
Usai menyerang Serbia di salah satu usaha legal milik anggota Dewan 13 Demon Heads—Bojan—Yudhi melanjutkan perjalanannya ke Bulgaria keesokan harinya. Target Yudhi, sehari, satu misi dan dua telah terlaksana dengan baik.
Selanjutnya, Yudhi singgah ke Bulgaria sebelum ia kembali ke Istanbul, Turkey. Sayangnya di negara itu, tak ada satupun anggota Dewan yang memiliki usaha legal dan Pos Darurat Jonathan.
Namun, satu hal yang tak diketahui oleh semua orang tentang Yudhi dan Ahmed sejak mereka memutuskan hidup bersama layaknya keluarga, yakni relasi bisnis ilegal penjualan organ.
Meskipun Ahmed masuk dalam jajaran Vesper, tapi ia tak pernah memberitahukan kepada siapapun tentang orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Vesper dan Eko menjaga privasi itu di mana sang Ratu telah memutuskan tak akan terlibat dalam dunia perdagangan organ ilegal manusia meski nominalnya sangat menggiurkan.
Yudhi menjauh dari pusat kota menuju ke pinggiran dekat dengan Burgas Bay. Ia mendatangi sebuah rumah yang tertutupi salju. Yudhi memarkirkan mobilnya di luar kawasan tersebut karena salju yang tebal. Yudhi memilih berjalan kaki mendekati kediaman tersebut.
TOK-TOK!
TOK!
TOK! TOK! TOK!
CEKLEK!
"Oh!" pekik seorang wanita berkerudung dan langsung memberikan salam pada tamunya, tapi Yudhi tahu jika wanita itu bukan penganut agama Islam, tapi Kristen Ortodoks di mana jika dilihat sekilas penampilan mereka hampir sama.
Wanita itu melihat sekitar terlihat waspada, hingga akhirnya ia mempersilakan pemuda itu. Ketukan pintu yang Yudhi lakukan adalah sebuah kode khusus untuk tamu istimewa.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Di mana Ahmed?"
"Dia tewas beserta seluruh keluarganya. Hanya tersisa aku yang selamat. Maaf, aku datang berkunjung karena darurat," jawab Yudhi tertunduk lesu. Wanita itu terlihat sedih, ia memeluk Yudhi erat lalu mempersilakan masuk dan duduk.
Yudhi melihat ruangan itu saksama yang terasa hangat dengan perapian menyala dan koleksi dari buruan yang telah diawetkan diubah menjadi pajangan. Yudhi terlihat nyaman di tempat tersebut. Wanita berwajah Arab itu menatap Yudhi lekat.
"Lalu ... apa rencanamu?"
"Tentu saja aku akan balas dendam. Aku akan menyewa pasukan berkerudung. Hitam. Bersenjata lengkap," jawabnya cepat.
"Target?"
"The Circle dan No Face."
__ADS_1
"Jangka waktu?"
"Tiga bulan."
Wanita itu mengangguk. Ia meminta Yudhi menunggunya sebentar untuk memproses pesanannya.
Wanita tersebut pergi meninggalkan ruang perapian dan digantikan dengan kedatangan dua pelayan wanita membawakan kudapan ditengah udara dingin di luar. Yudhi berterima kasih.
Cukup lama Yudhi menunggu, akhirnya wanita berkerudung putih itu kembali. Yudhi menatapnya seksama.
"Menginaplah semalam. Sebuah keberuntungan kau masih hidup. Besok, para 'kolektor' akan datang untuk membahas ini lebih detail denganmu. Sebaiknya, presentasimu memukau," pintanya, dan Yudhi mengangguk berterima kasih.
Yudhi diantarkan ke kamar untuk ia tinggali sementara waktu. Ia sengaja mematikan ponselnya dan menyalakan di saat darurat saja.
"Oh ya, Iskra—yang memiliki arti percikan—tolong kau cek mobil yang kupakai. Pastikan, GPS-nya lenyap. Aku tak mau dibuntuti," pintanya, dan wanita berkerudung itu mengangguk seraya menerima kunci yang diberikan oleh Yudhi.
Iskra bersama dua orang anak buah wanitanya pergi keluar rumah dan mendatangi mobil Yudhi yang di parkir cukup jauh dari kediamannya. Dan benar saja, ditemukan GPS dari mobil tersebut. Iskra mencabut dan meremukkannya.
Di tempat Jordan berada, Italia.
"Pintar juga, tapi setidaknya aku tahu jika memang kau dalang dari semua kerusuhan ini, Yudhi. Sayangnya, aku menyetujuinya. Entah apa yang kaulakukan di Bulgaria, tapi semoga itu bukan hal mengerikan," ucap Jordan seraya meletakkan ponselnya setelah notifikasi GPS dari mobil yang dipinjamkannya padam tak terdeteksi lagi.
Jordan segera merebahkan tubuhnya dan memeluk sang isteri yang tengah mengandung anak pertama mereka.
"Selamat malam, Sayang. Aku akan selalu di sisimu dan melindungimu. Jangan takut," bisik Jordan lirih seraya mengecup lembut pipi sang isteri yang tidur miring menghadapnya dengan mata terpejam.
Keesokan harinya. Yudhi telah bangun dan bersiap. Ia menikmati sarapan yang diantarkan ke kamarnya oleh pelayan.
Pemuda itu mendapat telepon di kamarnya dan diminta untuk ke ruang pertemuan. Yudhi yang telah mengetahui seluk-beluk tempat itu terlihat leluasa dalam bergerak.
Yudhi berpakaian rapi dengan sweater dan lapisan jaket untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin yang mengusik. Yudhi terlihat rapi dan wangi dari parfum maskulin yang disemprotkan ke lehernya.
Dua orang wanita berpakaian serba hitam telah menunggu di depan pintu masuk. Yudhi membungkuk memberikan salam hormat dan pintu itu terbuka.
Yudhi terlihat tegang saat memasuki ruang rapat dengan sebuah meja kayu pajang dan banyak kursi saling berhadapan di tengah ruangan tersebut. Banyak koleksi dari binatang-binatang yang diawetkan memenuhi ruangan di dinding, atap dan lantai.
Yudhi mengambil tempat dan duduk pada sebuah bangku panjang. Sebuah gelas telah tersedia di hadapannya dan sebuah buku catatan lengkap dengan pulpen. Yudhi terlihat sabar menunggu.
Hingga akhirnya, ia mendengar suara langkah kaki menuju ke ruangan tersebut. Yudhi kembali berdiri seraya merapikan pakaiannya. Ia membungkuk sedikit memberikan hormat kepada 10 orang yang telah datang dengan gaya khas mereka masing-masing.
Orang-orang itu berwajah serius dan semua berwajah Arab. Tiga diantara mereka wanita, dan tujuh sisanya laki-laki.
__ADS_1
Mereka juga dari beberapa penganut agama yang berbeda, terlihat dari kalung salib yang dikenakan oleh tiga anggotanya.
Lalu, datanglah wanita yang menyambut Yudhi dan ia duduk di kursi tengah seorang diri menghadap para anggota yang duduk di kanan kirinya.
"Please," ucapnya sopan dan kesebelas orang tersebut duduk dengan pandangan tertuju pada wanita berkerudung putih. "Kita semua tahu tujuan pertemuan ini. Yudhi akan menyampaikan detailnya. Silakan," ucapnya menunjuk pemuda tersebut.
Kini, mata semua orang tertuju pada putera terakhir dari almarhum Siti Fatonah.
Mereka bicara dalam bahasa Arab.
"Aku ucapkan terima kasih kepada semua 'kolektor' yang bersedia hadir untuk menemuiku. Aku sangat berharap kalian sudi memberikan bantuan karena aku tak bisa melibatkan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads karena kesepakatan damai antara No Face serta The Circle pada mereka," ucapnya sopan menjelaskan, meski terlihat gugup.
"Apa kelompok itu kini menjadi sekutu 13 Demon Heads? Bagaimana bisa?" tanya seorang pria dengan brewok tebal menyipitkan mata.
"Aku rasa itu semua hanya tipu muslihat The Circle. Jonathan, salah satu anak dari Vesper dibutakan oleh mereka. Dia masih muda, labil, dan terlalu mudah memanfaatkan. Ia sepertinya lupa, jika orang-orang di sekitarnya mati karena ulah dari kelompok iblis itu. The Circle dan No Face, tak bisa dimaafkan. Mereka membunuh seluruh anggota keluargaku, dan juga paman Ahmed dengan memutilasinya hidup-hidup," jawab Yudhi dengan wajah bengis seraya menunjukkan foto-foto yang diberikan oleh Smiley kala itu di atas meja.
Orang-orang yang penasaran mengambil kertas-kertas itu. Praktis, mata mereka melebar seketika. Orang-orang itu terlihat kaget dan marah dalam waktu bersamaan.
"Atas nama 'Kolektor' di mana kita semua tahu jika Ahmed adalah anggota perkumpulan kita, dengan ini, Malek Tunisia menyatakan memberikan satu jarinya," ucapnya tegas dengan logat Arab yang kental seraya menunjukkan telunjuk kanannya ke atas. Yudhi mengangguk berterima kasih.
"Dan aku, Mallika Libya, menyatakan memberikan satu jarinya!" ucapnya tegas dan ikut mengangkat telunjuk kanan. Yudhi tersenyum berterima kasih.
"Dan aku!"
"Aku juga!"
"Demi Ahmed dan semua orang yang dibantai oleh No Face, aku ikut!"
Satu persatu, seluruh anggota yang menamai kelompok mereka sebagai 'Kolektor' memberikan satu telunjuknya yang berarti, mereka setuju dan berpihak.
Satu telunjuk sama dengan memberikan 10 anggota bersenjata untuk terjun dalam misi yang selanjutnya akan dikelola oleh Yudhi.
Senyum pemuda berkulit sawo matang itu merekah. Kini, ia mendapatkan 100 orang untuk menyelesaikan misinya tanpa harus melibatkan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads untuk melenyapkan No Face dan The Circle yang tersisa untuk selama-lamanya.
"Terima kasih, Kolektor," ucap Yudhi berdiri seraya membungkuk hormat. Para kolektor mengangguk dengan wajah serius.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE & PINTEREST
uhuy tengkiyuw tipsnya smg makin bohay mbak aju😘 lele padamu💋 ditunggu tips lainnya. up sekali lagi dan besok 1 eps krn brankas kosong ya😆
__ADS_1