
Mata Arjuna melebar seketika. Sia terlihat bingung melihat gelagat Arjuna seperti orang yang mengalami shock karena sesuatu.
Saat Sia akan memastikan keadaan Arjuna, sang Ibu—Amanda—memanggilnya. Sia pamit, dan Arjuna hanya mengangguk dengan pandangan tak menentu. Sia terlihat cemas, tapi ia tetap harus pergi.
Kepala Arjuna perlahan kembali ke arah Naomi yang berdansa dengan gemulai bersama suaminya.
Ingin rasanya Arjuna menangis karena rasa sakit yang begitu teramat sangat di hatinya karena merasa bodoh dan tertipu oleh pemikirannya sendiri.
Namun, Arjuna tak mau kepedihannya dilihat oleh semua orang. Arjuna memilih pergi menjauh dari keriuhan pesta dengan lunglai, dan tak ada satupun yang menyadarinya.
Malam semakin larut. Satu persatu tamu undangan pamit untuk beristirahat. Esok adalah acara terakhir dengan jamuan sarapan dan makan siang sebelum para mafia kembali ke negara masing-masing.
Jordan melihat sang isteri seperti kelelahan, tapi berusaha untuk tetap tersenyum ke hadapan para tamu karena tak ingin mengecewakan.
"Hehe, sukses ya, Jordy. Jangan lupa, jamu kuat yang Om Eko kasih diminum. Oke, oke?" ucap Eko sembari menaik-turunkan alis dengan senyum penuh maksud.
Jordan memalingkan wajah tak merespon ucapan itu. Semua anggota The Kamvret dan Biawak terkekeh karena wajah sang pengantin pria merona seketika.
"Jangan bikin malu. Tar diketawain bapakmu di alam sono kalo Naomi sampai gak puas," bisik Biawak Hijau yang membuat Jordan sampai memejamkan mata terlihat tertekan.
Akhirnya, Naomi dan Jordan berhasil melarikan diri dari para tamu yang masih betah untuk melanjutkan pesta dengan minum seraya mengobrol seru di halaman belakang.
"Sekali lagi, selamat, Jordan. Selamat beristirahat," ucap Mix saat mengantarkan pengantin baru itu ke kamar.
Naomi berterima kasih. Jordan segera masuk lalu di susul oleh sang isteri. Jordan malah diam terpaku usai menutup pintu kamarnya.
Ruang tidur itu telah berganti dengan warna lembut kesukaan Naomi, di mana mereka kini sudah tak tidur terpisah lagi.
Jordan menatap Naomi yang terlihat lesu ketika melepaskan semua aksesoris di rambutnya di dudukkan meja rias.
Saat Naomi menggeser tubuhnya memposisikan miring untuk melepaskan sepatunya, Jordan dengan sigap berjongkok di depannya. Ia meraih salah satu kakinya yang masih terbungkus sepatu. Senyum Naomi terkembang.
__ADS_1
"Apa kau tak lelah, Jordan?" tanya Naomi menatap suaminya lekat.
"Ini belum seberapa ketimbang latihan berat di Camp Militer saat musim dingin," jawabnya santai seraya meletakkan dua sepatu sang isteri di bawah ranjang.
Namun, keduanya malah terdiam. Naomi terlihat bingung karena Jordan masih berjongkok dengan setelan tuksedo masih dikenakannya.
"Gantilah pakaianmu. Sudah malam, sebaiknya kita segera tidur. Besok pagi, kita masih harus menyambut tamu," ucap Naomi seraya berdiri perlahan.
"Naomi," panggilnya pelan.
"Hem?" langkah Naomi terhenti dan kembali menatap Jordan yang masih berjongkok seperti seorang pria ketika akan melamar gadis untuk dinikahinya.
"Aku ...." Naomi terlihat bingung akan sikap Jordan yang menurutnya aneh. Naomi kembali mendekat dan ikut berjongkok di sampingnya. Jordan gugup akan sesuatu.
"Kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Naomi cemas dan langsung memegangi wajah sang suami dengan kedua tangannya.
Akhirnya, bola mata Jordan bergerak dan kini terkunci pada wajah ayu sang isteri. "Jangan bandingkan aku dengan Arjuna saat kita melakukannya nanti. Aku bisa menduga jika kau pernah bercinta dengan Arjuna sebelumnya."
"Oleh karena itu, aku tahu ketika kau pernah mengatakan jika masih mencintai Arjuna sebelum kau memutuskan menikah denganku. Seorang wanita, yang pernah kehilangan pusakanya, terlihat takut akan sesuatu terutama ketika diajak menikah oleh pria lain. Terlebih jika lelaki itu masih perjaka. Apa ucapanku benar?"
Wajah Naomi langsung tertunduk, Jordan semakin menatap isterinya lekat.
"Kau ... kecewa padaku?" tanya Naomi terlihat seperti akan menangis.
Jordan tersenyum. "Tidak. Malah, aku merasa sedikit lega. Jujur, aku tak tahu apa yang harus kulakukan ketika kita harus melewati malam pengantin. Ucapan Tobias, om Eko dan lainnya, membuatku memikirkannya dengan serius. Bagaimana jika kau tak puas dan kecewa padaku?"
Seketika, Naomi menaikkan pandangan. Ia terlihat bingung sampai keningnya berkerut saat melihat Jordan seperti bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Maksudmu ... kau ... takut jika aku tak puas dengan gaya bercintamu? Begitu?" tanya Naomi memastikan, Jordan mengangguk.
Senyum Naomi terbit. Kini, Naomi yang memegang tangan Jordan erat. Pemuda tampan itu melirik isterinya yang menatapnya lekat.
"Saat aku memutuskan untuk mencintai dan menikah denganmu, perasaan dan kenanganku bersama Arjuna telah kukubur dalam-dalam. Sulit memang, tapi kehadiranmu mampu menutup luka itu," ucap Naomi dengan senyum terkembang. Jordan masih terdiam. "Menurutku, pernikahan bukan tentang kepuasan pasangan di ranjang saja, tapi bagaimana dia bisa mengerti perasaan pasangannya. Dan menurutku, kau jauh lebih unggul dan hebat dari Kim Arjuna, Jordan Boleslav. Jadi, berhentilah berpikiran kau payah, dan ...," ucap Naomi terpotong saat ia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Jordan lembut.
__ADS_1
Mata Jordan terbuka lebar saat Naomi menciumnya cukup lama dan malah mendekatkan tubuhnya hingga sang isteri duduk di pangkuannya.
Jordan langsung menahan tubuhnya agar tak jatuh dengan meletakkan kedua tangannya di alas karpet lantai.
Naomi melepaskan ciumannya dan memegang wajah Jordan dengan kedua tangan. Jordan terlihat gugup dan diam saja, bertahan dengan posisinya.
"Kau tahu 'kan cara melepaskan pakaian, atau ingin aku yang melakukannya, Suamiku?" tanya Naomi menggoda.
"A-ak ... kau saja," jawabnya gugup. Naomi tersenyum tipis.
Perlahan, Naomi melepaskan jas dan meletakkannya di samping tangan Jordan. Pemuda itu diam saja saat Naomi melucuti pakaiannya satu persatu bahkan kini tersisa celananya saja.
Naomi terkekeh. "Ayo bangun," pintanya seraya berdiri dan memberikan tangan kanannya.
Jordan meraihnya dan berdiri dengan gugup. Naomi membalik tubuhnya dan memberi kode agar sleting di punggungnya di tarik. Jordan melakukannya secara perlahan, sangat kaku.
"Kau tahu, Sayang? Kau sungguh menggemaskan," ucap Naomi yang terlihat sudah tak sabar lalu menurunkan gaunnya begitu saja.
Jordan tertegun saat melihat tubuh isterinya yang begitu mulus dan kulitnya berseri tak berlapis bra, hanya memakai penutup V saja.
Naomi mendekat seraya melepaskan ikat pinggang dan pengait celana Jordan. Putera Boleslav tersebut mematung dan pasrah, ketika Naomi menurunkan celananya berikut boxer miliknya.
Jantung Jordan serasa ingin meledak. Ia tak menyangka jika malam yang paling ia khawatirkan akan terjadi sebentar lagi.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
tengkiyuw tipsnya💋 lele padamu😍 besok bonus 1 eps jadi eps ini pendek aja😁
__ADS_1