4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Jalan Rahasia


__ADS_3

Terlihat, kediaman Amanda di Napoli langsung ramai orang. Dua Biawak terlihat kaget saat melihat orang-orang dari jajaran Amanda berkumpul di sana dan telah bersiap dengan tim medis.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Cepat bawa Jonathan ke ruang medis. Ya Tuhan, lukanya sangat parah," ucap Amanda panik ketika melihat Jonathan di baringkan pada ranjang pasien yang memiliki roda di empat kakinya.


Tim medis sudah bersiap saat mendapat kabar dari Yohanes jika Jonathan akan memulai penyerangan setelah mendatangkan pasukan The Circle miliknya.


Sierra, yang diberitahukan oleh Yu Jie akan misi yang diberikan Tobias padanya, serta pengakuan Damian setelah Tobias mendatangi kediaman Venelope, membuat Sierra langsung bertindak.


Tak lama, helikopter yang membawa Sierra dan timnya mendarat di halaman kediaman Amanda.


Sierra berjalan dengan tergesa memasuki rumah terlihat khawatir dengan keadaan calon suaminya.


"Kau akan membawa Click and Clack kemana?" tanya Biawak Kuning dengan Cokelat berjalan mendekati Sierra.


"Filipina. Kakek Jeremy yang akan mengurus keduanya. Aku lihat dari respon mereka, Venelope belum mencuci otak Click and Clack sepenuhnya. Mereka masih bisa disembuhkan. Aku benar-benar tak bisa mentolelir perlakuan Venelope dan Mr. White. Mereka mencelakai Jonathan. Mereka harus dihukum," tegas Sierra dengan pandangan terfokus ke depan, entah apa yang ia lihat.


Yu Jie terlihat pucat termasuk Tim Tawar yang ikut dalam rombongan.


"Sebaiknya, kita ke ruang perawatan. Kalian terluka. Aku harus memastikan jika kalian tak mengalami cidera serius. Ayo," ajak Yu Jie dan orang-orang itu mengangguk.


Naomi menunjukkan jalan menuju ke ruang medis di mana mereka akan diperiksa dan diobati.


Namun, Sierra memegangi salah satu pergelangan tangan Naomi erat sehingga gadis cantik itu menghentikan langkah.


Tim Tawar ikut menoleh dan menatap Sierra yang memandangi mereka seksama.


"Koper itu. Apakah ... itu yang kalian rebut dari Click and Clack?" tanya Sierra yang pandangannya tertuju pada koper yang ditenteng oleh Tim Mawar dan Naomi.


"Ya," jawab Naomi pelan dengan anggukan.


"Berikan padaku. Biar kakek Jeremy menyelidiki obat-obatan dalam koper tersebut. Jika Venelope sampai harus mengamankannya, pasti obat-obatan itu berbahaya," ucap Sierra serius dan Naomi mengangguk mengerti.


"Yohanes dan dua BIAWAK. Segera terbang ke Filipina dan bawa koper itu. Ingat, jangan sampai siapapun mengambilnya dari kalian. Pergilah dengan pesawat pribadiku. Akan kuurus keberangkatan kalian. Bersiaplah," ucap Sierra serius dan tiga lelaki itu mengangguk.


Sierra kembali menyalakan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Aku sudah memberikan alamat email-mu. Berkas untuk lepas landas akan dikirimkan padamu, Yohanes. Hati-hati dan titip salamku untuk kakek Jeremy," ucap Sierra masih menunjukkan wajah seriusnya dan Yohanes mengangguk paham.


Keenam koper tersebut diberikan kepada Yohanes, Biawak Cokelat dan Kuning untuk diamankan. Tiga lelaki itu segera bersiap untuk meninggalkan Napoli, Italia menuju ke Cebu, Filipina, Laboratorium Jeremy.


Jeremy yang mendapatkan kabar mengejutkan dari Sierra, tentu saja terkejut dan siap untuk melakukan penjemputan kepada pengantar kiriman penting tersebut.


"Sierra," panggil Amanda mendekati anak perempuan Tobias. Gadis cantik itu tersenyum tipis saat menerima pelukannya.


"Mungkin Anda bisa membantu untuk memastikan tim yang berada di lapangan tak terusik akan kedatangan polisi dan media? Aku takut mereka diliput dan diinterogasi selama proses pembersihan," ucap Sierra pelan dan Amanda mengangguk.

__ADS_1


Amanda memanggil timnya dan mereka segera memasuki helikopter yang dikendarai oleh Sierra tadi.


Helikopter kembali terbang dan Sierra berdiri diam menatap benda terbang tersebut meninggalkan rumah.


Tim Tawar tak mengalami luka serius, sedang Naomi, mengalami pembengkakan di lehernya meski tak parah.


Naomi diminta untuk tak bicara selama masa penyembuhan dan ia menurut. Lehernya diberikan penyangga karena luka lebam terlihat dan membuatnya kesulitan bicara.


Di Gedung Perusahaan Farmasi Elios.


Amanda dan timnya telah mendarat dan segera menyisir seluruh tempat.


Amanda melihat jika tim Pembersih seperti yang ia lihat ketika di kediaman Madam, Arizona dulu telah selesai dengan pekerjaannya. Amanda salut dengan kerja cepat dan rapi mereka.


"Hei, hei! Cepat bawa Click and Clack ke rumahku. Tim yang akan berangkat ke Filipina akan segera terbang," tegas Amanda dan tim Serangga Jonathan mengangguk paham.


Lima orang itu membawa Click and Clack yang tak sadarkan diri dengan satu buah mobil dan dua motor yang mengawal mereka.


Amanda kembali menyusuri luar gedung dan melihat para pekerja dari Perusahaan Elios dikumpulkan di luar gedung, diminta untuk berimpuh dengan tangan terangkat ke atas, terlihat gugup.


"Aku ambil alih," ucap Amanda pada Pion Dexter dan orang itu mengangguk pelan.


Semua pegawai itu menatap Amanda seksama.


"Kalian semua pegawai di Perusahaan ini?" tanya Amanda memastikan di mana orang-orang itu memakai baju lab dan beberapa pakaian kantoran bukan gaya The Circle.


"Polisi dan media akan datang kemari sebentar lagi karena kekacauan yang terjadi. Jadi, ikuti skenario yang akan kubuat. Jalankan tanpa membuat kecurigaan. Kalian kami awasi. Berani membelot, aku tak segan membunuh keluarga kalian. Mengerti?!" tegas Amanda dan orang-orang itu mengangguk terlihat takut.


Amanda mengutarakan skenario buatannya dan semua orang yang mendengarkan mengangguk paham terlihat tak kesulitan.


"Good. Segera ambil posisi dan lakukan dengan tenang. Jangan sampai para polisi dan media melihat kebohongan dari gerak-gerik kalian. Anggaplah kalian artis dalam kekacauan kali ini. Good luck," ucap Amanda serius dan orang-orang itu mulai berdiri perlahan terlihat paham akan apa yang harus dilakukan.


Para Pion mengganti pakaian mereka dengan seragam petugas satpam. Para anggota Silhouette Amanda berganti dengan seragam layaknya pejabat eksekutif dalam perusahaan. Sedang pegawai lainnya tetap menjadi diri mereka sendiri sesuai profesi.


Amanda berkeliling di sekitar gedung ditemani oleh Tim Molusca Jonathan untuk menyusuri ruangan yang diduga memiliki akses rahasia karena kepergian Venelope dan rombongannya tak terdeteksi.


Padahal, Galundeng sudah mencoba mengikuti mereka. Namun, orang-orang itu raib begitu saja.


"Jadi, terakhir kali mereka terlihat di sini, sesuai laporan dari Tim Bunga?" tanya Amanda memastikan.


"Yes, Mam," jawab Kerang yang sudah menyamar sebagai petugas kebersihan gedung.


"Hem, pasti ada sebuah tombol, pemindai, atau ... entahlah ... yang membuat mereka bisa melewati dinding ini," ucap Amanda lirih sembari berjalan perlahan, memindai sekitar ruangan.


"Kalian, berpencar. Temukan jalan rahasia itu," tegas Amanda dan lima lelaki itu segera melaksanakan perintahnya.


Namun, sudah 15 menit berlalu, belum ditemukan hasil dari pencarian mereka di ruang kerja yang di tempati Elios dulu.

__ADS_1


"Masih belum ketemu?" tanya Jordan yang tiba-tiba masuk ke ruangan bersama Mix and Match.


Praktis, semua orang di dalam ruangan itu menoleh seketika. Mix menutup pintu dan berdiri menjaganya.


Amanda langsung berlari mendatangi anak lelakinya yang terlihat makin tangguh setelah sekian lama tak bertemu.


"Oh, Sayang. Kau terlihat ... waw, seperti daddy-mu, hanya saja ... lebih tampan dan tak memiliki kumis atau jambang," sambut Amanda sembari memegangi wajah salah satu anak kembarnya.


"I miss daddy too, Mom and I miss you a lot," jawab Jordan dengan wajah datar, tapi ucapannya membahagiakan Amanda.


"Maaf, kau harus kemari saat pelatihanmu," ucap Amanda terlihat sedih.


"Tak masalah. Aku hanya tinggal melakukan ujian bahasa saja. Verda mengizinkanku pergi karena aku terlalu jenius di kelas. Tak ada satupun mentor yang bisa mengalahkanku. Repot juga jika terlalu cerdas, orang-orang tak bisa mengikutiku," jawabnya panjang lebar, tapi mengejutkan orang-orang yang mendengar.


"Oke," jawab Amanda terpaku akan ucapan anak lelakinya yang ajaib itu.


Jordan berjalan perlahan mendekati benda-benda dengan wajah datarnya. Semua orang menyingkir begitu saja seperti memasrahkan pencarian jalan rahasia kepadanya.


"Kalian menyentuh terlalu banyak. Harusnya jangan sembarangan sentuh. Kalian menghilangkan barang bukti," ucapnya mengkritik saat melihat beberapa benda terlihat berantakan tak rapi seperti seharusnya.


"Hem," gumannya mendekati sebuah meja yang di gunakan oleh CEO Perusahaan tersebut. "Apa ... bentuk kursinya memang seperti ini, saat kalian datang?" tanya Jordan menunjuk bangku yang posisinya terbalik dengan sandaran kursi terpepet pada meja kerja.


"Ya. Kami tak menyentuhnya," jawab Gurita mengangkat kedua tangan.


Jordan mencondongkan tubuhnya dan mengamati meja kerja itu seksama dengan kedua tangan saling menggenggam di balik pinggang.


Semua orang terpaku melihat gerak-gerik remaja tampan itu.


KLEK!


Tim Molusca yang berdiri di belakang Jordan terkejut, saat mendapati lantai pada kolong meja kerja CEO terangkat. Jordan tersenyum tipis.


"Ketemu," jawabnya kembali berdiri tegak.


Saat senyum semua orang merekah, pintu ruang kerja diketuk. Mix membukanya dan melihat Pion Darius berdiri di sana.


"Polisi dan media datang. Kalian, segeralah pergi," ucapnya serius dan Jordan segera membuka pintu kamuflase selebar ubin berukuran 80 x 80 meter tersebut.


Amanda berlari dan masuk ke dalam jalan rahasia diikuti Mix and Match, Jordan serta para Pion yang ikut bergabung.


Tim Molusca tetap berada di dalam gedung untuk memastikan semuanya terkendali selama pemimpin mereka menyelidiki kasus.


***


tengkiyuw tipsnya. aduh panas uyy siang ini. tetap sehat dan jangan lupa bahagia selalu. amin^^


__ADS_1


__ADS_2