
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST & GOOGLE
------- back to Story :
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Amanda minta dibangunkan oleh dua algojonya. Mix and Match memegangi lengan Nyonya besar mereka yang pincang karena kaki kanannya mengalami keseleo.
"Aku tak apa. Hempf, aku hanya akan menghambat kalian," ucap Amanda melihat kakinya yang bengkak setelah dua algojonya melepaskan sepatu majikan mereka yang robek.
"Aku akan menggendongmu, Nyonya. Jangan khawatir," ucap Mix dan Manda tersenyum berterima kasih.
"Oh, wait. Bagaimana dengan ruangan yang kita lewati tadi. Bukankah terendam air? Apakah airnya surut?" tanya Manda menatap tiga lelaki yang berdiri di hadapannya.
Match langsung bergegas menuju ke tangga yang tadi mereka lewati hingga sampai di tempat terbengkalai itu.
"Jordan!" panggil Match lantang dan Jordan segera mendatangi salah satu algojo ibunya.
"Airnya ... tak surut. Malah semakin tinggi. Sebentar lagi sampai ke atas. Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Match menatap Jordan tajam.
Jordan diam sejenak. Ia malah berjongkok di depan genangan air yang sudah naik sampai ke tangga. Jordan mengambil air itu dengan tangannya dan malah menjilatnya. Match terkejut.
"Asin," ucapnya lalu meludah.
"Apakah tempat ini terhubung dengan laut? Kita berada di dekat pantai mungkin?" tanya Match menduga.
Jordan diam sejenak. Ia lalu melihat sekitar dan menemukan puing dari pecahan batu. Jordan seperti menggambar sebuah lokasi di lantai. Kening Match berkerut.
"Kita berada di Napoli. Perusahaan Elios ada di tenggara dari kota ini. Saat perjalanan dari kediaman Mommy, aku melihat laut dari helikopter meski cukup jauh. Anggaplah kita berjalan selama hampir dua jam untuk sampai kemari. Jika dugaanku benar, kita berada di ...." ucapnya menggantung.
Tiba-tiba, Jordan langsung berdiri dan kembali masuk ke ruangan. Match terlihat bingung dan mengikuti Jordan segera.
Amanda melihat anak lelakinya berjalan begitu saja melewatinya saat kakinya dibalut perban oleh Mix.
"Jordan! Hei, ada apa?" tanya Amanda bingung.
"Mom. Apa kau bisa menghubungi keluar?" tanya Jordan membalik tubuhnya dan menunjuk sang Ibu.
Amanda menggeleng. "Aku sudah mencoba, tapi sepertinya sinyalku terganggu semacam medan magnet. Namun, aku sudah berusaha. Semoga sinyal kita tetap tertangkap GIGA. Aku yakin kita sudah tak berada di bawah tanah lagi. Sirkulasi udara di sini cukup bagus meski kuakui tempatnya kotor," jawab Manda santai.
Jordan mengangguk. Ia lalu kembali berjalan dan kini mendekati para Pion. Namun, para lelaki itu terlihat saling berbicara serius.
"Ada apa? Biar kutebak. Tak ada sinyal untuk menggerakkan Galundeng? Atau tablet mengalami gangguan sinyal?" tanya Jordan menatap para Pion tajam.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Damian heran.
"Pompeii."
"What?" tanya Dexter bingung.
"Jika dugaanku benar, kita berada dekat kawasan gunung. Kalian tahu kisah itu? Jika ya, sebaiknya kita segera keluar. Seharusnya, ada jalan menuju ke situs tersebut atau mungkin menembus ke laut," jawab Jordan sembari membalik badannya.
"La-lalu sekarang bagaimana?" tanya Darwin gugup.
"Kemasi barang. Kita harus segera mencari jalan keluar," jawab Jordan sembari berjalan meninggalkan para Pion.
__ADS_1
Empat pria itu langsung bergegas mengikuti Jordan. Mereka segera bersiap dan merapikan kembali barang-barang serta sisa amunisi dari persenjataan yang mereka bawa.
"Mix. Tolong gendong Mommy. Kau bergantian dengan Match selama kita mencari jalan keluar dari lokasi ini," ucap Jordan menatap dua Algojo Ibunya tajam dan dua lelaki bertubuh besar itu mengangguk.
"Kita akan lewat jalan yang kau bilang tadi?" tanya Darion memastikan dan Jordan mengangguk.
"Bawalah beberapa puing atau benda selama kita menyusuri tempat. Kita akan gunakan benda-benda itu untuk memastikan ada jebakan atau tidak di tiap jalan yang akan kita lewati," ucap Jordan yang dikelilingi semua orang.
Para Pion mengangguk. Manda dan dua Algojonya hanya diam melihat para Pion mengumpulkan puing dan barang bekas yang mereka temukan dalam beberapa kantong.
"Dexter dan Damian, kalian lindungi tim di belakang," ucap Jordan menunjuk dua Pion tersebut dan mereka mengangguk siap.
"Kali ini, aku yang jalan di depan. Kalian, lindungi aku," tegas Jordan sembari menyiagakan Pedang Silent Red dalam genggaman tangan kanan dan pistol di tangan kiri.
Pion yang tersisa mengangguk paham. Jordan memulai pergerakannya dan terlihat waspada. Manda digendong oleh Mix dengan pistol dalam genggaman.
Jordan terlihat serius ketika ia mulai memasuki pintu di balik ruangan yang diyakini dulunya adalah kamar operasi.
"Ya Tuhan. Apakah tempat ini dulunya sebuah Rumah Sakit? Oh, ini sungguh menyeramkan," tanya Manda langsung menenggelamkan wajah di pundak Mix dan semua orang ikut tegang seketika.
Jordan menengok ke kiri dan ke kanan. Terlihat sebuah lorong, tak sekotor yang berada di luar, tapi memiliki dua cabang.
"Jordan. Apakah kita berpisah lagi?" tanya Damian ragu.
"Tidak. Aku akan ambil jalan ke kanan. Aku ingin memastikan jika analisis pemetaanku benar. Kalian percaya padaku?" tanya Jordan menoleh dan semua orang mengangguk. Jordan kembali bersiap.
Ia melemparkan sebuah puing di lorong yang akan diambilnya. Tampak wajah tegang semua orang dengan dua Pion langsung menyiagakan senjata melindungi Jordan di kanan kirinya.
"Oke, aman. Aku duluan," ucapnya mulai melangkah dan menyalakan laser Silent Red.
Semua orang terkejut akan warna silau dari laser itu, tapi perasaan aman menyelimuti hati mereka.
Jalan yang mereka lewati terus mendaki dan beberapa kali menaiki anak tangga. Cukup lama mereka menyusuri lorong itu hampir 30 menit lamanya.
Hingga tiba-tiba, DUK!
CRANGG!!
"Wow!" pekik semua orang dengan mata terbelalak lebar, ketika atap bangunan yang jaraknya dua meter lagi di depan mereka menurunkan sebuah papan dengan banyak besi runcing tajam, siap menusuk kepala yang melintas di bawahnya.
Jantung semua orang berdebar. Mata Jordan melebar. Jordan kembali melemparkan puing ke lantai di bawah papan pembunuh itu dan tak terlihat jebakan di sana.
Jordan kembali melemparkan puing lebih jauh melewati papan yang terikat rantai, menjuntai dari atap koridor dan tak terlihat adanya jebakan lagi.
"Aku duluan," ucapnya mantap.
Jantung semua orang berdebar kencang tak karuan dan seketika, KRASS! BLANGG!
Jordan menebas rantai besi itu dan menginjak papan di balik besi tajam. Ia berjalan dengan tenang sampai melewati papan tersebut.
Semua orang masih menunggu panggilan dari pemimpin mereka yang berjalan cukup jauh di depan.
Jordan melemparkan puing lagi di depannya sembari berjalan. DUKK!! SRINGG!!
"JORDAN!" teriak Dexter lantang yang langsung membidik benda di hadapan Jordan berupa besi yang melintang, menghadang seperti dinding berjumlah lima buah dan terlihat tajam seperti bilah pedang pada sisinya.
Jordan tetap berjalan dan KRASS! KLANG! KLANG! KLANG!
Besi-besi tajam itu terpotong dan berjatuhan begitu saja di lantai terkena tebasan laser Silent Red. Semua orang bernafas lega.
__ADS_1
"Aku sejak dulu mengagumi senjata laser buatan BinBin itu. Aku harap, Vesper akan memberikanku satu," celetuk Darwin begitu saja yang malah mengejutkan semua orang yang mendengar.
"JORDAN!" panggil Amanda lantang karena anaknya berbelok di koridor begitu saja dan sosoknya kini tak terlihat.
Tiba-tiba, DUWARRR!!
"JORDAN!" teriak para Pion panik.
Tanpa pikir panjang. Orang-orang itu berlari di koridor yang telah dilewati Jordan dengan rasa cemas menyelimuti hati mereka.
Amanda terlihat ketakutan karena anaknya tak menjawab panggilannya setelah suara ledakan terjadi di tempat yang tak bisa dilihatnya.
"Wow!" pekik Pion Darwin yang langsung merentangkan tangan, menghentikan langkah semua orang, ketika sebuah dinding di sebelah kanan mereka jebol dan terlihat lautan luas di balik lubang besar tersebut.
"Oh, akhirnya ... aku merindukan alam bebas," ucap Darion langsung berdiri di depan lubang besar tersebut dan merasakan angin berhembus dari laut.
"Di mana Jordan?!" tanya Amanda panik karena sosok Jordan tak terlihat.
"Hei."
"Woah!" teriak Darion hampir jatuh saat Jordan tiba-tiba muncul dari balik dinding yang jebol begitu saja.
"Oh, kau selamat. Kau mengagetkanku!" pekik Amanda kesal, tapi lega.
"Aku menemukan jalan keluar. Kita berada di Teluk Napoli," jawabnya menunjuk lautan di hadapan orang-orang itu.
Senyum semua orang terkembang. Mereka terlihat lega karena akhirnya bisa keluar. Namun, Damian yang heran, melongok keluar.
"Kau ... bagaimana caramu bisa menempel seperti cicak pada dinding batu ini?" tanya Darion dengan kening berkerut karena Jordan berjongkok di dinding batu di luar bangunan tanpa tali.
"Sepatu magnet. Tembok ini memiliki banyak besi sebagai fondasinya. Namun, aku yakin. Jika tembok ini memiliki semacam struktur yang memiliki mesin karena terpasang banyak jebakan," jawabnya sembari menepuk dinding batu yang dipijaknya.
"Masuklah, Jordan. Mommy takut kau akan jatuh," pinta Manda cemas.
"Hanya saja, tetap tak ada sinyal. Bagaimana mungkin?" tanya Dexter mencoba menghubungi pusat.
"Prediksi. Penghalang sinyal. Kita masih bisa pergi dari sini, tapi hanya satu orang," jawabnya santai lalu melompat ke dalam dan kini berdiri di hadapan semua orang.
"Apa maksudmu? Dan ... bagaimana caranya?" tanya Damian bingung.
"Kapsul penyelamat. Aku menawarkan diriku. Aku akan melemparkan diri yang sudah masuk dalam kapsul ke laut. Aku akan membawa diriku sampai ke titik di mana aku mendapatkan sinyal. Aku akan meminta jemputan untuk kalian. Mudah 'kan? Jadi, kalian semua, diam di sini dan tunggu tim penyelamat," jawabnya santai sembari menarik tas yang digendong Match lalu mengambil kapsul pelampung milik Amanda.
Semua orang tersenyum. Jordan terlihat santai dan tak tertekan dalam situasi yang bagi mereka cukup menyulitkan ini.
"Hati-hati, Sayang. Semoga Tuhan melindungimu," ucap Amanda saat Jordan sudah masuk ke dalam seperti kepompong dan remaja itu mengangguk pelan.
"Lempar aku," pintanya melirik para Pion yang kini membopongnya dan menutup rapat kepompong tersebut.
Amanda meneteskan air mata dan membungkam mulutnya rapat. Jordan menatap Ibunya lekat dan tersenyum tipis.
SWINGG! BYURRR!!
Para Pion melongok dan melihat kapsul tersebut terapung di permukaan. Terlihat, Jordan baik-baik saja. Remaja itu terlihat santai saat ombak membawanya ke sisi lain.
Kini semua orang berharap agar Jordan segera ditemukan karena kapsul pelampung itu memiliki pelacak yang bisa ditangkap oleh GIGA.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu. panjang nih epsnya~
__ADS_1