4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Drone


__ADS_3

Kwkwkw baru sempet up gegara mati lampu tapi abis ini mau fokus crazy up di LIH, Monster Hunter dan Red Lips dulu ya. 4YM mau lele bawa santai aja intinya tar tamat gitu😆 Puanjang nih epsnya 2k lebih. Trims sudah sabar menunggu~



---- back to Story :


Manda mengawasi dengan ketat proses pengobatan yang diterapkan Sandara kepada salah satu puteranya—Jordan.


Usai isteri mendiang Boleslav melihat sikap Sandara yang mencium salah satu anak kembarnya itu, Amanda melakukan pengawasan penuh.


Dara bersikukuh agar Jordan dibawa ke Australia mengingat masih ada satu tempat dengan fasilitas laboratorium lengkap milik Victor di sana. Jeremy juga ditangani secara khusus di fasilitas tersebut.


Mereka bicara dalam bahasa Rusia. Terjemahan.


"Kau tak percaya padaku? Kenapa? Apa karena aku mencium Jordan? Itu caraku berterima kasih, Mom," ucap Sandara dengan wajah datar di depan Amanda saat ibu dari Jordan menolak anaknya dibawa ke negara tersebut.


"Jordan sudah menikah. Ia memiliki isteri dan anak. Kauharus tahu batasanmu, Sandara," tegas Amanda terlihat tak senang.


"Aku minta maaf. Tak akan terjadi lagi," jawabnya datar.


Amanda mengembuskan napas panjang. Ia menatap Sandara lekat yang masih menunggu atas permintaan pemindahan itu.


"Begitu Jordan sudah stabil, kembalikan dia pada Naomi," tegasnya menunjuk.


"Sure. Perlu kubuat surat perjanjian agar kaupercaya?" tanya Sandara menawarkan. Amanda menggeleng pelan dan Sandara membalasnya dengan anggukan. "Aku akan persiapkan semua. Tolong hubungi paman Victor. Selain itu, biarkan Mix and Match tetap ikut bersamaku untuk menjaga Jordan. Hanya mereka berdua yang mampu."


"Oke," jawab Amanda dengan kedua tangan melipat depan dada.


Sandara meninggalkan Amanda saat keduanya bicara di ruang tamu ketika Jordan melakukan transfusi darah langsung dengan Jason.


Di kamar Jordan.


Saudara kembar itu terlihat seperti sedang bicara dari hati ke hati.


"Terima kasih kau sudah bersedia datang dan memberikan darahmu, Jason," ucap Jordan lirih dengan wajah masih menyisakan lebam.


"Tentu saja. Kita ini saudara. Susah senang harus bersama. Yah, walaupun pada kenyataannya kita hidup terpisah. Namun, saat kau membutuhkanku, aku pasti akan datang. Tak usah merasa balas budi," jawab Jason riang, meski sesekali meringis ketika melihat jarum menusuk lengannya.


Jordan tersenyum karena Jason selalu bersikap baik padanya. Keesokan harinya, Amanda yang sudah menghubungi Victor, segera menyiapkan keberangkatan Jordan dan tim yang akan pergi ke Australia.


Victor sudah melakukan pengamanan penuh di Bandara sampai mereka tiba di laboratoriumnya nanti.


Rumah yang dulu ditempati oleh Vesper saat hamil Sandara Liu, akan menjadi tempat istirahat bagi rombongan Sandara saat mereka tinggal di sana.


Australia. Kediaman Victor.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Bagaimana?" tanya Aisha—isteri Victor dari salah satu anggota SYLPH.


"Mereka sudah terbang. Semoga Miles tak mengincar kita," jawab Victor usai mendapatkan laporan dari Mix jika pesawat telah lepas landas.


Aisha segera menyiagakan rumahnya dari segala jenis ancaman. Salah satu isteri Jeremy—Rayya—juga menetap di sana sementara waktu untuk memastikan kepulihan dari sang profesor yang mulai membaik.


Sedang Roxanne menjaga Red Mansion. Ia juga bertugas mengawasi pembangunan kembali laboratorium di Filipina dibantu anggota SYLPH yang lain, Doug, dan juga Black Armys pekerja.


"Sandara sepertinya belajar banyak saat menjadi petugas medis saat bersamaku dulu," ujar Jeremy yang duduk di kursi roda elektrik karena masih merasakan sakit di persendian usai puing bangunan menimpa tubuhnya.


"Hem. Kudengar ia juga belajar banyak dari Albino dan Atid selama operasi plastiknya di Thailand. Mungkin ... dia bisa menjadi penerus yang hebat," sahut Rayya seraya menyuapi suaminya di teras depan rumah menikmati indahnya pantai.


"Hem. Aku sekarang paham yang dirasakan oleh Vesper," ucap Jeremy dengan wajah sendu. Rayya menatap suaminya lekat. "Ia sangat berharap ada yang menggantikannya, tapi ... melihat empat kehidupan empat anaknya yang berantakan, membuat Vesper memutuskan untuk mengakhiri semua dan tak ingin terlibat," sambungnya.


"Aku tak menyangka hidup Vesper akan semenyedihkan ini. Walaupun aku baru mengenalnya sejak di Afganistan, tapi ... dia tak pernah bahagia. Hidupnya selalu dipenuhi oleh penderitaan. Aku sangat berharap disisa hidupnya, Vesper bisa merasakan keutuhan keluarga," ucap Rayya dengan wajah tertunduk.


Jeremy tersenyum dan mengelus pundak isterinya lembut. Rayya balas tersenyum dan kembali menyuapi suaminya lagi dengan penuh perhatian.


Keesokan harinya, konvoi dengan pengamanan ketat membawa kelompok kecil Sandara menuju ke laboratorium milik Victor yang kini juga difasilitasi sebuah rumah sakit, serta sekolah khusus ilmu perawatan dan kedokteran sebagai usaha legal putera mendiang Fox tersebut.


"Selamat datang, Jordan, Sandara. Semoga kami bisa memberikan apa yang kalian butuhkan selama berada di sini," ucap Victor saat menyalami keduanya.


"Terima kasih, Paman Victor," jawab Sandara dan Jordan bersamaan, tapi hal itu membuat ketiganya malah terkejut sendiri.


"Heh, kalian kompak. Masuklah," ajak Victor dan dua orang itu mengikutinya di belakang.


Mix and Match bergabung bersama dengan Colin di mana pria tersebut kini juga ikut tergabung dalam jajaran Victor di 13 Demon Heads, meski bisa dibilang tak terlibat kegiatan ilegal layaknya para mafia.


"Kau sudah menerapkan prosedur seperti yang kuminta 'kan, Jordan?" tanya Victor saat mereka berjalan di koridor menuju laboratorium.

__ADS_1


"Sudah, Paman," jawab Jordan sopan dan Victor mengangguk pelan.


Jordan terlihat siap untuk melakukan pengambilan darah di mana selama di pesawat ia diminta berpuasa.


Sandara juga melakukan hal yang sama karena ingin memastikan serum monster di tubuhnya sudah lenyap seperti pemeriksaan yang terakhir.


"Kalian pulanglah ke mansion untuk beristirahat. Jeremy sudah menunggu," pinta Victor. Sandara dan Jordan mengangguk siap.


Keduanya segera melanjutkan perjalanan menuju ke mansion. Tempat itu dijaga oleh para Black Armys yang kini bekerja untuk Victor.


Mix and Match selalu pergi ke mana pun Jordan melangkah sesuai dengan amanat dari Amanda di mana mereka untuk terus mengawasi pergerakan Sandara. Dua algojo itu menyatakan siap sebelum meninggalkan rumah di Florida.


"Selama datang. Oh, kalian sudah besar," sapa Jeremy dengan uluran tangan mengajak bersalaman.


"Halo, Paman," sambut Sandara dan Jordan yang lagi-lagi kompak saat menyalami Jeremy. Profesor asal Filipina-Rusia itu tersenyum dan mempersilakan tamunya masuk.


Jeremy mengajak keduanya untuk sarapan. Terlihat, ruang makan menjadi ramai karena kedatangan tamu istimewa. Mix and Match serta Aisha juga ikut duduk bersama.


Sandara diminta menceritakan kejadian ketika Jordan mulai berubah hingga ia berhasil dikendalikan. Praktis, Jeremy bertepuk tangan.


"Oh, cara yang unik, tapi juga bar-bar. Kau harus memaklumi perlakuan kasar Sandara, Jordan," kekeh Jeremy sampai berlinang air mata menahan tangis kebahagiaan usai mendengar pengakuan Sandara yang menghajar Jordan hingga babak belur. Jordan ikut tersenyum simpul dan mengangguk.


"Aku tak pernah diperlakukan kasar oleh seorang wanita dan hanya Sandara yang berani melakukannya. Saat aku melihat rekaman CCTV, jujur, aku terkejut. Ia terlihat bahagia melakukannya," jawabnya dengan wajah datar.


Kembali, Jeremy terkekeh termasuk Rayya dan Aisha.


"Jordan, apa kausadar dengan perubahanmu? Kau sekarang banyak bicara. Wajahmu ... sudah mulai berekspresi. Yah, walau sedikit, tapi itu bagus," ungkap Aisha yang ternyata membuat semua orang terkejut dan menatap wanita cantik berwajah Arab itu. "Apa?" tanya Aisha heran karena ditatap semua orang.


"Itu ... karena Naomi. Terlebih, setelah Sig lahir. Aku merasa ... hidupku berwarna. Hanya saja ... Miles. Pria itu memang harus dilenyapkan agar kebahagiaanku sempurna," tegasnya.


Semua orang terlihat serius mendengarkan.


"Aku paham. Pria itu sungguh gila. Namun, aku cukup kagum dengan hasil kerjanya," sahut Jeremy yang ucapannya juga ikut mengejutkan semua orang.


"Apa-apaan kau ini? Kau malah memuji musuh?" tanya Rayya terheran-heran sampai keningnya berkerut ketika menatap suaminya.


Jeremy tersenyum. "Dengar dan pikirkan baik-baik. Miles menjadi otak dari semua kekacauan yang dibuatnya. Dia cerdas dan licik. Dia pintar memanfaatkan keadaan dan sudah menguasai medan. Aku rasa, Miles selama ini sengaja diam dan rela menjadi pesuruh dalam jajaran The Circle. Dibalik itu semua, dia sudah merencanakan semua hal ini bertahun-tahun sejak para Mens ada. Aku membaca berkas dari kesaksian Cassie, Sierra, Click and Clack, Tessa dan Venelope."


Sandara langsung terlihat malas saat nama Venelope disebut. Sayangnya, hanya Jordan yang menyadari perubahan sikap gadis manis tersebut.


"Hem, kau benar juga. Jadi, sekarang bagaimana?" tanya Rayya yang kini sependapat dengan suaminya.


"Tanpa kauminta aku sudah melakukannya," sahut Sandara seraya meraih gelas berisi air minum lalu meneguknya.


"Sepertinya diantara yang lain, kau yang paling menaruh dendam padanya, Sandara," ucap Aisha menatap gadis itu lekat.


"Wajahku sebagai buktinya," tegasnya dengan wajah datar seraya mengiris daging.


Semua orang kembali diam tak lagi berkomentar. Jeremy lalu meminta kepada para tamunya untuk segera menghabiskan sarapan lalu beristirahat.


Malam harinya, hasil tes laboratorium sudah didapat. Kali ini, Jeremy diminta untuk pergi ke fasilitas.


Rayya menemani suaminya dan terpaksa 2M ikut serta karena dikhawatirkan mereka akan pulang larut malam.


"Maaf jika kalian kami tinggal. Namun, sudah aku siapkan obat-obatan di kamar jika kauingin mengobati lukamu," ucap Rayya sebelum pergi.


"Terima kasih, Auntie," jawab Jordan sopan dengan Sandara ikut mengantar sampai ke depan.


Aisha ikut ke laboratorium dan mempercayakan kepada para Black Armys untuk mengamankan mansion selama mereka pergi.


Sandara dan Jordan kembali masuk ke mansion di mana mereka harus segera beristirahat karena esok hari pemeriksaan seluruh fungsi organ.


Namun, malam itu. Sandara terlihat murung di balkon teras kamar yang dulu ditempati oleh Vesper.


Ternyata, Jordan menyadari jika saudari sepersusuannya itu sedang bersedih. Jordan ikut berdiri di balkon teras kamarnya yang bersebelahan dengan Sandara.


"Jordan?" panggil Sandara terkejut karena Jordan muncul meski berada di sisi lain.


"Memikirkan Afro?" tanyanya menebak. Sandara menggeleng.


"Aku sedang memikirkan kelanjutan dari hidupku," jawabnya lesu dengan pandangan sayu menatap lautan. Jordan diam menatap Sandara lekat yang terlihat sedih. "Sepertinya ... nasib buruk ibuku menular padaku. Tak ada kebahagiaan untukku."


"Itu tidak benar," sahut Jordan. Pandangan Sandara kembali tertuju pada Jordan yang terlihat tampan dengan cahaya bulan menyinari wajahnya. "Kau menikah dengan Afro, itu sebuah kebahagiaan awalnya. Kau dulu sangat mencintainya. Aku bisa melihat hal itu," sambungnya. Sandara kembali berpaling. "Kau menjadi artis seperti yang kauharapkan, itu juga kebahagiaan. Kau membuka butik di Paris, juga kebahagiaan. Banyak kebahagiaan yang kauterima, tapi sengaja kaulupakan, Sandara," tegas Jordan. Sandara diam dengan pandangan tertunduk.


"Aku ...."


Belum sempat Sandara menyelesaikan ucapannya, matanya kini terpaku pada sebuah drone yang melayang di depannya.

__ADS_1


Jordan ikut terkejut saat sebuah drone juga terbang melayang di hadapannya. Dua orang itu mematung dan tiba-tiba saja, BUZZ!!


"Harghhh!!" erang keduanya saat sebuah gas warna putih menyembur tepat di wajah mereka.


Namun seketika, CamGun mendeteksi drone tak dikenal itu sebagai ancaman saat pergerakannya masuk dalam jangkauan sensor senjata otomatis tersebut.


DODODOOR! BLUARR!


"Ada penyusup di sisi Barat!" seru salah satu Black Armys ketika melihat dari tampilan detektor CamGun ketika beraksi.


Segera, Black Armys penjaga di wilayah itu berlari ke arah puing yang terbakar dari drone tersebut.


Sayangnya, mereka tak tahu jika Sandara dan Jordan terkena dampak akan suatu hal dari gas tersebut.


Sandara dan Jordan seperti mengalami sesak napas. Keduanya masuk ke kamar seperti mencari sesuatu. Sandara berlari dengan wajah sudah berkerut menahan sakit menuju ke kamar Jordan.


BRAKK!!


"Hah, Dara!" panggil Jordan yang juga ikut terkena dampak hingga wajahnya tegang dengan tangan mencengkeram kaos di dadanya.


"Hah, hah, serum penawar racun," pintanya mendekati kotak obat yang Rayya tinggalkan di rak kamar Jordan.


Keduanya bergegas mendatangi kotak tersebut, tapi BRUKK!! KLANG!!


Semua isi dari kotak berhamburan di lantai saat keduanya berusaha menggapainya. Sandara dan Jordan merangkak mencoba mencari serum penawar diantara botol-botol serta perlengkapan dalam kotak itu.


Hingga akhirnya, mereka menemukan dua buah suntikan dengan tulisan "Penetralisir" pada bagian silinder.


Dengan sigap, Sandara menusukkan jarum itu ke lengannya begitupula Jordan. Keduanya terkapar dan berusaha untuk tetap tenang karena suara mereka tercekat, tak bisa bicara.


"Hah, hah," engah Sandara saat ia merasakan tubuhnya merasa panas seperti terbakar, begitupula Jordan.


Keduanya merangkak menuju ke kamar mandi dengan susah payah menahan sakit di sekujur tubuh karena merasakan nyeri.


Sandara masuk ke dalam bath up begitupula Jordan. Sandara menyalakan kran air agar tubuh mereka dingin. Keduanya kembali tenang saat merasakan air segar itu mendinginkan tubuh mereka.


Namun lagi-lagi, efek dari serum itu membuat tubuh mereka seperti terkejut. Sandara dan Jordan menggigil hebat. Keduanya segera keluar dari bath up dan membiarkan air kran tersebut mengalir.


Keduanya seperti sudah kehilangan pikiran. Mereka hanya ingin sembuh karena merasakan jika serum monster seperti sedang berusaha melawan serum penetral yang konon katanya memberikan dampak perubahan ekstrim pada tubuh korban jika tak ditangani dengan baik.


"Hah, hah, ini ulah Miles," ucap Sandara menggigil yang akhirnya melepaskan pakaiannya. Jordan mengangguk setuju hingga rahangnya mengeras.


Saat keduanya hanya terbalut kain pada area sensitiif saja, tiba-tiba muncul seorang pria yang membuat kening keduanya berkerut.


Pria itu melemparkan sebuah buntalan kertas ke lantai lalu menutup pintu. Jordan segera berlari mendatangi pintu dengan napas tersengal. Sandara mengambil buntalan itu dengan tubuh gemetaran dan membukanya pelan.


"Hah, hah, apa yang tertulis?" tanya Jordan menatap Sandara lekat karena pintu ditutup dari luar dan tak bisa dibuka.


"Aku mendengar curahan hati kalian. Semoga bahagia. Miles."


Praktis, mata Sandara dan Jordan melebar. Keduanya panik dan segera menuju ke pintu balkon dengan tergopoh.


Namun seketika, dua orang itu terkejut ketika melihat para Black Armys yang menjaga mansion Victor berjalan menuju ke sebuah kapal di dermaga pribadi pemilik rumah tersebut.


Sandara dan Jordan tertegun ketika melihat Miles melambaikan tangan dari atas kapal dengan senyum terkembang.


"Pasti gas halusinasi," ucap Jordan dan Sandara bersamaan.


Keduanya berusaha melawan dingin di tubuh untuk bisa mengalahkan Miles karena pria itu muncul secara terang-terangan di hadapan mereka. Namun tiba-tiba, BUZZ!!


Sebuah drone kembali mendatangi dua orang itu dan menyemburkan gas lagi. Kali ini, Sandara dan Jordan tak bisa berkutik. Keduanya terhuyung dan roboh di atas lantai.


Sandara berusaha untuk bangkit dengan memiringkan tubuhnya ke samping, begitupula Jordan. Namun, keanehan terjadi. Sandara melihat sosok Afro di depannya, begitupula Jordan yang melihat sosok Naomi.


Lama keduanya saling bertatapan meski berulang kali seperti memastikan penglihatan mereka. Namun seketika, keduanya saling berpelukan dan berciuman.


Miles tersenyum dari pantauan drone yang merekam kejadian itu. Pria yang melemparkan gulungan kertas kepada Jordan dan Sandara keluar dengan wajah tengil setelah berhasil menonaktifkan fungsi dari CamGun serta persenjataan lainnya.


"Beres, Om Miles," ucap Banu senang seraya menenteng sebuah koper yang ia dapat dari rumah tersebut.


"Kerja bagus. Ayo pergi sebelum Victor dan lainnya menyadari aksi kita. Namun sepertinya, hal buruk akan terus menggentayangi tiap orang dalam jajaran 13 Demon Heads. Biarkan mereka rusak dari dalam dan akan kita tuntaskan dari luar," ucap Miles tersenyum miring saat ia berhasil menjalankan salah satu strateginya kepada Jordan dan Sandara.


Banu menutup kedua matanya terlihat malu karena menonton adegan panas yang dilakukan oleh keturunan Vesper dan Boleslav itu.


Miles sengaja meninggalkan drone miliknya di balkon dan terus melakukan perekaman. Kapal melaju kencang meninggalkan dermaga dengan para Black Armys yang kini sudah dalam pengaruh gas halusinasi yang diberikan oleh Miles dan Banu.


***

__ADS_1


kenapa Banu bisa tau2 nongol di sini? tunggu next epsnya. sabar. orang sabar Insya Allah puasanya nanti lancar. halah. kwkwkw😆


__ADS_2