seperti akan menangis.


"Kalian kenapa?" tanya Sun heran.


"Kalian kembali, syukurlah," ucapnya malah bersujud syukur di lantai.


Tessa dan Sun saling berpandangan. Dua orang itu terlihat bingung karena tak mengerti penderitaan dua petarung di depannya yang kini harus menjadi karyawan kantoran.


"Hai, apa kabar?" sapa Jose yang diikuti oleh Miguel, Simon dan Max di belakangnya.


"Kalian ikut ke sini juga?" tanya Biawak Putih kembali berdiri lalu menyalami para pria itu.


"Ya. Kami mendengar dari Nona Tessa jika Sea, mm ... Kim Arjuna butuh bantuan, jadi ... kami kemari," sahut Miguel.


"Paman Samuel, dan lainnya minta maaf tak bisa ikut karena harus menunggu kediaman Andreas Balconi yang kini menjadi salah satu markas Bala Kurawa Kim Arjuna. Penjualan senjata milik Vesper Industries ramai di datangi oleh para mafia yang berada di sekitar Honduras karena mereka tak perlu lagi menunggu kiriman dari Rusia yang memakan waktu lama," sahut Simon.


"Ya. Meski demikian, kalian tak perlu khawatir. Tempat itu aman dan tak tercium oleh polisi setempat. Kami masih menggunakan nama Andreas Balconi dan tak membawa nama Kim Arjuna serta jajaran Vesper selama berdagang," sambung Max.


"Aku ucapkan terima kasih pada kalian semua yang telah bekerja keras menggantikan tugas berat ini. Karena sudah malam, pulanglah. Aku sudah memesan tempat untuk makan malam. Pergilah, aku akan menyusul bersama Arjuna nanti," ucap Tessa dengan senyum terkembang.


"Wah! Bu Bos baik banget. Tau aja, Ijo sampai langsing loh gegara bantuin bos Junet. Kita akhirnya makan enak, Kang! Gak makan kertas lagi!" seru Biawak Hijau gembira dan keduanya berpelukan. Tessa dan lainnya terkekeh. Orang-orang itu pergi ditemani oleh Sun.


Sepeninggalan mereka, Tessa masih terlihat fokus dengan pekerjaannya. Ia membiarkan Arjuna yang terlihat lelah dengan pekerjaannya untuk beristirahat lebih lama. Tessa menyenderkan punggungnya sejenak yang terasa pegal dengan mata terpejam.

__ADS_1


CEKLEK!


Arjuna keluar dari ruangannya yang telah bersih. Berkas-berkas yang berserakan di lantai telah lenyap dan masuk di dalam map file yang telah disusun rapi.


CUP!


Tessa langsung membuka matanya. Ia terkejut melihat Arjuna tersenyum padanya. Tatonya terlihat karena kancing kemejanya terbuka. Sang suami terlihat tetap tampan meski berantakan.


"Kau ... sudah sehat?" tanyanya berwajah sendu. Tessa mengangguk dengan gugup. "Aku lelah dan ingin pulang."


"Oh," jawab Tessa dengan pandangan tertunduk.


"Ayo. Aku tak mungkin meninggalkan isteriku di sini untuk terus bekerja."


Praktis, ucapan Arjuna membuat Tessa menaikkan pandangan. Ia menatap Arjuna yang kembali berdiri tegak seraya merapikan pakaiannya agar tatonya yang mencolok tak terlihat. Ia memakai sarung tangan dan syal menutup tato di lehernya.


"Ayo," ajaknya lagi memberikan lengan.


Tessa tersenyum dan mengangguk. Ia merangkul lengan Arjuna.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang," ucap Tessa memeluk tubuh Arjuna dari samping dengan erat.


Arjuna tak menjawab, tapi ia membalas pelukan Tessa dengan mengelus punggung sang isteri lembut.


Arjuna membawa Tessa kembali ke rumah. Tessa mengirimkan pesan bahwa dia tak ikut makan malam karena ingin segera pulang dan semua orang memakluminya.


"Aku lapar," keluh Arjuna.


"Aku tak begitu pandai memasak, tapi ... akan kubuatkan sesuatu," jawab Tessa seraya pergi ke dapur.


Arjuna mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tessa terlihat sibuk di dapur bahkan tak dibantu oleh pelayan karena malam sudah larut dan petugas dapur sudah terlelap.



Arjuna terkejut saat mendapati makan malamnya telah tiba di kamar. Tessa menyajikan dengan wine berbeda rasa di meja samping perapian. Arjuna yang hanya melilitkan handuk di pinggulnya langsung mendatangi aroma lezat itu.


"Maaf. Aku ... hanya bisa membuat ini. Aku mempelajarinya dari Sakura. Semoga, kau suka," ucap Tessa gugup seraya meletakkan sendok, garpu dan pisau di samping piring nasi goreng Arjuna.


"Kau ... belajar memasak selama di Amerika? Pantas saja kau baru pulang," sahut Arjuna seraya duduk.


"Maaf, hanya saja, Sakura menahanku. Kau pasti kerepotan mengurus perusahaan tanpa aku dan Sun," jawab Tessa berdiri di samping meja dengan sendok dan garpu dalam genggaman.


"Duduklah. Kita makan bersama," ajak Arjuna ramah, dan Tessa terkejut karenanya. Ia mengangguk dan terlihat canggung karena suaminya bersikap lembut tak dingin seperti cuaca di luar. "Wow, ini enak, sungguh," ucapnya memuji dan memakan dengan lahap.


Senyum Tessa merekah, ia ikut menyuapi mulutnya yang lapar dengan masakan buatannya.


Arjuna menatap Tessa seksama yang duduk di depannya terlihat seperti takut padanya karena tak berani membalas tatapannya.


Tessa memilih untuk mengalihkan pandangan, meneguk wine, atau kembali makan, tapi hal kikuk itu malah membuat Arjuna makin menatapnya dalam.


"Apa kau membenciku?" tanyanya tiba-tiba. Tessa terkejut dan menatap Arjuna sekilas. Ia menggeleng.


"Aku terlalu mencintaimu untuk membencimu, Kim Arjuna. Aku ... tahu konsekuensiku. Sudah, jangan dipikirkan. Aku ... akan menjaga kesehatanku. Semoga, aku tak sakit lagi," jawabnya dengan pandangan tertunduk dan kembali makan.


Tiba-tiba saja, Arjuna mengulurkan tangannya dan meraih dagu Tessa. Wanita cantik itu terkejut dan menatap Arjuna lekat.


"Aku minta maaf. Maukah kau memaafkanku?" Tessa berlinang air mata dengan anggukan pelan. Arjuna tersenyum tipis. "Kita perbaiki hubungan kita, tapi ... jangan berharap terlalu banyak. Setidaknya, aku akan sedikit berusaha," ucapnya yang praktis, membuat Tessa malah meneteskan air mata.


"Aku hargai usahamu, Kim Arjuna," jawab Tessa dengan senyum terkembang.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : INSTAGRAM


Maap, jarinya gak bisa direm😆 Tapi bsk lele yakin gak khilaf kok. Ditunggu tipsnya😘


__ADS_2