
TRING!!
Nafas Tobias menderu. Ia melihat rumah yang seharusnya menjadi miliknya terbakar hebat dari foto yang dikirimkan Vesper untuknya. Pria bertato itu menggenggam erat ponselnya terlihat begitu marah.
Tobias menatap ketujuh Pionnya yang kini sedang diobati oleh Dewi dan Lysa karena peluru bersangkar di tubuh mereka.
Mereka bicara dalam bahasa Perancis.
"Jangan membalas Vesper, Daddy. Ini salahmu. Kau yang memulainya. Venelope pantas mendapatkannya. Itu hanya sebuah rumah. Bukan hal besar," ucap Sierra memegangi pergelangan tangan Tobias erat dan berdiri di depannya dengan kening berkerut.
"Aku diam saja? Dia menusukku. Dia melukai para Pionku. Dan kini, ia meledakkan rumah yang seharusnya menjadi milikku," jawabnya penuh penekanan.
"Aku tahu. Seperti kataku tadi. Ini semua salahmu. Kau harus mengakui kesalahanmu. Jika kau tak memberitahukan rencana 13 Demon Heads kepada Venelope dan lainnya, hal ini tak perlu terjadi," ucap Sierra menegaskan.
"Kau ... tak keberatan, jika Venelope dan lainnya tewas?" tanya Tobias menatap wajah cantik anak gadisnya seksama.
"Jika bukan mereka yang tewas, aku yang mati. Bahkan mungkin kau, King D atau mimi Lysa. Kau lebih senang melihat kematian kami ketimbang orang-orang itu, Daddy?" tanya Sierra terlihat sedih.
Tobias langsung memeluk Sierra erat. Sierra balas memeluk Ayahnya dengan air mata menetes di pundaknya.
Tobias terlihat seperti mencoba untuk menenangkan diri yang dirundung amarah. Semua orang yang menyaksikan memilih diam.
"Oke. Biarkan mereka mati. Biarkan keturunan Flame habis tak bersisa," ucapnya lirih.
Sierra melepaskan pelukannya dan tersenyum sembari menghapus air matanya. Tobias menatap mata biru anak gadisnya dengan wajah sendu.
"Kata siapa? Mimi akan melahirkan penerus Flame. Jika aku hamil nanti, aku juga akan melahirkan penerus Flame. Oleh karena itu, jagalah kami dengan baik, Daddy. Sudah cukup kau membantu Venelope dan lainnya. Kini ... bantulah orang-orang dalam jajaran Vesper. Kau sangat mampu melakukannya, Daddy. Kau harus, membantu mereka," tegas Sierra menekankan.
Tobias diam menatap wajah anak perempuannya lekat yang masih memegangi kedua pergelangan tangannya kuat.
Tobias tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Ia lalu berdiri dari sofa empuknya sembari menghembuskan nafas keras.
"Oke, aku sudah memutuskan. Lakukan Operasi Balas Dendam," ucapnya santai sembari melirik para Pion yang duduk di kursi dengan perban membalut luka mereka.
"Yes, Bos," jawab para pria itu serempak meski berucap lirih. Senyum Sierra merekah.
Di sisi lain. Usai Arjuna menerima panggilan telepon dari Kai.
"Ada apa, Sayang?" tanya Tessa mendekati calon suaminya yang berdiri dengan wajah tertunduk dan nafas menderu.
GRAB!
"Agg, Ju-Juna ...," rintih Tessa memegangi pergelangan tangan Arjuna yang mencekik lehernya kuat dan menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Kalian apakan ayahku?" tanyanya menatap wajah Tessa bengis.
"A-aku tidak ta-tahu ...."
"Jika sampai ayahku tewas, aku tak segan membinasakan kalian semua. Ingat itu baik-baik!" ancam Arjuna seraya menjatuhkan tubuh Tessa ke samping hingga wanita cantik itu tersungkur di lantai.
Nafas Tessa tersengal. Ia terlihat shock dengan perlakuan kasar Arjuna padanya. Tessa kembali merintih saat Arjuna menarik tangannya dan membuatnya kembali berdiri.
__ADS_1
"Bawa aku ke tempat ayahku sekarang."
"A-aku tak tahu di mana ayahmu, Arjuna. Kita tak terlibat dalam peperangan itu," jawab Tessa gemetaran dan terlihat takut.
"Tuan Muda. Tuan Han berada di Italia. Maaf, saya terpaksa menyalakan pelacak untuk mengetahui keadaan ayah Anda. Namun sepertinya, nyonya Vesper akan muncul di sana," jawab Sun melangkah maju mendekatinya.
"Kau menyalakannya? Sial! Posisi kita akan diketahui. Cepat! Bawa kami pergi dari tempat ini," tegas Arjuna menarik lengan Tessa.
Wanita cantik itu terlihat tertekan saat ia dipegangi erat oleh Arjuna yang menyeretnya untuk segera pergi dari kediamannya di Belize.
Ketika mereka akan meninggalkan Mansion, suara tembakan terjadi di luar. Arjuna panik dan Sun segera menyiagakan pistol untuk mengamankan Tuan Mudanya.
"Mereka sudah di sini, Tuan!" pekik Sun setelah mengintip dari balik jendela dan melihat sosok Afro serta lainnya.
"Juna, jangan! Kita harus pergi," ucap Tessa memegangi tangan Arjuna yang dilepas olehnya ketika anak Han tersebut melihat sosok Afro di luar rumah.
Arjuna menatap Tessa tajam. Sun masih belum melakukan aksi apapun untuk melakukan serangan balasan.
"Agh, sial! Aku seperti pengecut! Cepat! Bawa kami keluar dari sini!"
Tessa mengangguk dan membawa Sun serta anak buah lainnya ke pintu rahasia di balik lukisan kapal tempat King D dulu pernah berkunjung bersama Lysa beberapa tahun silam.
Arjuna terlihat kaget begitupula Sun saat ada pintu tersembunyi di balik lukisan tersebut. Tessa memimpin di depan diikuti seluruh anak buah Arjuna. Mereka meninggalkan Guest House di mana tim Afro sedang melakukan penyerangan.
Black Castle, Inggris.
"Pelacak Sun aktif di Belize beberapa menit yang lalu. Mereka pasti tahu kedatangan kalian. Segera temukan mereka!" perintah Kai dari Pusat Komando.
Jordan dan Afro berhasil masuk ke dalam rumah. Mereka berpencar mencari keberadaan Arjuna, tapi tak menemukan sosoknya di tempat tersebut.
"Pasti ada jalan rahasia! Kita harus menemukannya, Jordan," ucap Afro dengan nafas tersengal dan pistol dalam genggaman.
Mata Jordan menajam. Ia melihat sekeliling tempat itu seksama. Jordan diam sejenak dan meminta Afro keluar dari rumah tersebut. Afro mengikuti Jordan naik ke atap rumah yang memiliki menara.
"Apa yang kita lakukan di sini?" tanya Afro bingung sembari melihat peperangan di bawahnya yang masih berlangsung.
Jordan menunjuk ke kawasan hutan dan perbukitan di kejauhan. Afro memasang wajah lugu terlihat bingung.
"Guatemala. Mereka pasti kabur ke makam Lucifer atau markas tersembunyi di tempat tersebut," ucap Jordan memberikan petunjuk.
"Oh! Maksudmu ... markas yang dulu dipakai untuk menyekap orang-orang CIA dan mencuci otak William? Begitukah?" sahut Afro memperjelas dan Jordan mengangguk membenarkan. "Kita butuh helikopter," sambungnya.
Jordan segera menghubungi Kai di Pusat Komando Black Castle untuk memberitahukan rencananya, tapi jawaban dari suami termuda Vesper malah mengejutkannya.
"Benarkah? Lalu sekarang bagaimana?" tanya Jordan dengan kening berkerut. Afro menatap Jordan seksama yang akhirnya menutup panggilan.
"Ada apa?" tanya Afro bingung.
"Tempat itu kini dalam pengawasan Militer Pemerintah karena laporan dari Jack, Ara dan Catherine kepada CIA. Jika kita ke sana, urusan kita dengan militer akan memicu peperangan lebih besar lagi. Kali ini, kita biarkan Arjuna bernafas sejenak. Kai meminta kita mengamankan rumah ini," jawab Jordan dan Afro mengangguk paham.
Di sisi lain. Arjuna berlari bersama anak buahnya yang selamat dari serangan, menyusuri lorong bercahaya redup menuju ke suatu tempat dengan tergesa.
__ADS_1
"Wait," ucap Tessa menahan semua orang yang mengikutinya di belakang saat ia akan membuka sebuah pintu besi dengan penutup yang bisa digeser ke samping berukuran 7 x 15 cm di depannya. "Kalian tunggu di sini. Aku ingin memastikan keadaan," sambungnya dengan nafas tersengal.
Arjuna dan lainnya mengangguk paham. Tessa mendekati sebuah lensa di samping pintu dengan pemindai kornea mata.
KLEK!
Pintu besi tersebut terbuka. Tessa meminta sebuah pistol pada Arjuna dan anak Han memberikan senjata miliknya. Tessa tersenyum manis dan mencium bibirnya sekejap, tapi Arjuna diam saja saat Tessa melakukannya.
Wanita berambut pirang tersebut keluar sembari menggenggam pistol di tangan kanannya.
KLEK!
Arjuna tersentak saat pintu besi tersebut ditutup dari luar. Jendela kecil setinggi mata Arjuna terbuka ke samping dan terlihat sebagian wajah Tessa dalam pandangannya. Arjuna menyipitkan mata.
"Aku berubah pikiran, Kim Arjuna. Pernikahan kita batal. Sampai jumpa."
Mata Arjuna melebar. Tessa menutup jendela kecil tersebut. Arjuna mencoba membuka pintu besi berikut jendela kecil tersebut dengan nafas menderu dan menendanginya.
DUANG!!!
"Harghhh! Kurang ajar! Dia mempermainkan kita!" teriak Arjuna marah besar.
Sun meminta Tuan Mudanya untuk menyingkir. Dengan sigap, Sun mengeluarkan belati Silent Gold dan mencoba untuk membuka pintu besi tersebut dengan laser.
Arjuna menatap Sun seksama yang terlihat tetap tenang dan cekatan dalam menghadapi kesulitan mereka.
KLANG!
"Amankan luar," perintah Sun mengomandoi anak buah Arjuna yang berdiri berjejer di belakang Bos besar mereka.
Empat pria diantara mereka segera keluar untuk melihat keadaan. Dengan pistol dalam genggaman, para pria itu keluar dari pintu dan mengarahkan moncong senjata ke segala sisi.
"Clear," ucap salah satu Bala Kurawa.
Sun keluar terlebih dahulu dengan pistol dalam genggaman untuk mengamankan Arjuna. Putera Han tersebut mengikuti Sun di belakang yang melindunginya diikuti Bala Kurawa yang tersisa keluar dari lorong.
Saat segerombolan orang tersebut berlari dengan langkah kecil meninggalkan lorong, tiba-tiba ....
"Tuan Muda!"
SWOSHHH!! BLUARRR!!
"Arghhh!"
***
makasih tipsnya. lele padamu💋💋💋
Yang belom vote vocer sebelum hangus jangan lupa ya😍
__ADS_1