4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Memilih Mati


__ADS_3

Napas Yudhi memburu. Ia terlihat begitu marah karena Jonathan memihak No Face, musuhnya. Kumpulan orang-orang yang telah merenggut keluarganya hingga ia saja yang tersisa. No Face mengambil satu-satunya keluarga dari keturunan pak Sutejo yang berpihak padanya—Ahmed.


"Yudhi? Yudhi? Apa kau baik-baik saja?" panggil seorang perempuan terdengar cemas dari ponsel yang jatuh di sampingnya.


Yudhi mengambil ponsel tersebut dan melihat di kejauhan saat speed boat Jonathan meninggalkannya.


"Ya, Dara. Jonathan beralih pihak. Yudhi gak akan maafin Jonathan dan orang-orang yang bersamanya. Jangan halangi Yudhi," ucapnya bengis lalu memutus panggilan telepon.


Yudhi kembali masuk ke dalam rumah dengan melewati jalan yang disinyalir Click and Clack kabur. Ia menuruni tangga menuju ke lantai yang menembus ke penjara Smiley.


Yudhi melihat Smiley telah tewas dikerubungi oleh tikus-tikus yang masih bersemangat untuk menyantapnya.


Yudhi menuju ke ruang operator di samping penjara tersebut. Ia melihat dari kamera pengawas keadaan sekitar. Ia mengeluarkan ponselnya lagi seperti menghubungi seseorang.


"Om, ini Yudhi," ucapnya dengan wajah datar.


"Ha? Yudhi? Yudhistira?" pekiknya kaget begitu menerima panggilan tersebut.


"Hem. Bisa jemput Yudhi?" tanyanya dengan wajah datar seraya melihat mayat Smiley yang mengenaskan.


"Ya, ya. Kebetulan banget kita baru sampai di bandara Itali habis dari rumah Ahmed di Turki. Kamu di mana, Yud?" tanya pria itu tergesa.


"Oh, di Italia? Ya udah, Yudhi nyusul ke sana. Yudhi terbang hari ini juga," jawabnya seraya mengambil beberapa benda.


"Ya, ya. Om Eko seneng banget denger kamu masih idup. Ati-ati ya, Yud. Om tunggu!" jawab Eko sumringah.


Yudhi segera keluar dari rumah tersebut dengan menenteng sebuah tas yang ia dapat dari ruang operator.


Remaja itu juga menyempatkan memasuki reruntuhan rumah yang telah hancur dengan kobaran api seperti mencari sesuatu.


Yudhi kembali ke ruang kerja tempat Jonathan. Ia mengambil beberapa benda yang bisa digunakan. Pemuda itu lalu bergegas pergi dengan mengendarai mobil sedan yang terparkir di halaman samping.


Kabar Yudhi masih hidup langsung menggemparkan jajaran Vesper setelah Eko menyiarkan hal ini. Kai bahkan langsung memutar kemudi yacht menuju ke Italia saat sang isteri masih tertidur lelap di kamarnya.


"Kita mau ke mana, Mas ganteng?" tanya Biawak Cokelat mendekati sang majikan.


"Italia. Yudhi masih hidup. Dia bisa menuntun kita kepada Sandara," jawabnya serius. Biawak Kuning yang ikut dalam pelayaran itu mengangguk siap.


Sedang Afro, terlihat tak sabar menunggu kedatangan Yudhi. Ia ingin tahu keterlibatan Yudhi dengan Sandara dari foto yang dikirimkan Vesper padanya beberapa waktu lalu.


Di speed boat tempat Jonathan dan rombongannya berada.


"Jonathan, kita mau ke mana?" tanya Sierra menatapnya sendu.


"Ke markas kalian yang lain. Cepet bilang, ada di mana," jawabnya ketus.


Sierra dan Venelope saling berpandangan.


"Kami ... sudah tak memiliki markas lagi," jawab Venelope dengan wajah tertunduk. Tentu saja, Jonathan terkejut dengan pengakuan gadis berambut panjang di hadapannya.


"Bullshit. Gak mungkin. Kalian punya banyak rumah dan markas. Pasti ada," jawabnya terkekeh.

__ADS_1


"Sungguh. Kalian sudah menghancurkan semuanya. Pasukan kami bahkan telah habis. Rumah itu ... satu-satunya hunian yang kami miliki termasuk pasukannya. Kami ... sudah tak memiliki anak buah lagi," sambung Sierra lesu.


Jonathan melirik Click and Clack dan dua pria bertubuh besar itu mengangguk.


"Jika aku runtut dan ingat-ingat, seharusnya ... sudah tak ada lagi. Oleh karena itu, aku ikut. Aku juga penasaran, setelah di sini, kalian akan ke mana lagi," sahut Clack melihat dua wanita berambut pirang di hadapan mereka.


"Jika pun ada rumah yang masih utuh, orang-orang 13 Demon Heads telah mengakuisisinya. Harta kami yang tersisa hanya perusahaan. Namun, kami tak mungkin tinggal di sana. Apa kata orang-orang jika tahu pemimpin perusahaan seorang tuna wisma dan mungkin sebentar lagi akan bankrupt," jawab Sierra terlihat sedih dengan wajah tertunduk.


"Kalian sudah menang. Seperti harapanmu, Jonathan. No Face telah hancur. Kau puas?" tanya Venelope menatapnya tajam, tapi terlihat kesedihan di matanya.


Jonathan diam sejenak mengalihkan pandangan. Suasana hening untuk sesaat. Hanya terdengar suara mesin kapal yang disertai udara dingin mengusik.


"Kamu pulang aja ke rumah papamu, Tobias," tegas Jonathan menatap Sierra, tapi gadis bermata biru itu malah melotot.


"Tobias? Oh, tidak. Lebih baik aku mati daripada mengakui dia ayahku," tolaknya.


"Dia itu sayang sama kamu, Sierra. Waktu kamu masih jadi gadis yang manis, kalian berdua akur dan bekerjasama dengan baik. Daripada kamu jadi gelandangan, namamu di dunia sosialita bisa hancur," sahut Jonathan.


Sierra terlihat kesal, ia mendengkus keras. "Lebih baik aku mati daripada harus hidup bersamanya," jawabnya serius dengan kedua tangan melipat depan dada, bertahan dari udara dingin yang mulai mengusiknya.


"Ya udah. Mati sono. Mumpung kita di pinggir laut. Kamu bakal tenggelem dengan cepat. Ditambah, airnya dingin kaya es. Buruan," tegas Jonathan dengan wajah datar.


Praktis, mata semua orang melebar seketika mendengar permintaan Jonathan sedingin udara di bulan Desember. Sierra tersenyum, tapi terlihat kekecewaan di wajahnya. Ia mengangguk pelan.


Jonathan menatap Sierra tajam saat gadis cantik itu menggunakan tangannya yang terbungkus perban dan dilapisi sarung tangan untuk mengangkat salah satu kakinya ke pinggiran speed boat.


"Sierra. Kau mau apa?" tanya Click panik.


Gadis bermata biru itu menoleh dengan kening berkerut terlihat sedih. Ia menatap Click and Clack yang melotot memandanginya dari tempat duduk di samping Jonathan. Terlihat jelas, mata Sierra berkaca dan air mata itu siap menetes.


"Sierra. Aku memang membencimu, tapi ... aku tak terima jika kau mati dengan cara konyol seperti ini!" tegas Venelope menatap punggung Sierra dengan suara bergetar siap untuk menangis.


"Seharusnya kau bahagia, Venelope. Tak ada lagi yang akan merendahkan atau memakimu. Lihatlah aku," ucapnya memunggungi semua orang dengan kedua tangan ia angkat ke atas. "Aku cacat. Hidupku ... sudah tak berguna lagi. Aku hanya akan mempermalukan No Face jika tetap hidup," sambungnya dengan air mata telah membasahi wajahnya.


"Sierra! Aku tahu kau gila, tapi tidak seperti ini," tegas Clack menggeser dudukkannya, siap untuk menangkap gadis cantik itu jika nekat melompat.


"Setidaknya. Biarkan aku melakukan satu hal benar."


"Apa itu?" tanya Jonathan dengan wajah dingin.


"Mati."


BYUR!


"SIERRA!" teriak Click, Clack dan Venelope lantang.


Jonathan terkejut karena gadis bermata biru itu sungguh menceburkan dirinya ke dalam laut.


"Putar! Putar!" perintah Clack panik.


Pengemudi speed boat terlihat bingung. Jonathan diam saja tak menjawab dan tetap duduk, meski terlihat shock.

__ADS_1


"Arghhh!" erang Click langsung beranjak dari dudukkannya menghampiri nahkoda.


Pria itu terkejut saat Clack memindahkan tubuhnya dengan mudah menggunakan kedua tangan. Click dengan segera memutar kemudi ke arah jatuhnya Sierra.


Namun, gadis bermata biru itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia tak muncul ke permukaan.


Venelope membungkam mulutnya dengan air mata tumpah dan terisak. Clack melihat di sekitar permukaan air mencari keberadaan pemimpin No Face tersebut.


"SIERRA! SIERRA!" teriak Clack lantang ikut melongkok ke luar kapal, tapi sosoknya tak ditemukan. Semua orang panik seketika.


Tiba-tiba saja, Jonathan menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Clack dengan pandangan tertunduk. Pria gundul itu melebarkan mata.


"Click! Arah jam satu! Sierra di sana!" perintah Clack setelah melihat titik berkedip dari gelang pemenggal yang dikenakan oleh gadis bermata biru tersebut.


Click segera melaju speed boat tersebut dengan kencang. Jonathan melihat Venelope menangis seraya memegangi dadanya seperti merasakan sesak.


"Kenapa kau menangis?" tanya Jonathan menatap Venelope dengan wajah datar.


Venelope menatap Jonathan dengan kening berkerut. "Mungkin dia memang kejam, dulunya. Namun ... dia satu-satunya orang yang mengampuniku. Dia ... memberikanku kesempatan untuk hidup padahal ia tahu jika aku yang membuatnya lumpuh bahkan merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya. Dia ... satu-satunya alasanku bertahan hidup, Jonathan. Jika dia mati, tak ada gunanya aku hidup. Dia rivalku, dan aku ingin terus berselisih dengannya. Aku tak terima jika dia memilih mati dengan cara seperti ini. Itu bukan Sierra yang kukenal," jawabnya mengutarakan semua perasaannya, dan hal tersebut membuat Jonathan terkejut.


Pemuda itu membiarkan Click and Clack menceburkan diri menolong Sierra di tengah udara dingin.


"Kau ... memaafkan Sierra, padahal ia sudah berlaku kejam padamu?"


Venelope menundukkan wajah dengan anggukan. "Hanya dia saudari yang mau menganggap keberadaanku, Jonathan. Bahkan ia menyebutku 'keturunan palsu'. Aku memang membencinya, tapi ... bukankah sebutan itu membuat kita jadi dikenal? Aku dulu bukan siapa-siapa, seperti Cassie, tapi perlakuan buruk Sierra, membuatku termotivasi untuk menjadi seperti dirinya, dan ... aku sempat rasakan selama beberapa tahun. Aku anggap, kejayaanku masa itu adalah ... kebaikan hati Sierra padaku," jawabnya menatap Jonathan lekat dengan wajah berkerut menahan tangis.


"Hah! Hah!" engah Click and Clack saat mendapati Sierra tak sadarkan diri dengan wajah pucat.


"Oh! Sierra! Sierra!" panggil Venelope mendekati pinggir kapal untuk membantu menaikkan wanita yang tergolek lemas tersebut.


Click and Clack berusaha untuk menyadarkan Sierra di atas kapal. Jonathan masih duduk diam tak melakukan apapun dengan tas ransel dalam dekapannya.


Namun, CPR yang dilakukan oleh Click terlihat seperti tak membuahkan hasil, meski air keluar dari mulut Sierra sedikit demi sedikit.


Venelope menangis dan terus memanggil nama Sierra seakan tak rela jika gadis itu pergi untuk selamanya.


Jonathan menghembuskan nafas keras. Ia memasangkan kalung besi di leher Sierra. Semua orang terkejut.


Jonathan lalu memakai sarung tangan khusus dan berjongkok di atas kepala Sierra seraya memegangi kalung tersebut. Jonathan menatap wajah Sierra yang terlihat seperti orang mati.


Jonathan menarik tangan Venelope dan memintanya untuk memegang gelang pemenggal di kedua tangan Sierra.


Venelope diam sejenak, tapi ia akhirnya paham. Click and Clack juga bersiap untuk melakukan hal tersebut di dua gelang pergelangan kaki Sierra.


"Dalam hitungan tiga. Satu, dua, tiga!" seru Jonathan.


GRAB!! CRETTT!!


"Arrghh! Hah! Hah!"


***

__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnyašŸ˜ semoga gak ada tipo. kwkwkw. met liburan semua di hari kejepit inišŸ’‹



__ADS_2