
Duka mendalam dirasakan oleh semua orang yang mengenal Tessa. Arjuna tak bisa menutupi kesedihannya.
Air matanya membanjiri wajah tampannya saat memeluk sang isteri yang sudah tak bernyawa. Greco bahkan terlihat sangat menyesal karena tak bisa menyelamatkan wanita yang berusaha menolongnya.
Namun, serangan terakhir Tessa dengan melemparkan Rainbow Gas ke kumpulan anak buah Miles membuahkan hasil.
Bala Kurawa pembelot berhasil dilumpuhkan dan keadaan di mansion telah terkendali. Orang-orang berkumpul dan hanya bisa bersedih melihat Tessa telah berpulang untuk selamanya.
"Tessa ... hiks, Tessa ...," panggil Arjuna tak melepaskan pelukannya pada sang isteri dengan tubuh bersimbah darah.
"Tuan muda," panggil Sun yang ikut terpukul dengan linangan air mata.
Tiba-tiba, tangis Arjuna reda. Ia langsung menatap orang-orangnya tajam seperti teringat sesuatu. Sun dan lainnya balas memandangi bos mereka saksama.
"Di mana Loria? Di mana anakku?!" tanyanya dengan mata melotot.
Praktis, pertanyaan Arjuna membuat semua orang terkejut. Mereka baru menyadari jika bayi mungil itu tak ada bersama mereka.
Segera, orang-orang itu berhambur di segala penjuru tempat mencari keberadaan puteri dari mendiang Tessa.
Arjuna melihat pedang Silent Gold yang menusuk Den Bagus. Arjuna meletakkan mayat Tessa perlahan lalu mencabut pedang tajam itu dan mengamatinya.
"Silent Gold salah satu bodyguard mama. Jangan-jangan ...," ucap Arjuna seperti menyadari sesuatu.
Arjuna berlari masuk ke dalam mansion dan mengambil ponselnya yang tertinggal di ruang kerja.
Ia menghubungi seseorang, tapi tak tersambung. Arjuna mencoba menghubungi nomor lainnya, tapi mendapatkan hasil yang sama.
"Argh! Vesper," geram Arjuna menggenggam ponselnya erat seperti mengetahui siapa dalang di balik hilangnya sang anak.
Di sisi lain tempat Seif berada.
"Mana Tessa?" tanya Eiji saat mendapati Seif hanya datang sendirian dan malah menggendong seorang bayi dalam dekapannya.
"Dia memilih untuk menolong Arjuna. Tessa mengatakan jika ia bisa menemukan anaknya nanti. Kita harus segera pergi dari sini," jawab Seif dengan napas tersengal.
Eiji mengangguk paham. Seif segera masuk ke mobil yang telah dipersiapkan oleh Eiji. Hanya mereka berdua yang datang sebagai orang kiriman dari Vesper.
Sebenarnya, menyelamatkan Tessa hanya tugas untuk Seif, tapi pria itu meminta bantuan pada Eiji mengingat Tessa telah melahirkan dan diyakini jika misi amplop merah maroonnya akan lebih sulit jika harus diselesaikannya sendirian.
Eiji tak mempermasalahkan hal tersebut dan ia malah dengan senang hati membantu kawannya.
Sayangnya, bayi Loria yang belum genap satu bulan, membuat dua pria itu was-was dengan kesehatannya.
Eiji dan Seif segera terbang meninggalkan Coxen Hole menuju Miami menggunakan pesawat pribadi Han untuk mengamankan Loria.
Miami. Kediaman Lopez dan Brian. Keesokan harinya.
"Lalu, sekarang bagaimana statusnya?" tanya Lopez terkejut mendengar kabar dari Seif jika kediaman Arjuna diserang.
"Kami tidak tahu. Tak ada waktu untuk menyelidikinya. Aku hanya bisa menyelamatkan Loria," jawab Seif.
Lopez dan Brian terlihat bingung menyikapi hal ini.
"Kami percaya pada kalian berdua. Sayangnya, Loria belum bisa kami bawa terbang lebih jauh lagi. Terpaksa, kami mengamankan dia di sini untuk sementara waktu. Kau bisa menolong kami 'kan?" pinta Eiji memelas.
"Ya, aku tak masalah. Namun, bagaimana dengan ASI-nya? Aku sudah tak menyusui lagi. Kita harus cari donor ASI sampai Tessa menjemputnya," jawab Lopez yang membuat dua orang itu menggaruk kepala.
"Ah, aku tahu!" ucap Brian tiba-tiba seraya menjentikkan jari. Praktis, kepala semua orang menoleh ke arah suami Lopez tersebut. "Renata. Dia pasti bisa memberikan ASI-nya untuk Loria. Putera dari Jordan sudah tak menyusu lagi padanya karena ASI Naomi sudah stabil," ucap Brian.
__ADS_1
Namun, wajah Lopez berubah masam seketika. "Renata? Hem. Kau yakin ingin mengundangnya kemari?"
Brian langsung diam sejenak terlihat tegang. "Sayang. Itu masa lalu. Aku dan Renata tak memiliki hubungan apa pun lagi. Selain itu, dia juga sudah berkeluarga dengan Q. Dia juga memiliki anak," jawab Brian membela diri. Namun, Lopez masih melirik suaminya tajam.
Eiji dan Seif terlihat stress. Keduanya menggaruk kepala karena Brian dan Lopez malah bertikai.
"Aku tak mengizinkan Renata datang kemari apalagi tinggal dengan alasan apa pun," tegas Lopez garang. Brian pasrah dan tak ingin berdebat.
"Carilah donor ASI yang lain. Oh! Atau ... pergilah ke rumah Amanda. Jordan dan Naomi kembali ke rumah itu. Aku bisa mengantarkan kalian ke sana," ucap Brian.
Lopez mengangguk setuju. Seif dan Eiji tak ingin membuang waktu karena bayi Loria mulai terlihat kehausan karena tak mendapat asupan ASI dari sang ibu.
Lopez tetap menunggu di rumahnya untuk memantau keadaan jikalau Tessa atau Arjuna berkunjung ke rumahnya.
Brian mengantarkan tamunya dengan mengendarai mobil. Jarak yang ditempuh hanya memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Siang itu, mereka tiba dan disambut oleh Mix dengan wajah datarnya.
"Hallo, Mix. How are you?" sapa Eiji ramah, tapi lelaki bertubuh besar itu tak menjawab dan matanya melirik ke arah bayi yang digendong oleh Seif. Mix tak bicara dan hanya menunjuk bayi tersebut.
"Dia puteri dari Tessa dan Kim Arjuna. Akan kuceritakan di dalam. Apakah Naomi ada?" tanya Brian sudah hafal dengan watak salah satu algojo Theresia tersebut.
Mix mengangguk dan mempersilakan tamunya masuk. Tentu saja, kedatangan mereka mengejutkan Jordan dan Naomi.
Bahkan, Naomi tampak terpaku saat melihat bayi yang kini ia gendong setelah Seif memberikannya.
"Bayi siapa ini?" tanya Naomi bingung.
"Tebaklah," jawab Seif yang membuat kening Naomi berkerut, tapi wanita Jepang itu menggeleng tidak tahu.
"Tessa?" tebak Jordan dan diangguki oleh Eiji serta Seif.
"Kenapa kalian bawa kemari?!" tanya Naomi terlihat marah dan seperti enggan menggendongnya.
Jordan lalu memberi kode pada Mix and Match seperti meminta mereka mencari tahu tentang kabar itu. Dua pria tersebut mengangguk pelan lalu meninggalkan ruang tamu.
"Aku tak mau Tessa dan Arjuna kemari," ucap Naomi terlihat kesal.
"Kami akan membawa Loria pergi begitu Lopez memberikan kabar jika salah satu orang Arjuna datang menanyakan keberadaan Loria," ucap Eiji serius.
"Loria?" tanya Naomi memandangi wajah cantik bayi itu.
"Hem. Kim Loria. Nyonya Vesper yang memberikan nama itu. Sepertinya, hanya Tessa yang tahu, tidak dengan Arjuna. Anak itu, masih membenci ibu dan orang-orangnya, termasuk kami," sahut Seif malas.
Naomi diam seperti enggan berkomentar. "Kenapa kalian bawa Loria kemari?" tanyanya ketus.
"Dia harus minum ASI, Naomi. Kami minta tolong padamu," jawab Eiji, tapi Naomi malah tersenyum sinis.
"Kau memintaku jadi Ibu susunya? Begitu? Maaf, cari orang lain saja," jawab Naomi enggan.
"Tapi—"
Belum selesai Eiji bicara, Naomi memberikan bayi itu kepada pria tersebut. Tentu saja sikap dingin Naomi membuat semua orang tampak bingung.
Benar saja, malam itu, Loria menangis karena lapar. Eiji dan lainnya dibuat kebingungan. Brian sudah kembali ke rumah karena khawatir jika Arjuna datang akan membawa masalah.
Namun, sampai malam itu, tak ada kabar dari dua algojo Theresia yang ditugaskan oleh Jordan untuk menyelidiki kediaman Andreas.
"Bagaimana ini, Seif? Apakah boleh kita berikan minuman lain? Susu formula mungkin?" tanya Eiji panik yang kini menjadi pengasuh bayi malang itu.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan. Dia saja belum genap satu bulan. Tapi ... jika seperti ini terus, dia akan kehausan dan lapar," jawab Seif ikut panik yang mencoba memberikan mainan-mainan milik Sig untuk menenangkan Loria, tapi hasilnya percuma.
Tangisan Loria membuat Naomi kesal. Anaknya yang sudah tertidur pulas jadi terbangun. Jordan melihat jika isterinya marah karena kedatangan dua tamu tak diundang.
Jordan keluar kamar karena Naomi sedang menyusui anaknya. Jordan berjalan menuju dapur dan mengambil stok ASI milik Naomi yang disimpan dalam lemari es.
Jordan menghangatkannya dalam botol dan membawanya ke kamar tamu yang kini ditempati oleh dua bodyguard Vesper.
"Berikan ini. Stok ASI milik Naomi," ucap Jordan yang membuat dua pria itu terkejut.
"Naomi memberikannya?" tanya Seif segera menerima botol hangat itu.
Jordan menggeleng. "Aku ... hanya teringat akan Sandara saat ia juga terpaksa diungsikan dan dirawat oleh keluargaku. Aku tak ingin mereka berdua jatuh cinta lalu menikah. Untuk menghindari itu, biarlah Naomi menjadi donor ASI untuk puteri Arjuna," jawab Jordan dengan wajah datar.
"Wah, kau licik juga, tapi ... terima kasih," ucap Eiji dan Jordan mengangguk pelan lalu pergi.
Tangis Loria reda seketika. Bayi itu terlihat begitu menikmati ASI pemberian Jordan dalam botol susu. Eiji dan Seif lega.
Dua pria yang kelelahan itu tidur di atas kasur dengan posisi melintang bersama bayi Loria yang mereka apit di tengah.
"Dia sudah tak menangis," ucap Naomi saat menyadari tangisan Loria reda.
"Oh. Mereka memberikan susu cair kemasan yang biasa kugunakan untuk makan sereal," jawab Jordan santai saat masuk ke kamar.
Praktis, mata Naomi melebar. "What? Dan kau membiarkannya?!" tanya Naomi memekik.
"Mau bagaimana lagi? Dari pada bayi itu mati. Mungkin dia juga akan suka serealku. Besok akan kucoba berikan pada Loria," jawab Jordan lalu merebahkan diri di samping anaknya.
Naomi langsung beranjak dari kasur di mana puteranya sudah tertidur pulas usai disusui. Jordan tersenyum tipis karena berhasil membuat hati sang isteri tergerak.
"Dan kaupercaya saja?" ucap Jordan seraya melihat kepergian sang isteri dengan tergesa. "Hempf ... sepertinya ... ibumu menganggap aku bodoh, Sig. Itu menyakitkan," ucap Jordan kepada bayi mungilnya.
Setibanya di kamar Loria, Naomi langsung mengambil botol susu yang sudah habis. Naomi terlihat gemas karena dua pria yang seharusnya menjaga Loria malah tertidur pulas dan mendengkur.
Naomi merasa iba pada bayi malang itu karena posisinya terhimpit. Naomi takut jika Loria malah tertindih tubuh dua pria itu dan tewas secara tak sengaja.
Naomi mengambil Loria dan menggendongnya. Isteri Jordan membawa Loria menuju ke kamar, tapi saat melewati ruang tengah, ia mendapati Mix and Match baru pulang dari tugasnya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Bagaimana?" tanya Naomi menatap dua algojo Theresia lekat.
"Tessa tewas. GIGA SIA melihat pergerakan di kediaman Andreas adanya prosesi pemakaman. Kami mencoba menghubungi Sun dan dia mengkonfirmasi kebenaran itu. Arjuna menguburkan isterinya di halaman belakang rumah," jawab Match yang membuat mulut Naomi menganga lebar.
"Miles pelakunya?" tanya Naomi sampai wajahnya pucat.
"Bukan, Den Bagus. Tessa berhasil membunuh pria itu, tapi ia ikut tewas bersamanya. Sun masih dipihak kita. Dia menjadi penghubung tanpa sepengetahuan Arjuna. Sepertinya, Arjuna semakin menaruh dendam pada Vesper. Ia mengira, jika bodyguard Vesper yang menculik Loria," jawab Mix yang membuat Naomi seperti mengalami sesak napas.
Naomi melihat bayi malang itu tertidur pulas dalam pelukannya. Tiba-tiba saja, air mata Naomi menetes.
Ia iba pada kondisi bayi cantik yang digendongnya karena telah kehilangan sang ibu. Naomi memeluk bayi itu erat seperti bisa merasakan kepedihan dari Arjuna.
"Aku akan merawatmu. Kau akan baik-baik saja, Loria," ucap Naomi menatap bayi itu lekat.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya❤️ baru nongol skg. kwkwkw yg udh ngetips blm muncul sabar ya. antri 😅