4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Penjara


__ADS_3

Yang pada tanya kenapa lele cuma up 1 eps dari kemarin. Seperti yang udah dijanjikan di awal. Kewajiban lele up 1 eps perhari. Bonus eps kalau ada tips masuk.


Jadi, karena gak ada tips masuk, up nya satu eps aja. Hari ini lele kasih panjang edisi lagi baik krn Simulation dipromoin sm MT. Uhuy😍 Simulation daily up tiap jam 9 pagi. Baiklah itu aja informasinya dan tengkiyuw💋💋💋



------- back to Story :


Di sisi lain, tempat Sandara berada.


Hari itu Mr. White mendatanginya di ruang pusat kendali. Sandara terlihat waspada dengan pria tampan berambut putih panjang itu.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Aku ingin tahu responmu setelah melihat tayangan ini," ucapnya sembari menancapkan sebuah flashdisk ke sebuah komputer.


Sandara memfokuskan pandangannya di layar besar di hadapannya. Namun seketika, matanya melebar.


Mr. White menatap ekspresi Sandara yang berubah. Bola mata gadis cantik itu bergerak mengikuti pola pergerakan dalam tayangan itu.


Mata pria bermanik biru itu hanya terkunci pada wajah Sandara seorang, berdiri di sampingnya, dan perlahan, tangannya terulur menyentuh rambut panjang gadis cantik itu.


Sandara tersentak, bersamaan dengan selesainya tayangan. Gadis Asia itu langsung menggeser tubuhnya, menjauh dari Mr. White.


"Ingat perjanjian kita," ucapnya tegas menunjuk.


"Ya, aku tahu, dan inilah tugasmu," jawabnya sembari menunjuk tayangan. Mata Sandara terbelalak lebar.


"Aku tak akan mengkhianati jajaranku! Aku tahu apa yang kauinginkan! Kau memintaku untuk membongkar strategi dari The Eyes. Benar 'kan?!"


Mr. White tersenyum merekah seraya bertepuk tangan dengan elegan. Ia masih menyenderkan pinggulnya di meja komputer.


"Jangan lupa. Menolak, kau semalam bersamaku. Tak ada ruginya, aku akan memanjakanmu dengan baik, Sandara. Kau belum mencobanya, jadi kau belum tahu rasanya," ucapnya seraya beranjak, dan berjalan perlahan menuju ke arah Sandara.


Gadis itu ketakutan. Ia berusaha kabur dari tangkapan Mr. White, sayangnya, pria yang tingginya hampir menyentuh pintu itu berhasil mendekapnya dari belakang.


"Aaa! Lepaskan aku!" berontak Sandara.


"Hm, kulitmu sangat halus, Sandara. Kau ranum dan sangat segar," ucapnya berbisik dengan tangan kanan besarnya sudah menangkap bagian bawah wajah Sandara.


Sandara menangis dan berusaha melepaskan dekapan kuat pria pedofil tersebut.


"White!" teriak Tessa memasuki ruangan dengan suara lantang dan mata melotot.


Mr. White melirik tajam. Sandara memejamkan matanya rapat dan menangis.


"Jangan, ikut, campur," tegasnya.


Tessa terus melangkah dengan mantab mendatangi keduanya.


"Aku akan berterus terang padamu, Sandara. Tujuan kami adalah melenyapkan semua anak buah Tobias yang diambil oleh Lysa dan Jonathan. Mereka adalah milik kami, tapi pasukan kami mengkhianati Tuannya. Mereka harus dihukum. Jadi, cari tahu strategi bertempur The Eyes. Kami berjanji, tak akan mengusik jajaran ibumu dan Amanda. Bagaimana? Menolak, aku tak peduli kau akan diapakan oleh Mr. White. Aku hanya ingin memberitahumu, semalam bersamanya, bagaikan di neraka. Hingga kau berpikir untuk mati saja," ucapnya dengan seringai.


Mr. White tersenyum lebar. Ia kembali mencium rambut Sandara perlahan hingga gadis kecil itu merinding karena sentuhannya.


"Oke, hiks, oke. Akan kulakukan. Lepaskan aku," pintanya dengan tetesan air mata dan mata terpejam.


Mr. White melepaskan pelukannya perlahan. Tubuh Sandara gemetaran, ia begitu ketakutan akan sosok pria berambut putih tersebut.


"Aku akan mengawasimu, Sandara. Waktumu untuk mencari tahu metode penyerangan itu hanya 1 minggu. Setelah itu, aku akan datang kembali. Kau gagal, semalam bersamaku, hmhmhmhm," tawanya berguman.


Kedua tangan Sandra saling menggenggam di depan dada melihat sosok Mr. White yang mengerikan baginya.


Tessa dan Mr. White meninggalkan Sandara sendirian di ruang kendali tersebut. Gadis Asia itu roboh di bangkunya. Ia menangis dengan wajah ditenggelamkan di atas tumpukan punggung tangannya yang saling tertindih.


"Hiks, maaf, kak Lysa, kak Nathan. Dara terpaksa," ucapnya menyesal.


Hari itu, Sandara mengurung dirinya di pusat kendali hingga pukul 7 malam. Selanjutnya, ia kembali ke Pondok dikawal oleh dua pria bertubuh besar dan berkulit cokelat mengawasinya.


Usai mandi, makan malam, dan berpakaian, Sandara merebahkan dirinya di ranjang meski matanya masih terbuka seperti memikirkan sesuatu.


'Pasti ada kode yang diberikan oleh Tobias kepada pasukan The Eyes. Mereka dulu anak buahnya. Itu bukan gaya bertempur kak Lysa. Mereka seperti hewan. Aku cukup yakin jika formasi itu adalah seekor kalajengking dan sekumpulan katak,' ucapnya dalam hati usai melihat tayangan saat sendirian.


Sandara memejamkan mata seraya memijat keningnya. Tekanan berat membebani kepalanya.


Bukan karena strategi yang harus ia pecahkan, melainkan desakan dari Mr. White yang kini menghantui setiap keputusan yang akan diambilnya.


Perlahan, Sandara tertidur lelap karena kelelahan secara fisik dan mental. Mr. White mengawasi pergerakan Sandara dari kamarnya seraya membuat sebuah patung dari tanah liat di malam yang semakin larut.


Sedang Tessa, ia dilema. Hatinya mulai ragu untuk berpihak.


'Hah! Persetan dengan perkataan Venelope! Ya, akan kugadaikan harga diriku demi Arjuna. Sial! Aku menjilat ludahku sendiri!' gerutunya dalam hati, karena ia juga sadar jika diawasi oleh Mr. White.


Di sisi lain, tempat Smiley, Ungu genit, dan Pemimpin The Mask berada. Brazil.


"Hihihi, pasti akan ramai sekali. Tapi, Ungu udah gak sabar. Ungu siap," ucapnya genit sembari bertepuk tangan.

__ADS_1


Smiley yang berada di posisi lain hanya menggelengkan kepala. Semua komunikasi telah terhubung dengan timnya yang bertugas malam itu.


"Mask-One, do you hear me?" panggil Smiley dari sambungan radio.


"Yes. Mask-One ready," jawab pria bertopeng merah dengan suara serak.


"Do it."


Seketika, SWOOSH! BLUARRR!


TET! TET! TET!


"Hihihi! Hihihi!" tawa Ungu gembira di mobil saat melihat dari kamera drone yang diterbangkan oleh anggota The Mask.


Suara alarm nyaring terdengar dengan lampu menyala merah terang berkedip di seluruh penjuru bangunan penjara.


"Belum ada pergerakan. Mereka lambat. Luncurkan lagi," perintah Smiley.


SWOOSH! BLUARR!


SWOOSH! DUWARRR!


"Tembok dan pagar terluar sudah berhasil kami jebol, Master," ucap dari tim Mask-Two melaporkan.


"Good. Kita tunggu orang-orang itu keluar dengan sendirinya. Siapkan penjemputan dan amankan area," perintah Smiley yang memasang wajah datar dalam mengomandoi.


"Copy that."


Terdengar suara kericuhan dari dalam penjara. Anggota The Mask yang bersembunyi dengan persenjataan mereka, siap membidik para penjaga penjara yang berusaha menggagalkan para tahanan kriminal kelas berat yang berusaha melarikan diri.


"Kami melihat para tahanan kabur dari sisi Timur. Para penjaga berusaha melumpuhkan mereka dari menara," lapor Mask-Three.


"Lumpuhkan para penjaga," jawab Smiley santai sembari menuang Whiskey ke dalam gelas crystal.


SHOOT! JLEB! JLEB!


BRUKK!


Busur otomatis dilesatkan dan menembak jatuh para penjaga. Smiley membiarkan para tahanan kabur dengan cara mereka sendiri.


Pria tua itu ingin melihat kemampuan calon anak buahnya. Suara tembakan, teriakan, dan baku hantam terdengar riuh di sekitar penjara.


"Master! Polisi datang!" lapor Mask-Four.


"Barikade! Halangi!" perintah Komandan pasukan Mask-Four.


Minyak disiramkan di sepanjang jalan menuju ke penjara untuk memperlambat bantuan dari jalur darat.


Seketika, CITTT! BLUARRR!


BRANG! BRANG!


Mobil polisi yang tergelincir dan saling bertabrakan langsung meledak hebat usai mendapatkan sebuah tembakan dari lontaran granat.


Para polisi terpanggang. Namun, bala bantuan kembali datang dari atas langit. Helikopter polisi mendapatkan visual keberadaan para menyerang yang bersembunyi di balik batu besar sebagai kamuflase.


"Fire!" Para polisi yang melihat dari sensor panas segera menembaki batuan kamuflase itu.


Anggota The Mask terkena serangan telak. Smiley menghela nafas.


"Singkirkan helikopter itu!" pekiknya kesal.


Lagi-lagi, misil RPG diluncurkan untuk menjatuhkan benda terbang yang sedang fokus menembaki daratan tersebut.


SWOOSH! BLUARR!


Smiley tersenyum karena usaha anak buahnya berhasil. Matanya kembali ke layar tempat para tahanan masih berusaha untuk kabur.


"Berikan bantuan. Terlalu lama," sambungnya.


Bom asap diluncurkan. Kepulan gas warna putih menyeruak mengaburkan pandangan. Pemimpin The Mask terpaksa menunjukkan diri untuk ikut serta.


Para tahanan yang melihat sosok pria bertopeng gagak terkejut, begitupula para polisi.


DODODODODOR!


Para tahanan tiarap saat para gagak itu menembaki para polisi penjaga.


Mereka bicara bahasa Spanyol.


"Cepat keluar! Kalian akan menemukan mobil. Segera masuk dan pergi dari sini!" perintah seorang pria di hadapan para tahanan.


Para narapidana itu berlari kencang meninggalkan penjara. Mereka bertemu dengan orang bertopeng lainnya yang menuntun ke mobil untuk mereka kabur.


"Hah, kalian siapa?" tanya seorang napi kepada sopir, tapi pria bertopeng itu diam saja.

__ADS_1


BROOM!


Sebuah mobil sedan berpenumpang 5 orang melaju kencang meninggalkan lokasi. Sopir memberikan sebuah tas dan meminta mereka memakai pakaian tersebut.


Para napi bergegas memakai pakaian tersebut dengan kacamata dan topi mereka kenakan.


Mobil yang membawa para tahanan menuju ke sebuah dermaga. Ada sebuah kapal pengangkut yang nantinya diisi oleh para tahanan yang berhasil kabur.


Suara peperangan baik di penjara ataupun di sekitarnya begitu riuh terdengar hingga membuat para warga yang bermukim di sekitarnya panik.


Para tahanan banyak yang berhasil kabur. Mobil-mobil pengangkut melaju kencang meninggalkan lokasi secara bergantian setelah muatan mereka penuh.


"Sudah berapa?" tanya Smiley masih betah menunggu sembari melihat situasi peperangan dari layar 14 inch di depannya.


"Sudah ada 50 orang di kapal, Master," jawab pemimpin The Mask-Five.


"Tim lainnya? Berapa lagi yang bisa kita bawa?" tanya Smiley mulai berwajah serius.


"30 lagi, Master," jawab Mask-Three.


"Selesaikan dalam 15 menit. Lebih dari itu, kalian kami tinggal," jawabnya tegas.


"Yes, Sir!"


"Ungu! Aku pergi. Suasana mulai ramai. Kau urus sisanya," ucapnya bersiap pergi.


"Oki dokie," jawabnya manja.


Helikopter Smiley terbang meninggalkan helipad. Ungu genit mengambil alih komando. Pemimpin The Mask kembali ke mobil diikuti para tahanan yang berhasil lolos dari kejaran polisi penjaga.


Tim Mask-Four berhasil dilumpuhkan. Tim Mask-One dan Two masih berada di lokasi untuk membawa tahanan yang tersisa.


"Aduh tinggal 10 menit lagi," keluhnya sembari melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Ungu melihat dari pantauan drone jika bantuan dari Polisi kembali datang.


Ungu genit mendengus kesal. Masih ada 3 mobil belum terisi penuh.


"Leave them! We go! Ungu alergi sama polisi," perintahnya tegas.


"Yes, Ungu!" jawab Komandan tim di lapangan.


Ungu meneropong saat beberapa tahanan berlari menuju ke mobil, tapi dikejar oleh sekumpulan polisi bersenjata.


"Om! Kill them!" perintahnya tegas.


Pemimpin The Mask menjentikkan jari. Seketika, DODODODODOR!


Senapan otomatis memberondong para polisi yang mengejar para tahanan dan menewaskan mereka. Serangan kejutan itu tak terdeteksi oleh mereka karena sibuk mengejar.


"Cepat masuk. Kalian lelet," ucap Pemimpin The Mask dari jendela mobil yang terbuka.


Nafas para napi itu tersengal. Keringat mereka bercucuran. Terlebih, saat melihat sekumpulan orang bertopeng aneh datang, melakukan penyerangan, dan kini membantu mereka kabur dari penjara.


Anggota The Mask yang berhasil selamat berkumpul di titik temu. Mereka meninggalkan lokasi dan menyisakan Ungu sebagai tim terakhir yang masih menunggu beberapa tahanan kabur.


"Oh, mereka datang di detik-detik terakhir," ucap Ungu seraya membuka pintu mobil untuk tiga orang tahanan yang berlari ke arahnya. Namun tiba-tiba, matanya melebar. "Oh, ****! Go!" teriaknya lantang sembari menutup pintu.


BROOM!


DODODODODOR!


"ARGHH!"


BRUK! BRUK! BRUK!


Tiga tahanan tewas ditembak tepat di punggung. Ungu dan timnya berhasil lolos sebelum mobil mereka diberondong oleh serencengan peluru.


Setibanya di Dermaga. Semua mobil naik ke kapal Ferry untuk menyeberang. Para tahanan yang berhasil di bebaskan sebanyak 67 orang dari target 80 narapidana.


Orang-orang itu terlihat bingung. Hingga Ungu muncul dan berjalan melenggang ke hadapan para pria tersebut.


Mereka bicara dalam bahasa Spanyol.


"Hem. Selamat pagi. Kalian dibebaskan untuk menjadi anggota kami yang baru. Menolak, kami lemparkan kalian saat ini juga ke lautan dan silakan kembali ke penjara," ucap Ungu tegas menatap kumpulan orang-orang itu.


"Kalian dari kelompok mana? Siapa pemimpin kalian?" tanya seorang narapidana.


"No Face. Cukup itu yang kalian tahu. Pemimpin kalian, adalah aku. Jadi, bergabung, atau melompat? Tapi, aku bawakan satu peluru di tubuh kalian. Enak saja mau pergi hidup-hidup. Kami menggelontorkan ratusan peluru dan senjata lainnya untuk membebaskan kalian," ucapnya sebal.


Orang-orang itu saling berpandangan dan terlihat berdiskusi. Para anggota The Mask menjaga di sekeliling dengan senjata dalam genggaman.


"Oke. Kami ikut," ucap salah seorang napi yang berada di barisan depan dengan tato di kedua lengannya.


Senyum Ungu merekah. "Good. Welcome to No Face," sambutnya.


__ADS_1


__ADS_2