
Sandara memulai bulan madu bisnisnya ke beberapa tempat yang telah dijadwalkan. Sayangnya, jadwal itu tak diinformasikan ke orang-orang yang akan didatangi.
Lebih mirip seperti kunjungan mendadak agar yang bersangkutan tak bersiap. Hanya 4 anggota Red Ribbon yang disertakan sebagai pelindung dari pasangan pengantin itu.
Doug sengaja meminta sisanya tetap berada di perusahaan, mengingat mereka memiliki tanggungjawab penuh mengelola kantor Afro. Sandara pun memakluminya.
Hari itu, Afro, Sandara, empat anggota Red Ribbon yakni Toras dan Trio Bali, meninggalkan kediaman Elios mengendarai mobil menuju ke Napoli, perusahaan Farmasi Elios yang dikelola oleh Naomi dan Jordan.
Mereka tiba di tempat itu menjelang jam operasional kantor habis. Sandara melihat para pegawai memenuhi halaman parkir.
Sebagian dari mereka menggunakan mobil, ada yang mengendarai sepeda motor dan juga bus khusus karyawan.
Sandara yang tak dikenal, membuat dirinya hanya dipandang sekilas oleh para karyawan saat dirinya melangkah menyusuri koridor menuju kantor Direktur.
Sedang Afro, beberapa pegawai senior yang mengenalnya saling berbisik saat berpapasan. Afro tersenyum menunjukkan keramahannya, sedang Sandara tetap diam dengan wajah datar.
CEKLEK!
Praktis, Jordan dan Naomi yang telah bersiap pulang menoleh ke arah pintu yang dibuka tanpa ketukan terlebih dahulu.
"Mereka di sini," ucap Bayu menginformasikan dan Jordan mengangguk paham tanpa bicara.
Naomi terlihat bingung karena suaminya memintanya kembali duduk di kursi untuk tetap tenang.
"Siapa yang datang?" tanya Naomi terlihat cemas.
"Kau akan tahu sebentar lagi," jawab Jordan yang membuat Naomi makin gugup. Jordan tersenyum tipis. "Kau ingat peringatan Yudhi kala itu? Hem, inilah saatnya, Sayang. Apa pun keputusanku, kauikuti saja. Tak usah membantah atau pun beragumen. Relakan saja, karena bagaimanapun, kita hanya pelaksana. Aku sudah menyiapkan tempat yang seribu kali lebih baik untukmu dan calon anak kita nanti ketimbang di sini. Kau percaya padaku 'kan?" tanya Jordan menatap wajah isterinya lekat.
Naomi mengangguk dengan senyuman. Jordan meraih dagu sang isteri dan mengecup bibirnya mesra.
CEKLEK!
Spontan, Jordan melepaskan ciumannya, tapi ia tak terlihat terkejut akan kedatangan tamu yang sudah ia tunggu sejak beberapa bulan.
Sedang Naomi, tampak tegang ketika mendapati Sandara dengan wajah baru muncul di hadapannya.
"Halo, Naomi, Jordan. Lama tak bertemu," sapa Sandara langsung duduk di sofa yang tersedia di ruang kerja itu.
Naomi menarik napas dalam dan mengangguk sopan. Jordan yang berdiri di depan meja sang isteri, berjalan mendatangi Afro dan menjabat tangannya.
Afro tak bicara apa pun pada rival-nya saat mereka masih mencari jati diri di masa lalu. Keduanya berpelukan terlihat baik-baik saja tak ada pertikaian. Sedang Sandara, menatap Naomi tajam. Isteri Jordan menundukkan wajah.
"Sayang," panggil Jordan mengulurkan tangan.
Naomi segera berdiri dari kursi kepemimpinannya. Wajahnya terlihat sendu saat ia menyentuh peralatan kantor yang ada di mejanya seperti akan sangat merindukan masa-masa ia duduk di sana.
"Kalian mau ke mana?" tanya Sandara saat Jordan dan Naomi telah bergandengan tangan.
"Om Bayu yang akan mengurus semuanya. Dia akan memberitahumu apa saja yang harus dikerjakan. Mulai hari ini, Naomi dan aku menyatakan resign dari Perusahaan Farmasi Elios," tegas Jordan, dan Sandara terlihat serius seketika.
__ADS_1
Afro diam saja dengan wajah tertunduk mendengar ucapan putera dari Boleslav. Bayu dan Yu Jie yang ikut dalam ruangan terdiam karena mereka masuk dalam daftar karyawan pemegang jabatan penting di perusahaan.
"Sampai jumpa, Sandara. Terima kasih atas kepercayaanmu padaku untuk mengurus perusahaan selama ini. Begitupula kau, Afro. Terima kasih," ucap Naomi seraya mendekati Afro dan bersalaman dengannya sebagai tanda perpisahan. Afro menyambut jabat tangan itu mantap.
"Aku yang seharusnya berterima kasih. Sangat disayangkan, sungguh. Kau sangat kompeten dan bertanggungjawab menjaga amanat, Naomi. Aku minta maaf jika sikapku dan isteriku menyinggungmu," ucap Afro sopan.
Naomi mengangguk pelan terlihat baik-baik saja meski wajahnya sendu. Naomi lalu mendatangi Sandara, tapi gadis itu tak menyambut jabat tangannya.
Semua orang menatap Sandara tajam yang tak menunjukkan keramahan.
"Kau tak membawa apa pun dalam tasmu dari perusahaan ini, bukan? Mungkin rahasia yang tersimpan dan belum kuketahui?" tanya Sandara ketua.
"Sandara! Jaga ucapanmu. Terima kasih saja tak kau sampaikan dan kini menuduh isteriku. Kali ini kumaafkan, tapi tidak berikutnya," tegas Jordan menunjuk saudara sepersusuannya.
Sandara diam menatap Jordan lekat saat pemuda itu menggandeng tangan Naomi keluar dari ruangan terlihat sedih. Afro mendatangi Sandara dan menatapnya dingin, termasuk Yu Jie dan Bayu.
"Bukan seperti itu cara memulai sebuah usaha dari pelimpahan tugas, Sandara. Kau, tak menghargai jerih payah Naomi dan Jordan yang membuat perusahaan ayahku tetap bertahan tanpa kita mengelolanya," tegas Afro.
"Perusahaanku, Kak Afro. Jangan lupa, kau memberikannya padaku," jawab Sandara seraya berdiri dan meninggalkan kecupan di pipi kiri sang suami saat ia melewatinya.
Bayu dan Yu Jie saling berpandangan dalam diam seperti satu pemikiran. Afro terlihat marah, tapi menahan emosi.
Ia melihat Bayu dan Yu Jie yang kini menatapnya saksama lalu mengangguk pelan seperti memberi kode.
"Kantornya udah mau tutup, Dara. Besok saja kita informasiin apa aja yang harus kamu lakukan," ucap Bayu saat gadis itu telah duduk di kursi Naomi.
"Ganti kursinya. Ini bekas, dan aku tidak suka," jawabnya sembari berdiri lalu mendorong kursi itu menjauh darinya.
"Pakai kursi ini," sahut Afro seraya mendorong kursi yang ukurannya lebih kecil.
Ia mengambilnya di depan meja kerja sang isteri dengan wajah dingin. Mulut Sandara menganga.
"Itu juga bekas! Kursi itu digunakan oleh bawahan!"
BRAK!
Praktis, Sandara terperanjat saat Afro tiba-tiba saja menggebrak meja dan meliriknya tajam. Sandara terlihat takut dengan sikap suaminya.
"Jangan berlagak. Kau sangat menjengkelkan hari ini. Jangan lupa, perusahaan ini juga bekas. Bekas dari kakekku, ayahku, aku dan kini, kau. Aku masih memiliki wewenang di sini. Aku salah satu anggota Dewan Komisaris termasuk ibumu dan orang-orangnya, meski orang-orang The Circle telah dicoret," tegas Afro mengetuk meja dengan telunjuknya terlihat marah.
Tiba-tiba saja, Sandara menghampiri dan memeluknya. Afro masih terlihat kesal karena tingkah sang isteri yang tak disangkanya.
"Aku minta maaf. Entah apa yang terjadi padaku, tapi ... aku merasa marah hanya karena hal-hal sepele," ucap Sandara sedih.
Afro menghembuskan napas panjang terlihat berusaha untuk bersabar. Bayu dan Yu Jie saling melirik dalam diam lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Ada rumah dinas perusahaan. Kita akan menginap di sana malam ini. Besok pagi, kita kembali ke perusahaan untuk mengurus serah terima jabatanmu yang baru. Asal kau tahu, Jordan telah mengetahuinya saat aku mengatakan akan menikahimu. Dia telah memberikan surat pengunduran diri termasuk Naomi. Sekarang, tanda tangani. Mereka telah resmi pergi," ucap Afro seraya memberikan surat yang ia simpan di dalam saku jasnya bahkan tak diketahui Sandara.
Gadis itu membuka surat pengunduran diri sebanyak dua lembar. Ia menandatangani dan menyerahkan kembali kepada suaminya. Afro melipat surat itu dan memasukkannya dalam amplop.
__ADS_1
Afro mengajak Sandara keluar dari ruangan karena ia kesal dengan sikap isterinya. Ternyata, Yu Jie dan Bayu juga telah menunggu ditemani anggota Red Ribbon lainnya di luar mobil.
"Om Bayu, tolong urus sisanya. Aku percayakan padamu," pinta Afro seraya menyerahkan dua amplop berisi surat pengunduran diri Naomi dan Jordan. Bayu menerima dan menyimpannya dalam koper kerja.
Mobil yang dikemudikan Toras membawa mereka ke sebuah komplek tak jauh dari perusahaan. Tempat itu ditinggali oleh Bayu dan isterinya, serta Yu Jie meski rumah mereka terpisah.
Sandara baru mengetahui jika ada aset lain di luar perusahaan obat-obatan itu. Rumah dalam komplek itu cukup banyak sekitar 20 buah. Memiliki dua tingkat meski terlihat sederhana, tapi ternyata sudah banyak orang yang tinggal di sana.
Wilayah itu juga cukup luas, memiliki taman, area bermain anak, pos penjaga di gerbang pintu masuk utama, sebuah mini market dan restoran makanan cepat saji.
"Siapa yang tinggal di sini?" tanya Sandara saat mobil mereka berhenti di sebuah rumah yang tampak kosong tak ada penghuni.
"Para pegawai perusahaan yang belum memiliki hunian. Mereka melakukan cicilan dari potongan gaji tiap bulan sampai lunas. Cukup membantu di mana harga perumahan di pasaran sangat tinggi. Namun, aku sengaja memberikan harga murah sebagai salah satu bentuk mensejahterakan karyawan," jawab Afro seraya melambaikan tangan kepada para tetangga yang menyapanya.
"Ini salah satu ideku yang disetujui oleh Kai dan nyonya Vesper. Doug yang merancang dan membangun semuanya bersama para Black Armys Vesper. Oleh karena itu, bangunan ini masih terbilang baru," sambungnya saat Sandara ikut keluar dari mobil.
"Tanah ini, milik siapa?" tanya Sandara semakin mendetail.
"Ayahku, dan masuk dalam salah satu warisanku," tegas Afro dan Sandara mengangguk paham.
Afro menatap wajah Sandara lekat yang matanya seperti memindai sekitar entah apa yang dipikirkan.
Afro mengajak rombongannya masuk ke dalam. Rumah itu memiliki dua buah kamar. Satu kamar utama untuknya dan Sandara yang dilengkapi dengan kamar mandi dalam.
Sedang kamar lainnya akan digunakan oleh empat anggota Red Ribbon dengan tempat tidur bertingkat.
Rumah itu juga memiliki garasi dalam, satu buah kamar mandi luar, sebuah dapur, ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang makan. Semua perabotan telah tersedia seperti siap digunakan.
"Apakah aku akan tinggal di sini?" tanya Sandara penuh selidik.
"Ya, jika kau mau. Sayangnya, aku tak bisa menemanimu lama karena harus mengurus perusahaan keramik. Aku tak bisa membiarkan paman Doug dan Red Ribbon mengurus semuanya tanpa aku ikut membantu," jawab Afro seraya melepaskan jas dan menggantungnya di gantungan samping pintu kamar.
"Aku bekerja sendiri?" tanya Sandara berkerut kening.
"Ada Yu Jie dan Om Bayu. Kudengar, kau memiliki orang-orang yang akan membantumu. Kau bisa memanggil mereka untuk datang kemari mengurus perusahaan, tapi tentu saja harus diseleksi. Aku tak mau perusahaan ayahku dikelola oleh orang-orang amatiran," tegas Afro seraya duduk di sofa depan ranjang untuk melepas sepatu fantovelnya.
Sandara tampak gugup seperti memikirkan sesuatu. Dengan sigap, Sandara mengeluarkan ponsel dari dalam tas cantik pemberian suaminya.
Pemuda tampan itu menatap isterinya lekat yang terlihat gugup akan sesuatu. Afro tersenyum tipis melihat Sandara seperti kerepotan mengurus perusahaan karena ditinggalkan dua orang yang berjasa di dalamnya.
Kau perlu diberikan teguran, Sandara. Kita lihat, apakah kau bisa mengurus perusahaan seperti yang kaukatakan? Kau mungkin cerdas akan suatu hal, tapi sebuah perusahaan yang memiliki kegiatan kompleks dan menaungi banyak karyawan, apakah bisa? Kau belum mempelajari ilmu bisnis, ekonomi, dan managemen. Aku penasaran, kau akan membuat perusahaan ini bangkrut atau semakin berjaya, ucap Afro dalam hati seolah menyindir sang isteri yang kini duduk di sebuah kursi dan terlihat sibuk dengan ponselnya.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu ❤️
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE