
Ketegangan begitu terasa di ruang Persidangan Black Castle. Kini, gadis cantik bermata biru itu tersudut. Jonathan terlihat kebingungan dalam menyikapi perseteruan ini.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Kau sungguh licik, Sierra. Kau menipu kami selama ini. Kau yang menciptakan kebencian dan membuat keluargaku terpecah. Kau sengaja melakukannya! Kau pasti sudah merencanakannya!" pekik Javier menunjuk gadis cantik bermata biru tersebut.
Sierra terkejut, ia tergagap dan tak bisa bicara. Jonathan terlihat panik. Vesper diam saja mengawasi kericuhan yang terjadi di ruangan.
"Kau ditunjuk sebagai pengganti Madam. Pasti kau sama busuknya dengan wanita tua itu! Jangan-jangan, cintamu pada Jonathan juga hanya tipuan agar bisa masuk ke dalam jajaran kami lalu menghancurkan dari dalam! Benar begitu, bukan?!" tegas Yusuke menunjuknya.
"Ya, itu pasti benar! Kau selama ini menghilang! Tobias pasti sengaja menyembunyikanmu. Kau dijadikan semacam senjata rahasia. Pasti semua ini sudah kau rencanakan. Kau dan Tobias berpura-pura di pihak kami, dan mengumpankan Venelope serta jajarannya agar kami buru. Venelope tahu rencana kita dengan mengosongkan kediaman para isteri Sutejo. Mana mungkin dia secerdik itu. Pasti ada orang dalam, dan itu pasti kau!" sahut Jamal lantang.
Jonathan shock mendengar semua penuturan dari para anggota Dewan yang kini menyudutkan kekasihnya, tapi dalam lubuk hati Jonathan yang terdalam, pikirannya ikut terseret dengan dugaan orang-orang itu.
Jonathan tertunduk diam. Ia seperti kehilangan gairah hidupnya. Entah apa yang kini dipikirkannya, tapi pandangannya tak menentu.
Jonathan duduk lesu di bangkunya tak berucap apapun. Zaid menatap Jonathan seksama. Pemuda itu seperti tahu apa yang dipikirkan oleh saudaranya itu.
"Silent please," pinta Vesper dengan ketukan palu kayu. Praktis, semua perdebatan itu sirna. Vesper menatap Sierra tajam dari tempatnya duduk. Semua orang terlihat tegang.
"Sierra. Datang kemari. Aku baru ingat jika ... kau belum membuat pernyataanmu. Ingatanmu sudah pulih, 'kan? Aku tunggu kehadiranmu di Pengadilan 13 Demon Heads. Sebaiknya, kau siapkan keberangkatan. Lucy dan Yohanes akan mengawalmu. Terima kasih," ucap Vesper menatap calon menantunya tajam. Sierra mengangguk pelan terlihat tertekan.
"Ma-Mama?" sahut Jonathan tergagap.
"Kita selesaikan semua, Jonathan. Sampai tuntas. Tak ada lagi kebohongan yang disembunyikan. Kita ungkap semua," jawab Vesper dengan wajah dingin menatap anak ketiganya dari kursi Ketua Dewan. Jonathan menelan ludah.
Vesper menjentikkan jari. Ia tak mengizinkan Sierra dan para Pion D mengikuti jalannya rapat lagi. Eiji memutus panggilan itu. Click and Clack bahkan diusir keluar dan keduanya kini dijaga ketat oleh para Black Armys kaki robot.
Kedua tangan Jonathan meremat celana di atas pahanya. Wajahnya kembali tertunduk. Torin yang duduk di sebelah Jonathan melirik Zaid yang juga memandanginya. Dua pria itu terlihat cemas akan mental Jonathan.
"Bawa masuk Tessa," perintah Amanda.
Wanita cantik itu kembali di dudukkan di kursi khusus untuk menyelesaikan interogasinya. Tessa menatap Arjuna dengan wajah terlihat takut.
Namun, Arjuna malah memalingkan pandangan. Tessa terlihat begitu sedih. Ia tak memberontak ketika belenggu-belenggu itu mengekang pergerakannya.
Prosedur dijalankan. Tessa mulai menunjukkan dampak dari gas halusinasi dalam dirinya. Roza sudah bersiap dengan kursi interogasinya dan duduk tegap menatap Tessa tajam.
Roza melihat layar tablet, di mana daftar pertanyaan muncul. Namun, keningnya berkerut saat ia menyadari jika isi dari introgasi itu sedikit berubah.
Roza melirik Vesper dari tempatnya duduk, dan sang Ratu hanya memasang wajah datar seperti ingin mengatakan jika bukan ia pelakunya.
"Tessa. Berapa banyak pasukan Venelope?"
"Aku ... tidak tahu. Namun yang pasti, Venelope terus mengembangkan serum dari darah Vesper. Ia menerapkan di beberapa hewan dan manusia. Ia ... mengambil orang-orang cacat di jalanan, orang-orang terbuang, atau orang-orang yang sudah sakit parah dan tak bisa disembuhkan. Ia menjanjikan kesembuhan bagi mereka. Beberapa berhasil, beberapa tewas."
Praktis, mata semua orang melebar mendengar kesaksian yang tak mereka duga tersebut. Roza melanjutkan pertanyaannya lagi sesuai urutan dalam tablet-nya.
__ADS_1
"Apakah benar, Mr. White telah tewas?"
"Tewas? Tidak. Sepeninggalanku, White bersama Sandara. Gadis itu menjadi tawanannya selama ini. Jika White tewas, aku akan sangat bahagia, tapi sepertinya tidak mungkin," jawab Tessa dengan sedikit senyuman di bibirnya, meski ia seperti orang mabuk dalam berbicara.
Para mafia saling melirik dan berdiskusi. Mereka berasumsi jika Tessa tak tahu jika pria itu sudah tewas setelah ditemukannya makam pria tersebut dan dibongkar.
Jasad Mr. White ditemukan dan diidentifikasi benar dirinya, meski kondisinya sangat memprihatinkan.
Tiba-tiba, Roza terdiam seperti mendengarkan dengan serius. Ia melirik Vesper dan mengangguk.
Semua mafia yang duduk di bangku persidangan terlihat bingung. Sedari tadi Roza melirik Ketua mereka, entah apa yang terjadi antara keduanya.
"Apa yang diinginkan Mr. White kepada Sandara?" Seketika, semua orang tegang, terlebih Kai. Wajahnya langsung serius menatap Tessa tajam di kejauhan.
"Mr. White menyukai Sandara. Ia ingin memilikinya, semuanya. Ia ingin mengendalikannya. Ia tak akan melepaskan gadis itu apapun yang terjadi. Mr. White, ingin membuat Sandara seperti yang diinginkannya, menjadi anggota dari No Face. Jika itu tak berhasil, cara terakhir dengan—"
"Mencuci otaknya," ucap Tessa dan Vesper bersamaan.
Semua orang kembali dibuat tertegun untuk kesekian kali. Para hadirin kembali berbisik seperti membahas hal ini lebih serius.
Kai terlihat shock, ia memegangi kepalanya dengan mata terpejam. Sun yang duduk di sebelahnya terlihat khawatir dan terus memandangi Kai dengan cemas.
"Sandara gadis cerdas, Tuan Kai. Dia tak mungkin mengkhianati kita," ucap Sun yakin.
"Kau tak membaca berkas tentangku, Sun? Aku pernah dicuci otak oleh Ms. White. Dan, ia berhasil. William saja berhasil ditaklukkan olehnya. Bagaimana jika Sandara mengalami hal sama sepertiku? Aku ... aku sangat takut, Sun. Aku tak mau kehilangan puteriku," jawab Kai terlihat sedih.
Vesper kembali bicara pada Roza melalui sambungan earphone. Wanita Red Skull tersebut mengangguk.
"Apa rencana Venelope kepada 13 Demon Heads?" Semua tamu kembali tegang.
"Melenyapkan 13 Demon Heads selama-lamanya. Membunuh para anggota Dewan satu persatu, hingga menyisakan Vesper seorang. Venelope, ingin membuat perhitungan dengannya karena ia yang menyebabkan kematian Anita. Venelope, ingin balas dendam."
Mata semua orang terbelalak. Vesper tertunduk dan terlihat senyum tipis di wajahnya. Arjuna melihat Ibunya yang terlihat tak mempermasalahkan ancaman itu.
"Semua orang pasti akan mati. Entah karena penyakit, kecelakaan, bencana alam, atau bahkan di tangan musuh. Banyak opsi dan aku, tak masalah akan mati dengan cara apa," ucap Vesper terlihat tenang.
"Dasar tidak waras," ucap Bojan kesal, sedang semua orang dibuat cemas.
"Apakah akan ada penyerangan lagi dari Venelope?" Tessa mengangguk. "Kapan?"
"Setiap hari kebahagiaan berlangsung dalam jajaran 13 Demon Heads. Yang terdekat, Pernikahan Jonathan-Sierra. Venelope akan memberikan hadiah pernikahan berupa penyerangan ke seluruh jajaran Dewan seperti saat pernikahan Zaid dan Yena."
"Batalkan, Jonathan! Tak perlu kau melangsungkan pernikahan itu!" pekik Yusuke dari tempatnya duduk.
"Kau gila? Tidak bisa! Aku tetap akan menikah, semua sudah dijadwalkan!" jawab Jonathan lantang.
"Aku tak akan datang. Aku akan berada di Markas untuk melindungi asetku!" sahut Yusuke tegas.
__ADS_1
Semua anggota Dewan mengangguk setuju. Pertikaian kembali terjadi. Mereka saling berteriak dari tempat duduk mengutarakan pemikirannya. Vesper dan Amanda terlihat pusing dengan kondisi ini.
"Hei! Hei!" teriak Arjuna tiba-tiba yang mengejutkan semua orang. "Jika kalian tak datang, tidak masalah."
"Kak Juna?" Arjuna langsung mengarahkan telunjuknya dan meminta Jonathan tak memotong ucapannya. Putera mendiang Erik tersebut diam seketika.
"Jika kalian berada di Markas, Venelope akan bersuka cita, karena ... target sesungguhnya berhasil ia dapatkan. Kalian. Yup, dengan kalian berada di Markas, Venelope akan membunuh kalian dengan mudah." Semua mafia terlihat serius mendengarkan. "Ingat yang terjadi saat penyerangan ketika pernikahan Zaid dan Yena? Kalian selamat, karena kalian berkumpul di satu tempat. Mereka menyerang Markas dan bermaksud untuk mencuri aset. Hasilnya? Gagal."
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Kim Arjuna?" tanya One dari tempatnya duduk.
"Begini. Kita sudah tahu jika itu rencana Venelope. Kita akali, kita jebak dia. Kalian tetap datang ke pernikahan Jonathan dan Sierra. Tempat itu pasti dijaga ketat dengan keamanan maksimum. Venelope dan anak buahnya pasti tak berani muncul. Sama saja mereka cari mati. Benar?" tanya Arjuna menaikkan kedua alis. Semua pendengar mengangguk.
"Oh, jadi maksudmu ... Kita serang mereka saat penyerangan itu terjadi di Markas? Biarkan mereka datang, dan kita hajar mereka saat masuk dalam perangkap kita. Begitu maksudmu?" tanya Verda SYLPH dan Arjuna menunjukkan jempolnya.
"Hem, pintar," sahut Ivan. Semua mafia terlihat berpikir serius.
Amanda mengajukan voting atas saran dari Arjuna, dan ternyata pemikiran Arjuna diterima. Vesper tersenyum dari tempatnya duduk, tapi Arjuna malah terlihat gugup. Pemuda itu memilih mengalihkan pandangan.
"Pertanyaan terakhir. Apa kau mencintai Arjuna, Tessa? Apa yang kauinginkan darinya?"
Praktis, pandangan Arjuna langsung tertuju pada wanita berambut pirang yang terlihat mulai tak bisa mengendalikan kepalanya yang bergeleng-geleng, pertanda jika ia sudah mencapai batasnya.
"Aku sangat mencintainya, sejak pertama kali melihat sosoknya di Jerman. Ketika Han membawa Arjuna di kediaman Sanders." Arjuna mematung, terlebih Han. "Arjuna suka menonton opera. Mungkin dia tak tahu, tapi aku selalu mengikutinya ke manapun ia pergi, bahkan sampai sekarang." Semua orang terdiam, mereka tak tahu jika Tessa sudah mengenal Arjuna sejak lama, bahkan sebelum kehadiran Naomi. "Aku ... ingin menghabiskan sisa hidup dengannya. Menonton opera, melintasi lautan ... aku tahu jika Arjuna menyukai laut. Bahkan jika aku harus tenggelam bersamanya, tak masalah. Tak ada lagi yang mau menerima kehadiranku, jadi aku memutuskan jika Arjuna pelabuhan terakhirku."
Tubuh Arjuna tak bergerak begitupula dengan matanya yang terkunci pada Tessa seorang. Roza segera meminta Merry untuk menyuntikkan serum penawar.
Belenggu Tessa dilepaskan dan wanita cantik itu dipindahkan ke ruangan khusus. Han menatap puteranya yang diam saja dengan pandangan tak menentu.
"Sepertinya, kau akan merestui pernikahan mereka kali ini, Vesper. Siapa sangka, jika Tessa ternyata tulus mencintai puteramu. Kasihan gadis itu, ia mencintai seorang pria dari kubu yang bertentangan. Aku bisa merasakan betapa tertekannya mental Tessa berada dalam pengaruh No Face. Hem, Romeo and Juliet," bisik Amanda yang membuat Vesper menunjukkan senyum tipisnya, meski ia tak berkomentar.
Persidangan akhirnya ditutup. Vote dilakukan. Arjuna terlihat gugup untuk mengetahui hasil akhir dari pendapat para mafia atas insiden ini.
"GIGA sudah mengkalkulasi semua vote. Dan—" Arjuna menelan ludah. Ia tak bisa menutupi wajahnya yang pucat. "Kau dianggap tak bersalah. Selamat, Kim Arjuna. Kursi Dewan tetap menjadi milikmu."
DOK! DOK! DOK!
"Wohooo!" Suara tepuk tangan meriah terdengar membahana di ruangan besar tersebut.
Arjuna berterima kasih dengan menunjukkan senyumannya seraya membungkuk hormat.
Satu-satunya manusia yang terlihat tak senang adalah Jordan. Ia terlihat kesal dari tempatnya duduk. Jordan langsung beranjak dan pergi meninggalkan ruangan menuju ke Ballroom jamuan diikuti Afro.
***
Puanjang nih epsnya. Makasih tipsnya. Ditunggu tips selanjutnya. Lele padamu❤️
__ADS_1