4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Pink Katana*


__ADS_3

Sandara menghabiskan kesehariannya selama menjadi sandera Neon dengan melatih diri. Ia tak diberikan tugas sulit seperti saat dalam cengkeraman Mr. White.


Namun, Sandara merasa jika Neon lebih berbahaya dari pria berambut putih panjang yang telah tewas itu.


Neon bisa membaca pergerakannya, bahkan seperti tahu isi pikirannya. Sandara sangat berhati-hati selama bersama Neon entah apapun kegiatan mereka setiap harinya.


Pagi itu, Neon menunjukkan sebuah video teknik pedang pada Sandara di sebuah ruangan berlantai kayu.


Tempat itu hanya terdapat televisi, remote, sebuah kursi dan meja plastik dengan botol air mineral berjumlah tiga buah, pedang dengan sarung berwarna merah muda serta sebuah ikat pinggang dari kain.


Sandara ditinggalkan sendirian dalam ruangan tertutup itu. Tiba-tiba, layar pada televisi menyala. Terlihat seorang pria layaknya seorang samurai memasang ikat pinggang lalu menyelipkan katana di pinggul kirinya.


Sandara mengamati gerak-gerik pria tersebut. Sandara berdiri diam menyaksikan tayangan yang hampir memakan waktu 30 menit lamanya.


"Jika sudah mengerti, segera lakukan. Jangan bengong. Aku ingin melihat hasil latihanmu malam nanti. Jangan mengecewakanku," perintah Neon dari pengeras suara yang terdengar cukup santer di ruangan berukuran 10 x 10 meter tersebut.



Sandara menarik nafas dalam. Ia mengambil sebuah katana mainan yang bilahnya terbuat dari plastik, tapi terlihat seperti besi sungguhan dari kejauhan di hadapannya.


Senyum tipisnya terbit karena baginya katana itu cantik. Sandara terlihat menyukai benda tersebut.


Sandara mengulang tata cara saat pria itu menyelipkan pedang dari ikat pinggang, bagaimana menarik pedang dari sarungnya, mengayunkan pedang, melakukan sabetan, sampai langkah kaki, dan menangkis serangan.


Sandara terlihat fokus. Ia juga melakukan pengulangan begitu satu gerakan ia kuasai. Sandara terlihat lebih sigap dari sebelumnya. Dan ternyata, latihannya kali ini diawasi ketat oleh Neon dari ruangannya.


"Akhirnya ... sebentar lagi," ucap Neon dari balik topeng.


Malam itu, Neon kembali mengajak Sandara ke pinggir pantai. Sandara mulai terbiasa menerima latihan berat dari pria tak dikenalnya itu.


Neon duduk di sebuah kursi plastik dengan sebuah meja di sampingnya berisi 3 botol minuman.


"Sama seperti kemarin. Aku ingin, kau berhasil menguasai gerakan kombinasi yang telah kau pelajari saat akhir bulan nanti. Aku ingin presentasimu bagus saat pertengahan bulan Agustus. Jika jelek, jangan salahkan aku kalau kau akan mendapatkan hukuman," tegas Neon.


Kening Sandara berkerut. "Presentasi? Untuk apa?"


"Kau akan tahu nanti. Mulai," jawabnya tegas dan kini Neon menikmati keripik singkong dalam sebuah toples di pangkuannya.


Sandara menarik nafas dalam. Ia teringat akan cerita James saat di Korea Selatan ketika ibunya dulu juga berlatih ilmu pedang, dan pria berambut pirang gondrong itu adalah mentornya.


Sandara mengenakan yukata putih kali ini. Pertama kalinya ia menggunakan pakaian lain bukan seragam latihan yang biasa ia kenakan seperti saat dalam cengkeraman Mr. White.


Sandara memulai latihannya. Ia terlihat fokus. Ia bersimpuh di atas pasir dengan salah satu kaki ia tekuk.


Tangan kirinya menggenggam sarung dari pedang mainan yang ia condongkan naik ke atas setinggi dada. Tangan kanannya ia letakkan di atas lutut. (coba kalian praktek😁)


Wajah Sandara yang selalu sendu, membuatnya terlihat memiliki sisi kejam dari keluguannya. Neon menghentikan kunyahan keripik di mulutnya saat Sandara memejamkan mata sejenak seperti orang berdoa.


'Aku pasti bisa seperti mama. Aku anaknya, dan darah petarungnya mengalir dalam tubuhku. Aku percaya itu. Berikan kekuatanmu, Mah,' ucap Sandara dalam hati.


Seketika, SRETT!


Neon terkejut. Sandara mencabut pedang dari sarung dengan tangan kanan dalam posisi membungkuk.


Kedua kaki membentuk kuda-kuda, dan sorot matanya tajam terfokus ke depan. Sandara terlihat seperti sedang menyerang seorang di depannya. Pedang itu melintang di hadapannya.


Sekejap, gerakan itu berganti lagi menjadi sebuah serangan saat ia menghentakkan kaki kanannya melompat ke depan seperti melakukan gertakan.


Mata Neon melebar karena gerakan itu begitu cepat dan tegas, tak seperti ketika Sandara berlatih kemarin.


Sandara menegakkan tubuhnya dengan posisi pedang melintang dalam genggaman tangan kanan.


Tiba-tiba, ia berbalik dengan gerakan seperti memotong dari atas ke bawah sangat cepat, hingga tubuhnya membungkuk dengan kedua tangan menggenggam pedang itu erat.


Keripik dalam apitan jari telunjuk dan jempol Neon sampai terabaikan, karena pria itu terpaku seperti menonton sebuah pertunjukkan.

__ADS_1


Mata Neon sibuk ke sana kemari melihat Sandara begitu lincah di atas pasir dengan sabetan pedang, bergulung, melompat seperti katak, bahkan melakukan kombinasi gerakan salto dalam teknik pedangnya.


"Wohooo!" teriak Neon gembira.


Sandara menyarungkan pedangnya lagi dengan sorot mata tajam. Neon mendatangi Sandara dengan ceria lalu meraih kedua tangannya. Sandara bingung saat Neon mengajaknya berputar seperti bermain.


Namun, Neon terkejut ketika Sandara melepaskan genggamannya dengan gusar dan langsung mundur selangkah menatapnya tajam.


"Agustus. Apa yang akan terjadi? Aku berhak tau," tanyanya tegas.


Neon menghembuskan nafas panjang. "Apa ... kau tahu, siapa aku?" Sandara menggeleng. Neon tersenyum. "Jika suatu saat kau mengenaliku, apakah ... kau akan membunuhku?" Sandara diam tak menjawab. "Pastikan, jika aku tewas, lakukan dengan cepat hingga aku tak perlu merasakan sakit berkepanjangan. Kau, bisa mengabulkan permintaanku, Sandara?" tanya Neon yang suaranya hampir tak terdengar karena kalah dengan deru ombak malam itu. Sandara mengangguk. "Berlatihlah dengan giat, menanglah. Jangan sampai kalah," ucap Neon terdengar cemas.


"Kau belum menjawab pertanyaanku," ulang Sandara mempertegas pemintaannya.


"Giatlah berlatih. Agustus sebentar lagi. Lawanmu berat dan mereka sangat liar. Kau menang, kau bisa bertemu keluargamu lagi. Hanya itu, yang bisa kukatakan," jawabnya di kejauhan.


Neon meminta Sandara kembali ke kamar. Hari itu, Neon terlihat murung, tak banyak bicara apalagi bercanda setelah menjelaskan sebuah hal yang membuat Sandara penasaran.


Sandara merendam tubuhnya di bath up, tapi kali ini ia terjaga.


"Agustus? Pertengahan? Tanggal berapa tepatnya?" guman Sandara terlihat berpikir keras. "Apa yang dilakukan oleh orang-orang No Face pada bulan Agustus? Apa yang kulewatkan dari berkas laporan 13 Demon Heads," sambungnya makin serius berpikir.


Sandara memikirkan hal tersebut sampai ia kesulitan tidur. Gadis itu tipe pemikir, dan jika belum menemukan jalan keluarnya, pertanyaan itu terus menghantuinya.


"Oke, santai saja, Dara. Sekarang, coba ingat berkas laporan mommy Manda. Dia orang yang terlibat paling banyak dengan No Face ketimbang mama," ucapnya dengan mata terpejam mencoba mengingat isi laporan yang disimpan oleh GIGA.


Sandara berguman, meski tubuhnya berbaring dan berselimut di atas ranjang. Cukup lama ia menggerakkan bibir dengan bola mata tertutup kelopak, tapi terlihat bergerak seperti orang membaca dalam tidur.


Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 23.30 waktu setempat. Sandara masih berpikir. Ia terlihat tenang dalam posisinya yang tak berubah hingga satu jam lamanya. Lalu tiba-tiba, matanya melebar.


"Oh! Mungkinkah?" pekiknya terkejut seperti menyadari sesuatu.


Pagi itu, Sandara bangun dengan sebuah tebakan besar berada di kepalanya terus memaksanya untuk mencari tahu, membuatnya terlihat begitu serius.


Kali ini, Sandara terlihat siap dengan latihan ilmu pedang dari video lain. Neon melihat Sandara bersemangat seperti menantikan latihan ini.


"Untuk apa?" tanya Sandara ketika anak buah Neon membawa dua buah boneka plastik ke dalam ruang latihan.


"Kau butuh model untuk memastikan seranganmu tepat. Hanya saja, patung ini tidak bergerak, sudah pasti kau akan menang. Aku akan mencoba membuat alat peraga yang agresif untuk latihanmu berikutnya. Sementara gunakan patung plastik ini dulu. Kau ... semakin bagus. Terus lakukan sesuai instruksi dalam video, karena jujur Sandara, aku tak bisa ilmu pedang, hehe," jawabnya santai lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menguncinya dari luar.


'Dia tak bisa ilmu pedang? Jika aku melawannya, mungkinkah ... aku akan menang? Lalu ... aku bisa pergi dari tempat ini?' tanya Sandara dalam hati makin merasa aneh dengan sosok Neon.


Angan-angan Sandara semakin melambung tinggi, tapi entah kenapa, ia tak ada niatan untuk membunuh Neon.


Bukan karena ia merasa jika Neon ancaman, melainkan ia ingin mencari tahu dari arti 'Presentasi pertengahan bulan Agustus'. Sandara mengangkat tangan ke kamera.


"Apa yang kaubutuhkan?" tanya Neon dari speaker.


"Spidol permanen."


"Oke."


Tak lama, datang penjaga ke ruang latihan tersebut. Namun, pria itu menggelindingkan spidol di kejauhan. Sandara memungut spidol itu dengan anggukan dan pria bertopeng kembali menutup pintu.


Neon melihat Sandara menandai beberapa titik dari mannequin di hadapannya. Gadis itu menyingkirkan sebuah mannequin dan kini hanya ada satu yang menjadi titik fokusnya.


Sandara terlihat siap dengan katana merah mudanya. Ia ternyata menjadikan titik-titik itu sebagai serangannya.


Semua titik adalah bagian vital dan bisa membuat musuhnya terluka parah bahkan tewas.


Neon menunjukkan senyumannya, ia terlihat senang. Hingga akhirnya, waktu yang Sandara nantikan tiba.


TOK! TOK! TOK!


CEKLEK!

__ADS_1


"Hem. Kau terlihat tangguh. Ayo, ada presentasi yang harus kautunjukkan," ucap pria itu dan Sandara segera keluar dengan katana plastik telah siap di pinggulnya.


Sandara mengenakan yukata warna merah muda dengan lapisan dalam putih, serasih dengan katana miliknya.


Neon menguncir rambutnya ke atas seperti ekor kuda. Sandara diam saja, ketika Neon mempersiapkannya untuk sesuatu.


"Kita ... keluar pulau?"


"Sudah tahu kenapa tanya?" jawab Neon santai.


Mereka mengendarai sebuah helikopter. Saat helikopter mulai melayang dan Sandara menoleh untuk melihat di mana dirinya berada, tiba-tiba ....


CLEB! CESSS!


"Agggg," rintihnya, saat Neon menyuntiknya tepat di leher, dan gadis cantik itu roboh seketika di pangkuannya.


"Tidurlah, Dara. Perjalanan kita akan sangat jauh, dan aku tak ingin kau tahu di mana kita berada," ucap Neon seraya mengelus kepala Sandara lembut.


Helikopter terbang meninggalkan pulau yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.


Penerbangan itu memakan waktu cukup lama bahkan berganti dengan pesawat pribadi untuk menuju ke negara tersebut. Sandara yang terlelap dalam tidurnya, tak menyadari di mana dirinya kini berada.


***


Sandara merasakan silau matahari mengusik matanya walau masih terpejam. Ia merasakan udara di sekitar tempat itu sedikit pengap dan panas.


Perlahan, gadis cantik berwajah Asia itu membuka matanya semakin melebar. Sandara menyadari jika dirinya terbaring di ranjang di sebuah kamar yang tampak asing baginya.


Rambutnya tergerai dan mendapati kucir rambutnya terlepas di samping ia tidur. Sandara memegang lehernya yang terasa sakit karena tusukan bius yang tiba-tiba.


Gadis berkulit putih itu menyibakkan selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Sandara duduk perlahan dan turun dari ranjang setelah kesadarannya kembali.


Ia melihat ruangan yang terbuat dari batuan dan pasir seperti rumah ciri khas Timur Tengah di gurun.


Sandara mendekati sebuah jendela, dan melihat jenis bangunan di depannya yang tak pernah ia jumpai sebelumnya.


Sandara heran karena tempat itu tak dijaga dan tak terlihat CCTV di sekitar bangunan. Namun, hal itu malah membuat gadis cantik itu waspada.



Sandara menutup kembali jendela yang sudah terbuka sebelumnya. Ia melangkah perlahan dan melihat dirinya pada cermin.


Sandara mengikat kembali rambutnya dan merapikan yukata-nya. Sandara menyiagakan kembali katana plastik dan terlihat siap di depan cermin.


CEKLEK!


Sandara menoleh dan mendapati sekumpulan wanita berkerudung dengan pakaian tertutup, memakai cadar memasuki kamarnya.


"Ikut kami," pinta wanita bercadar hitam dengan bahasa Arab.


Sandara mengangguk. Ia belum memahami bahasa itu, tapi ia cukup yakin jika para wanita itu memintanya untuk mengikuti mereka.


Sandara keluar dari ruangan, diapit oleh para wanita bercadar. Gadis Asia itu dibawa ke suatu tempat di mana kali ini, ia mendapati banyak CCTV terpasang di tiap sudut. Sandara tetap terlihat tenang dan mengikuti arahan.


"Masuk dan tunggulah di dalam. Waktumu akan segera tiba," ucap salah seorang wanita dengan bahasa Indonesia.


Sandara terlihat kaget karena salah satu dari wanita itu bisa berbicara bahasa yang ia pahami.


Sandara masuk ke sebuah ruangan. Tempat itu bercahaya redup, dan hanya ada sebuah lubang kecil di samping dinding dengan cahaya menembus dari sisi itu. Sandara mendekat dan mengintip. Seketika, matanya melebar.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


terima kasih tipsnya. hari ini masih satu epsnya. besok insya allah udah normal lagi. tengkiyuw lele padamu❤️ panjang nih epsnya😍



__ADS_2