4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Masih Penasaran


__ADS_3

...IPO IPO IPO...


...AWAS AWAS NASKAH BERBAHAYA!...


...TANGGAPI DENGAN BIJAK...


Afro terlihat sudah siap dengan menu makan malam untuk tamu istimewanya, Sandara Liu. Afro menatap meja tua di ruang makan dengan masakan hangat buatannya.


Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Afro melongok sembari mengelap tangannya dengan serbet.


Matanya terpaku seketika saat mendapati sosok gadis kecil yang dulu dikenalnya kini telah beranjak dewasa, tapi tetap terlihat lugu saat mengenakan sweater panjang meski terlihat jika pakaian itu masih terlalu besar untuknya.


"Aku tak menemukan pakaian lain selain ini di almari, Kak Afro," ucapnya terlihat malu sembari menurunkan bagian bawah sweater setinggi paha.


Afro tersenyum dan mempersilakan gadis cantik itu duduk. Sandara terlihat gugup ketika mendatangi lelaki yang disukainya untuk mengajaknya makan malam bersama.


"Candle light dinner?" tanyanya dengan senyum terkembang melihat banyak lilin di meja itu.


"Oh, hehe, bukan. Lampunya redup, jadi aku menambahkan lilin agar lebih terang," jawab Afro santai.


"Oh," sahut Sandara terlihat kecewa.


Afro menatap wajah Sandara dalam yang begitu manis tanpa make up.


"Makanlah yang banyak, pasti kau lapar. Dan, biar kutebak. Kau kabur, ya 'kan?" tanya Afro saat menuang sup ke mangkok di depan Sandara.


Gadis itu hanya terdiam dengan wajah tertunduk terlihat murung. Afro mengela nafas panjang, ia tahu jika tebakannya benar.


"Ingin kusuapi? Makanan itu tak bisa masuk sendiri ke mulutmu, Dara," ucap Afro yang membuyarkan lamunan gadis kecil itu.


Sandara segera menyendok sup sayur itu dan meniupnya karena masih panas. Kepulan asap dan aroma lezat membuat Sandara tak sabar untuk menyantapnya. Afro tersenyum tipis karena Sandara makan seperti orang kelaparan.


"Kau harus pergi besok. Tak aman bagimu menetap di sini dalam waktu lama."


Sandara langsung terdiam dan meletakkan sendoknya begitu saja terlihat marah. Afro kembali mengembuskan nafas pelan.


"Kau mengusirku? Kau tak suka aku berada di sini? Aku sengaja membuat butik di Paris agar bisa berkunjung kemari untuk selalu menjengukmu. Apa aku ini sebuah beban?" tanya Sandara yang mengejutkan Afro karena gadis kecil yang dikenalnya kini sudah bisa bicara banyak.


"Bukan begitu. Hanya saja ...."


"Kenapa kau harus bersembunyi? Kenapa kau harus kabur lagi? Kau sudah kembali saat itu lalu kenapa menghilang lagi?" tanya Sandara berlinang air mata yang tiba-tiba saja mengutarakan perasaannya.


"Dara, aku ...."


"Kau sama saja dengan yang lain."


"Dara! Hei!" panggil Afro panik karena Sandara berjalan begitu saja meninggalkannya kembali naik ke atas menuju kamar.


Afro mengejar Sandara yang terlihat begitu sedih. Ia tak mengetahui kenapa gadis cantik itu sangat sensitif seperti bukan dirinya.


"Dara ...," panggil Afro dengan langkah perlahan, masuk ke kamar Sandara.


Sandara mengabaikannya dan terus menangis. Ia menutup tubuhnya dengan selimut dan berbaring di atas kasur.


Afro menghembuskan nafas panjang. Ia memberanikan diri duduk di samping tubuh Sandara yang tertutupi selimut, menyenderkan punggung dengan wajah sendu pada sandaran kasur.


"Aku merasa sangat bahagia meski sesaat ketika pertempuran di Arizona. Walaupun nyawa taruhannya, tapi ... aku merasa kembali seperti dulu. Bertempur, terluka dan berdarah bersama ... dengan kawan-kawanku, hal itu membuatku ... merindukan masa-masa ketika kebebasan masih di pihakku. Hanya saja kini, keadaan telah berubah. Sampai kapanpun, aku akan tetap di anggap pengkhianat oleh jajaran 13 Demon Heads. Tak ada tempat untukku kembali ke sana, Dara. Jika aku nekat, Pengadilan 13 Demon Heads menungguku dan Jordan, dia ... aku takut, Dara. Aku tak siap. Aku tak ingin mati seperti ayahku. Aku ... takut," ucapnya terlihat ketakutan dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Sandara membuka selimutnya dan menatap wajah Afro lekat seperti akan menangis. Sandara langsung duduk dan mendekatinya.


"Aku akan membantumu, Kak Afro. Aku akan membuktikan jika kau tak bersalah dan patut untuk dimaafkan," ucap Sandara yakin, tapi Afro menggeleng dengan air mata.


"Aku terlalu takut untuk duduk di kursi eksekusi itu, Sandara. Aku benar-benar seorang pengecut. Aku masih ingin hidup meski harus sendiri dan menderita seperti ini, tapi ... ini lebih baik," jawabnya terlihat begitu sedih.

__ADS_1


Sandara menghapus air mata Afro dengan ibu jarinya. Afro terdiam saat Sandara mengelus kedua pipinya lembut dengan kedua tangannya.


"Jangan takut. Ada aku dan lainnya yang akan mendukungmu. Dulu kau bisa lolos meski dalam masa pengawasan. Kau tetap bisa berinteraksi dengan kawan-kawanmu. Kau membantu memberantas The Circle. Itu adalah hal besar. Yang kubutuhkan sekarang adalah pengakuanmu, Kak. Kejujuranmu akan semua yang kau ketahui tentang The Circle dan No Face, bisa menolongmu dari Jordan. Kau percaya padaku 'kan?" tanya Sandara menatap mata Afro lekat.


"Kau ... sungguh bisa melakukannya? Aku bisa kembali tanpa harus mati? Aku sungguh takut, Dara. Bayang-bayang kematian ayahku tak bisa lepas dari ingatanku," tanyanya sedih.


Sandara mengangguk cepat. Afro memeluk Sandara erat di mana hanya gadis cantik itulah satu-satunya harapan untuk membawanya kembali ke kehidupannya dulu. Afro lalu melepaskan pelukannya perlahan.


"Aku tak memiliki apapun untuk membayar dan membalas kebaikanmu, Dara. Aku ... miskin dan terbuang. Aku terasingkan dan ... kesepian," ucapnya sedih dengan wajah tertunduk.


"Aku akan selalu datang untuk menjengukmu, Kak. Semua kekayaan Elios yang kau berikan padaku, akan aku kembangkan dan kuberikan padamu secara berkala. Kau tak akan kesusahan lagi. Kau bisa tinggal di tempat yang lebih layak, tak di sini," ucap Sandara sembari melihat ruangannya yang berisi perabotan usang.


"Namun rumah ini, adalah peninggalan milik mendiang ibuku yang memang tak pernah di masukkan dalam aset Elios. Rumah ini, hanya aku dan ayahku saja yang tahu. Oleh karena itu, meski rumah ini usang, tapi ... aku senang tinggal di sini. Ada beberapa kenangan tersimpan yang membuatku merasa damai," jawabnya sembari meraih selimut yang tadi dipakai Sandara untuk menutupi tubuhnya.


Sandara menatap wajah Afro lekat di mana ia bisa melihat jika hanya kejujuran yang dikatakan oleh pria di hadapannya itu.


Sandara memberanikan diri mendekatkan wajahnya dan kini mencium bibir Afro lembut. Afro terkejut meski ia bisa merasakan jika Sandara gugup saat melakukannya.


"Aku masih mencintaimu, Kak dan aku masih berharap agar kau menjadi suamiku kelak," ucapnya malu.


Afro tersenyum tipis. Ia tak menyangka jika Sandara masih menyimpan namanya di hatinya.


Afro begitu terharu akan kesetiaan Sandara padanya, padahal ia tahu jika Jordan sangat mengharapkan gadis di depannya ini bisa menjadi isterinya suatu saat nanti.


Afro ikut merapatkan tubuhnya dan membalas ciuman Sandara. Kini, gantian Sandara yang terkejut karena Afro menciumnya.


Sandara yang teringat akan adegan Han dan Vesper saat di Australia, membuatnya memberanikan diri untuk membuktikan jika yang dilihatnya memang senikmat itu.


"Oh!" pekik Afro terkejut saat tangan Sandara menyentuh kejantanannya yang masih terbungkus kain.


Afro menatap Sandara lekat di mana gadis itu terlihat serius dengan perbuatannya.


"Aku masih penasaran sampai saat ini. Ingatan itu menggangguku. Boleh aku memegangnya? Aku hanya ingin tahu seperti apa rasanya, setelah itu ... aku tak akan memintanya lagi," ucap Sandara takut-takut.


Afro menelan ludah. Ia terlihat tegang. Namun ia melihat, Sandara yang sekarang sudah lebih dewasa ketimbang Dara yang dulu.


Sandara diam mengamati gerak-gerik Afro yang terlihat canggung. Hingga, mata Sandara kembali terbelalak saat Afro meletakkan celananya di atas laci samping kasur. Sandara menatapnya seksama.


"Berikan tanganmu. Ingat, jangan merematnya. Ini sensitif. Kau cukup memegangnya saja seperti menggenggam sebuah tongkat. Kau mengerti?" ucap Afro menatapnya tajam dan Sandara mengangguk.


Sandara memberikan tangan kanannya dengan gugup. Jantungnya serasa ingin melompat dari tempatnya. Afro memegang tangannya lembut dan menyelipkannya di balik selimut perlahan.


Tiba-tiba, Sandara tersentak saat ia merasakan tangannya menyentuh benda yang terasa hangat, halus dan panjang seperti tongkat estafet.


Afro menelan ludah saat melihat ekspresi Dara seperti orang berpikir. Afro tegang dan berulang kali menarik nafas dalam ketika Sandara menggerakkan tangannya mengikuti bentuk dari kejantanannya itu.


"Oh, ini ... mengeras dan berdenyut. Ini juga semakin memanjang. Kenapa bisa begini? Apakah itu normal?" tanyanya heran dengan mata terfokus pada Afro seorang.


"Ya, emph, itu normal," jawab Afro yang berulang kali menarik nafas dalam sembari membenarkan posisi duduknya meski tubuh bagian bawahnya masih tertutupi selimut.


SRETTT!


"Eh!" pekik Afro saat Sandara menyingkirkan selimutnya begitu saja.


Jantung Afro berdebar kencang tak karuan saat Sandara mengamati miliknya dengan sangat serius hingga tubuhnya menyondong.


"Emph. Sudah cukup, Dara," ucap Afro mulai salah tingkah.


"Ini sangat unik dan menggemaskan, Kak Afro. Tadi saat aku memegangnya, dia tak sebesar dan sepanjang ini. Lalu sekarang ... kenapa bisa seperti ini? Apa tanganku yang melakukannya? Benda ini merespon sentuhanku? Begitu?" tanya Sandara antusias seperti sedang mengikuti kelas.


"Yah, begitulah," jawab Afro bersusah payah menahan gairahnya dan tetap tenang.


"Jika aku melakukan ini, apa dia akan semakin besar dan keras lagi?" tanya Sandara malah mengocok kejantanan Afro dengan bersemangat.

__ADS_1


Afro panik dan semakin bingung dalam bersiap. Ia meremat benda apapun yang bisa diraihnya agar erangan kenikmatannya tak keluar dari mulutnya.


"Eh, ada cairan yang keluar. Apa kau kencing? Tapi ... ini lengket, Kak Afro. Jika itu air kencing seharusnya bau, tapi ini tidak," ucap Sandara penuh selidik dan malah makin bersemangat untuk mempelajari temuan baru yang selama ini membuatnya penasaran.


Afro frustasi. Sandara malah mendekatkan wajahnya hingga ia tengkurap dan terus mengamati tiap inci keperkasaan Afro bahkan sampai ke kedua kacangnya.


"Lalu ... ini apa?" tanya Sandara yang kini menggunakan tangan satunya untuk meraba dua bandulan itu dan malah merematnya.


"Emph, shit! Dara cukup. Sudah. Kau sudah melihat dan memegangnya," ucap Afro dengan nafas tersengal mulai tak bisa menahan gairah.


"Belum. Aku masih penasaran dengan benda ini. Kau belum menjawab pertanyaanku," sahut Sandara cepat yang kembali duduk.


"Agh! Sial, aku tak bisa menahannya lagi. Dara, kau harus membantuku. Jika ini tak dikeluarkan, aku bisa sakit," ucapnya dengan wajah sudah memerah.


Sandara panik. "Kau akan sakit? Baik, apa yang harus kulakukan?" tanya Sandara menatap Afro lekat.


Afro memberikan minyak zaitun ke telapak tangan gadis cantik itu dan meminta untuk menggosoknya di kejantanan miliknya.


"Teruslah mengusapnya sampai aku memintamu berhenti. Kau mengerti?" tanya Afro yang sudah menyiapkan tisu di sampingnya.


Sandara mengangguk paham dan ia mulai melakukan yang Afro perintahkan. Pria tampan itu langsung merespon sentuhan tangan Sandara di kejantanannya. Afro menggeliat dan membuat gadis kecil itu bingung.


"Emph, shit!" pekiknya dengan kening berkerut.


Sandara terlihat begitu serius menggosok kejantanan dan kelereng besar milik Afro karena takut jika lelaki yang disukainya sakit.


Afro yang sudah tak bisa menahan gairahnya, merangkul kepala Sandara dan mencium bibirnya ganas.


Sandara terkejut dan seketika, kedua tangannya berhenti bergerak.


"Jangan berhenti, Dara. Lakukan lagi seperti tadi. Kau cukup hebat melakukannya, Sayang," ucap Afro yang sudah terbuai akan sensasi bercinta yang baginya tak biasa.


Sandara terkejut ketika Afro memanggilnya dengan sebutan "Sayang". Senyum Sandara merekah. Ia mendekatkan wajahnya dan Afro kembali menciumnya dengan penuh gairah.


Kedua tangan Sandara terlihat begitu bersemangat melakukan pekerjaannya untuk memuaskan Afro.


Sandara ikut terbuai dalam ciuman Afro. Pria tampan itu bergulung dan kini berada di atas gadis cantik itu, tak melepaskan ciumannya. Sandara juga tak berhenti mengocok dan memainkan kejantanan Afro.


Afro mulai hilang kendali. Kedua tangannya menyelinap di dalam sweater Sandara dan kini memainkan bulatan menggemaskan meski tak seindah buah dada wanita dewasa.


Wajah Sandara merona dan jantungnya berdebar kencang tak karuan karena menerima serangan agresif dari Afro.


"Hah, cepatlah dewasa, Dara. Aku suka buah dada yang besar," ucapnya sudah kehilangan pikiran.


Sandara mengangguk di mana ia merasakan gelayar aneh di tubuhnya ketika Afro memijat buah dadanya dengan dua tangan kekarnya.


"Agh, aku akan keluar," ucap Afro langsung menarik banyak lembaran tisu, siap untuk melepaskan seluruh amunisinya.


"Dara, lepas!"


Dengan segera, Dara melepaskan genggamannya dan melihat Afro membungkus kejantanannya dengan tisu hingga miliknya tak terlihat.


Afro sampai memejamkan mata dan tubuhnya menegang sembari memegangi miliknya kuat.


"Kau tak apa, Kak Afro? Apa sakit?" tanya Sandara cemas sembari menurunkan sweater-nya yang nyaris terlepas.


Afro menggeleng. "Hempf, tidak. Malah aku ingin mengucapkan terima kasih. Sudah lama aku tak sepuas ini," jawabnya dengan nafas tersengal.


Sandara merasa senang karena baginya itu sebuah pujian. Afro membuang tisu itu di tempat sampah dan berjalan mendekati Sandara yang masih duduk di kasur menunggunya.


"Kau belum menyelesaikan makan malammu. Aku sudah memasaknya dengan susah payah," ucapnya mendekatkan wajahnya ke gadis cantik itu.


"Tanganku pegal," jawabnya lugu menunjukkan kedua tangannya yang lunglai.

__ADS_1


Afro terkekeh. Ia tetap mengajak Sandara makan malam, tapi ia menyuapinya.


Sandara terlihat bahagia karena Afro perhatian padanya. Begitu pula Afro yang terlihat tak canggung lagi di dekatnya.


__ADS_2