
Semua orang dibuat panik karena Kai tak sadarkan diri. Jeremy bergegas masuk ke dalam ruang kaca bahkan tak mengenakan pakaian khusus.
"Help!" teriaknya panik hingga seluruh otot wajahnya terlihat jelas.
Mix and Match bergegas masuk. Diana terpaku saat melihat sang kakek diangkat oleh dua orang bertubuh besar keluar ruangan. Jordan bergegas mendatangi puteri kecilnya dan menggendongnya.
"Dara! Kau tak apa?" tanya Arjuna mendekati adik perempuannya yang tampak shock karena berdiri mematung dengan tubuh gemetaran.
"Papa ... hiks, papa ...," ucapnya menangis begitu saja.
"Tak apa. Papa Kai pasti akan selamat," sahut Lysa ikut menenangkan seraya memeluk adik terkecilnya.
"Tidak. Tidak mungkin. Aku melihatnya. Papa tidak mungkin selamat. Papa sudah tiada," jawabnya dengan air mata menetes begitu deras.
Semua orang terkejut. Jeremy bahkan dibuat kebingungan dengan hal ini sampai tak tahu harus berbuat apa. Lysa memeluk Sandara erat yang tak bisa menghentikan tangisannya.
Sedang para mantan mafia senior, bergegas menuju ke ruang medis untuk melihat keadaan Kai.
Namun, apa yang dikatakan Sandara benar adanya. Kai tewas begitu saja karena benturan keras mengenai kepala.
Jonathan langsung memeluk Kai erat yang matanya masih terbuka. Perlahan, Han menutup mata suami termuda Vesper dan berusaha agar tak menangis.
"Benarkah? Kai tiada? Secepat itu?" tanya One tak percaya dengan berita yang dikabarkan oleh Victor usai petugas medis memastikan jika Kai sudah tak bernyawa.
Verda memeluk One erat terlihat begitu kehilangan. Para bodyguard Vesper mengelilingi Kai yang sudah terbaring tak bernyawa di atas ranjang pasien.
James memeluk kepala Kai dan membiarkan air matanya membanjiri wajah. Pria berambut gondrong itu merasa begitu kehilangan karena ia tumbuh bersama Kai sejak berada di Camp Militer China berikut Lopez, Drake, Eiji, bahkan Sasha yang telah tiada.
"Ya Allah, kenapa pada mati semua ini?" ucap Eko menangis sedih meski ia sudah berulang kali menghapus air matanya.
Buffalo berjongkok di samping ranjang Kai dan memeluk kedua lututnya erat. Ia tak menyangka jika Kai akan pergi secepat itu.
Drake mengelus kepala Kai yang terasa lembek di mana ia yakin jika benturan itu membuat syaraf di kepalanya mati seketika.
"Terima kasih atas semua hal yang kau berikan pada kami, Kai," ucap Eiji seraya menggenggam tangan Kai seolah mengajaknya berjabat tangan.
"Papa Kai ... Nathan udah siapin kado helikopter kendali jarak jauh ciptaan sendiri. Jangan mati dulu. Kalau papa mati, kadonya buat Nathan loh. Bangun papa," ucap Jonathan sedih, tapi semuanya sudah terlambat.
Kai telah pergi menyusul kekasih hati yang selama ini ia rindukan. Han menyenderkan punggungnya di tembok seraya memijat kepalanya tampak begitu terpukul.
"Ayah," panggil Arjuna seraya mendekati ayahnya dengan wajah sendu, di mana Sandara kini ditemani oleh teman-teman perempuannya untuk ditenangkan.
"Kai sialan. Dia sengaja meninggalkanku sendirian. Aku tak akan memaafkannya," ucap Han kesal dan juga sedih dalam waktu bersamaan.
Arjuna memeluk sang ayah dan ikut meneteskan air mata karena harus kehilangan sosok penting dalam hidupnya. Han menangis di pelukan sang anak.
Arjuna bisa merasakan duka mendalam dari Han karena kepergian sang isteri dan kini disusul oleh rival terbesarnya—Kai.
"Aku bahkan belum meminta maaf kepada Kai, Ayah. Apakah ... dia akan memaafkan perbuatan burukku di masa lalu?" tanya Arjuna teringat akan sikapnya yang begitu membenci Kai sejak ia tahu jika lelaki itu mencintai ibunya.
__ADS_1
"Pasti, Juna. Kai seperti ibumu. Dia sangat mudah memaafkan orang-orang yang menyakitinya, termasuk ibumu yang dianggap berselingkuh dengan Ivan," jawab Han berusaha tegar meski matanya masih berlinang.
Satu per satu, para mantan mafia dalam jajaran 13 Demon Heads dan The Circle memberikan penghormatan terakhir pada Kai.
Beberapa dari mereka memeluk jasadnya, bahkan ada yang mencium keningnya sebagai rasa terima kasih atas pengabdian dan pengorbanan untuk melindungi para mafia di bawah naungan Vesper dengan senjata-senjata ciptaannya.
"Tak akan ada yang menggantikan posisimu, Kai. Kau sama berharganya dengan Vesper, meski kau tak pernah menyadarinya. Dulu kau sangat ingin dianggap setara seperti Vesper. Asal kau tahu, sejak kau terlibat dalam 13 Demon Heads meski hanya dianggap pesuruh, seorang bodyguard, orang-orang mulai menilaimu dalam diam. Kau menunjukkan kemampuan di atas rata-rata meski kau selalu direndahkan. Kau melindungi Vesper dan kami dengan inovasimu. Aku sangat berterima kasih," ucap Ivan dari kalung penerjemah buatan ayah Sandara Liu.
Sherly ikut menangis sedih. Ia memeluk suaminya erat dari samping dan Ivan balas merangkul sang isteri dengan mata tertuju pada pria Asia itu.
Lysa berjalan berdampingan dengan Sandara Liu mendekati mayat Kai. Orang-orang memberikan jalan bagi anak tunggal pria tersebut untuk mengucapkan salam perpisahan.
Terlihat, perempuan cantik itu seperti tak bisa menutupi kesedihannya karena ditinggal pergi oleh sang ayah untuk selamanya. Sandara duduk di samping Kai dan menggenggam tangannya erat.
"Papa ... kau bahkan belum memberikan nama untuk cucu keduamu. Aku ... hiks, apa yang harus kukatakan pada Diana? Dia menanyakanmu sedari tadi. Aku ... aku sungguh tak tahu harus berbuat apa," ucap Sandara dengan air mata menggenangi mata indahnya.
"Aku akan bertanggungjawab atas nama anak keduamu dan juga Diana, Sayang. Kai pasti bisa mengerti. Tak pernah ada yang menginginkan kematian ini, bahkan Kai sekalipun. Namun, ini takdir Tuhan. Sama seperti saat kepergian ibumu, kau harus merelakannya karena kami, juga berduka sepertimu," ucap Jordan menasihati.
Sandara meletakkan tangan kanan Kai di wajahnya. Ia menangis di punggung tangan sang ayah. Lysa berulang kali memalingkan wajah karena tak sanggup melihat duka ini.
Javier mendekati sang isteri dan menghapus air matanya yang tak berhenti menetes meski tak ada isak tangis terdengar dari bibir wanita cantik itu.
"Apakah kita sepakat, jika Kai dimakamkan seperti Vesper?" tanya Victor yang terlihat sudah mampu menghentikan air matanya.
Semua orang mengangguk. Jeremy meminta kepada petugas yang mengurusi mayat untuk membersihkan Kai sebelum dimasukkan dalam tabung.
"Paman Eiji," panggil Sandara saat jasad Kai sudah dipindahkan. Eiji mendekat di mana wajahnya ikut sembab karena sedari tadi menangisi kepergian sahabat karibnya. "Aku ingin ... agar sidik jari tabung, hanya aku, paman Jeremy dan Diana saja yang boleh menyentuhnya," pinta Sandara.
"Dia sangat menyayangi papa. Dia pasti ingin menjenguknya. Aku tak mau saat Diana berkunjung, ia malah tewas karena sistem keamanan tabung. Jadi ... biarkan Diana mengunjungi papa kapanpun ia mau."
Eiji mengangguk pelan dengan senyuman. "Baiklah, aku mengerti. Semua kepengurusan tabung akan dilakukan esok usai acara pengawetan mayat Kai."
"Terima kasih," ucap Sandara yang mulai bisa menenangkan hatinya.
Jordan membantu Sandara berdiri dan mengajaknya ke kamar untuk beristirahat. Acara yang seharusnya menjadi ajang kesuksesan Kai dan timnya malah menjadi duka.
Malam itu, semua mantan mafia dari dua jajaran berkumpul untuk menghormati Kai yang dianggap sebagai legenda dalam inovasi senjata dalam dunia ilegal.
Tabung Kai bersebelahan dengan tabung milik Vesper. Kini, pasangan suami isteri itu berdampingan dan hidup bersama di alam lain.
Wajah penuh kesedihan masih terlihat jelas di semua tamu yang hadir karena kematian Kai yang tiba-tiba.
"Selamat tinggal, Profesor Kai. Kami akan selalu mengenang jasamu. Senjata-senjata buatanmu, akan menjadi bukti sejarah bahwa kaulah penciptanya. Namamu tak akan pudar seperti Vesper yang telah meninggalkan sejuta kenangan dalam kehidupan kami semua. Semoga ... kau bahagia bersama para pendahulu kita di alam sana. Sampai jumpa," ucap Jeremy seraya memasukkan setangkai bunga mawar putih ke dalam tabung kaca.
Satu per satu, para mantan mafia tersebut melakukan hal yang sama, termasuk Diana. Gadis kecil itu akhirnya bisa memahami jika sang kakek telah berpulang untuk selamanya.
"Bye, Opa," ucapnya sedih dan memeluk Jordan erat.
Jordan mencium kepala Diana lembut di mana gadis manis itu menjadi murung tak ceria lagi seperti biasanya.
__ADS_1
Diana seolah tahu jika ia tak bisa bermain bersama sang kakek lagi untuk selamanya.
...***...
Keesokan harinya. Semua mafia dikumpulkan di ballroom di mana dinding kaca tempat jasad Kai dan Vesper dibaringkan terlihat jelas di sana.
"Aku ingin jujur satu hal pada kalian semua," ucap Jeremy tampak serius.
Para mantan mafia itu ikut tegang saat menanti kelanjutan perkataan sang profesor.
"Hanya Kai yang paham betul teknologi dua jenis tabung tersebut. Kami membagi tugas selama pembuatan. 35 tabung yang dibuat oleh Kai di bawah pengawasannya langsung, adalah generasi pertama dan dianggap sempurna. Jadi, untuk pemesanan selanjutnya, aku ... aku sungguh minta maaf jika mungkin tak secanggih ciptaan Kai," ucap Jeremy yang mengejutkan semua orang.
"Maksudmu ... tabung yang kami pesan untuk anak-anak tak serupa dengan ciptaan Kai, begitu?" tanya Amanda memastikan. Jeremy mengangguk membenarkan.
"Kai memang meninggalkan rincian rancangan berikut pengoperasian tabung ciptaannya. Meskipun kami bisa membuat benda itu mirip, tapi ... seperti yang kalian tahu, sentuhan dari sang ahli tetap memberikan kesan dan dampak yang berbeda entah bagaimana secara logis aku menjabarkannya. Namun, akan kami usahakan semaksimal mungkin meski tidak 100 persen. Jadi, pemesanan tabung generasi kedua, kami serahkan pada para konsumen, apakah kalian akan tetap memintanya atau tidak. Kami tak memaksa," jawab Jeremy tegas.
Para orang tua yang bermaksud memesan tabung untuk anak-anak mereka terlihat ragu. Beberapa mafia yang baru akan memesan karena ingin melihat hasil ciptaan Kai setelah Souta sadar, menjadi bimbang.
Mereka saling berdiskusi dan berbisik untuk membuat keputusan sulit karena hal itu akan memberikan dampak yang bisa saja tak diketahui bagi kehidupan orang dalam tabung tersebut.
"Aku percaya padamu, Paman Jeremy. Selama ini, kau tak pernah mengecewakan. Tak ada manusia yang sempurna. Kau selama ini bekerja keras dan ikut memberikan kontribusi tak ternilai harganya bagi kami, para mafia. Jadi kuputuskan, aku tetap akan memesan untuk keluargaku," tegas Afro dari tempatnya duduk.
"Ya. Kami percaya padamu. Serum-serum buatanmu memberikan banyak kemenangan bagi kita bahkan kau bisa menunda kematian nona Lily dengan serum ciptaanmu. Jika serum-serum itu dikerjakan oleh orang lain, mungkin nona Lily sudah lama mati. Aku ikut memesan dan aku yakin semua akan baik-baik saja," tegas Lucy dari tempatnya duduk.
Jeremy tersenyum dan mengangguk berterima kasih. Tim Kai yang mengerjakan tabung tersebut tampak tertekan, tapi menerima pekerjaan berat itu.
Akhirnya, para mafia sepakat untuk tetap melakukan pemesanan bagi keluarga mereka. Jeremy terlihat berusaha keras agar ciptaannya sempurna seperti buatan Kai.
Jeremy meminta kepada para pemesan agar bersabar. Dengan meninggalnya Kai, mereka cukup kerepotan dan tak ingin pekerjaan yang menyangkut nyawa itu dikerjakan dengan terburu-buru. Para mantan mafia memahami hal tersebut dan memakluminya.
"Aku berikan tabungku untuk Lazarus saja. Aku tak apa, sungguh," ucap Sherly merelakan tabung yang bisa menidurkannya dengan harapan, saat ia bangun nanti, ia belum menua dan masih bisa bertemu Lazarus serta cucunya ketika dewasa.
Ivan terlihat begitu sedih, tapi Sherly meyakinkan jika ia akan baik-baik saja. Ternyata, ide dari Sherly diterapkan oleh beberapa orang.
Bahkan Dewi isteri Eko, merelakan tabungnya diberikan kepada sang anak agar tetap hidup di masa depan.
"Jangan gitu dek Dewi. Atau kita berdua setabung? Sumpek-sumpekan gak papa deh, kan malah anget," ucap Eko tak ikhlas jika isterinya meninggal lebih dulu darinya.
"Udah, gak usah sok sedih. Kamu harus idup buat Endah dan Otong. Jangan berisik. Tabungku untuk Otong saja. Nanti, tabung mas Eko ikhlasin buat Endah. Jadi, kamu gak usah lama-lama idupnya atau Dewi bakal bangkit dari kubur nyeret kamu ke alam baka," ancam sang isteri yang membuat mata Eko melebar seketika.
"Oh gitu. Kalau gitu, kita gak usah pesen aja. Tabung Eko buat si Jubed aja. Ngirit, kan mahal itu satu tabungnya bisa buat beli mobil," sahut Eko dan Dewi mengangguk setuju.
Jeremy dan tim produksi tabung hanya tersenyum melihat beberapa orang tua merelakan tabung mereka demi kelangsungan hidup sang anak.
"Sialan kau, Kai. Kau meninggalkan pekerjaan yang mungkin bisa menyita seluruh hidupku," gerutu Jeremy kesal seraya menatap tabung Kai dari luar dinding kaca.
...***...
Dan yah, begitulah akhir kisah dari para mafia. Mereka beranak pinak dan hidup bahagia dengan kehidupan masing-masing. Semoga kisah mbak Vesper CS sejak tahun 2019 sampai 2022 ini memberikan kesan yang mendalam, banyak nilai kehidupan yang terkandung dan memberikan dampak positif dalam kehidupan para pembaca meski genrenya mafia. Terima kasih atas segala dukungannya para LAP. Lele padamu❤️
__ADS_1
...---- SELESAI ----...