4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Hukuman Smiley*


__ADS_3

"Agh, ah, aduh ...," rintih Jonathan begitu ia membuka mata karena merasakan seluruh badannya sakit.


Jonathan hanya memakai boxer dengan tubuh terikat di kursi yang memiliki bantalan empuk. Pemuda itu melihat cermin setinggi tubuhnya di mana posisi ia dibaringkan seperti orang duduk 135 derajat.


Mulut Jonathan menganga. Ia terlihat shock karena tubuhnya kini dipenuhi oleh tato dari kedua tangan sampai ke dada.


Pemuda itu mengepalkan kedua tangan saat ia juga menyadari jika rambutnya dipangkas model cepak bahkan di cet pirang.


"SMILEY! KEMARI KAU BANGS*T! KAU APAKAN TUBUH INDAHKU?!" teriak Jonathan lantang dengan emosi meluap-luap dan berusaha lepas dari ikatan kuat di kursi tersebut.


Smiley yang berada di ruangannya hanya tersenyum miring seraya menandatangani beberapa dokumen saat melihat Jonathan meraung-raung dari tampilan CCTV.


"SMILEY!" teriak Jonathan lantang, dan tiba-tiba, BRAKK!!


"Agh!" rintih Jonathan saat kursi tersebut roboh ke samping karena ia memberontak berulang kali.


Nafas Jonathan menderu. Seluruh tubuhnya memerah karena proses pentatoan tersebut. Jonathan berusaha melepaskan ikatannya, tapi tak bisa. Ia kembali kesal.


"Hempf, lihat saja ... lihat saja, akan kubalas kau, Smiley," geram Jonathan hingga rahangnya mengeras dengan napas menderu.


CEKLEK!


Kepala Jonathan menoleh, meski ia tak bisa melihat siapa yang masuk ke dalam. Jonathan diam sejenak dan mendengarkan suara langkah seperti sepatu wanita berhak menuju ke arahnya.


Seketika, mata Jonathan menyipit karena tak mengenali sosok di depannya.


"Hai, Jonathan. Mengenalku?" tanya gadis berambut pirang itu ramah.


"Kau siapa?" jawabnya ketus.


"Oh, tak kenal? Sungguh?" tanyanya terlihat gembira.


Jonathan berkerut kening menatap gadis cantik di depannya seksama.


"Baiklah, kita berkenalan meski dalam suasana menyebalkan bagimu ini," ucapnya tersenyum. Jonathan masih memasang wajah masam. "Jonathan Benedict, perkenalkan, aku ... Venelope."


Seketika, mata Jonathan melebar. Ia terkejut karena pada akhirnya bisa melihat sosok Venelope di depannya.


"Oh, kau masih ... muda. Kukira sudah tante-tante," sahut Jonathan terdengar jujur. Venelope terkekeh, dan Jonathan kembali memasang wajah cuek.


"Kau ternyata sangat tampan jika dilihat dari aslinya. Apalagi dengan tato ini, kau terlihat makin keren," ucapnya dengan jemari lentik mulai meraba lengan Jonathan. Pemuda itu diam dan masih menatap Venelope tajam.


"Lepaskan aku."


"Oh, boleh saja. Tapi ... ada syaratnya," jawab Venelope yang masih berjongkok mempertahankan posisinya.


"Pasukan The Circle? Hah, jangan harap. Mereka milikku," jawab Jonathan ketus memalingkan wajah.


"Apakah ... itu yang diminta Sierra darimu?" tanya Venelope, dan Jonathan menjawabnya dengan menaik-turunkan kedua alis. Venelope kembali tersenyum. "Biar kutebak. Kau pasti menolaknya. Kau terlihat kesal."


"Udah tau kenapa masih tanya? Gak usah basa-basi. Dan, bilang sama Smiley, dia masih utang 100 juta sama Nathan atas mobil modifikasi itu," tegasnya kesal.

__ADS_1


"Hehe, kau lucu. Aku suka padamu, Jonathan," ucap Venelope dengan senyum manis.


Jonathan melirik dengan kening berkerut. "Kayaknya kamu, Sierra, dan Cassie bermasalah deh. Ada gitu cewek terang-terangan bilang suka sama cowok? Mana baru ketemu juga, gak usah sok kenal dan sok akrab," jawabnya sebal.


Venelope diam sejenak. "Kau ... bertemu Cassie?"


"Iya, kenapa? Gak usah tanya gimana kabar dia, atau sekarang dia ada di mana. Nathan jawab 'gak tau'. Puas?!" jawabnya galak.


Venelope terlihat gugup akan sesuatu. Jonathan menyipitkan mata dan menatap Venelope seksama. Perlahan, Jonathan tersenyum tipis.


"Love, aku dingin. Kau punya baju, atau selimut? Pisang Nathan mengkeret nih," ucapnya tiba-tiba dan membuat Venelope menatapnya seksama dengan mata berkedip.


"Ha? Kau bilang apa? Aku tak paham," tanyanya bingung.


"Kau bisa bahasa Indonesia, tapi masa gak tau Nathan ngomong apa barusan?"


"Kau bicara bahasa tidak formal. Aku, Cassie, Sierra, dan Tessa mempelajari bahasa Indonesia, tapi cara bicaramu aneh. Kau seperti mencampur bahasa lain di dalamnya. Apakah itu sebuah sandi?"


Jonathan mengedipkan mata. Ia diam sejenak, tapi senyum tipis terbit sesaat sebelum wajahnya kembali serius.


"Love sayang, bisa kau berikan Nathan selimut atau pakaian? Kau lihat kejantananku, pen*sku, junior-ku? Hem, ya yang tertutup boxer itu. Dia menggigil di dalam sana dan dia butuh sentuhan hangat. Kau bisa membantuku?"


Venelope terkejut dan langsung berdiri. Jonathan menatap Venelope seksama dan gadis cantik itu malah pergi meninggalkannya begitu saja. Jonathan menahan senyum terlihat puas dengan aksinya.


Tak lama, orang yang dicari oleh Jonathan muncul. Wajah pemuda itu kembali bengis saat Smiley berdiri di hadapannya dengan kedua tangan di dalam saku celana.


"Kau tahu, Jonathan. Aku sangat membencimu. Dan tak ada satu orang pun di sini yang akan menolongmu. Jadi ... nikmatilah waktumu selama seminggu di tempat ini sampai urusanku selesai," ucapnya santai lalu ia mengangkat kursi yang roboh itu hingga kembali ke posisi semula.


Perlahan, pemuda itu menggigil karena tubuhnya tak terselimuti. Ia juga tak tahu sudah pukul berapa sejak ia berada di dalam ruangan tersebut.


Ia juga tak mengenal hari, termasuk di mana dirinya berada sekarang tak diketahui. Jonathan berusaha untuk tetap tenang dengan bernyanyi.


"Oh, dia masih bisa bertahan. Baguslah. Kita lihat sampai sejauh mana dia sanggup dengan kondisi seperti itu tanpa makan, minum dan pakaian," ucap Smiley sembari menikmati makan malam di ruangannya.


KRUYUK!


Oh! Perutku lapar. Biasanya, Nathan makan jam 8 pagi, lalu 1 siang dan 8 malam. Nathan diculik siang, hm ... jadi kemungkinan sekarang sudah malam atau pagi, batinnya menduga.


Pemuda itu tetap berusaha bertahan dengan penyiksaan yang Smiley berikan padanya. Perlahan, Jonathan tak tahan. Ia kedinginan dan kelaparan. Jonathan mulai meraung.


"Smiley! Aku lapar! Berikan aku makan, minum dan pakaian! Awas saja jika kau berhasil kutangkap! Kau akan kutelanjangi!" teriak Jonathan marah dengan ancaman. "SMILEY!" teriaknya lagi hingga satu jam lamanya.


Namun, pria tua itu terlihat santai. Ia asyik menghisap cerutu dengan piyama sutera di tubuhnya. Smiley menonaktifkan suara tempat ruangan Jonathan di sekap.


CEKLEK!


"Smiley! Singkirin si kutu kupret itu! Brisik banget!" keluh Ungu Genit terlihat jengkel mengenakan piyama kimono warna ungu saat masuk ke ruangan pria tersebut.


"English, please," jawab Smiley seraya mengetukkan abu dari cerutunya ke asbak.


"Get rid of Jonathan," ucap Ungu penuh tekanan.

__ADS_1


Smiley melihat jam dinding dan mengangguk. Ungu genit cemberut dan segera pergi meninggalkan kamar pelatih para Pion D tersebut. Smiley berjalan dengan santai menuju ke ruangan tempat Jonathan disekap.


CEKLEK!


"Smiley!" teriak Jonathan memanggilnya.


SHOOT! CLEB!


"Pindahkan dia," perintah Smiley saat Jonathan pingsan karena peluru bius yang mengenai perutnya.


Dua pria bertubuh besar melepaskan ikatan Jonathan dan membopongnya menuju ke ruangan lain menyusuri koridor. Smiley berjalan di depan dengan santai sembari menghisap cerutu dan membawa bungkusan kertas cokelat.


PIP! CEKLEK!



Jonathan di baringkan ke sebuah ranjang berwarna biru di rak bawah dengan tubuh sudah tak lagi terikat.


Smiley meninggalkan sebuah bungkusan berisi makanan yang dibawanya ke kursi untuk Jonathan saat ia sadar nanti.


"Sungguh tahanan yang merepotkan. Pantas saja Darwin dulu enggan untuk menyekapnya. Benar ucapannya, jika Jonathan tipe pemuda yang banyak maunya. Hem, kita lihat apakah kau bisa bertahan sebelum pada akhirnya membusuk di tempat ini, Jonathan Benedict," ucap Smiley tersenyum miring dan menutup kembali ruang tahanan di tempat tersebut.


Jonathan ditinggalkan sendirian di ruangan mirip penjara dalam keadaan tak sadarkan diri.


Ternyata, Venelope berkunjung dan menatap Jonathan dari luar pintu sel. Di saat yang sama, Sierra muncul dengan sebuah otoped electric mendekatinya.



"Apa yang kaulakukan, Keturunan palsu?" tanya Sierra menyindir dengan dua pria bertubuh besar dan berwajah garang berdiri di belakangnya menggunakan hoverboard.



"Tak ada. Aku hanya penasaran, apakah jajaran Vesper akan mencarinya? Secara ... dia anak emas," jawab Venelope berwajah datar.


"Jika ya, kau harus menyingkirkan para ngengat itu. Bunuh mereka semua. Yang kita butuhkan hanya Jonathan dan aset-asetnya. Hem, aku tak menyangka jika ternyata Jonathan Benedict sangat kaya. Bodohnya, harusnya saat itu aku bersandiwara saja dengan tetap bersamanya dan mencuri asetnya saat ia lengah," keluh Sierra memonyongkan bibir.


"Kau terlalu terburu-buru, Princess," sahut Venelope dengan tatapan malas.


"Kau tahu alasanku tetap membiarkanmu hidup, Venelope? Aku memberikanmu kesempatan untuk membunuh Vesper. Namun, saat kesempatan itu aku berikan dan kau gagal, kau mati," ucap Sierra tegas menatapnya tajam, lalu pergi begitu saja meninggalkannya.


Venelope mendengkus kesal dan pada akhirnya pergi dari tempat Jonathan ditahan.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE & PINTEREST


eps bonus play audio book❤️ 1 eps ya krn terhitungnya cuma 19 koin~


__ADS_1


__ADS_2