4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Hobi*


__ADS_3

Di tempat Sandara berada.


Sandara yang telah siuman dan masih dirawat secara intensif di Rumah Sakit kota Nouakchott, membuat kesedihan mendalam di dirinya saat mengetahui wajahnya rusak.


Yudhi terlihat begitu bersalah dan terus mendampingi Sandara.


"Kau akan kembali cantik, aku berjanji. Aku meminta kepada anak buah Venelope untuk membawa Atit dan Albino. Kita tunggu saja kabar baik mereka," ucap Yudhi menenangkan.


"Kenapa kau tak pulangkan aku saja, Yudhi? Bukankah ... kau salah satu pemimpin? Untuk apa kau menyekapku? Bukankah urusanku dengan No Face telah usai? Kalian tak membutuhkanku lagi," ucapnya sedih dengan wajah, bahu, dan tangan diperban karena luka robekan akibat serangan ganas para monster yang berduel dengannya kala itu.


"Tidak bisa, Dara. Aku masih membutuhkanmu."


Sandara tak bisa menghentikan tangisannya. Ia memalingkan wajah, enggan untuk berbicara dan menatap Yudhi. Terlihat, kesedihan di wajah pemuda itu.


"Maaf, Dara. Namun ... ini belum berakhir. Yang kemarin baru awal, bukan pertarungan yang sebenarnya," jawabnya lirih.


Mata Sandara melebar. Ia kembali menatap Yudhi tajam yang menunjukkan wajah sendu.


"Kau kejam! Kau sama saja dengan Venelope dan lainnya. Kalian hanya memanfaatkanku! Setelah aku sembuh nanti, pasti ada pekerjaan keji yang harus kulakukan. Benar 'kan?" tanyanya dengan mata berlinang.


Yudhi mengangguk dengan wajah sendu. Sandara berusaha menahan air matanya.


"Pergi. Aku mau sendiri," pintanya sedih.


"Tidak bisa. Aku harus tetap di sini, suka atau tidak. Aku mengawasimu."


Sandara terlihat tertekan. Ia kini sungguh berpaling dengan air mata terus membasahi perban yang menutup wajah, dan hanya terlihat mata, lubang hidung serta mulutnya saja.


Sandara berada di Rumah Sakit hingga akhir bulan Agustus dengan pengawasan ketat No Face dan Yudhi. Hingga hari itu, Sandara diperbolehkan pulang.


Hanya saja, Yudhi bisa merasakan jika sikap Sandara telah berubah. Puteri tunggal Kai tersebut selalu bersikap dingin, menjawab seperlunya, termasuk ketika bertanya.


Wajahnya selalu datar, dan tak tampak senyuman dalam dirinya. Bahkan, Sandara tak segan melakukan perbuatan kasar jika ada suatu hal yang menyinggungnya, tak peduli siapa yang ada di hadapannya.


"Kita akan pulang. Selamat tidur, Dara," ucap Yudhi ketika menyuntik lengan Sandara dengan bius. Sandara diam saja, dan perlahan memejamkan mata.


Sepanjang penerbangan, Yudhi memandangi wajah Sandara yang masih terbalut perban, di mana gadis cantik itu enggan melepasnya.


Bahkan sesampainya di rumah keesokan harinya, Sandara mengurung diri di kamar.


Diam-diam, Yudhi membuat topeng untuk Sandara dengan corak warna beragam agar ia bisa berganti sesuai dengan keinginannya.


Yudhi dan Sandara saling diam hingga satu minggu penuh. Tak ada aktivitas di luar kediaman Yudhi yang berada di Trinidad and Tobago.


Trinidad dan Tobago adalah negara Karibia pulau ganda di dekat Venezuela, dengan tradisi dan masakan Kreol yang khas.


Ibu kota Trinidad, Port of Spain, menyelenggarakan karnaval riuh yang menampilkan musik kalipso dan soca dengan kostum berwarna-warni.

__ADS_1



Pagi itu, minggu pertama bulan September.


TOK! TOK! TOK!


CEKLEK!


Yudhi yang tak lagi mengenakan topeng, masuk ke dalam kamar Sandara yang terasa dingin dan sunyi. Sandara tak pernah menyalakan lampu kamarnya. Gadis itu sengaja membiarkan kegelapan menyelimutinya.


Yudhi melihat Sandara duduk di atas ranjang dengan kaki dilipat menatap jendela. Yudhi mendatangi Sandara dan berdiri di samping ranjangnya.


Sandara diam dengan pandangan kosong menatap pemandangan di balik jendela kamarnya.


"Ikut aku," ajak Yudhi pelan, tapi Sandara diam tak menggubris.


"Agh!" rintih Sandara ketika Yudhi menarik tangannya paksa dan menyeretnya keluar dari kamar.


Sandara berusaha memberontak, tapi Yudhi terlihat serius dengan kemauannya. Sandara tak berkutik ketika Yudhi terus melangkah dan membawanya keluar dari kamar menuju ke ruangan tempat ia berlatih ilmu pedang dulu.


"Aku membuatnya. Kau suka atau tidak? Jika tidak, akan kubakar," ucapnya ketus seraya mendekati sebuah kain hitam lalu menariknya kuat.



Mata Sandara melebar ketika melihat banyak topeng berwarna-warni di hadapannya. Kaki Sandara melangkah perlahan menuju ke benda-benda eksotis di hadapannya.


Tangannya terjulur begitu saja saat ia menyentuh topeng-topeng tersebut dengan hiasan indah beraneka ragam.


Yudhi melirik dan mengambilkan sebuah topeng yang Sandara pegang berwarna hitam dengan corak cet emas.


Sandara terlihat gugup ketika Yudhi memasangkan topeng itu ke wajahnya yang tertutup perban.


Yudhi menggandeng Sandara ke sebuah cermin setinggi tubuhnya untuk melihat penampilannya. Kepala Sandara tertekuk ke kanan dan ke kiri perlahan seperti beradaptasi dengan gaya barunya.


"Aku akan buatkan lebih banyak lagi jika kau suka," ucap Yudhi menatap Sandara lekat.


"Ya. Tolong buatkan. Dan ... bisakah, aku melakukan pekerjaan sambilanku?" tanyanya lirih dengan topeng terpasang di wajahnya.


"Apa itu?" tanya Yudhi menyipitkan mata. Sandara mendekat dan berbisik. Yudhi tersenyum dan mengangguk tanda ia menyanggupi hal tersebut. "Tentu saja, apapun akan kuberikan. Asal kau tetap berada di sini menemaniku, Sandara," ucap Yudhi dengan senyuman. Perlahan, jemari pemuda itu menyentuh topeng yang menutup wajah gadis Asia di depannya. Sandara berdiri diam menatap Yudhi lekat di balik topengnya. "Berikan aku satu minggu untuk mempersiapkannya."


Sandara mengangguk setuju. Yudhi memerintahkan kepada anak buahnya untuk membawakan semua topeng buatannya untuk di bawa ke kamar Sandara.


Sembari menunggu permintaannya siap, Sandara menghabiskan hari-harinya dengan menggambar.


Yudhi selalu datang tiap harinya untuk mengecek kondisi Sandara yang mulai terlihat sedikit berwarna tak mendung ketika ia datang ke rumah itu.


Yudhi menghabiskan waktunya lebih banyak di kamar Sandara hanya sekedar melihat hasil rancangan yang telah ia persiapkan sebelum memulai pekerjaannya nanti.

__ADS_1


"Aku tak sabar melihat hasil akhirnya," ucap Yudhi ketika mengambil sebuah design gaun pada sebuah kertas dengan corak yang senada dengan topeng buatannya.


Hingga akhirnya, waktu yang Yudhi janjikan tiba. Ia selalu menggandeng Sandara kemana pun pergi. Yudhi membawa Sandara ke ruangan tempat ia berlatih pedang dulu.


Tempat itu telah ia sulap dengan cat dinding berwarna terang berikut perabotan yang serasi dengan penataan ruangan tersebut.


Barang-barang tersusun rapi dan semua baru. Mata Sandara serasa dimanjakan melihat pemandangan indah di hadapannya.


Patung yang dulunya dipakai untuk berlatih ilmu pedang, kini menjadi sebuah patung cantik, siap dipakaikan dengan gaun buatannya nanti.


"Bagaimana? Kau suka? Jika penataannya kurang pas katakan saja, nanti akan diurus oleh anak buahku," ucap Yudhi berdiri di samping puteri Kai tersebut.



Sandara melepaskan gandengan Yudhi di tangannya dan berjalan perlahan menuju ke tempat kerjanya, yakni sebuah ruangan khusus untuk menjahit.


Terlihat, rancangan buatannya telah tertempel di dinding. Senyum tipis muncul di wajahnya yang tertutup topeng.


'Ternyata ada jendela di ruangan ini. Yudhi sengaja menyembunyikannya dan membuatnya seolah-olah hanya sebuah ruangan tertutup dengan dinding. Ini di luar ekspektasiku. Tempat ini bahkan lebih bagus dari tempat usahaku di Paris,' ucap Sandara dalam hati saat melihat jendela tersebut di tralis dengan besi agar ia tak bisa kabur dari tempat itu.


"Maaf. Patungmu aku lukis karena aku bosan," ucap Yudhi menunjuk patung-patung latihannya dulu yang sudah tak memiliki kaki dan diganti dengan sebuah penyangga.



"Cantik. Aku tak menyangka kau suka menggambar. Lukisanmu bagus," ucap Sandara memuji seraya menuju ke patung tubuh manusia tanpa kepala, tangan dan kaki dengan corak berwarna-warni.


"Buatlah pakaian apapun yang kau suka sembari menunggu Atit dan Albino datang," ucap Yudhi dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana. Sandara mengangguk.


Gadis berambut panjang itu melepaskan topengnya dan meletakkannya perlahan di atas meja. Sandara membiarkan wajahnya yang sudah tak terbalut perban terlihat.


Bekas tiga jahitan melintang di wajahnya terlihat cukup jelas. Beruntung, bibir dan matanya tak terkena cakaran Lion saat itu.


Namun, bekas luka itu membuat Yudhi tak sanggup menatapnya terlalu lama karena perasaan bersalah kembali menyelimutinya.


"Saat sarapan, makan siang, dan makan malam, kau harus keluar dari tempat ini. Jam kerjamu usai tepat pukul 9. Setelah itu, kau harus beristirahat," ucap Yudhi menjelaskan dan Sandara mengangguk. "Baiklah, aku pergi. Pukul 12 siang akan kujemput. Selamat berkreasi, Dara," sambung Yudhi seraya menutup pintu dan menguncinya dari luar.


Sandara duduk di sebuah kursi dengan mesin jahit di hadapannya. Matanya melirik dan terlihat banyak kamera pengawas menyorot gerak-geriknya di ruangan tersebut.


Gadis cantik itu memulai pekerjaannya sebagai penjahit dan perancang busana. Terlihat, Sandara menikmati perannya.


Ia berkeliling untuk melihat semua perlengkapan yang Yudhi persiapkan sesuai permintaannya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST and GOOGLE

__ADS_1


Tengkiyuw tipsnya. Lele padamuā¤



__ADS_2