4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Kaki Robot Sierra


__ADS_3

Selama seminggu penuh, Jeremy memastikan kondisi fisik dan mental Sierra sudah sesuai dengan prosedur untuk melakukan uji coba kaki robot.


Semua orang yang ingin menyaksikan inovasi gabungan bidang sains dan medis terlihat gugup di ruangan khusus tempat mendiang Erik Benedict dulu mengaplikasikan kaki robotnya.


Sierra terlihat begitu siap. Semangatnya agar bisa berjalan dan bersanding dengan Jonathan, membuatnya tak terlihat cemas di hari penentuan itu.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Are you ready, Ms. Sierra?" tanya Jeremy menatap Sierra seksama.


Tubuh Sierra ditopang dengan alat yang menyangga kedua lengan di bawah ketiak dan pinggulnya, membuat gadis cantik itu seakan berdiri.


"Yes, I'm ready," jawabnya mantab.


Semua orang tersenyum. Mereka tak menyangka jika Sierra cukup tangguh selama proses pengobatan dan terapi. Kini penantiannya akan ditentukan hari ini.


Kai mendatangi Sierra dengan dua petugas divisi robotik ikut bersamanya. Dua orang itu memasangkan kaki robot di kedua kaki Sierra.


Semua orang yang melihat bentuk baru dari kaki robot itu terlihat kagum. Warna silver yang memukau terlihat begitu kokoh.


Kaki robot itu seperti sebuah sepatu boots setinggi atas lutut. Pada bagian tempurung lutut, terdapat besi pelapis di bagian luar yang melindungi karet di engsel agar bisa menekuk.


Sierra terlihat tegang saat melihat kakinya dipasangi dua benda berkilau itu. Tiba-tiba, Kai memberikan sepasang sarung tangan untuknya.


Sierra dengan gugup memberikan kedua tangannya dan Kai memasangkannya perlahan.


Semua orang makin fokus untuk melihat bagaimana teknis kerja kaki robot inovasi rancangan khusus untuk Sierra.


Gadis cantik bermata biru itu melihat ada banyak tombol di bagian sentuh kesepuluh jemarinya. Kai tersenyum.


"Oke. Akan aku jelaskan sedikit tentang teknis kerjanya. Kau siap, Sierra?" tanya Kai saat semua prosedur pemasangan telah selesai.


Sierra mengangguk cepat. Semua orang serius mendengarkan.


"Kulihat, kau cukup lincah ketika menggerakkan kesepuluh jemarimu. Aku setuju dengan Jeremy. Kau itu cerdas. Motorik dan sensormu bagus. Hanya kakimu saja yang lumpuh, sisanya ... kau seperti gadis normal. Seharusnya, kaki robot ini tak akan menyulitkanmu," ucap Kai dengan senyuman.


Sierra tersenyum lebar. Ia berterima kasih karena dipuji. Semua orang yang mulai mengenal sosok Sierra setuju dengan analisis Kai.


"Kau akan menggerakkan kaki robot ini dengan kesepuluh jarimu. Seperti orang yang memainkan video games. Teknis kerjanya pun sama. Kau ... seperti memakai sepatu roda," jelas Kai.


Semua orang mengangguk paham termasuk Sierra. Entah kenapa, jantung semua orang berdebar menunggu hasil dari inovasi itu.


"Sekarang, secara perlahan, coba kau tekan bersamaan, telunjuk dengan ibu jarimu. Anggaplah seperti kau mencubit pipi Jonathan," pinta Kai yang berdiri di samping Sierra.


Gadis cantik itu terkekeh begitupula yang lain. Jonathan malah tersipu malu seperti membayangkan pipinya dicubit sang kekasih.


Sierra menarik nafas dalam. Ia mengikuti instruksi dari Kai dengan ibu jari dan telunjuk kanan di tangan kanannya. Seketika ....


SITTT ....


Suara lirih mesin yang hampir tak terdengar, begitu halus, bergerak di kaki kanan Sierra di mana tubuhnya masih terangkat di atas lantai karena masih ditopang oleh mesin.


"Oh! Dia bergerak!" pekik Sierra terkejut karena kaki kanannya bergerak. Kai mengangguk pelan dengan senyuman.


"Gerakan seperti cubitan itu, untuk membuat kaki kananmu bergerak ke depan, seperti orang melangkah. Satu tangan, satu kaki. Jadi, jika kau ingin berjalan, kau harus melakukan cubitan itu bersamaan dengan tangan kirimu," terang Kai.


Sierra mengangguk paham. Otak kanan dan kirinya merespon dengan cepat instruksi dari Kai. Sierra terlihat sigap dan cekatan dalam mempraktekkan kaki robotnya.


"Refleknya bagus. Aku juga melihat jika Sierra lebih dewasa dari Jonathan baik dari sikap ataupun ucapan. Sierra sangat cocok menjadi pendamping Jonathan," guman Vesper menilai di kejauhan.


"Ya, saya setuju, Nyonya Vesper. Saya rasa, Sierra sama jeniusnya dengan Sandara," sahut Naomi menilai dan Vesper mengangguk pelan membenarkan.

__ADS_1


Orang-orang yang berdiri di samping Vesper diam menyimak. Sierra masih mempraktekkan gaya cubitan itu seperti ingin membiasakan antara pengendali di tangannya dengan kaki robotnya.


"Ayo, Yang! Coba jalan beneran!" teriak Jonathan semangat di kejauhan.


"Jangan terburu-buru. Aku belum tahu fungsi tombol lainnya. Sabar ya," jawab Sierra tenang dengan alat translator selalu terpasang di salah satu telinganya.


Jonathan memonyongkan bibir, semua orang ikut tersenyum lebar.


"Hem, Anda benar, Nyonya Vesper. Sierra terlihat berhati-hati dalam memutuskan suatu hal. Dia tak terburu-buru dan memikirkannya dengan matang. Tak seperti Jonathan yang sembrono dan kadang tak memikirkan dampak kedepannya. Eh, maaf," sahut Yohanes yang tanpa sadar malah membandingkan Sierra dengan anak ketiganya.


Vesper terkekeh. "Yang kau ucapkan benar, Yohan. Hem, aku rasa jika nanti Jonathan melakukan kecerobohan, Sierra bisa mengatasinya. Aku menaruh harapan besar pada gadis cantik itu," ucap Vesper terlihat bahagia.


Yohanes lega karena Vesper tak marah padanya. Semua orang makin penasaran dengan kemampuan Sierra mengendalikan kaki robotnya.


Cukup lama Kai memberikan berbagai instruksi penggunaan alat itu hingga akhirnya, Sierra yakin untuk mengujinya.


"Ayo, Yank, semangat! Kamu pasti bisa!" sorak Jonathan riang di kejauhan.


Sierra tersenyum dan mengangguk. Jeremy memerintahkan operator untuk menurunkan alat penopang tubuh agar kaki Sierra bisa memijak lantai.


Terlihat kali ini, Sierra tegang. Ia menarik nafas dalam dan melihat lantai di depannya yang terbentang luas.


Jonathan berdiri di kejauhan menghadap ke arah kekasihnya. Semua orang terdiam melihat Jonathan merentangkan tangan seakan siap menyambut kedatangan pujaan hatinya. Sierra tersipu malu.


"Teng teng tereng ... Teng teng tereng ... Teng teng tereng, teng teng teng teng, tereng tereng ...."


Senandung Jonathan menirukan musik di pelaminan. Sierra membungkam mulutnya. Ia terlihat begitu terharu karena Jonathan membayangkan mereka berada di altar pernikahan.


"Aku menunggu kedatangan calon pengantinku," ucap Jonathan dengan senyum terkembang.


Sierra menahan tangis harunya dan mengangguk. Ia melihat kesepuluh jemarinya yang terbungkus sarung dengan tombol kendali di baliknya. Sierra menarik nafas dalam.


"Jangan takut jatuh. Kami berdua akan menjagamu," ucap Kai dan diangguki oleh Jeremy di mana dua pria itu telah berdiri di samping kanan kirinya.


"Oke. Aku siap," ucap Sierra mantap yang kini menatap Jonathan tajam di kejauhan.


Jeremy memberikan instruksi agar penyangga di bawah ketiak dan pinggul Sierra dilepaskan.


Sierra terlihat kaget saat ia bisa berdiri meski tubuh bagian atasnya bergoyang. Semua orang terlihat cemas.


Kai dan Jeremy terlihat sigap untuk menangkap Sierra jika ia jatuh. Namun ternyata, Sierra bisa mengontrol tubuhnya hingga kembali berdiri tegap.


"Oh! Ya Tuhan! Ya Tuhan! Aku bisa berdiri!" teriak Sierra berlinang air mata. Rona kebahagiaan terpancar di wajahnya.


Semua orang bertepuk tangan. Sierra bahkan bisa memutar tubuhnya ke samping kanan dan kiri seperti melakukan senam.


Sierra bahkan membungkuk dan jemarinya menyentuh ujung kaki robot itu. Semua orang terkejut.


"Wow! Kau sangat lentur seperti balerina," celetuk Naomi.


"Ya! Dulu aku memang seorang ballerina," jawabnya cepat dengan wajah berbinar.


Kening semua orang berkerut. Namun, senyum Sierra tiba-tiba meredup. Ia seperti menyadari satu hal.


"Oh! Aku ... Ya! Kau benar, Profesor! Dulu aku bisa berjalan! Aku tak cacat!" teriaknya dengan mata terbelalak lebar, terkejut akan dirinya sendiri.


Jeremy melebarkan mata. Ia memberikan kode pada salah seorang tenaga medisnya dan pria itu segera mendatangi Jeremy sembari memberikan hasil tes lab. Jeremy terlihat kaget.


"Gumpalan senyawa yang pernah aku katakan sebelumnya, itu ... mulai memudar, Sierra. Daya ingatmu meningkat hingga 80% dan bisa terus berkembang jika kau terus melakukan pengobatan dariku. Kita bisa menghilangkan senyawa itu," ucap Jeremy menegaskan, menggenggam erat kertas di tangannya.


Nafas Sierra menderu. Ia melihat kedua kakinya yang terpasang kaki robot. Wajah Sierra berubah serius seketika. Ia terlihat seperti marah. Semua orang diam.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Sierra menggerakkan jemarinya. Mata semua orang melebar ketika melihat Sierra berjalan tak terlihat seperti orang baru belajar melangkah.


Kaki robot itu membawa Sierra kepada Jonathan yang malah terbengong, berdiri di hadapannya.


CUP!


Jonathan tersentak saat Sierra tiba-tiba saja mencium bibirnya dengan senyum terkembang. Jonathan mematung.


"Aku menunggu cincin berlian melingkar di jari manisku, Prince Jonathan," ucap Sierra sembari merangkul leher kekasihnya dan tersenyum manja.


"Wahahaha! Hahahaha! Sierra bisa jalan! Hahahaha!" teriak Jonathan gembira dan langsung mengangkat pinggul Sierra ke atas, mengajaknya berputar.


Semua orang terlihat begitu bahagia. Vesper menangis haru. Ia begitu senang karena calon menantunya bisa berjalan.


Orang-orang bertepuk tangan. Kai dan Jeremy bersalaman lalu berpelukan, saling mengucapkan selamat.


Saat Sierra dan Jonathan berciuman dengan mesra, dengan sigap, Vesper langsung mendorong wajah dua insan yang sedang kasmaran itu menjauh hingga pelukan keduanya terlepas.


Sierra canggung seketika. Ia menundukkan wajah terlihat malu. Jonathan meringis sambil menggaruk kepalanya. Vesper melirik keduanya tajam.


"Jangan nakal. Jangan seperti berandalan. Tahan dirimu sampai waktunya menikah nanti. Kau paham, Jonathan?" tegas Vesper menunjuknya dan anak mendiang Erik itu mengangguk.


Sierra langsung berpaling dan melangkah menjauh dari kekasihnya mendatangi dua pria yang berjasa besar untuknya.


"Terima kasih, Tuan Kai, Profesor Jeremy dan kalian semua. Kalian ... mewujudkan mimpi gadis cacat ini," ucapnya dengan senyum terkembang dan mata berlinang, terlihat bahagia.


Vesper dan lainnya mendatangi Sierra, menyalami serta memberikan selamat. Namun saat senyum semua orang merekah, wajah dingin Sierra muncul lagi. Semua orang menyadari perubahan drastis itu.


"Orang yang mencelakaiku, dia harus dihukum."


Vesper menatap Sierra tajam begitupula yang lain. Perlahan senyum Vesper tersirat.


"Lalu ... apa yang akan kau lakukan, Sierra sayang?" tanya Vesper dengan senyum penuh maksud.


"Aku akan menyelidikinya. Aku harus menemukan pelakunya sebelum pernikahanku dengan Jonathan berlangsung," jawabnya mantab.


Semua orang terkejut. Jonathan menatap wajah cantik kekasihnya terlihat gugup.


"Caranya? Kejadian itu udah belasan tahun lamanya. Apa bisa?" tanyanya ragu.


Sierra tersenyum miring. "Kau meremehkanku, Tuan Jonathan Benedict?"


"Hehe. Jangan pasang wajah begitu deh. Gemes tau," ucap Jonathan malah mencubit dagu Sierra gemas.


Saat keduanya hampir berciuman lagi, dengan sigap, kerah baju Jonathan dipegangi kuat oleh Kai, begitu pula pinggul Sierra yang dipegangi oleh Naomi.


"Sepertinya kalian harus dijauhkan untuk sementara waktu. Magnet kalian terlalu kuat," keluh Vesper karena larangannya tadi tak diindahkan oleh dua insan yang sedang kasmaran itu.


Sierra dan Jonathan panik seketika.


"Jangan-jangan! Kami akan jaga sikap. Sungguh, jangan pisahkan aku dengan Jonathan lagi, Nyonya Vesper, eh maksudku, Mah," pinta Sierra memelas.


"Nathan akan jaga iman. Suer deh, Mah," sahut Jonathan menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V terlihat cemas.


"Hem, we will see. Awas saja jika lolos lagi. Akan Mama plester bibirmu itu," tunjuk Vesper dengan mata melotot.


Jonathan mengangguk cepat berjanji. Sierra tetap berada di ruang uji coba untuk memperlancar pengoperasian kaki robot miliknya.


Sedang Jonathan dan yang lain, diajak oleh Vesper untuk membahas aksi Sierra untuk mengusut masa lalunya di ruang kerja.


***

__ADS_1


jangan lupa like komen vote vocer dan poinnya ya. lele padamu💋💋💋 tengkiyuw tips koinnya~



__ADS_2