
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
---------- back to Story :
Italia, Kediaman Venelope.
Mereka bicara dalam bahasa Italia.
"Jadi, kalian kini sungguh mengabdi pada Jonathan? Pemuda yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin The Circle atas temuan peninggalan Lucifer Flame, begitu?" tanya seorang lelaki yang suaranya disamarkan dari topeng seperti paruh burung gagak.
"Ya, termasuk semua orang," tegas Clack dengan tangan dan kaki sudah terborgol pada dinding beton.
"Aku tidak. Aku dan jajaranku tak mengakuinya. Dia bukan keturunan Flame," tegas Venelope yang berada dalam satu ruangan dengan Clack dan lainnya.
"Hem, asesorismu bagus," ucap lelaki berambut putih panjang yang dikenal bernama Mr. White, menghampiri Click dan mata tertuju pada gelang pemenggal di kaki salah satu bodyguard Jonathan tersebut.
"Singkirkan tangan hinamu dariku, Mr. White," geram Click.
BUAKK!!
"Ugh!"
Mata Clack dan Tessa melebar saat melihat Click di pukul kuat dengan kepalan tangan kanan oleh Mr. White tepat di salah satu pipinya hingga wajah lelaki gundul itu berpaling.
"Lepaskan borgolku dan akan kita lihat, siapa yang akan babak belur di sini," sambung Click yang wajahnya kembali ke hadapan Mr. White.
BUAKK!!
"Agg!"
"Kenapa aku harus melepaskanmu? Kenapa aku harus adu tanding denganmu? Kau pikir ... kau bisa menyentuhku, Anak buangan? Jika tak ada kami, kau sudah mati dalam kardus. Tak ada yang menginginkanmu selain kami. Selama ini, kami yang telah mendidik dan membesarkanmu. Inikah balasanmu pada kami? Dengan berkhianat?" tanya Mr. Whie mendekatkan wajahnya ke hadapan Click.
"Kau lupa dengan ikrar kita? "Meragukan kekuasaan Lucifer Flame sama dengan Pengkhianat." Jonathan, dia sah! Bahkan Yes yang selama ini mencari keberadaan peninggalan itu tak menemukannya. Takdir membawa Jonathan kepada peninggalan Lucifer Flame," tegas Clack.
Mr. White, Venelope dan pria berkostum gagak terkekeh. Tessa diam saja. Ia duduk di sebuah sofa sembari memegang cangkir berisi teh yang belum ia minum sedari tadi. Terlihat wajahnya tegang dan tertekan.
"Jonathan pasti akan datang kemari dan aku tak sabar untuk membunuhnya. Yang kita butuhkan hanya cap simbol di tangannya 'kan? Itu mudah. Akan kupotong dan kujahit bekas luka itu di tanganku, lalu? Tada! Aku akan menjadi pemimpin The Circle," jawab Mr. White diakhiri tawa kemenangan.
Venelope tersenyum lebar menunjukkan ibu jarinya. Tessa diam tak menjawab, ia terlihat seperti tak memihak.
"Dan ... Arjuna. Hem, akan kita apakan dia?" tanya Venelope melirik Tessa yang seketika melebarkan matanya karena nama lelaki yang dicintainya disebut.
"Bunuh saja. Bunuh semua penghalang," tegas Mr. White sembari menuang whiskey ke sebuah gelas crystal.
"Tidak! Kalian sudah berjanji padaku tak akan mengusik Kim Arjuna," tegas Tessa menatap Mr. White dan Venelope tajam.
"Kau sungguh mencintainya? Hahahaha! Oh, Tessa malang. Dia tak pernah mencintaimu," kekeh Mr. White.
"Jika tidak, akan kubuat dia mencintaiku," tegas Tessa.
__ADS_1
Venelope dan Mr. White saling melirik dengan senyum sinis, tapi lebih seperti mengejek. Nafas Tessa menderu, ia berusaha menahan amarahnya.
Tiba-tiba, TOK! TOK! TOK!
CEKLEK!
"Ada apa?" tanya Venelope menyipitkan mata saat salah satu anak buahnya membukakan pintu untuknya.
"Para Pion di sini," jawab Smiley di balik pintu.
Sontak, semua orang terkejut seketika. Lelaki bertopeng gagak langsung meninggalkan tempat melewati palka rahasia yang berada di balik meja kerja Venelope.
Tessa langsung meletakkan cangkir tehnya. Ia terlihat gugup ketika para Pion mulai masuk ke ruangan ditambah munculnya Tobias di belakang mereka dengan senyum liciknya.
"Ohohoho! Ramai sekali. Wah, kalian mengadakan pertemuan dan tak mengajakku? Lancang, sungguh lancang," ucap Tobias membuka sapaan sembari bertolak pinggang dan memutar tubuhnya melihat sekitar.
"Lama tak berjumpa, Tuan Tobias," ucap Mr. White sopan membungkukkan tubuhnya sedikit dan tangan kanan menyilang di depan dada.
"Rambutmu putih, tapi kau tak menua. Apa kau melakukan operasi plastik?" tanya Tobias berkesan menyindir.
Mr. White tak menjawab. Wajahnya masam seketika. Tessa menahan senyum. Entah kenapa, kedatangan Tobias membuatnya sedikit lega.
"Ada apa kau datang kemari, Tuan Toby?" tanya Venelope sopan.
"Berikan aku obat pelemah ingatan dalam jumlah banyak. Waktuku tak banyak. Cepat," tegas Tobias menunjuk Venelope yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Hem, baiklah. Mr. White, tolong," pinta Venelope.
Mr. White segera keluar ruangan untuk melakukan perintah wanita berambut pirang tersebut.
"Mana pion Dexter dan Damian? Kenapa mereka tak ikut kemari?" tanya Venelope sopan.
"Kenapa? Kau ingin meniduri mereka? Bersabarlah, akan kupanggil mereka ke sini begitu urusan kita selesai," jawab Tobias memalingkan wajah dan kini menatap Tessa di kejauhan.
Para pion terkekeh dan Venelope diam seketika. Ia terlihat seperti menahan marah karena dipermalukan.
Tak lama, Mr. White kembali membawa koper berwarna putih dan memperlihatkan isinya kepada Tobias.
"Wohoo! Banyak sekali! Hem, cukup untuk 2 tahun ke depan?" tanya Tobias terlihat begitu gembira.
Pion Daido mengambil koper itu dan menentengnya di salah satu tangan.
"Ingin kau berikan kepada siapa pil sebanyak itu, Tuan Tobias?" tanya Venelope sopan.
"Bukan urusanmu. Kenapa kau banyak bertanya akhir-akhir ini? Apa kau mulai mengintaiku, hem? Kau tahu akibatnya, Lope?" tanya Tobias dengan wajah tengilnya.
"Tidak. Hanya saja, pil itu sudah dikembangkan. Jika dikonsumsi dalam waktu yang terus menerus, pasienmu akan lupa ingatan. Yah, seperti di cuci otak. Hanya saja, penurunan fungsi tubuh juga akan terjadi," jawab Venelope pelan.
Tobias terlihat serius seketika. "Detail."
"Jika diberikan pada wanita hamil, ia bisa keguguran. Jika diberikan kepada penderita penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya, bisa mempercepat kematiannya. Efektif dan terlihat seperti ... kecelakaan alami karena faktor kesehatan. Tak perlu peluru dan senjata keji lainnya untuk membunuh. Itu pil pembunuh yang menggerogoti secara perlahan," imbuhnya dengan seringai iblis.
Tobias diam seketika, begitupula para Pion D.
__ADS_1
"Jadi ... ingin kau berikan pada siapa pil itu, Tuan Tobias?" tanya Venelope mulai mengintimidasi.
"Smiley."
Sontak, semua orang terkejut. Tobias menunjuk Smiley yang berdiri di sampingnya.
"Apa katamu barusan?!" pekik Smiley terlihat shock.
"Aku ingin memberikanmu pil tersebut. Namun, melihat dampaknya sangat buruk, aku urungkan niat. Kau layak hidup lebih lama, Smiley. Kau memang menyebalkan akhir-akhir ini, tapi ... aku memaafkanmu. Bagaimanapun, kau adalah guruku dan aku murid yang tahu balas budi. Jadi ... kau kuampuni untuk kali ini, tapi ... berhentilah mengusik Jonathan. Dia calon suami anak perempuanku, Sierra," tegas Tobias dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.
"Menikah? Sungguh?" tanya Tessa terkejut sampai berdiri dari kursinya.
"Ya, begitulah rencananya. Aku juga mengundang kalian datang ke rumahku natal nanti. Pastikan bawakan kado special untukku. Sampai tak datang dan lupa tak membawa kado, akan gorok leher kalian satu persatu dalam keadaan hidup," tunjuk Tobias ke semua orang yang berada di sana tak termasuk para pion.
Orang-orang itu tegang seketika.
"Tumben sekali kau merayakan natal, Tuan Tobias. Bukankah kau penganut tak percaya Tuhan seperti Vesper?" sindir Venelope dengan tangan kiri di depan dada.
SWING! JLEB!
"ARRGHHH!" rintih Venelope memegangi punggung tangan kirinya yang tertancap pisau.
"Aku paling benci gadis cerewet sepertimu, Venelope. Jika kau banyak bicara lagi, aku tak sungkan melemparkan kesembilan pisauku di tubuhmu. Kau bukan anakku, jadi aku tak segan membunuhmu. Ingat itu," tegas Tobias membuka jas hitam panjang dan menunjukkan pisau-pisaunya di balik kain panjang tersebut.
Venelope menahan sakit di tangannya dan mengangguk paham dengan wajah merah padam. Smiley dan lainnya tegang seketika.
"Hem, Tessa. Di mejamu itu ... apakah Bourbon?" tanya Tobias menunjuk botol minuman di meja samping Tessa duduk.
Tessa mengangguk cepat terlihat pucat.
"Hem. Bawakan semua yang masih tersegel. Aku ingin oleh-oleh dari rumah Venelope. Kau sungguh Tuan Rumah yang tak memanjakan tamu, Lope. Kau bahkan tak menawariku minum. Kau butuh pelajaran tata krama dariku. Sayangnya, aku sedang sibuk, kita lakukan lain kali," tegas Tobias menunjuknya dan Venelope diam dengan tubuh gemetaran memegangi tangannya yang berdarah hebat.
"Silakan," ucap Tessa gugup memberikan sebuah keranjang dari rotan berisi 3 botol Bourbone kepada pion Dakota.
Tobias pergi begitu saja meninggalkan kediaman Venelope di Italia bersama para D melindunginya.
Venelope berteriak penuh amarah setelah kepergian Tobias dari rumahnya.
"Hah, Tobias! Dia benar-benar sudah membuatku marah. Bertindak seenaknya. Lihat saja, akan kubalas dengan hal yang lebih menyakitkan," geram Venelope sembari mencabut pisau di punggung tangannya.
"Dengan senang hati akan kubantu, Saudari," sahut Mr. White dan Venelope tersenyum miring.
Smiley diam tertunduk. Tessa pamit kembali ke ruangannya begitupula Smiley. Luka tusukan di punggung tangan Venelope segera diobati oleh Mr. White penuh perhatian.
"Hem, Tobias. Dia memang harus diberikan pelajaran," ucap lelaki bertopeng gagak keluar dari persembunyiannya.
"Segera kerjakan. Ingat, buat seperti kecelakaan. Aku tak mau berurusan dengannya," jawab Venelope dengan nafas menderu terlihat menahan sakit di tangan kirinya.
"Anggap saja sudah kulakukan," jawabnya lalu pergi meninggalkan ruang kerja Venelope diikuti para anak buah di ruangan tersebut.
***
tengkiyuw tips koinnya. lele padamu💋💋MT eror gaes dan naskah lele baru naik pdhl udh setor dr jm6, ngetik dr jm3😑 sabar
__ADS_1