4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Tuntutan Han


__ADS_3

Mansion Han, Amerika.


Ruang keluarga di rumah megah itu terasa sesak seketika saat sang pemilik rumah, Kim Han Bong, menunjukkan wajah dingin di depan para tamunya.


"Boleh saja, asal kau berikan permintaanku," tegasnya dengan Alex duduk di sampingnya bersama Sakura.


"Apa itu, Ayah?" tanya Arjuna serius.


"Cucu."


Praktis, mata Arjuna melebar, tapi sebuah senyuman terbit di sudut bibir Tessa.


"Ayah! Kau jangan menghancurkan masa depanku!" bantahnya.


"Dan kau jangan menghancurkan masa tuaku! Berikan aku cucu, dan kau akan kuizinkan berpetualang. Jika hal itu belum terjadi, mimpi saja! Pembicaraan selesai. Pulang ke China dan urus perusahaan," tegas Han seraya beranjak dari dudukkan dengan wajah dingin.


"Aku akan bilang sama mama," ancamnya.


Praktis, mata semua orang melebar. Han melirik Arjuna sadis, dan sang anak hanya menunjukkan wajah datar.


"Coba saja jika bisa. Ibumu sedang mengarungi lautan bersama Kai dengan yacht barunya. Dia baru pergi kemarin usai memamerkan barang mewahnya padaku dan baru akan kembali akhir bulan sebelum Desember," geram Han.


Arjuna langsung membungkam mulutnya rapat. Han melangkah pergi diikuti oleh Alex yang kini tinggal di mansion tersebut bersama sang isteri.


"Sudahlah, Juna. Kau kembali saja. Biar aku dan lainnya yang pergi ke Turki," ucap Afro menasehati dan diangguki semua orang.


"Jika kau ingin segera pergi, kita harus kerja cepat, Sayang. Aku tak masalah jika harus lembur agar keinginan Ayah terpenuhi," ucap Tessa berbisik dengan senyum manisnya.


Arjuna melirik Tessa dengan wajah kesal, semua orang menahan senyum.


"Ya udah sana cepetan nyicil. Makin lama kamu nunda, makin lama kamu terkurung di Perusahaan. Kamu yang bikin penderitaanmu sendiri kok. Si anu jangan terlalu lama diabaikan, tar karatan loh," sahut Eko penuh ekspresif.


"Ho'oh. Bikin anak itu enak. Ijo mau kok gantiin," sahut Biawak Hijau mantap.


"Hei!" seru Arjuna langsung melotot tajam dan siap melemparkan sepatu selopnya.


Eko dan lainnya malah tertawa terbahak. Mereka bahagia melihat Arjuna mengamuk. Tessa makin gemas dengan tingkah suaminya yang tempramental. Sakura bahkan ikut tersenyum.


"Tessa, ingin berjalan-jalan denganku?" ajak Sakura, dan wanita berambut pirang itu mengangguk.


Arjuna terlihat bingung saat sang isteri pergi meninggalkannya. Tessa terlihat akrab bersama Sakura padahal baru bertemu hari itu.


Arjuna terlihat pusing saat Eko memberikan jurus-jurus dalam bercinta agar kuat di ranjang dan Tessa cepat hamil. Afro dan lainnya tertawa terbahak karena baginya hal itu sungguh konyol tak masuk akal.


"Masa gitu, Om?" tanya Afro sampai menangis.


"Wo, iya. Jadi ya to, abis digelontorkan semua, si Junet mini jangan dicopot, biarin aja dulu sampe kisut. Nah, abis itu, kamu jungkir balikin si Tessa. Kira-kira 5 menit lah biar si kecebong ketelen semuanya," jawabnya mantap.


Semua orang membayangkan kepala Tessa berada di bawah dengan kaki lurus ke atas dipegangi oleh Arjuna layaknya orang senam.


"Juna mau makan. Ilmunya gak bermutu," sahutnya kesal dan beranjak dari tempatnya duduk menuju ke ruang makan.


Afro dan lainnya terkekeh, tapi mengikuti Arjuna untuk makan siang. Ternyata, Tessa dan Sakura telah berada di sana bersama Han serta Alex.


Makan siang berlangsung dengan beberapa obrolan santai membahas bisnis. Namun, Han dan Arjuna saling diam tak bicara. Eko dan lainnya memilih untuk tak mengusik ayah-anak yang sedang berselisih itu.


Malam harinya, usai menyelesaikan pekerjaan dan berkonsultasi dengan sang Ayah di ruang kerjanya, Arjuna kembali ke kamar.

__ADS_1


"Saya rasa hari ini sudah cukup, Tuan Muda. Selamat beristirahat," ucap Sun membungkuk hormat dan Arjuna mengangguk pelan.


Pemuda itu segera masuk ke kamar. Namun, ia tak mendapati sang isteri. Usai makan siang, Tessa pergi bersama Sakura meninggalkan mansion. Sampai makan malam tiba, ia tak melihat kepulangannya.


Arjuna terlihat santai dan mengabaikan ketidakhadiran sang isteri di sisinya. Arjuna memilih untuk segera mandi lalu beristirahat karena esok ia harus kembali ke China.


Namun saat ia keluar dari ruang ganti, ia terkejut mendapati Tessa sudah berada di kamar dengan sebuah lingere seksi. Arjuna diam untuk sesaat lalu kembali melangkah menuju ke tempat tidur, tapi dengan cepat, Tessa menghalangi langkahnya.


"Apakah bagus?" tanya Tessa merangkul leher suaminya dengan senyum terkembang.


"Apanya?"


"Pakaian ini? Kata Sakura, cocok denganku. Bagaimana menurutmu?" Arjuna hanya mengangguk dengan wajah malas. Tessa menatap suaminya lekat. "Juna, kau sungguh ingin berpetualang di luar sana? Kau ... mau ke mana?"


"Ke mana saja, asal tak di Perusahaan," jawabnya malas, tapi membiarkan sang isteri tetap merangkulnya.


"Kau ingin kita berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain, begitu?"


"Aku tak berniat untuk mengajakmu," tegasnya. Tessa tertunduk dengan senyum tipis. Arjuna menatapnya lekat.


"Apa ... kau tak lelah terus mengatakan hal buruk dan menyakitkan padaku?" tanyanya menatap Arjuna sendu.


"Kau yang bilang sendiri menerima konsekuensinya hidup denganku. Jadi, seperti inilah suamimu. Suka atau tidak, kita telah menikah, dan kau isteriku," tegasnya menatap Tessa lekat.


Tessa hanya tersenyum. Ia mengangguk mengerti. Ia meninggalkan kecupan manis di bibir suaminya dan berpaling.


Tessa merebahkan dirinya di ranjang dan menyelimuti tubuhnya yang sintal. Ia tidur memunggungi Arjuna tak seperti biasanya. Arjuna terlihat masih tak peduli dengan sang isteri dan ikut tidur memunggunginya. Tak lama, pria tampan itu tertidur lelap.


Namun, Arjuna terusik dan membuat matanya kembali terbuka. Ia mendengar suara samar di belakangnya.


Arjuna menoleh dan tak mendapati Tessa tidur di sampingnya, tapi ia yakin jika ada suara di dekatnya. Arjuna merangkak pelan di atas ranjang karena penasaran.


Namun, Arjuna tahu jika wanita itu menangis sedih hingga tubuhnya bergetar. Arjuna diam untuk sesaat dan memilih untuk kembali tidur.


Hanya saja, tangisan menyesakkan hati itu membuat Arjuna tak bisa lagi memejamkan mata. Ia mencoba mengabaikan kehadiran Tessa di dekatnya.


Hingga tiba-tiba, ia teringat akan Naomi saat menunjukkan wajah dingin dan terlihat bahagia bersama Jordan.


Arjuna yang tak bisa tidur beranjak dari kasur dan keluar kamar dengan piyama tidur. Ia berjalan menuju ke taman samping kolam renang dan merendam kakinya.


"Kau ... belum tidur?" tanya Sakura yang tiba-tiba muncul dengan sebuah ponsel dalam genggaman.


"Oh, belum," jawab Arjuna sungkan. Sakura mendatangi pria tampan itu dan duduk bersimpuh di sampingnya.


"Naomi sudah hidup bahagia bersama Jordan, Arjuna. Dia tak mencintaimu," ucapnya tiba-tiba yang membuat Arjuna langsung menoleh ke arahnya. "Apa kau tahu kabar terakhir darinya?" Arjuna menggeleng. "Naomi hamil. Ia sebentar lagi akan menjadi ibu." Praktis, mata Arjuna melebar dan terlihat kaget mendengarnya. "Kau tak akan pernah bahagia sampai akhir hidupmu jika selalu terperangkap dengan masa lalu. Di sampingmu, ada wanita yang begitu mencintaimu. Ia meninggalkan segalanya, bahkan kelompoknya, hanya demi seorang pria egois sepertimu."


"What?" sahut Arjuna dengan intonasi tinggi.


"Kenapa marah? Semua orang sudah tahu watakmu. Kau anak yang egois dan keras kepala. Kau hanya baik kepada seseorang yang tak pernah menyakiti hatimu."


"Apa maksudmu?"


"Jika kau ingin kebaikan dibalas dengan kebaikan, jangan pernah menyakiti hati orang-orang yang berbaik hati padamu. Kau, sudah terlalu banyak meninggalkan kesan buruk di hati semua orang, bahkan padaku." Arjuna terkejut dan langsung memalingkan wajah. "Aku tahu jika kau dulu menyukaiku, tapi aku sadar jika hal tersebut tak mungkin berlanjut, karena aku hanya bawahan. Aku tahu kau membenci tuan Kai. Aku tak mau hidup menyedihkan sepertinya yang selalu diremehkan orang lain. Ternyata, Naomi rela mengambil resiko itu. Ia bertahan denganmu dan berharap cintanya berbuah manis seperti kisah cinta Kai dan nyonya Vesper, tapi ... ia salah. Kau menyakiti hatinya. Jadi, apa salah jika pilihan Naomi pergi meninggalkanmu dan mencari cinta yang lain?"


Arjuna merasa tertohok dengan ucapan Sakura yang tak pernah disangkanya. Wajah manis wanita Jepang itu ternyata tak seperti mulutnya yang tajam, mengingatkan akan wataknya yang persis seperti itu.


"Jadi. Berhentilah membuat orang-orang membencimu, Kim Arjuna. Kau belum merasakan arti sebuah kehilangan yang sesungguhnya. Jangan sampai kau menyesal saat orang-orang yang mencintaimu pergi perlahan meninggalkanmu," ucapnya ketus dengan tatapan dingin. Arjuna terpaku.

__ADS_1


"Cintai Tessa, dan aku yakin, kehadiran seorang anak akan merubahmu. Lihatlah ayahmu, kau tahu benar seperti apa kisah hidupnya. Dan seharusnya kau juga ingat, siapa pria yang menunggu kelahiranmu saat itu. Han atau Kai?"


Praktis, ucapan terakhir Sakura membuat mata Arjuna terbelalak lebar. Sakura pergi meninggalkan Arjuna yang mematung di pinggir kolam renang. Arjuna diam untuk sesaat hingga akhirnya ia mampu untuk berdiri dan kembali ke kamar. Pandangan Arjuna tak menentu saat menelusuri koridor.


Dia benar. Kai yang menemani mama saat melahirkan aku di Korea. Bahkan, Satria yang memberikanku nama. Kenapa ... kenapa bukan ayah yang di sana dan memberikan nama itu? Sakura benar, aku ... mirip ayah Han saat ia muda dulu. Jadi ... aku lelaki brengsek sepertinya? batinnya berkecamuk.


CEKLEK!


Lamunan Arjuna pudar saat mendapati Tessa masih berada di lantai, tapi sudah tak menangis lagi. Ia berjalan mendekati isterinya dan melihat hal aneh dalam dirinya.


"Tessa, kau kenapa?" tanya Arjuna karena Tessa seperti orang menggigil.


Arjuna spontan menyentuh dahi dan lehernya. Ia terkejut karena sang isteri mengalami panas tinggi.


Arjuna dengan sigap mengangkat Tessa dan membaringkannya di atas tempat tidur. Namun, sang isteri terlihat seperti enggan untuk di dekatinya.


Tessa menyelimuti diri hingga sosoknya tak terlihat bagai kepompong. Arjuna diam untuk sesaat, tapi seketika, ucapan menohok Sakura berikut wajahnya yang dingin kembali menghampirinya.


Berhentilah membuat orang-orang membencimu, Kim Arjuna. Kau belum merasakan arti sebuah kehilangan yang sesungguhnya. Jangan sampai kau menyesal saat orang-orang yang mencintaimu pergi perlahan meninggalkanmu.


Dengan sigap, Arjuna beranjak menuju ke kamar mandi. Ia mengambil kotak obat yang selalu tersedia di lemari bawah wastafel. Ia kembali ke kamar dan duduk di samping Tessa seraya membuka kotak itu.


"Minumlah, jangan membantah," paksanya seraya memberikan sebuah kapsul penurun panas dan sebotol air mineral telah ia buka tutupnya.


Namun, Tessa tak menjawab dan bertahan dengan posisinya. Arjuna kesal. Ia menarik selimut itu dan mendapati wajah Tessa memerah karena panas tinggi. Tubuhnya menggigil hingga bibirnya berkerut.


Arjuna segera mendudukkan Tessa dan meminumkan obat itu meski harus memaksanya. Tessa kembali berbaring dan menyelimuti dirinya.


Dia mengabaikanku. Sial, apa yang dikatakan oleh Sakura benar adanya. Kenapa rasanya dadaku sesak melihatnya mengacuhkanku seperti ini, ucapnya dalam hati terlihat cemas.


Arjuna dengan sigap melepaskan piyama tidurnya dan hanya menyisakan boxer. Ia menyibakkan selimut Tessa dan menarik tubuh sang isteri untuk dipeluknya.


Tessa terkejut saat Arjuna merapatkan tubuhnya dan kembali menyelimuti tubuh keduanya.


"Tidurlah. Kau akan hangat. Kau akan baik-baik saja," ucap Arjuna dengan wajah datar dan membiarkan Tessa berada dalam dekapannya. Tessa terdiam tak menunjukkan ekspresi apapun, termasuk Arjuna.


Saat keduanya tertidur, Arjuna kembali terbangun karena merasakan tubuh Tessa terasa dingin dan ia menggigil.


Arjuna kembali beranjak untuk mengambil obat dan meminumkan kembali penurun panas tersebut. Tessa meminumnya dan kembali tidur.


Kali ini, Arjuna tak bisa tidur. Demam Tessa tak kunjung turun dan wajahnya pucat. Ia tertidur sebentar dan bangun lagi. Terus seperti itu hingga pagi menjelang.


Keesokan harinya.


"Nona Tessa harus dibawa ke rumah sakit. Panasnya tak turun," ucap Sun menyarankan.


Arjuna dengan sigap membopong Tessa ke mobil untuk membawanya ke rumah sakit. Sakura mendatanginya saat Arjuna duduk di bangku tengah menemani sang isteri yang terlihat pucat dan sayu.


"Jika sampai Tessa tiada, itu salahmu, Kim Arjuna. Kau tak bisa menjaga isteri yang sangat mencintaimu. Dia akan menjadi penyesalan seumur hidupmu," tegas Sakura lalu berpaling pergi saat Sun siap mengantarkan Tuan Mudanya ke rumah sakit bersama dua Biawak.


Mobil tersebut pergi meninggalkan mansion. Eko dan lainnya saling berpandangan karena ikut mendengar ucapan Sakura yang tak pernah mereka sangka.


"Sakura berubah. Mulutnya tajem kaya keris. Hih, serem," bisik Eko ke telinga Afro.


"Aku juga baru tahu jika Sakura memiliki sisi lain. Semoga, om Alex gak bikin isterinya ngamuk," jawab Afro ikut berbisik.


***

__ADS_1


puanjang nihhh😆 karena gak ada tips 1 eps aja ya😁


__ADS_2