4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Analisis Afro


__ADS_3

Di tempat Afro berada, rumah peninggalan Elios. Di mana perbedaan waktu antara Kepulauan Karibia dengan Italia kurang lebih 6 jam. Italia, pukul 3 dini hari.


Pemuda itu kini disibukkan oleh pekerjaan untuk meneruskan usaha peninggalan mendiang sang ayah—Elios.


Afro kerja lembur selama beberapa hari karena ia juga harus tetap terlibat dalam setiap kegiatan 13 Demon Heads.


Kini, Doug tinggal bersamanya dan ikut membantu mengurus perusahaan keramik yang kini dikelola oleh Afro.


TOK! TOK!


CEKLEK!


"Sudah kuduga, kau belum tidur. Apa yang kau kerjakan, Afro? Jangan karena esok libur, kau menguras tenagamu," tanya Doug mengenakan piyama terlihat lelah.


"Oh, Paman. Aku ... aku menghawatirkan keadaan Dara. Apa yang diinginkan No Face darinya? Maksudku, lihatlah," tanyanya sembari beranjak lalu membuka sebuah tirai yang ternyata berisi penyelidikannya mencari Sandara selama ini diam-diam.


Doug terkejut dan melangkah perlahan seraya mengamati tiap skema yang Afro buat.


"Lihat, Paman. Saat Lysa diculik. Tobias dendam padanya karena Lysa dituduh membunuh Joel Ramos, ayahnya. Namun perlahan, Tobias mencintai Lysa, lalu melepaskannya dengan persyaratan yang mengakibatkan Lysa bercerai dengan Javier," ucap Afro seraya menunjuk lembaran di mana saja lokasi yang menjadi jejak tragedi waktu itu.


"Oke, lanjutkan," jawab Doug terlihat tertarik.


"Tempat itu sudah hancur, dan dalam pengawasan ketat 13 Demon Heads agar tak difungsikan lagi. Sampai sekarang, tempat itu mati." Doug mengangguk membenarkan. "Nah lalu, Jonathan," ucap Afro menggeser langkah dan telunjuknya mengarah ke skema milik anak ketiga Vesper tersebut. "Dia diculik, dan dibebaskan dalam waktu yang singkat karena Sierra melepaskannya. Ia diculik hanya untuk diminta menandatangani perjanjian oleh Darwin, tapi ditolak oleh Jonathan kala itu. Kini, rumah itu dihuni oleh Lysa dan Tobias. Bisa dikatakan, masalah Lysa dan Jonathan selesai," ucapnya mantap.


"Oke," sahut Doug dengan anggukan.


Afro terlihat serius dan kembali menggeser langkah yang kini skema miliknya terpampang di sana. Doug terlihat serius.


"Aku diculik oleh Ms. White. Dijadikan budak oleh mereka dibawah pengaruhnya, Tessa, dan beberapa anggota No Face lainnya." Doug kembali mengangguk. "Bisa dibilang, cukup lama aku disekap oleh mereka, hingga akhirnya aku tertangkap di pulau Giamoco, dan pada akhirnya, aku bisa kembali. Itu semua, karena aku dianggap masih keturunan mereka."


"Ya, itu benar."


"Namun bisa dibilang, itu semua juga telah selesai. Ms. White tewas, Tessa kini dipihak kita dengan menikahi Arjuna, dan Mr. White tiada, berikut Madam dan 8 Mens. Anggap saja The Circle telah lenyap, tersisa No Face saja," sambungnya semangat menjabarkan.


"Hem, lalu?"


"Arjuna. Dia juga pernah terlibat. Namun, dia lolos dengan sendirinya. Ini ... juga hal baru. Selain itu, aku tak melihat gerakan dari No Face untuk mengajak Arjuna kembali untuk bergabung dengan mereka. Sepertinya No Face sadar, jika Arjuna bukan orang yang cocok untuk dijadikan budak sepertiku. Begitupula Jonathan dan Lysa. Mereka tipe pembangkang. Mereka bisa melawan dengan cara mereka sendiri. Namun Sandara, dia berbeda," tegasnya yang kini melebarkan mata menunjuk gambar Sandara yang tersenyum manis dalam foto saat pertunangan beberapa tahun silam.


"Apa yang berbeda?"


"No Face sangat menginginkannya. Bahkan Sandara sama sekali tak terlihat sejak ia diculik. Semua keberadaannya hanya meninggalkan jejak. Sandara seperti hanya ingin memberikan kita informasi jika dia masih hidup dan baik-baik saja," jawabnya menggebu.


"Maaf, aku tak paham," ucap Doug mengedipkan mata terlihat bingung.


"Ada yang diinginkan No Face darinya, tapi itu apa, kita tak tahu. Bahkan aku juga cukup yakin jika Sandara juga tak tahu. Dia seperti mengikuti alurnya saja, tak bisa melawan. Atau opsi kedua, Sandara sedang mencari tahu dengan dia tetap menurut sampai saatnya tiba, ia akan melakukan gempuran."

__ADS_1


"Ya, aku setuju," sahut Doug mengangguk.


"Yang kutakutkan, saat Sandara ingin menyelesaikannya, kita tak ada di sana untuk membantu. Itu ... akan sangat mengecewakan. Sandara pasti akan sangat sedih dan terpuruk. Pikiran buruk bisa membuatnya beralih pihak tanpa ia sadari, Paman Doug. Bisa jadi, suatu saat nanti, Sandara malah akan menyerang kita, karena berpikir jika kita tak perhatian padanya," ucapnya terlihat cemas.


Doug langsung menunjukkan wajah serius. Ia melihat skema penelusuran yang Afro buat di mana ada Kai, Vesper, Amanda dan William juga di sana.


Ia mencoba mengingat tragedi yang terjadi pada orang-orang itu. Doug mengangguk membenarkan, dan pada akhirnya setuju pada analisis Afro.


"Lalu ... apa yang harus kita lakukan?" tanya Doug menatap Afro lekat.


"Sierra."


"What?"


"Kita bisa mencari petunjuk dari Sierra. Gadis itu telah kembali kepada jajarannya dan ingatannya pulih. Entah kenapa orang-orang kita tak mau mengusiknya. Dugaanku, karena Tobias. Sierra anak Tobias, dan Jonathan tak mau berurusan lagi dengannya," sambung Afro semakin antusias perperasangka.


Kening Doug berkerut. "Wow, wow, jangan bilang kau akan kembali kepada No Face, mengorbankan dirimu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. No, no, aku melarangnya, itu berbahaya. Ingat, kau masih dalam pengawasan Pengadilan," tegasnya menunjuk Afro.


"Ta-tapi, Paman ...," keluhnya protes.


"Bagaimana jika kau pergi dan Sandara kembali? Ini akan menjadi misi sia-sia. Sudah, kali ini menurutlah. Jangan bertindak. Perbaiki hidupmu selagi kau mendapatkan kesempatan. Jangan lupa, Jordan masih mengincar kepalamu. Dia memiliki bukti kuat untuk menjatuhkanmu," sambungnya menekankan.


Afro menghembuskan nafas dan duduk dengan lesu di sofa panjang ruang kerjanya. Doug tersenyum dan ikut duduk di samping pemuda itu.


"Ya aku tahu," jawabnya lesu sembari memeluk bantal sofa.


"Sudah, tidurlah. Kita akan temukan solusinya, tapi bukan dengan kembali ke No Face. Awas saja jika kau nekat. Aku tak segan melaporkan hal ini pada Vesper. Dan aku tak mau membantumu jika Kai akan mencabik-cabikmu nanti. Selamat malam," ucap Doug seraya mengusap kepala Afro dan beranjak meninggalkan ruangan.


Afro merebahkan diri sembari memeluk bantal sofa, memandangi langit-langit ruang kerjanya.


"Ya, benar kata Paman Doug. Aku merindukan Sandara. Di mana kau sekarang, Dara-chan?" ucapnya dengan senyum terkembang.


Seoul, Klinik Kecantikan Gangnam, Korea Selatan.


Mereka bicara dalam bahasa Korea.


"Dokter Atit. Pasien terakhir hari ini," ucap Haru yang masih bekerja di tempat tersebut sebagai kepala perawat.


"Okey," jawabnya seraya merapikan riasan dengan cermin kecil berwarna emas dalam genggamannya.


Seorang pria berwajah Asia masuk ke dalam ruangan. Atit tersenyum menawan dan mempersilakan pasien berambut hitam tersebut untuk duduk.


Ketika Atit akan membuka mulut untuk menanyakan keluhan pasiennya, pria itu meletakkan sebuah serbet putih dan membuka lembarannya begitu saja di hadapannya.


Albino yang berada dalam satu ruangan berkerut kening, saat melihat serbet itu kotor, tapi seperti memiliki sebuah pola di dalamnya.

__ADS_1


Atit mencoba membaca tulisan itu, dan seketika matanya terbelalak. "Sungguh? Di mana dia?" tanya Atit melotot.


"Kau tak boleh tahu. Kau pasti mengerti kondisi Sandara ketika dalam cengkeraman No Face. Jadi, terima atau tolak?" tanya pria itu to the point.


Atit menoleh ke arah Albino dan pria itu mengangguk pelan.


"Oke. Apa yang harus kami lakukan?" tanyanya langsung menjawab dengan wajah cemas.


Pria itu mengeluarkan sebuah kertas dengan tulisan bahasa Thailand di sana. Atit membaca tulisan itu dengan cermat. Albino menatap pria yang balas menatapnya tajam dengan wajah dingin.


"Seperti apa wujudnya sekarang? Kami butuh bukti," tanya Albino tegas.


Pria itu mengeluarkan ponsel dan menunjukkan video dalam rekaman tersebut. Praktis, mata Atit dan Albino terbelalak.


Video itu menunjukkan rekaman Sandara dalam arena pertarungan ketika ia melawan musuh-musuhnya dan mengalami cedera serius.


Hanya saja, video tersebut dipotong dan hanya menunjukkan bagian Sandara terluka. Video terakhir menampilkan ketika Sandara menjahit di sebuah ruangan tanpa menutupi wajahnya yang memiliki bekas luka cakaran Leon.


"Oh, malangnya gadis kecilku," ucap Atit iba seperti akan menangis.


"Kami harus menyiapkan donor kulit sebelum pergi. Kami akan merahasiakan hal ini," sahut Albino tegas.


"Berapa lama?" tanya pria itu memastikan.


"Mm, sebulan?" jawab Atit memprediksi.


"Oke. Aku tak akan kembali kemari, tapi jika kalian sudah siap, pergilah ke tempat yang sudah dituliskan. Akan ada tim penjemput. Dan ingat, hanya kalian berdua, tak boleh ada pasukan apalagi Vesper dan Kai. Jika kami mengetahui kalian mencoba untuk melakukan perlawanan, nyawa Sandara berakhir. Hidup Sandara tergantung pada kalian. Itu saja dariku, selamat siang," ucapnya tegas lalu pergi begitu saja dari ruang tersebut.


Atit dengan segera melipat kertas dan serbet tersebut ke dalam sepatu. Albino melirik Atit, dan pria berparas cantik itu terlihat pucat.


"Sudah selesai? Cepat sekali," tanya Haru ketika memasuki ruangan.


"Yah, orang itu takut menjalani prosedur operasi plastik. Jadi ... dia mengurungkan niat. Hanya saja katanya, dia memiliki keponakan yang ingin melakukan operasi plastik, sayangnya masih gadis remaja. Aku memberi tahukan resiko dan semacamnya, lalu katanya ... dia akan membicarakan pada keponakannya dulu," jawab Atit dengan lancar berdalih.


"Ah begitu. Aku saja sampai heran. Banyak anak perempuan ingin melakukan operasi plastik agar terlihat menawan layaknya artis. Sepertinya, mereka tidak percaya diri dengan kecantikan alami yang dimiliki. Sangat disayangkan," ucap Haru cemberut.


"Aku malah bahagia. Dengan ketidakpuasan itu, menjadikan diri kita kaya. Hahahaha," timpal Albino tertawa jahat.


Haru mendesis dan Atit hanya tersenyum kaku. Pria cantik itu terlihat memikirkan kondisi Sandara yang kini menjadi buruk rupa.


***


anggep aja bonus eps dr lele😆 wah bentar lagi kuis bagi para fans medali GOLD! Siap2 ya untuk dapetin binder ekslusif, free ongkir dari lele. semangat!!


__ADS_1


__ADS_2