4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Naomi, Jordan, dan Sandara


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.


Naomi berlari dengan tangis terisak dan pada akhirnya tak sanggup untuk melangkah lagi.


BRUKK!


"Jordan ... Jordan ...," ucapnya dengan suara bergetar tak bisa menghentikan air mata yang mengalir seolah ikut merasakan sakit hati mendalam akan sebuah pengkhianatan.


Dua Black Armys Ninja yang ditugaskan oleh Agent S hanya bisa berdiri menatap Naomi yang ambruk di tepian sungai.


Naomi membiarkan tubuhnya yang rapuh pasrah dengan kenyataan pahit yang harus ia terima di atas tanah.


"Jangan," ucap salah satu Black Armys Ninja ketika kawannya itu akan mendekati Naomi. Pria itu akhirnya melangkah mundur dengan anggukan.


Lama Naomi menangis hingga pada akhirnya suara isak tangisnya tak terdengar lagi. Perlahan, wanita cantik itu bangkit meski masih dalam posisi duduk.


Dua Black Armys Ninja saling berpandangan terlihat waspada saat Naomi mulai berdiri dan membalik tubuh hingga wajah dukanya terlihat.


Namun, tak ada tangis lagi. Wajahnya datar dengan pandangan tertunduk. Naomi melangkah dengan gontai melewati dua orang itu begitu saja seolah mereka tak terlihat.


"Sepertinya buruk," bisik pria berambut hitam.


"Apakah Vesper-sama sudah tahu hal ini?"


"Pasti S sudah melakukan sesuatu untuk mengusutnya. Miles sengaja melakukannya. Meski demikian, memang menyakitkan jika aku berada di posisi Naomi. Melihat hal semacam itu ... agh, entahlah. Sebaiknya kita segera kembali," jawab pria tersebut ikut tertekan.


Keduanya berjalan mengikuti Naomi dengan menjaga jarak. Naomi mengurung dirinya di kamar entah apa yang dilakukan.


Namun, wanita cantik itu tetap menyusui bayinya dan bayi dari Arjuna. Hanya saja, tak ada lagi senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajah wanita Jepang itu.


Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.


TOK! TOK! TOK!


"Naomi. Ini aku S. Boleh kumasuk?" tanyanya dari balik pintu geser.


"Yes, S," jawab Naomi lirih.


GREKKK!


S menatap wanita itu pilu. Ia kembali menutup pintu lalu menarik kursi agar bisa duduk berhadapan dengan anak didiknya tersebut.


Naomi duduk termenung di tepi ranjang dengan dua bayi telah tertidur pulas di kasur. S menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan.


"Ternyata, video itu dikirim oleh Miles ke seluruh markas dalam jajaran 13 Demon Heads. Ia sengaja melakukannya. Nyonya Vesper dan Amanda sudah mengetahui hal ini. Dan aku hanya ingin menyampaikan, tanggapilah hal ini dengan bijak, Naomi. Kau tahu jika Miles sengaja melakukannya untuk memecah belah kita. Kau bukan orang bodoh, meski aku tahu kau sakit hati dengan hal ini. Jeremy akhirnya mengaku jika kejadian itu benar adanya. Ia sedang memeriksa Sandara dan Jordan yang ternyata darahnya terkontaminasi sebuah zat yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Entah itu akan membuat dampak seperti apa pada tubuh keduanya, tapi sedang diselidiki. Namun, bukan kau saja yang sedih, tapi semua orang. Sandara bahkan hampir bunuh diri saat ia mengetahuinya. Jordan mengurung diri di kamar dan tak mengizinkan siapapun menemuinya. Jangan biarkan rencana Miles berhasil, Naomi," ucap S panjang lebar menatap Naomi tajam.


Wanita cantik itu kembali berlinang air mata.


"Terima kasih atas nasihatmu, S. Kau ... bisakah kau menolongku? Aku ... aku ingin bertemu Jordan," pintanya terlihat sedih.

__ADS_1


S terkejut, tapi ia mengangguk. S segera beranjak dari kamar untuk mengabarkan hal itu pada Jeremy dan lainnya di Australia.


Tentu saja hal ini juga cukup mengejutkan bagi orang-orang yang menyaksikan kejadian itu. Namun, mereka yakin jika Naomi cukup berbesar hati untuk memaafkan suaminya dan tak termakan kelicikan Miles.


Tiga hari setelahnya, usai bayi Sig dan Loria dititipkan kepada tiga isteri Tora, Naomi terbang bersama S menuju ke Australia tempat Jordan dirawat.


Victor dan lainnya sengaja tak memberitahukan hal itu pada Jordan agar lelaki itu tak kabur atau malah terpuruk.


Setibanya di ruang perawatan, Naomi berdiri di depan pintu kamar Jordan yang ditutup rapat.


"Akan kami tinggalkan kalian berdua. Bersabarlah, Naomi. Kau wanita yang hebat," puji Victor, dan Naomi mengangguk berterima kasih meski kesedihan masih tampak jelas di wajahnya.


Victor dan lainnya pergi dari koridor itu, tapi gerak-gerik Naomi tetap diawasi dari CCTV. Naomi mengetuk pintu, tapi Jordan tak membukanya.


Naomi memejamkan mata sejenak menguatkan hati yang kembali terasa sakit jika teringat akan video tersebut.


"Jordan, ini aku, Naomi, isterimu. Aku ingin bicara. Aku ingin bertemu. Izinkan aku masuk," pintanya berusaha untuk tegar.


Namun, tak ada suara yang terdengar. Naomi tak menyerah.


"Aku akan tetap berada di luar sini sampai kau membuka pintunya. Aku tahu yang terjadi, Miles sengaja melakukannya, tapi kau tidak. Aku mencintaimu, Jordan," ucap Naomi sedih yang kembali menangis.


Akan tetapi, tetap tak ada jawaban dari dalam ruangan. Naomi cemas. Ia khawatir jika Jordan nekat melakukan hal buruk yang bisa mencelakai dirinya sendiri.


Saat Naomi bersiap untuk mendobrak pintu, tiba-tiba saja, Sandara muncul dengan wajah sayu dari ujung koridor.


"Tak perlu kau, aku juga kecewa pada diriku. Tak kusangka, aku bisa terkena pengaruh dari gas buatan Miles. Namun kupastikan, Miles akan menderita. Dan harus kautahu, aku tak mau hamil anak Jordan. Aku sudah mengantisipasinya. Seharusnya, aku tak hamil. Jadi ... pastikan Miles tak mendapatkan Jordan karena ia akan menggunakan suamimu untuk menghancurkan kita," ucap Sandara dengan pandangan tak menentu lalu berpaling.


Praktis, ucapan Sandara membuat wajah Naomi terangkat.


"Kau mau ke mana?"


Sandara menghentikan langkah dan masih memunggungi isteri Jordan.


"Sepertinya ... aku akan merebut gelar eksekutor kematian Jordan. Aku, membunuh lebih banyak darinya, bahkan orang lain. Aku tak tahu siapa diriku lagi. Aku tak mau melibatkan orang lain lagi. Miles berhasil mencoreng namaku. Aku ... tak bisa kembali lagi, meskipun nanti Miles telah mati. Harga diriku sudah lenyap sejak kejadian itu. Aku minta maaf. Selamat tinggal, Naomi. Tolong jaga Jordan untukku."


Mata Naomi melebar. Sandara berjalan begitu saja seolah ucapannya sebuah ucapan terakhir. Naomi bingung, antara tetap berada di sana dan berharap suaminya membukakan pintu, atau mengejar Sandara yang sepertinya akan pergi untuk selamanya.


"Da-Dara? Dara!" panggil Naomi lantang, tapi Sandara malah berlari dengan kencang seperti mencoba untuk kabur. Naomi panik. "Paman Jeremy! Victor!" teriaknya di koridor kebingungan.


Sosok Sandara menghilang dengan cepat saat di persimpangan. Ketika Naomi akhirnya berpikir untuk mengejar Sandara, pintu kamar Jordan terbuka. Lagi-lagi, Naomi dibuat kebingungan dalam bersikap.


"Jordan?" panggil Naomi dengan mata berlinang saat melihat suaminya muncul dengan wajah sendu dan pandangan tertunduk.


"Aku minta maaf," ucapnya sedih tak berani memandang sang isteri.


"Jordan ...," panggil Naomi lirih, tapi langkahnya langsung terhenti saat akan mendatangi suaminya. Jordan mengulurkan tangan dan melangkah mundur seperti tak ingin didekati. "Aku minta maaf. Aku ... aku tak bisa melanjutkannya. Aku sudah memikirkannya. Namun, aku akan bertanggungjawab penuh atas hidupmu dan Sig, dari jauh," ucapnya yang membuat mata Naomi melebar.


"Apa yang kaukatakan?"

__ADS_1


"Aku malu, Naomi. Aku bahkan tak bisa memandangmu apalagi bertemu Sig. Aku ... tak bisa. Pergilah, lanjutkan hidupmu tanpaku. Kau lebih baik tanpaku sebagai suamimu. Aku akan menghubungimu, tapi ... soal berkunjung, akan kupikirkan. Tolong hargai keputusanku."


CEKLEK!


"Jordan! Jordan! Apa maksudmu?! Kau bermaksud meninggalkanku dan Sig? Jordan!" teriak Naomi marah karena Jordan kembali masuk ke dalam dan menutup pintu.


Naomi meluapkan kesedihan dan amarahnya. Ia mencoba mendobrak pintu itu, tapi seperti ditahan dari dalam. Naomi menangis terisak.


"Aku tidak mau bercerai denganmu! Tidak! Keluar! Jordan!" panggil Naomi dengan air mata sudah menetes deras membasahi pipi.


Tak lama, Victor, Jeremy, Raya dan Aisha muncul untuk menenangkan Naomi yang mengamuk.


Naomi menangis, tapi ia marah. Berulang kali pintu kamar Jordan ia tendang dan pukul hingga membuat tangannya lecet.


"Naomi sudahlah. Biarkan Jordan memikirkan ulang hal ini. Kami sudah mengatakan hal ini pada Amanda dan lainnya. Semoga mereka bisa memberikan pengertian. Tunggu saja, mereka sudah dalam perjalanan kemari," ucap Aisha menasehati, tapi Naomi seperti begitu kecewa dengan keputusan suaminya.


Rayya memeluk Naomi erat yang menangis terisak. Jeremy dan lainnya tampak bingung bagaimana menyikapi hal ini.


Terlebih, Sandara benar-benar pergi dan ternyata sudah berpamitan kepada semuanya. Jeremy tak bisa menahan kepergian puteri tunggal Kai akan keputusannya.


"Sudah berakhir. Tak ada tempat untukku lagi dalam jajaran 13 Demon Heads. Kesempatanku sudah habis. Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dalam hidupku. Semoga ... kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Sampai jumpa, jangan halangi aku," ucap Sandara sebelum menemui Naomi.


Jeremy dan lainnya begitu sedih, tapi mereka tak bisa berbuat apapun. Setelah Sandara dan Jordan sadar, keduanya menyadari jika ada hal yang tak beres.


Insting mereka yang tajam, memaksa Jeremy dan lainnya mengaku. Akhirnya, Victor menunjukkan rekaman tersebut. Praktis, Sandara dan Jordan shock seketika.


Bahkan, keduanya langsung menjauh seakan tak saling mengenal usai melihat tayangan itu, meski baru 5 menit. Mereka seolah sudah tahu bagaimana kelanjutannya.


"Pantas saja, ada cairan menetes saat aku berjalan tadi. Apakah ... Jordan mengeluarkannya di dalam?" tanya Sandara berusaha untuk tetap tenang, tapi suaranya yang bergetar tidak demikian.


"Kami, tidak begitu yakin. Namun, jika melihat dari video tersebut, ya. Jordan sepertinya mengeluarkan cukup banyak," jawab Aisha ikut tertekan.


Sandara langsung mencengkeram lengan Aisha kuat. Isteri Victor terkejut saat ditatap tajam oleh gadis cantik itu.


"Aku tak mau hamil. Aku tak bisa hidup dalam penderitaan dan malu jika benih ini sampai menjadi bayi. Aku tak peduli caranya. Gugurkan, sebelum terlambat. Pasti ada cara. Demi keselamatan kita bersama," pinta Sandara penuh harap.


Aisha yang saat itu bersama Rayya saling berpandangan. Akhirnya, keduanya mengangguk.


Rayya memberikan pil untuk mencegah kehamilan usai berhubungan karena keduanya yakin jika rentang waktu kejadian itu tak sampai 72 jam.


Kendati demikian, Sandara tetap diminta untuk melakukan pemeriksaan lanjutan berupa USG dan test pack jika tak jika tak mengalami menstruasi di tanggal siklus terjadi.


Sandara menyimpan obat itu saat ia memutuskan untuk pergi dari kehidupan para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads.


***


nguantuk, tapi gak bisa bobo. jadi ngabisin stok koin sekalian ngabisin cerita. yuk semangat yuk dikit lagi tamat uhuy. makasih tipsnya. lele padamu❤️


__ADS_1


__ADS_2