4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
The Eyes Terakhir


__ADS_3

Perlahan, Lysa membuka mata. Ia merasa tubuhnya kaku dan dingin karena tidur di lantai. Namun, Lysa baru menyadari jika tubuhnya ditutupi selimut.


Lysa bangun perlahan dan mendapati Javier duduk di sebelahnya dengan senyuman. Lysa duduk seraya memegangi lehernya yang telah dibalut perban.


"Aku peduli padamu, Lysa. Kau Ibu dari anakku King D. Aku tak ingin kehilanganmu. Aku juga tak ingin menggantikanmu dengan wanita lainnya. Tak bisakah kau memahaminya?" tanya Javier menatap Lysa lekat.


Lysa terdiam dengan pandangan tertunduk seraya memainkan kedua tangannya.


"Apa kau masih berambisi untuk menemukan pelaku yang membunuh Tobias?" Lysa mengangguk pelan. "Jika kau menemukannya, apa kau akan membunuhnya?" Lysa kembali mengangguk. Javier menarik napas dalam tetap tenang. "Bagaimana jika pelakunya memiliki keluarga? Memiliki anak dan isteri dan ia satu-satunya andalan dari kehidupan keluarga itu?"


Seketika, Lysa langsung menoleh ke arah Javier dengan sorot mata tajam.


"Kautahu pelakunya?"


Javier menggeleng pelan. "Aku hanya bertanya, 'jika'. Aku hanya ingin memperingatkanmu, Lysa. Pengaruh Tobias masih melekat padamu."


Lysa langsung memalingkan wajah terlihat kesal.


"Aku belum selesai bicara, dengarkan aku dulu," sahut Javier cepat. Lysa mengangguk pelan meski tak memandangnya. "The Eyes, ada dalam kendalimu. Miles telah menculik anak buah Jonathan dan Arjuna. Para anggota Dewan berasumsi jika Miles sedang menghimpun pasukan untuk menggempur kita. Sebagai balas dendam karena kita menghancurkan The Circle."


Pandangan Lysa kembali pada Sultan dan kini menatapnya saksama.


"Maksudmu ... Miles mengincar The Eyes milikku untuk dijadikan pasukannya?" Javier mengangguk. Mata Lysa melebar, ia seperti menyadari sesuatu. "Aku harus kembali ke Jerman. The Eyes milikku dalam bahaya!" ucapnya panik dan segera berdiri.


"Aku ikut," pinta Javier dan Lysa mengangguk setuju.


Fara terpaksa dititipkan kepada keluarga Satria. Sang Kakek tak keberatan dan malah merasa senang. Lysa mengecup kening anaknya lama penuh kasih dan memeluknya.


Fara menangis, tapi Lysa berjanji akan kembali padanya. Shinta dan Tika juga berjanji akan melindungi serta merawat Fara sampai urusan Lysa selesai.


Bulan Juni Minggu keempat.


Benar saja. The Eyes yang menjaga Apartemen Marlena menghilang. Lysa segera memeriksa dari rekaman CCTV gedung. Javier, Sauqi dan Habib yang melihat penyergapan itu tampak serius.


"Mereka melakukannya dengan sangat pintar. Senyap dan cepat. Aku tak menyangka jika gas halusinasi akan seefektif ini," ucap Sauqi dan diangguki oleh orang-orang yang melihat aksi Miles pada dini hari itu.


"Berapa sisa dari anggota The Eyes yang kaumiliki sekarang?" tanya Javier menoleh ke arah Lysa yang terlihat pusing memikirkan hal ini.


"Yang terakhir berada di Cuba, kediaman Tobias."


"Kita cegah serangan selanjutnya. Ayo, kita harus bergegas," ajak Habib dan diangguki semua orang di ruangan tersebut.


Lysa dan rombongan dari kubu Sultan segera terbang meninggalkan Jerman menuju ke Cuba.


Penerbangan yang memakan waktu hingga 12 jam perjalanan itu dimanfaatkan oleh para mafia untuk menyusun strategi.


"Anggap saja Miles berhasil menghimpun seluruh pasukan, itu akan sangat berbahaya. Jumlah pasukannya hampir setara dengan jumlah Black Armys Vesper sekarang," ucap Javier menganalisis.


"Selain itu, Miles memiliki persenjataan milik Boleslav dan Vesper Industries. Dia sudah menggempur dua kediaman anggota dewan, meski tak melakukan pencurian aset seperti para Mens. Jika tujuannya ingin melenyapkan 13 Demon Heads, kenapa ia tak melakukan cara yang sama seperti yang Vesper lakukan ketika menghancurkan para Mens dengan membombandir mereka sekaligus?" tanya Habib penuh selidik.


"Aku juga baru menyadari. Yang diserang oleh Miles adalah rumah, bukan tempat usaha. Jika laporan yang masuk ke jajaran benar, dugaanku, Miles akan mengakuisisi tempat-tempat legal tersebut nantinya usai melakukan penyerangan kepada para anggota dewan. Jika akar dari jajaran sudah lemah, maka akan mudah menumbangkan ranting-rantingnya," sahut Sauqi selaku Panglima Perang Javier.


"Oleh karena itu, ia menghancurkan laboratorium Jeremy di Filipina. Jeremy terluka parah, Vesper tak bisa bertahan karena stok serum menipis. Miles sungguh pintar mencari peluang. Aku kira, setelah lenyapnya 8 Mens dan Madam, ini semua akan berakhir. Ternyata, dugaan kita salah. Jadi, jika Vesper mengatakan ingin membinasakan seluruh keturunan The Circle, mungkin inilah yang ia khawatirkan," ucap Habib yang membuat mata Lysa melebar.

__ADS_1


"Apa kau bermaksud mendukung usaha ibuku dengan membunuh Tobias? Bagaimana dengan Fara? Dia juga keturunan Flame. Bagaimana dengan anak Jonathan dari Cassie dan Sierra nantinya? Anak dari Arjuna dan Tessa? Apa ibuku akan membunuh cucu-cucunya?!" pekik Lysa langsung melotot.


Javier dan lainnya terdiam.


"Itu ... terlalu kejam, tapi entahlah. Namun aku yakin, ibunda tak mungkin melakukan hal keji itu," ucap Javier meski terlihat ragu.


"Oh ya? Jika Tobias saja bisa ia singkirkan, apalagi anak-anak malang tak berdaya itu. Mama harus dihentikan. Kita tak bisa mendukung aksi gilanya dengan membunuh bayi-bayi tak berdosa itu!" tegas Lysa.


Javier dan lainnya yang telah mengetahui rencana Vesper dengan mengamankan keluarga anggota Dewan di Lugu Lake terdiam. Namun, ucapan Lysa mulai mempengaruhi mereka.


Lysa yang kelelahan tertidur di kamar pesawat. Javier dan orang-orangnya berkumpul di kabin terlihat serius memikirkan hal tersebut.


"Apakah yang dikatakan Lysa benar? King D ada di sana," tanya Javier cemas.


"King D bukan keturunan The Circle. Ia pasti aman," jawab Sauqi serius.


"Aku rasa, apa yang dikatakan oleh Lysa tidak benar. Aku memang tak dekat dengan Vesper, tapi aku yakin jika dia tak sekejam itu. Bagaimanapun, bayi-bayi itu adalah cucunya. Vesper menyayangi mereka. Aku bisa melihat cinta kasihnya pada Fara dan juga bayi Cassie," jawab Habib serius.


"Aku setuju. Astagfirullah. Kenapa aku bisa terhasut oleh ucapan Lysa? Sepertinya, kematian Tobias sungguh pukulan berat untuknya. Jujur, aku iri dengan cinta Lysa pada pria brengsekk itu. Kalian lihat sendiri bagaimana kekejaman Tobias pada Lysa dan kita selama ini. Ia membunuh banyak orang dan Lysa malah mencintainya bahkan memiliki anak darinya. Sungguh, rencana Tuhan membuatku gila," ucap Javier terlihat pusing, tapi membuat Habib dan Sauqi tersenyum.


"Bersabarlah, Sultan. Bersabarlah. Kau sangat mampu melakukan hal itu. Kau banyak berubah. Kau makin bijak dalam berpikir dan bersikap. Kau, sudah sangat pantas menjadi penerus Sultan sesungguhnya. Bukan karena keturunan, tapi ... karena pendewasaanmu," ucap Habib yang membuat senyum Javier terkembang.


"Sekarang, kita fokus pada serangan Miles. Jangan biarkan The Eyes terakhir diambil olehnya. Kita harus mengamankan para pasukan remaja itu," tegas Sauqi dan diangguki oleh Javier serta Habib.


Dini hari.


Lysa sengaja tak menghubungi The Eyes yang menjaga rumah Tobias. Mereka menyewa dua buah mobil untuk menuju ke sana.


"Lysa," panggil Javier saat mereka melewati mobil-mobil itu.


"Mungkinkah?" tanya Lysa ikut melebarkan mata.


"Bersiap! Jangan biarkan Miles membawa The Eyes terakhir!" seru Javier lantang dari sambungan radio ke mobil kedua.


Dua mobil melaju kencang ke kediaman Tobias dengan jarak 500 meter lagi memasuki gerbang utama. Namun, benar saja.


"Sultan! Ada kepulan asap putih di kediaman Tobias! Mungkinkan itu gas halusinasi?" tanya salah seorang anggota Jihad yang mobilnya berada di barisan depan sebagai pembuka jalan.


"Berbalik! Hancurkan mobil-mobil yang berderet itu!" perintah Javier lantang dengan senapan HIT dalam genggaman.


CITTT!!


Dua mobil SUV hitam segera mengerem laju kendaraan mereka. Saat mobil mereka akan berbalik arah, tiba-tiba saja, "Sultan!" teriak Sauqi lantang saat mobil-mobil yang dicurigai Javier kini melaju ke arah mereka.


"Misil!" pekik Habib saat melihat mobil di barisan depan menampakkan peluncur misil dari kaca depan yang bisa digeser ke kanan dan kiri.


"Cepat pergi dari sini!" perintah Lysa saat melihat senjata peledak itu terarah ke mobil mereka yang melintang.


Seketika, SWOOSH! BLUARR!!


Mobil yang ditumpangi Lysa meledak hebat setelah terkena misil dari RPG. Beruntung, Lysa dan orang-orang di mobil tersebut berhasil meninggalkan kendaraan tepat waktu meski tubuh mereka tetap terkena gelombang ledakan.


BRUKK!!

__ADS_1


"Agh!" erang Lysa saat punggungnya menghantam batang pohon besar di pinggir jalan dan membuatnya tersungkur di atas rerumputan.


DOR! DOR!


Lysa langsung menaikkan pandangan ketika melihat mobil yang ditumpangi oleh anak buah Javier mendapatkan serangan dari arah rumah Tobias. Mata Lysa melebar saat menyadari jika The Eyes miliknya malah beralih pihak.


Lysa merangkak mundur menutupi sosoknya di balik gelapnya hutan dan mengamati pertempuran itu.


Lysa melihat Javier, Habib dan Sauqi melawan orang-orang yang diyakini dari kubu Miles di sisi kanan. Sedang di sisi kiri, The Eyes miliknya melakukan penyerangan ke anggota Jihad.


Entah apa yang terjadi. Lysa malah seperti orang ketakutan. Ia melihat jika kubu Javier kalah jumlah. Suara tembakan dan erangan kesakitan terdengar jelas bersahut-sahutan di telinganya.


Lysa berjongkok dan memejamkan mata dengan kedua tangan menutup dua telinganya. Wanita cantik itu bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang melindunginya dalam kegelapan.


Javier mulai kewalahan karena pasukannya tewas satu per satu. Hanya tersisa dirinya, Habib dan Sauqi yang berlindung di balik kobaran mobil.


"Kita gunakan mobil yang tersisa, Sultan! Kita masih bisa pergi dari sini! Kita akan menerobos!" seru Sauqi yang terus melemparkan granat mini ke kumpulan pasukan Miles hingga suara ledakan begitu santer terdengar memekakkan telinga.


"Mana Lysa? Lysa!" teriak Javier karena tak menemukan keberadaan mantan isterinya.


Namun, Sauqi dan Habib bersikeras untuk membawa Sultan mereka pergi. Javier pun terpaksa meninggalkan Lysa karena sosoknya tak ditemukan.


Saat Javier, Sauqi dan Habib memasuki mobil, tiba-tiba saja, "MISIL!" teriak Lysa lantang dari balik pepohonan saat salah satu anggotanya menyiagakan RPG ke arah mobil anggota Jihad yang telah tewas.


Naas, Javier dan lainnya tak mendengar peringatan itu. BLUARRR!!


Mata Lysa melotot ketika melihat mobil yang ditumpangi oleh Javier dan dua orang kepercayaannya sampai terhempas dengan kobaran api dahsyat di bagian belakang.


Mobil itu langsung terbalik dengan bagian atas kini menyentuh aspal. Napas Lysa tersengal dan tubuhnya gemetaran melihat Javier dan lainnya tak muncul dari balik mobil yang ringsek karena serangan itu.


Seketika, Lysa terperanjat saat menyadari beberapa pria berseragam hitam menenteng senapan laras panjang mendatangi dan membidik tubuhnya.


Lysa mengangkat kedua tangan dan mematung di samping pohon seolah kehilangan kemampuannya.


"Hehehe, lihatlah. Lysa sampai ketakutan dan tak bisa melakukan apa pun. Dia bahkan tak menolong Javier dan orang-orangnya. Dia malah bersembunyi di sini. Hahahaha!" sindir pria bertopeng tertawa senang.


Orang-orang dari kubu lelaki itu ikut tertawa gembira. Lysa hanya bisa diam dan tak melawan saat persenjataannya dilucuti.


"Dasar tidak berguna. Membunuhmu juga rasanya percuma. Tinggalkan dia," perintah pria bertopeng itu.


Saat pria bertopeng itu berbalik, SHOOT! CLEB! BRUKK!


Lysa ditembak bius dan pingsan di tempat. Pria bertopeng membawa pasukan The Eyes terakhir yang kini berpihak padanya setelah terkena gas halusinasi.


Mobil-mobil itu pergi meninggalkan lokasi kejadian setelah kekacauan yang mereka buat. Namun siapa sangka, Javier selamat meski ia mengalami luka serius.


Javier merangkak keluar dengan susah payah menjauh dari mobil yang terbalik. Wajah dan tangannya dipenuhi oleh darah. Sultan menyeret tubuhnya ke tepian aspal dan pada akhirnya, ikut tak sadarkan diri.


***



akhirnya ada yg tips juga uhuy😍 makasih ya lele padamu💋

__ADS_1


__ADS_2