4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Sebuah Kepedulian*


__ADS_3

Di sisi lain tempat Vesper berada. Jeju Island. Korea Selatan.


Sang Ketua 13 Demon Heads tersebut membuka sebuah kiriman paket yang ditujukan padanya. Sebuah lambang dari huruf Thailand terselip di dalam kardus penutup paket tersebut.


Vesper tersenyum tipis. "Hem, dia tahu jika aku bukan tipe wanita bar-bar yang membuka bungkusan dengan merobeknya," ucap Vesper seraya membuka bungkusan berlapis itu dengan tenang.


Seketika, gerakan tangan Vesper terhenti saat mendapati isi paket berupa serbet dengan noda dan sebuah catatan di dalamnya. Vesper membaca sandi rumput tersebut dan kertas dengan bahasa Thailand.


Vesper mengarahkan ponsel ke kertas tersebut dengan sebuah aplikasi penerjemah bahasa. Mata Vesper menajam ketika tahu isi dari surat tersebut.


"Pasti dia sangat kesakitan dan menderita. Oh, Dara sayang. Kenapa nasibmu lebih buruk dariku. Bahkan kau merasakannya di usia masih remaja," ucap Vesper terlihat sedih, meski tak menangis.


Vesper memasukkan kertas tersebut ke mesin penghancur kertas. Vesper juga menggunting serbet itu menjadi beberapa potongan kecil dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.


Vesper diam sejenak, tapi kembali melakukan pekerjaannya. Tak lama, Kai masuk bersama Biawak Cokelat dan Kuning.


"Hallo, Sayang," sapa Vesper dengan senyum terkembang.


"Hai. Apakah ... kau dapat kabar dari tim di lapangan yang melakukan pencarian Sandara?" tanya Kai seraya mendatangi sang isteri.


Vesper menggeleng pelan. Kai menghembuskan nafas panjang.


"Red Ribbon juga gak nemuin hasil, padahal Afro bantu kasih banyak petunjuk termasuk Tessa. Bisa raib gitu ya, bahkan GIGA gak bisa lacak loh. No Face punya teknologi canggih kah yang belom pernah ada di dunia?" tanya Cokelat menyahut.


"Entahlah. Kita berdoa saja yang terbaik untuk gadis kecil kita," jawab Vesper dengan pandangan tertunduk.


Kai menghembuskan nafas panjang. "Ya, sudah. Kami harus pergi lagi. Kau, tak apa 'kan jika aku tinggal?" tanya Kai menatap wajah Vesper sendu.


"Ya. Aku hanya sebentar di Resort Jeju. Setelah ini, aku akan menemui paman BinBin, lalu kembali ke Rusia," jawab Vesper dengan senyuman.


"Baiklah. Jaga kesehatanmu, Sayang. I love you," jawab Kai lalu mengecup bibir Vesper lembut.


Sang isteri tersenyum manis saat Kai, dan dua Biawak keluar dari ruangannya lalu menutup pintu.


"Dia ... tak menyadarinya? Hem, sepertinya kemampuan beraktingku masih sangat bagus," ucapnya pelan dengan senyum tipis.


Di tempat Arjuna berada, Semarang, Indonesia.


"Gimana sih, Jun? Lu nikah gak bilang-bilang, gak undang-undang lagi. Dan, sorry banget, gua kira lu nikah sama Naomi loh. Habisnya kalian berdua lengket banget. Eh ternyata sama bule cantik," ucap Dewa seraya merangkul pundak Arjuna usai melakukan survei lokasi di tanah milik Dewa.


Arjuna tersenyum tipis. "Naomi juga udah nikah sama bule Rusia," jawabnya santai, dan praktis, Dewa terkejut sampai langkahnya terhenti.


"Oh ya? Wow! Bisa gitu ya? Tapi ... bukan nikah karena kalian saling balas dendam kan?" Arjuna melirik dengan kening berkerut. Dewa menelan ludah. "Maksudnya ... ah, ya gitulah," sambungnya bingung mengutarakan.

__ADS_1


"Mau ngomong apa? Gak usah muter-muter," tegas Arjuna.


Dewa tersenyum paksa. "Iya maksudnya, lu nikah, Naomi nikah, kalian nikah bukan karena saling mengecewakan 'kan? Karena jujur loh, Jun. Kalian berdua itu cocok. Banyak cowok di sekolah yang suka sama Naomi, tapi mundur karena mikirnya lu cowoknya dia. Siapa sih yang berani sama lu, jagoan gitu. Jadi waktu kalian lulus dan bilang pindah ke China, kita mikirnya kalian ya bakal nikah. Apalagi pas kalian balik ke sini, berdua, dan kerja satu perusahaan. Tapi ya ... rencana Tuhan siapa yang tau. Sorry ya, ini gua jujur aja sama lu, biar gak ganjel di hati gitu. Jangan marah ya," ucap Dewa terlihat kikuk dengan senyum kaku.


Arjuna tersenyum tipis tak menjawab. Dia menoleh dan mendapati Gina sedang berbincang dengan Tessa seraya mendekat ke arah mereka.


"Juna! Ih, isterimu jago banget loh bahasa Indonesianya, lancar gitu. Bisa aja dapet bule cantik, dan pinter lagi," ucapnya lantang menatap Arjuna dari tempatnya berjalan. Arjuna diam tak berekspresi. "Kok kamu mau sih sama Juna? Dia itu nyebelin loh," tanya Gina menatap Tessa keheranan. Arjuna terkejut, tapi Tessa tersenyum lebar.


"Karena sikapnya yang menyebalkan dan menjengkelkan itu, aku mencintainya. Mungkin jika wanita lain yang berusaha mencintainya, dia akan gantung diri. Sayangnya, tiap aku mencoba untuk menggantung diri, talinya selalu putus. Hem, tali itu putus karena Arjuna tak mengizinkannya. Dia selalu ada untukku. Dia ... bisa melakukan segalanya. Aku beruntung bisa menikahi pria sepertinya," jawab Tessa terdengar tulus bahkan memuji sang suami.


"Wow, aku ... ngiri. Gin, kamu kok gak pernah muji aku sih? Tuh, Juna aja dipuji habis-habisan sama bininya. Puji aku dong biar Juna ngiri," pinta Dewa kesal.


Gina memonyongkan bibir, tapi Tessa dan Arjuna malah terkekeh karena baginya sikap Dewa sungguh kekanakan.


Arjuna terdiam menatap Tessa yang terlihat akrab dengan kawan-kawan semasa sekolahnya bahkan dengan para pekerja lapangan saat mereka menanyakan tentang apapun yang berhubungan dengan proyek.


"Maaf, mengganggu acara berpetualang kalian. Tapi, sudah waktunya makan siang. Mari," ajak Sun datang mendekat di temani kawan Dewa yang kini menjadi salah satu Managernya bernama Rio.


Orang-orang itu akhirnya meninggalkan kawasan yang sedang dilakukan pembangunan untuk salah satu destinasi wisata bernama Arjuna's Adventure cabang Semarang.


"Juna, itu isterimu gak dibantuin? Aku jadi gak yakin kalau kamu itu perhatian sama dia," tanya Gina menatapnya tajam.


Arjuna yang berjalan di samping Dewa langsung menoleh dan mendapati Tessa kesulitan berjalan di tanah yang landai karena memakai sepatu berhak.


"Aaaa! So sweet banget! Aku mau digendong juga dong," rengek Gina menarik lengan Dewa dan menggoyangkannya, tapi Dewa menolak.


Gina iri melihat Arjuna berjalan dengan gagah seakan tubuh semampai Tessa tak berat untuknya.


"Aku duluan," ucap Arjuna saat melewati orang-orang yang malah terbengong menatapnya.


Sun tersenyum tipis dan mengikuti Bosnya. Terlihat, wajah Tessa merona dan hanya bisa diam dalam gendongan sang suami.


Arjuna tetap memasang wajah dingin saat makan siang. Semua orang yang masih penasaran dengan Tessa membuat wanita berambut pirang itu sedikit canggung.


"Juna, kamu kok makan duluan sih? Isterimu aja masih sibuk cek laporan sama Sun loh," tanya Gina lagi menatapnya dengan wajah lugu.


Arjuna menoleh dan melihat Sun serta Tessa serius berbicara menggunakan bahasa Inggris. Arjuna dengan sigap mengambil beberapa piring lauk dan memindahkannya.


"Kok gak pakai na—"


"Tessa belum biasa makan nasi. Aku juga belum terlalu yakin dia cocok dengan masakan ini," jawab Arjuna seraya meletakkan piring yang telah berisi berbagai jenis makanan ke hadapan sang isteri.


"Baiklah, saya rasa cukup. Maaf, mengganggu makan siang Anda, Nona Tessa," ucap Sun sungkan dan wanita berambut pirang itu hanya menjawabnya dengan senyum terkembang.

__ADS_1


Saat Tessa menoleh, ia terkejut karena di depannya sudah tersedia banyak makanan. Ia terlihat bingung dan melirik Arjuna, tapi kemudian menoleh ke arah Sun.



(lele laper cuma liat gambar makanan, mana pas jam makan siang pula😩sabar)


"Makanlah. Yang kupilihkan itu sepertinya bisa diterima oleh lidahmu. Jika tak suka, jangan dimakan. Berikan saja buntalan daun berisi nasi itu pada Sun," ucap Arjuna melirik sekilas dan kembali menikmati makanannya.


Tessa terkejut dan menatap Arjuna seksama. Namun perlahan, senyumnya terbit. "Terima kasih, Sayang. Aku harus terbiasa dengan masakan Indonesia," jawabnya lalu mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi sang suami.


Arjuna tertegun sampai menghentikan makannya untuk beberapa saat, tapi melanjutkan kembali dengan wajah datar.


"Ya ampun, ih ... Dewa!" rengek Gina untuk kesekian kali.


Dewa terlihat tertekan dan menuruti permintaan sang isteri. Namun, Gina malah risih karena Dewa menciuminya dengan rakus. Rio, Sun, Tessa, dan Arjuna terkekeh karena keduanya terlihat malah seperti bertengkar.


Malam itu, tim Arjuna dan Dewa menginap di sebuah hotel dan baru kembali ke Yogyakarta keesokan harinya.


Tessa terlihat letih dan tertidur di sofa panjang dalam posisi duduk menyender dengan sebuah map dalam pangkuannya.


Arjuna yang baru selesai mandi terkejut, tapi ia membiarkan Tessa tetap dalam posisinya. Ia segera mengenakan piyama tidur dan merebahkan diri di kasur. Arjuna tidur begitu saja.


DRETTT!


"Emph," keluh Tessa saat ia membuka matanya yang terlihat masih sangat lelah dan mengantuk. Ia menegakkan posisi duduknya lalu mengambil ponsel yang diletakkan di atas meja.


Tessa membaca pesan itu dengan wajah sayu, dan membalasnya dengan menguap. Setelahnya, Tessa meletakkan map dan ponselnya di atas meja.


Wanita cantik itu melihat sekeliling dan terkejut ketika mendapati Arjuna sudah tertidur pulas di ranjang.


Tessa menghembuskan nafas pelan dan beranjak. Ia melangkah ke kamar mandi lalu membersihkan diri.


Bahkan saat Tessa merebahkan dirinya di ranjang menyusul sang suami, Arjuna yang sempat terbangun hanya meliriknya sekilas dan malah memunggunginya.


Tessa terlihat lesu, tapi ia tetap mencoba mendekati tubuh suaminya. Arjuna membuka mata saat ia mendapati tangan Tessa memeluk perutnya. Arjuna diam saja dan kembali memejamkan mata terlihat tak peduli.


"Terima kasih untuk hari ini, Sayang. Kau ... sangat baik padaku. Good night," ucapnya seraya meninggalkan kecupan di tengkuk sang suami lalu ikut memejamkan mata.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


jangan lupa vote vocernya ya. udah senin dan keburu xpayet nanti. tips koin abis tapi lele kasih 1500 kata nih biar manteb😁 kwkwkw tengkiyuw😍


__ADS_2